NovelToon NovelToon
Undefined: The Guardian Dog

Undefined: The Guardian Dog

Status: sedang berlangsung
Genre:Dark Romance / Mafia / Romansa
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: hrarou

🌶️ WARNING!!🌶️

Mengandungi ***** ****** yang mungkin tidak sesuai untuk semua pembaca.
.
.
.
Dalam dunia gelap yang dipenuhi darah, senjata, dan pengkhianatan, Seravina dikenal sebagai wanita sempurna yang tidak pernah gagal.

Cantik. Elegan. Mematikan.

Tidak ada yang tahu bahwa di balik wajah anggunnya, tersembunyi monster dingin yang tidak ragu membunuh siapa pun yang membuatnya jijik.

Hingga suatu malam, pencarian anjing baru membawanya ke arena pertarungan underground.

Dan di sanalah dia bertemu Viktor—pria yang bertarung bukan demi uang atau kemenangan, tetapi demi merasakan sesuatu yang bahkan tidak dia pahami.

Satu kehilangan diri karena trauma.

Satu lagi hidup tanpa pernah benar-benar memilikinya.

Ketika dua manusia yang sama-sama rusak dipertemukan, siapa yang akan hancur lebih dulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hrarou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cantik & Gila

Hotel Ritz-Carlton, Moscow.

Di dalam presidential suite yang temaram, bau cerutu mahal bercampur dengan aroma wiski yang tajam. Seorang pria berusia awal 40-an—bertubuh tambun dengan kemeja yang kancing atasnya sudah terbuka—duduk di tepi ranjang dengan gelisah. Tangannya berkali-kali merapikan rambutnya yang mulai menipis, matanya tidak lepas dari jam dinding.

"Lama sekali. Apa agen itu mengirim jalang yang berjalan kaki ke sini?" gerutunya kasar, lalu menenggak sisa wiskinya hingga tandas.

Tepat saat ia hendak meraih telepon, suara ketukan pelan terdengar di pintu. Tiga kali ketukan yang sangat teratur.

Tok. Tok. Tok.

Pria itu langsung berdiri, seringai mesum muncul di wajahnya. "Nah, itu dia."

Ia berjalan dengan langkah berat, sedikit terhuyung karena pengaruh alkohol, lalu menyentak pintu hingga terbuka lebar. "Kau terlambat sepuluh menit, Manis, kau tahu betapa mahalnya waktu—"

Kata-katanya tertelan kembali ke tenggorokan.

Di depan pintu, berdiri seorang wanita yang seolah keluar dari sampul majalah Vogue edisi terbatas. Gaun sutra hitam melekat sempurna di tubuhnya yang ramping, kontras dengan kulitnya yang seputih porselen.

Wajahnya... Tuhan, pria itu bersumpah belum pernah melihat mata yang seindah itu—besar, jernih, namun menyimpan ketenangan yang ganjil. Rambut hitamnya jatuh di bahu sehingga mencapai pinggang dengan sangat anggun.

Dia terlihat terlalu... berkelas untuk menjadi seorang wanita sewaan.

Seravina menatap pria itu, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang sangat manis. "Maaf membuatmu menunggu. Antreannya sedikit kacau di bawah."

Suaranya lembut, seperti alunan selo yang dimainkan dengan sangat rapi.

Si pria itu terpaku, matanya menyisir tubuh Seravina dari atas ke bawah tanpa tahu malu. Nafsunya yang tadi sempat surut kini memuncak dua kali lipat.

Siapa peduli kalau dia terlambat? Kalau barangnya sekualitas ini, aku bisa menunggu sepanjang malam.

"Wow... agen itu bilang mereka mengirim yang terbaik, tapi aku tidak menyangka akan mendapatkan... malaikat," pria itu tertawa kasar, menjauh dari pintu untuk memberi jalan. "Masuklah. Jangan berdiri di sana seperti patung."

Seravina melangkah masuk dengan gerakan sangat halus, hampir tidak bersuara. Ia mencium bau alkohol dan keringat yang menguar dari tubuh pria di depannya. Dalam hati, rasa jijik yang mendarah daging mulai merayap naik, tapi wajahnya tetap tenang, tanpa cela.

"Kamarmu sangat bagus," ucap Seravina pelan sambil menaruh tas kecilnya di atas meja rias, matanya berkeliling seolah sedang mengagumi dekorasi, padahal ia sedang menghitung sudut buta ruangan itu.

Pria itu menutup pintu dengan dentuman keras dan langsung menguncinya. Ia berjalan mendekat ke arah Seravina, tangannya yang kasar mencoba meraih pinggang wanita itu.

"Lupakan soal kamarnya. Kita tidak punya banyak waktu sebelum aku harus kembali ke rumah istriku yang membosankan," ucap si pria sambil mendesah bernafsu. "Berapa umurmu? Kau terlihat sangat muda... dan sangat bersih."

Seravina sedikit menghindar dengan gerakan yang terlihat seperti sedang malu-malu, membuat pria itu semakin gemas. "Dua puluh tiga. Apa itu cukup untuk memuaskanmu?"

"Lebih dari cukup, Manis," pria itu mulai membuka ikat pinggangnya, suaranya semakin serak. "Ayo, naik ke ranjang. Aku ingin lihat apakah wajah secantik ini juga bisa mengeluarkan suara yang bagus saat... ah, kau tahu maksudku."

Seravina terdiam sejenak. Ia menatap pria itu, tersenyum—kali ini sedikit lebih lebar.

Seravina bergerak perlahan, duduk di pinggiran ranjang yang empuk sebelum akhirnya merebahkan tubuhnya dengan gerakan yang sangat provokatif. Ia menatap pria itu dengan tatapan sayu yang dibuat-buat, membiarkan gaun hitamnya tersingkap sedikit hingga memperlihatkan paha putihnya yang mulus.

"Kemarilah," bisiknya rendah, terdengar seperti undangan yang tak mungkin ditolak.

Pria itu mendekat dengan napas memburu, merangkak di atas ranjang seperti binatang yang kelaparan. Seravina mengulurkan tangannya, jemarinya yang lentik bergerak berani, menyentuh bagian selangkangan pria itu dengan gerakan yang sangat sengaja.

"Kau sangat... agresif," gumam Seravina, suaranya terdengar seperti pujian di telinga pria itu.

Tanpa menunggu lebih lama, si pria langsung menimpa tubuh Seravina. Berat tubuhnya yang besar membuat Seravina sedikit terperosok ke dalam kasur, namun wanita itu tidak bergerak melawan. Ia justru membiarkan tangannya mengalungi leher pria tersebut.

Pria itu mendesah kasar, kepalanya merunduk ke ceruk leher Seravina. Ia mulai menjilat dan menghisap kulit leher Seravina dengan rakus, meninggalkan jejak saliva yang terasa sangat menjijikkan di kulit porselen wanita itu.

"Tuhan... kau wangi sekali... aku akan menghabiskanmu malam ini," racun pria itu di tengah napasnya yang berat.

Di balik punggung pria itu, mata Seravina yang tadinya terlihat sayu seketika berubah. Dingin, kosong, dan dipenuhi kilat kebencian yang murni. Tidak ada gairah, tidak ada rasa takut. Yang ada hanyalah penghinaan mendalam terhadap makhluk yang sedang berada di atasnya ini.

Tangannya yang tadi memeluk leher pria itu, perlahan merayap turun ke arah paha dalamnya sendiri, menuju sebuah saku tersembunyi yang sangat kecil di balik gaun sutranya. Di sana, sebuah benda kecil sudah menunggunya.

Pria itu masih sibuk dengan leher Seravina, benar-benar buta oleh nafsu.Saat bibir pria itu baru saja hendak turun lebih rendah ke arah dadanya, Seravina bergerak secepat kilat. Tangan kanannya yang sudah memegang jarum suntik kecil langsung menghunjamkan ujung logam itu tepat ke saraf besar di pangkal leher si pria.

Deg.

Pria itu tersentak, matanya membelalak kaget. Ia mencoba mengerang, namun dalam hitungan detik, cairan bening ciptaan Seravina bereaksi. Tubuhnya yang besar mendadak lemas seperti jelly, saraf motoriknya lumpuh total meski matanya masih bisa terbuka sedikit. Ia jatuh ambruk, menindih separuh tubuh Seravina sebelum akhirnya terguling tak berdaya ke samping.

Seketika itu juga, topeng "malaikat" Seravina luruh.

"Sialan... babi menjijikkan," desis Seravina ketus.

Ia segera bangkit, mengusap lehernya yang basah oleh air liur pria itu dengan punggung tangannya, wajahnya menunjukkan ekspresi muak yang luar biasa.

"Bisa-bisanya kau menyentuhku dengan mulut busukmu itu, bajingan!" Seravina memaki dalam bahasa Rusia yang sangat kasar. Matanya berkilat penuh amarah yang dingin saat ia merapikan gaunnya yang sedikit berantakan.

Seravina berjalan menuju pintu kamar, membukanya dengan satu sentakan. Di depan pintu, sudah berdiri seorang pria muda bertubuh tinggi tegap, mengenakan setelan jas hitam yang sangat rapi. Wajahnya tampan dengan rahang tegas, auranya dingin dan waspada—dia adalah salah satu "anjing" kepercayaan.

"Masuk," perintah Seravina pendek, tanpa menoleh.

Pria suruhan itu melangkah masuk tanpa suara, matanya langsung tertuju pada sosok pria tambun yang tergeletak tidak berdaya di atas ranjang.

"Nona, apakah ada kendala?" tanya pria itu dengan nada rendah yang hormat.

"Tidak ada. Hanya saja baunya membuatku ingin muntah," sahut Seravina dingin sambil mengambil selembar tisu basah dari tasnya, menggosok lehernya dengan kasar sampai kulitnya memerah. "Ikat babi sialan ini di ranjang. Jangan biarkan dia lepas. Dan telanjangi dia sampai tidak tersisa selembar benang pun."

Pria suruhan itu mengangguk patuh, segera mengeluarkan tali nilon kuat dari balik jasnya. "Sesuai perintah Anda."

Seravina berdiri di sudut ruangan, menyilangkan tangan di depan dada. Ia menatap pria tua yang kini sudah telanjang bulat dan terikat dalam posisi merentang di atas kasur dengan mata yang kosong.

Pria itu masih sadar, namun lumpuh; ia hanya bisa menatap Seravina dengan ketakutan yang murni saat menyadari bahwa wanita cantik ini bukan sekadar jalang, melainkan malaikat maut yang dikirim untuk menjemputnya.

Sepuluh menit berlalu dengan keheningan yang mencekam, hanya diiringi suara napas berat pria itu yang perlahan mulai kembali normal. Saat efek lumpuh dari cairan kimia Seravina memudar, kesadaran dan kendali ototnya kembali dengan sentakan hebat.

Pria itu tersentak, mencoba menarik tangannya, namun tali nilon itu justru semakin menyayat kulit pergelangan tangannya. Ia menyadari posisinya—telanjang bulat, terikat kencang di empat sudut ranjang seperti binatang yang siap disembelih.

"Sialan! Apa-apaan ini?! Lepaskan aku, jalang gila!" teriaknya parau, wajahnya memerah karena amarah dan rasa malu yang luar biasa. Ia meronta-ronta hingga ranjang mewah itu berderit keras. "Kau tahu siapa aku?! Aku bisa menghancurkanmu dan seluruh keluargamu dalam semalam! Lepaskan aku!"

Seravina sama sekali tidak bergerak.

Ia duduk dengan anggun di sebuah kursi velvet tepat di depan ranjang. Kakinya yang jenjang bersilang dengan sempurna, tangannya terlipat di depan dada. Ia menatap kekacauan di depannya seolah-olah sedang menonton pertunjukan teater yang membosankan.

"Teruslah berteriak," ucap Seravina datar. Suaranya sangat tenang, kontras dengan makian kasar pria itu. "Aku ingin tahu berapa lama paru-parumu sanggup bertahan sebelum kau mulai memohon untuk napas terakhirmu."

"Kau... kau jalang tidak tahu diuntung! Aku sudah membayarmu mahal! Kau pasti bekerja untuk musuh bisnisku, kan? Katakan siapa mereka! Berapa mereka membayarmu?! Aku akan bayar dua kali lipat!" pria itu kembali meronta, keringat dingin mulai membasahi tubuh tambunnya.

Seravina sedikit memiringkan kepalanya, senyum tipis yang mematikan muncul di bibirnya. Senyuman yang menunjukkan bahwa dia sama sekali tidak peduli dengan uang atau ancamannya.

"Membayarku?" Seravina terkekeh rendah, suara yang terdengar sangat indah namun dingin menusuk tulang. "Membayarku dengan uang yang kau curi dari dana bantuan panti asuhan di pinggiran kota itu? Kau pikir aku tertarik pada kertas kotor yang bau keringat rakyat jelata seperti itu?"

Pria itu terdiam seketika, matanya membelalak. "Bagaimana kau... dari mana kau tahu soal itu?"

"Aku tahu segalanya tentang anjing-anjing sepertimu," sahut Seravina lembut. Ia bangkit dari kursi, berjalan perlahan mengitari ranjang dengan langkah yang sangat teratur. "Dan kau membuat satu kesalahan fatal malam ini... kau menyentuhku dengan tangan dan mulut busukmu itu."

Seravina berhenti tepat di samping kepala pria itu, membungkuk sedikit sehingga pria itu bisa melihat pantulan ketakutannya sendiri di mata Seravina yang "kosong".

"Sekarang, mari kita lihat... bagian tubuh mana yang paling ingin kau selamatkan?"

Seravina berdiri tegak, menjauh sedikit agar gaun sutranya yang mahal tidak terciprat noda yang tidak diinginkan. Ia menatap ke arah pintu, memberikan isyarat kecil dengan dagunya.

"Luka," panggilnya tenang.

Pria suruhannya, Luka, melangkah maju dari kegelapan sudut ruangan. Wajahnya tetap datar, tanpa emosi, seolah ia hanya diperintah untuk memotong selembar kertas. Di tangannya, sebuah pisau bedah berkilau tajam terkena cahaya lampu kamar.

"Nona?"

Seravina menatap pria di atas ranjang yang kini mulai gemetar hebat. "Babi ini merasa sangat bangga dengan 'aset' yang dia miliki. Dia merasa bisa menaklukkan dunia dengan itu. Ambilkan untukku. Aku ingin membawanya pulang sebagai kenang-kenangan."

Mata pria itu membelalak hampir keluar dari kelopaknya. "T-tidak... TIDAK! JANGAN! AMPUN! AKU AKAN MEMBERIKAN APA SAJA! JANGAN LAKUKAN ITU!"

"Bungkus dengan rapi, Luka. Aku tidak mau darahnya mengotori tas ku," tambah Seravina, sama sekali mengabaikan jeritan histeris yang memenuhi ruangan.

Luka bergerak cepat. Ia menekan perut pria itu dengan satu tangan yang kuat untuk mengunci gerakannya, sementara tangan lainnya memposisikan pisau bedah tepat di pangkal organ vital pria tersebut.

"TIDAK! JANGAN! AAAAAAAARRRRRGGGGHHHHHH!!!!"

Jeritan itu pecah, melengking tinggi hingga urat-urat di leher si pria menonjol keluar. Luka melakukan tugasnya dengan sangat presisi. Sekali sayat, kulit robek. Sayatan kedua, otot dan jaringan saraf terputus. Darah segar berwarna merah pekat menyembur seketika, membasahi sprei putih yang mewah dan menciprat ke perut buncit pria itu.

Suara napas pria itu berubah menjadi rintihan pendek-pendek yang menyayat hati, tubuhnya kejang-kejang hebat karena rasa sakit yang tak terbayangkan. Cairan merah itu terus mengalir deras, merembes ke mana-mana.

Luka mengangkat potongan daging yang kini sudah terpisah itu dengan sarung tangan karetnya. Tanpa rasa jijik, ia memasukkannya ke dalam sebuah wadah kaca kecil yang sudah diisi cairan pengawet kimia, lalu membungkus wadah itu dengan kain hitam yang rapi.

Seravina memperhatikan proses itu dengan mata berbinar puas, seolah ia baru saja memenangkan sebuah trofi.

Seravina berdiri di tengah ruangan yang masih berbau amis darah dan dipenuhi suara rintihan sekarat dari atas ranjang. Dengan gerakan yang sangat santai, seolah-olah ia tidak baru saja menyaksikan mutilasi yang mengerikan, jemarinya bergerak ke ritsleting di punggung gaunnya.

Srett.

Gaun sutra hitam itu meluncur turun, menumpuk di lantai di sekitar kakinya yang telanjang. Seravina berdiri di sana, hanya dengan pakaian dalam tipis yang kontras dengan kulit putih pucatnya. Luka tetap berdiri mematung di dekat pintu, tatapannya lurus ke depan—kosong dan tidak menunjukkan ketertarikan apa pun.

Bagi Luka, tubuh Seravina adalah milik sang majikan yang tak boleh disentuh bahkan dengan pikiran sekalipun, dan bagi Seravina, Luka hanyalah furnitur hidup yang tidak perlu ia takuti.

Tanpa rasa malu, Seravina kemudian melepaskan pakaian dalamnya satu per satu di depan pria yang sedang meregang nyawa itu. Pria di atas ranjang menatap dengan mata kabur, pemandangan indah yang seharusnya menggairahkan itu kini justru terlihat seperti pemandangan dari neraka yang paling dingin.

Seravina menoleh sedikit, memberikan senyum terakhir yang sangat tulus kepada pria yang terikat itu—sebuah ejekan terakhir bahwa bahkan di saat ia benar-benar telanjang di depan pria itu, si pria sudah tidak punya daya lagi untuk melakukan apa pun.

Ia berbalik, menunjukkan punggungnya yang mulus dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi mewah yang berdinding marmer.

Beberapa detik kemudian, suara kucuran air shower yang deras terdengar, membasuh sisa-sisa aroma "sampah" yang sempat menempel di kulitnya.

Di bawah guyuran air hangat, Seravina memejamkan mata, membiarkan kebenciannya luruh sejenak, mempersiapkan diri untuk tujuannya yang berikutnya nanti.

Luka tetap diam di luar, menunggu dengan setia sementara suara rintihan di atas ranjang perlahan-lahan meredup, digantikan oleh kesunyian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!