Aku adalah Raka. Seorang Pebisnis yang telah mapan sebelum usia kepala tiga. Aku mempunyai kekasih seorang janda beranak satu, hubunganku di tentang oleh mama dengan alasan perbedaan pandangan adat dan statusnya.
Aku dijodohkan dengan seorang wanita yang sama sekali tidak aku kenal. Akankah mama berhasil menjdohkanku atau mama akan luluh dengan pilihanku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ica Marliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Bandara Soetta
"Bang, sampai di Jakarta nanti apakah abang akan langsung menemui Ningsih?"
Pertanyaan paling kejam yang aku rasakan. Baru saja aku bernapas untuk tidak mengingat Ningsih. Tapi pertanyaan itu keluar dari mulut Laras. Aku mematung, aku sendiri bahkan belum tahu akan berbuat apa menyelesaikan masalahku dengan Ningsih.
"Nggak ada ketemuan-ketemuan. Sampai Jakarta fokus bulan madu abang sama kak Laras!"
Kania tiba-tiba saja menyela dari bangku sebelah. Kebetulan kursi kami memang berjejer berdekatan. Kupingnya pake radio aktif kali ya, padahal Laras ngomongnya tidak kencang tapi ia tahu saja perbincangan kami. Beberapa penumpang disebelahnya menoleh. Kania dengan wajah polosnya menutup mulut lalu pura-pura tertidur.
Haha, akhirnya biang kerok kena batunya. Tanpa aku sadari senyum culas mengembang di bibirku.
"Kita fokus sama urusan kita dulu ya. Lagian pekerjaan abang di kantor sudah menumpuk. Abang akan pikirkan cara untuk menghadapi Ningsih. Selagi Laras percaya sama abang, dunia abang akan baik-baik."
Aku mengelus lembut pergelangan Laras. Ia tersenyum manis.
"Eleh, gombal. Pandai aja nenangin hati perempuan."
Lagi-lagi si buang kerok nyambung tanpa di pinta. Setelah itu pura-pura tidur seperti orang bodoh. Untung saja ini di dalam pesawat.
Laras terkekeh. Aku merasa dipermainkan dua orang wanita.
Setelah itu hanya keheningan diantara kami. Kania pasang headset ke kupingnya lalu tertidur dan Laras pun tertidur di bahuku. Auranya tetap cantik sekalipun dalam mode tidur.
"Penumpang yang terhormat saat lepas landas sudah dekat. Silahkan mengenakan sabuk pengaman anda, menegakkan sandaran kursi, melipat meja dan membuka penutup jendela. Terimakasih."
Suara dari pesawat lion air yang kami tumpangi sudah menandakan, kalau bandara Soekarno Hatta sudah dj depan mata.
Laras terbangun. Mengucek pelan matanya. Sementara si buang ribut tampak masih tertidur nyenyak. Aku memberi kode Laras untuk menggoyangkan badannya.
Namun seperti kebiasaannya di rumah, ia menguap dan meregangkan kedua tangannya. Hampir saja tangan itu menyenggol penumpang di sebelahnya.
Adikku satu ini, entah bagaimana cara menjelaskan. Dibalik wajah cantiknya ada kenorakan yang tidak tertutupi.
Beberapa menit selesai turun dari pesawat kami menuju halte bandara karena aku sudah memberi tahu Dimas untuk menjemput kami.
"Hmpz, perasaan dulu terakhir Nia ke Jakarta, pemandangannya nggak seperti ini bang?"
Bocah tengil itu masih dalam mode kantuknya melirik ke sekeliling bandara.
"Ya tiap tahun pasti adalah gebrakan. Emangnya kamu yang dari tahun ke tahun nggak ada perubahan."
Balasku ketus. Sebuah tinju melayang di bahuku. Ringan amat tangannya.
Laras tidak membelamu malah ikutan tertawa.
"Mana sopir abang yang mau jemput?"
Kania masih mode celingak celinguk.
"Bukan sopir tapi asisten di kantor," Gerutuku sedikit emosi.
"Hmpz, asisten segala. Udah kayak CEO dracin aja."
Timpalnya sambil merengut tapi nakal.
Dan belum sempat aku membalas sindiran Kania. Bom waktu itu akhirnya nyata. Ningsih muncul bersamaan dengan kehadiran Dimas.
Apa yang akan dilakukan perempuan itu di sini?
Dimas berjalan tergesa menghampiriku. Raut wajah ketakutan tampak begitu jelas.
"Maaf, Pak. Nona Ningsih tadi ngotot mau ikut saya ke bandara."
Gurat cemas di wajahnya membuat aku menahan diri untuk memakinya.
"Oh, perempuan gatal itu ikut? Masih ngasih kejutan?"
Kania! Aku lupa ada si pencari masalah bersamaku.
"Dimana dia bang?" Sambungnya kemudian. Dimas melirik, sekalipun dia menjengkelkan tapi tak akan ku izinkan tatapan nakal melihat adikku.
"Dia adikku!" Suaraku sedikit besar membuat dimas bergidik, cepat-cepat mengalihkan pandangannya.
"Ini Laras istriku!"
Dimas menoleh Laras berniat mengulurkan tangan. Tapi istriku terlebih dulu sungkan tanpa menyentuh tangannya. Sangat sopan sekali. Huft, masalahku belum kelar.
"Selamat Raka. Ternyata ini wanita beruntung yang menggantikan posisi aku hatimu?"
Plak!! Berasa tertampar sakit tak berdarah. Ningsih muncul di momen yang seharusnya tidak terjadi.
Aku belum mempersiapkan mental apapun untuk momen ini. Semua benar-benar harus diluar kendaliku.
"Iya, kamu tepat sekali. Akulah wanita beruntung itu. Yang di persunting bang Raka."
Laras! Laras selancar iru menjawab tanpa kompromi, tak ada drama dan raut wajahnya saat tenang. Semua tidak seperti ekspektasiku. Membuat muka Ningsih memerah, ia tak membalas uluran tangan Ningsih.
"Dan wanita terhormat itu untuk pria terbaik."
Sambung Kania membuat aku seperti kulkas dingin yang membeku.
"Wanita baik-baik tidak akan tertarik pada milik orang lain. Dan perempuan gatal akan selalu berusaha mendapatkan apa yang bukan haknya."
Ucapan Kania lebih pedas dari pisau belati. Tak ada senyum di bibirnya. Hanya gurat kebencian. Ningsih benar-benar di serang dari dua arah sebelum aku bicara.
Ia mundur beberapa langkah, lalu menatapku cukup tajam. Seolah meminta pembelaan dariku. Entahlah, harus iba atau ini karma perbuatannya. Kalau saja dia bisa bersikap baik, mungkin keluargaku tidak akan sepelik ini.
"Oh iya, wanita baik-baik harusnya dapat pria yang terhormat. Bukan pria yang habis manis sepah di buang!"
Jleb! Satu kalimat tamparan yang ditujukan Ningsih kepadaku.
"Aku hamil anak Raka!"
Lagi-lagi ancaman itu jadi senjata andalan Ningsih.
"Harus berapa kali aku katakan, Ningsih!" Suaraku mulai meradang.
"Aku tidak pernah menyentuhmu!"
Darahku tiba-tiba mendidih. Jemariku menggempal cukup kuat.
"Kamu hanya tidak ingat. Malam itu kita memang tidur bersama."
Aku melangkah berniat menampar Ningsih, namun Laras memeluk tubuhku. Meredam emosi yang mulai tak terbendung.
"Kalau memang kamu sangat yakin, anak itu anaknya bang Raka. Kita buktikan besok lewat tes DNA. Kami akan tanggung semua biaya kehamilanmu. Tapi jika semua tidak terbukti aku akan lapor balik kamu atas dugaan pemerasaan."
Malaikat berwujud manusia itu sekarang ada di hadapanku. Tidak banyak ucapan hanya tindakannya yang selalu membuat aku terpukau. Laras, Lagi-lagi ia menyelamatkan saat aku sudah diujung keputusasaan.
Aku memeluk Laras. Tidak lagi aku pedulikan sekitar, entahlah. Namun yang masih bisa kulihat dengan jalan wajah puas Ningsih. Ia begitu saja meninggalkan kami tanpa sepatah katapun. Ia kelihatan sangat emosi. Hanya menunjuk aku dari kejauhan lalu berlalu menaiki grab yang sudah ia pesan.
"Nah gitu dong, akhirnya mak Lampir pergi juga! Huft, selalu bikin onar."
Celetuk Kania, menghela napas berat lalu memukul pundakku.
Anak ini benar-benar ringan banget tangannya padaku.
Aku bergerak mau membalas tapi Laras menahanku.
"Makanya kalau dinasehati orang tua di dengar bang! Perempuan seperti itu yang abang pertahankan selama ini. Hadeh!!"
Kali ini tanganku memang udah gatal ingin menyumpal mulutnya.
"Auw!!" Belum sempat sepenuhnya tanganku mendarat, ia lebih dulu menggigit tanpa ampun.
"Nggak usah ngangguin Kania. Bereskan noh masalah abang sama ular betina. Habis ini pasti cari cara lagi bikin gara-gara. Tapi kak Laras tenang aja, aku nggak bakal biarin dia sukses!"
Laras tersipu kecil melihat tingkah Kania. Dimas di sebelahku pun ikutan tertawa pelan namun tertahan. Mataku sudah melotot duluan meliriknya.