NovelToon NovelToon
Jauh Di Hati, Dekat Di Ranjang

Jauh Di Hati, Dekat Di Ranjang

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / One Night Stand / Trauma masa lalu
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: phiiiew

Malam itu di hotel, Vandini melihat sosok suaminya bersama wanita lain.

Apa yang lebih menyakitkan daripada pengkhianatan?

Apa lagi kalau bukan kenyataan bahwa pria yang ia cintai selama bertahun-tahun sama sekali tidak merasa bersalah. Satura bahkan berani bilang itu hal biasa dan mencoba menutupi semua luka itu dengan uang.

"Ambil transferannya. Itu bukti kalau aku masih bertanggung jawab," begitu katanya santai.

Seakan cinta, kepercayaan, dan janji setia yang dulu dia ucapkan bisa dibeli dengan lembaran rupiah.

Kini, Vandini harus menanggung segalanya sendirian. Menghadapi tatapan iba dan bisikan jahat tetangga yang menggunjingnya habis-habisan, menahan air mata demi anak-anaknya, serta berjuang memulihkan harga diri yang terinjak-injak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kamar No 204

"Gila, aku lebay banget ya," gumamnya dalam hati.

Tangannya gemetar hebat memegang ponsel sambil menyetir mobil di depan hotel.

"Satura kan orang baik. Dia sayang aku. Dia nggak mungkin ngelakuin hal kayak gini."

Suara hatinya makin melemah saat Vandini melangkah masuk ke lobi. Jantungnya berdegup kencang sampai terasa sakit di dada.

Satura menyewa kamar di sana. Resepsionis langsung memberikan kartu kunci begitu Vandini menunjukkan identitas, karena mereka terdaftar di program yang sama.

Vandini masuk ke lift dalam diam. Setiap lantai berganti terasa seperti pukulan yang mengingatkan bahwa apa yang ia lakukan ini tak bisa ditarik kembali.

Kaki Vandini lemas saat berdiri di depan pintu kamar nomor 204. Hampir saja ia berbalik dan pergi.

"Apa yang aku lakuin?" pikirnya panik. Ia teringat kebaikan Satura, kesabarannya, dan hangatnya pelukan suaminya selama ini.

Rasa malu menerjang tubuhnya sampai perutnya terasa mual. Ini titik terendah harga dirinya, menguping di balik pintu hotel. Vandini menempelkan telinganya ke pintu, menahan napas. Suara tawa dan bisikan-bisikan dari dalam terdengar sangat jelas.

Tangannya mengepal kuat. Ia harus melihat, harus memastikan, meski tahu kenyataan itu bisa menghancurkannya.

"Harus," bisiknya pada diri sendiri.

Tangannya gemetar saat menggapai gagang pintu. Dengan napas memburu, ia menggesek kartu kunci dan mendorong pintu itu terbuka.

Rasanya seperti mimpi. Pandangannya menyapu ruangan, enggan namun terpaksa menyerap pemandangan mengerikan di depannya.

Matanya menangkap seprai yang berantakan, sepasang kaki telanjang, dan tangan Satura yang bertumpu di bahu wanita lain. Sentuhan yang dulu akrab, kini terasa menjijikkan.

Ada noda lipstik merah cerah di gelas bekas minum, warna yang jelas bukan miliknya. Kemeja Satura tergeletak sembarangan di kursi, terlihat kusut seperti habis dilepas dengan terburu-buru.

Satura sedang melakukannya dengan kasar dan buas. Suara napasnya yang dulu familier, kini terdengar sangat menjijikkan.

Vandini bersandar di kusen pintu agar tak jatuh. Ia merasa seperti melayang, otaknya menolak percaya meski matanya melihat sendiri. Mulutnya kering dan tenggorokannya tercekat. Saat akhirnya mencoba bersuara, suaranya nyaris tak terdengar.

"Satura..."

Hanya itu yang keluar, begitu pelan hingga hilang terbawa udara. Mereka tidak berhenti. Gerakan itu terus berlanjut seolah Vandini tak terlihat.

Ia mencoba lagi, kali ini lebih keras dan parau. "Satura!"

Suaranya pecah, bergema hampa di ruangan. Bukan kemarahan, melainkan keputusasaan yang terdengar. Mereka akhirnya berhenti. Kepala Satura terangkat mendadak, tubuh mereka masih saling bertaut.

Dunia seolah berputar di kepala Vandini. Ia melihat pria yang ia cintai sedang berada di pelukan wanita lain, menatapnya dengan mata terbelalak.

"Satura..." panggilnya lagi dengan suara yang hancur.

Vandini terpaku di ambang pintu saat Satura mundur terhuyung-huyung, wajahnya panik ketakutan.

Di matanya, suaminya yang telanjang bulat itu kini terlihat seperti orang asing yang tertangkap basah melakukan hal hina. Pemandangan yang ingin ia hapus dari ingatan secepat mungkin.

Satura buru-buru melilitkan seprai di pinggangnya dan melangkah maju. Vandini berusaha keras menyatukan sosok ini dengan pria baik yang ia kenal selama ini.

"Vandini," suara Satura memecah keheningan. Wajahnya berkerut ketakutan. "Kamu ngapain di sini?"

Jantung Vandini berdegup kencang. "Aku mau ajak kamu makan siang," jawabnya terbata.

"Makan siang?" ulang Satura dengan nada menuduh. "Kamu nggak seharusnya ada di sini. Ini bukan tempatmu."

Bibir Vandini terbuka, tapi tak ada kata yang bisa keluar. Tak ada kata maaf, tak ada penjelasan, ia justru disalahkan.

Keterkejutannya berganti menjadi amarah yang membuncah. "Aku istrimu, Satura! Aku harusnya ada di mana pun kamu berada. Kamu itu yang nggak seharusnya ada di tempat kayak gini!"

Satura membuang muka, rahangnya mengeras. "Kamu nggak ngerti, Van. Ini... ini nggak ada hubungannya sama kita."

"Oh, begitu ya?" Vandini tertawa getir. "Terus ini apa? Jelasin dong! Gimana maksudnya ketemu suami sendiri lagi ngamar sama wanita lain, haahh?"

Satura mengacak-acak rambutnya gelisah. "Ini rumit! Aku nggak bisa terus terusan jadi suami sempurna buat kamu. Pernikahan yang sempurna, keluarga yang sempurna, aku capek!"

"Aku nggak pernah minta kamu jadi yang sempurna," suara Vandini nyaris berbisik, tapi rasa sakitnya terasa sekali.

Vandini mundur selangkah, bersandar kuat pada pintu. Seluruh tubuhnya berteriak agar ia segera lari pergi sejauh mungkin.

Namun, ia memaksakan diri menatap lurus ke mata suaminya. "Aku cuma mau sesuatu yang nyata, Satura. Bukan yang sempurna. Aku pikir hubungan kita itu nyata."

BRAKKK!!

Vandini keluar dari hotel dengan langkah tidak stabil. Cahaya matahari siang menyilaukan pandangannya. Ia merasa kosong, seperti tubuh tanpa jiwa.

Kepalanya masih pusing. Ia berusaha mengingat detail kejadian yang baru saja berlalu, tapi ingatannya masih berantakan. Ponsel di tangannya bergetar terus-menerus. Layar menyala menampilkan deretan pesan, email, dan pengingat rapat yang seharusnya ia hadiri.

Vandini berhenti di pinggir jalan. Jari-jarinya gemetar saat menatap layar, lalu ia mengetik pesan singkat untuk bosnya.

"Aku kurang enak badan. Izinkan aku pulang dan tidak masuk di jam sisa hari ini."

Balasan datang seketika. Ucapan "Semoga lekas membaik" sedikit meringankan beban di dadanya, membuatnya bisa bernapas lebih lega.

Vandini terus berjalan. Irama langkah kakinya di aspal menjadi satu-satunya hal yang membuatnya merasa masih ada di dunia ini.

Pemandangan di sekelilingnya terlihat kabur. Tanpa sadar, kakinya membawanya masuk ke sebuah taman di dekat situ.

1
Eva Rosita
bagus
Fifi: makasi,kak 🥰
total 1 replies
Uthie
bertahan wanita hebat 👍👍😡
Uthie
bangkit lah wanita-wanita hebat yg tersakiti oleh pasangan gak tau diri kalian 👍😡😡
Uthie
mungkin kondisi di jaman sekarang yaa... yg sewajarkan apa yg terlihat saja, namun main di belakang ☹️
Uthie
sakit banget itu pasti... sesak 😢
Uthie
Mampir 👍👍👍👍
Fifi: makasih kak, udah berkenan mampir🙏😍
total 1 replies
Yuni Ngsih
Authoooot ceritramu bgs bangeeeet ,tp bikin ku sediiiih kasian yg punya ceritra Vandini disakiti sm susmi yg dzolim ....smg suaminya cepat cepat karmanya kasihan Vandini smg setelah badai akan muncul pelangi buat Vandini ....semangat .....lanjut Thor
Fifi: yampun, ada yg baca rupanya, makasi kak🙏
total 1 replies
Anonim
wanjay
Anonim
betul itu ...BUNUH DIA
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!