"Papa, posisi kakimu salah. Satu inci lagi, dan sensor laser akan membelah jas mahalmu."
Damian Xavier, sang Raja Mafia 'Vipera' yang tak kenal ampun, tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan dikendalikan oleh sepasang kembar berusia 8 tahun. Ia mengira telah menemukan anak rahasianya, namun kenyataannya, ia menemukan dua penguasa bayangan yang sedang mencari 'pion' untuk melindungi ibu mereka.
Leo adalah reinkarnasi sang Marsekal Perang Legendaris yang tewas dikhianati, sementara Lea adalah mantan Profiler Kriminal FBI yang ahli dalam bedah jiwa manusia. Bagi mereka, Damian hanyalah aset strategis yang perlu dijinakkan, dan Qinanti—ibu mereka yang lembut—adalah satu-satunya harta yang harus dilindungi.
Selamat datang di papan catur keluarga Xavier, di mana sang Raja Mafia hanyalah salah satu pion dalam strategi besar anak-anaknya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: TERITORIAL SANG RATU
POV: DAMIAN XAVIER
Vipera Tower di pagi hari biasanya terasa seperti mesin raksasa yang dingin. Lantai marmer hitam yang mengilap, bau espresso mahal, dan langkah kaki para staf yang terburu-buru adalah ritme yang sudah biasa bagiku. Namun, hari ini, ritme itu terganggu oleh variabel baru yang membuat napas di dadaku terasa lebih ringan sekaligus lebih waspada.
Di sebelahku, Qinanti berjalan dengan gaun blazer berwarna abu-abu pucat. Ia tampak cantik, namun aku bisa merasakan kegugupan yang merambat dari jemarinya yang sesekali meremas tas tangannya. Ini adalah hari pertamanya sebagai Kurator Seni Utama di Vipera Group—posisi yang sengaja kuberikan bukan hanya untuk menahannya di sisiku, tapi karena aku tahu selera seninya adalah aset yang tak ternilai.
Namun, yang membuat lobi kantor pusatku mendadak sunyi bukan hanya karena kehadiran wanita yang selama ini menjadi misteri, melainkan dua sosok kecil yang berjalan di depan kami.
Leo mengenakan setelan jas mini tanpa dasi, tangannya terselip di saku celana, matanya yang dingin memindai setiap wajah staf keamanan seolah ia sedang mengaudit dosa-dosa mereka. Sementara Lea, dengan gaun putih berenda dan boneka kelincinya, memberikan senyum manis pada setiap orang—senyum yang aku tahu adalah umpan untuk membaca mikro-ekspresi mereka.
"Papa," suara Leo memecah keheningan lift eksekutif yang sedang meluncur ke lantai 60. "Sistem face recognition di pintu depan memiliki latency sebesar 1.2 detik. Jika musuh menggunakan topeng prostetik berkualitas tinggi, mereka punya celah untuk masuk. Aku akan memperbaikinya siang ini."
Aku melirik Leo. "Kau baru saja sampai dan sudah ingin merombak gerbangku?"
"Efisiensi adalah harga mati, Papa. Aku tidak ingin ada 'sampah' yang mengganggu ruang kerja Mama," jawabnya tanpa menoleh.
Lift terbuka. Kami disambut oleh koridor luas menuju ruang kerjaku. Di sana, sudah berdiri Selina, asisten senior sekaligus mitra bisnis klan Vipera di sektor legal. Ia adalah wanita yang ambisius, tajam, dan sudah lama mengincar posisi di sampingku—posisi yang kini secara fisik ditempati oleh Qinanti.
"Selamat pagi, Damian," Selina tersenyum profesional, namun matanya yang terlatih segera tertuju pada Qinanti dengan kilatan yang hanya bisa didefinisikan sebagai penghinaan yang disamarkan. "Dan ini pasti... Nyonya Arisanti? Saya sudah menyiapkan dokumen kurasi untuk Anda. Meskipun, sejujurnya, saya pikir posisi ini lebih cocok untuk seseorang dengan pengalaman di galeri internasional, bukan kurator independen yang sempat... menghilang."
Udara di koridor mendadak mendingin. Aku merasakan otot rahangku mengeras, namun sebelum aku sempat bicara, sebuah suara lembut menginterupsi.
POV: LEA (Jiwa Sang Profiler)
Aku melihatnya. Selina.
Dalam sedetik, aku membedah postur tubuhnya. Bahu yang ditarik terlalu tinggi (tanda insecurity yang dikompensasi dengan arogansi), sudut bibir yang bergetar saat menatap Mama (kecemburuan neurotik), dan cara dia memegang map dokumen seolah-olah itu adalah senjata.
“Kak, target sedang mencoba melakukan dominasi teritorial. Dia menggunakan agresi pasif untuk meruntuhkan kepercayaan diri Mama,” lapor kuku lewat Shadow Talk.
“Tangani dia dengan 'keimutan' yang menghancurkan, Lea. Aku sedang memindai riwayat pengeluaran pribadinya melalui jaringan Wi-Fi kantor ini. Dia punya variabel yang menarik untuk dibongkar,” balas Leo di pikiranku.
Aku melangkah maju, melepaskan tangan Mama dan mendekati Selina. Aku menatapnya dengan mata besarku, pura-pura penasaran.
"Tante Cantik," ucapku dengan suara paling polos. "Kenapa Tante berbohong?"
Selina tersentak, senyumnya goyah. "Apa maksudmu, Nona Muda Lea?"
"Tante bilang Mama tidak berpengalaman," aku memiringkan kepala, jariku menunjuk ke arah map di tangannya. "Tapi denyut nadi di leher Tante melonjak saat menyebut kata 'internasional'. Secara psikologis, itu berarti Tante sebenarnya merasa terancam dengan selera seni Mama yang diakui oleh kolektor di Singapura tahun lalu. Tante takut posisi Tante sebagai 'orang kepercayaan Papa' tergeser oleh Mama, kan?"
Wajah Selina berubah menjadi merah padam. Beberapa staf yang lewat pura-pura sibuk, namun aku tahu telinga mereka memanas mendengar analisis dari seorang anak delapan tahun.
"Lea, sayang, jangan begitu," tegur Mama pelan, meski aku melihat sedikit kilatan keberanian mulai muncul di matanya.
"Aku hanya jujur, Ma," jawabku manis. Aku kembali menatap Selina. "Dan oh ya, Tante. Parfum Tante terlalu kuat. Itu adalah aroma musk yang digunakan untuk menutupi bau keringat dingin akibat kecemasan berlebih. Mungkin Tante butuh istirahat, atau mungkin... butuh pekerjaan baru yang tidak membuat Tante stres?"
Damian berdeham, menahan tawa yang hampir meledak. Ia melangkah maju, merangkul pinggang Mama di depan Selina. "Selina, Qinanti adalah Kurator Utamaku. Segera siapkan kantor di sebelah ruang kerjaku untuknya. Dan pastikan semua staf tahu: perintah dari Qinanti adalah perintah dariku."
Selina menunduk, tangannya gemetar. "Baik, Damian."
POV: QINANTI
Aku ditarik masuk ke dalam ruang kerja Damian yang luas. Dinding kaca besar memperlihatkan cakrawala Jakarta yang menakjubkan. Di sini, segalanya terasa begitu megah dan mengintimidasi. Namun, saat Damian membawaku ke ruangan sebelah—ruang kurasi yang sudah dipenuhi dengan beberapa lukisan bernilai jutaan dolar—aku merasa seperti menemukan oase.
"Ini teritorimu, Qin," bisik Damian di telingaku. Suaranya rendah dan hangat, membuat bulu kudukku berdiri. "Tidak ada yang boleh mengganggumu di sini. Termasuk Selina."
"Damian, dia asistenmu. Apa tidak apa-apa Lea bicara seperti itu?" tanyaku khawatir.
Damian terkekeh. "Anak-anak kita tidak pernah bicara tanpa data, Qin. Jika Lea bilang dia cemburu, maka dia memang cemburu. Dan jika Leo mulai mengetik di tabletnya seperti itu..." Damian melirik Leo yang sudah duduk di sofa sudut, "...berarti Selina punya masalah yang lebih besar dari sekadar parfum yang terlalu kuat."
Aku duduk di kursi kerja yang nyaman. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun melarikan diri, aku merasa memiliki tempat untuk berpijak kembali. Aku memiliki karierku, dan aku memiliki keluargaku. Meski keluargaku... jauh dari kata normal.
"Mama," Leo memanggil tanpa mengangkat wajah dari layarnya. "Jangan gunakan komputer di meja itu untuk urusan pribadi. Aku mendeteksi ada keylogger yang terpasang di sana. Nampaknya Selina ingin mengintip apa yang Mama kerjakan."
Aku terperangah. "Apa?"
"Tenang saja, Ma. Aku sudah membaliknya," ucap Leo datar. "Sekarang, setiap kali Selina mencoba mengintip layar Mama, komputernya justru akan menampilkan video animasi kelinci menari. Dan sementara itu, aku sedang mengunduh data pengiriman dana ilegal dari vendor kantor ini ke rekening pribadinya. Dia bukan hanya asisten yang cemburu, Papa. Dia adalah pencuri di rumahmu sendiri."
Damian berdiri tegak, auranya kembali menjadi sang Raja Mafia yang dingin. "Berapa banyak, Leo?"
"Cukup untuk membuatnya mendekam di penjara selama lima belas tahun, atau cukup untuk membuatnya 'hilang' selamanya jika Papa mau menggunakan cara lama," jawab Leo pragmatis.
Aku memegang tangan Damian. "Gunakan cara hukum, Damian. Demi anak-anak."
Damian menatapku lama, lalu mengangguk. "Demi anak-anak. Marco! Panggil polisi sekarang. Dan pastikan Selina tidak membawa apa pun saat keluar dari gedung ini."
POV: LEO (Jiwa Sang Marsekal)
Sambil urusan 'hama' bernama Selina diselesaikan oleh Marco dan polisi, aku kembali memusatkan perhatian pada layar tabletku. Masalah asisten Papa yang korupsi hanyalah gangguan kecil—variabel pengganggu yang mudah dieliminasi.
Namun, saat aku masuk lebih dalam ke jaringan terenkripsi yang biasa digunakan klan Vipera untuk transaksi internasional, aku menemukan sesuatu yang membuat jiwaku sebagai jenderal perang bangkit.
Ada sebuah pola. Sebuah bayangan yang lebih besar dari Baron.
“Lea, kau merasakannya?” ucapku lewat Shadow Talk.
“Ya, Kak. Atmosfer di luar gedung ini terasa berbeda. Ada tekanan dari arah utara. Bukan hanya satu orang, tapi sebuah organisasi,” balas Lea yang kini sedang asyik menggambar bersama Mama, namun matanya yang tajam sesekali melirik ke arah pintu.
Aku memperbesar sebuah log transaksi yang terhapus secara kasar. Ada satu nama yang muncul berulang kali: The Iron Fang. Sebuah sindikat tentara bayaran internasional yang biasanya hanya bergerak jika ada kontrak pemusnahan massal.
“Papa,” panggilku, suaraku kini sangat rendah dan serius.
Damian yang sedang berdiri di dekat jendela menoleh. “Ada apa, Leo?”
“Baron hanyalah pion, Papa. Dia hanya umpan untuk menarik kita keluar dari mansion. The Iron Fang baru saja mengaktifkan lima sel tidur mereka di Jakarta. Target mereka bukan hanya Papa.”
Aku memutar layar tabletku, memperlihatkan sebuah foto yang diambil dari kamera satelit yang baru saja kurantas. Itu adalah foto Vipera Tower, dengan beberapa titik merah yang menandai posisi sniper yang mulai mengambil posisi di gedung-gedung seberang.
“Mereka mengincar Mama dan kami,” lanjutku. “Di sini, di dalam benteng Papa sendiri.”
Wajah Damian berubah menjadi sangat pucat, lalu seketika menjadi sekeras batu karang. Ia melangkah menuju meja kerjanya dan menekan sebuah tombol merah di bawah laci.
KLIK!
Seluruh jendela di lantai 60 langsung tertutup oleh lapisan baja hitam antipeluru. Lampu ruangan berubah menjadi kemerahan. Alarm sunyi bergetar di tangan setiap pengawal klan Vipera.
“Qinanti, masuk ke dalam bunker di balik rak buku itu sekarang bersama Lea!” perintah Damian dengan nada yang tidak menerima bantahan.
Mama tampak panik, namun Lea segera menarik tangannya. “Ayo, Ma. Kita akan bermain petak umpet di tempat yang keren.”
Damian menarik sepucuk senjata dari laci mejanya, namun aku menahan tangannya.
“Jangan gunakan itu dulu, Papa. Itu akan menarik perhatian publik,” ucapku sambil mengeluarkan sebuah kontroler kecil dari tas ranselku. “Buka lubang udara di sektor empat. Aku sudah menyiapkan 'burung-burung' kecilku di sana.”
Aku menekan tombol 'Deploy'. Dari ventilasi udara di luar gedung, puluhan drone seukuran lebah meluncur keluar. Mereka tidak membawa peluru, melainkan pulsa elektromagnetik tingkat tinggi yang akan menghancurkan sensor pada teleskop sniper lawan.
“Papa adalah ototnya. Aku adalah otaknya. Dan Lea adalah radarnya,” aku menatap Damian lurus ke mata. “Mari kita tunjukkan pada Iron Fang bahwa mencoba menyentuh keluarga Xavier adalah kesalahan terakhir yang akan mereka lakukan dalam hidup mereka.”
Damian menyeringai—sebuah seringai predator yang mematikan. Ia mengisi peluru ke senjatanya, namun kali ini ia melakukannya dengan ketenangan seorang pria yang tahu bahwa ia tidak bertarung sendirian.
“Checkmate, Papa?” tanya Damian dengan nada menantang yang bangga.
Aku menyesuaikan letak kerah jas miniku. “Belum, Papa. Ini baru pembukaan. Tapi aku janji... ini akan menjadi kekalahan paling memalukan bagi mereka.”
Di luar sana, badai besar sedang bersiap menerjang Vipera Tower. Namun di dalam, di lantai 60, sang Raja Mafia dan ahli strateginya baru saja memulai simfoni serangan balik mereka.