Sequel Pelabuhan Hati
Bagi orang lain Karin adalah si antagonis untuk kehidupan kakaknya, namun siapa sangka di balik sikap yang dia tunjukkan selama ini dia menyimpan banyak luk. Di tambah dengan malam kelam yang terjadi adanya akibat ulah sahabat-sahabatnya, hidup Karin sejak hari itu berubah total.
Sementara itu Aiden sengaja datang ke Indonesia untuk mencari perempuan yang membuatnya selalu dalam rasa bersalah sejak malam itu. Namun siapa yang menyangka jika dirinya tak perlu bersusah payah untuk menemukan perempuan tersebut. Lalu apakah ada ruang untuk Karin di hati Aiden? Atau dia melakukannya hanya karena sebuah rasa bersalah?
“Selalu ada ruang untukmu di hatiku,” Aiden
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Anfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10# Ingin meminang putri om
Aiden menarik napas dan menghembuskannya perlahan, mobilnya sudah terparkir di halaman rumah keluarga Darmawan. Namun dia masih ada di dalam mobil, sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi papa Andi.
“Aku sudah di halaman,”
“Sebentar, kak! Aku ke depan dulu,”
Karin bergegas keluar untuk menemui Aiden, dia mengetuk kaca mobil. Aiden membuka kaca mobil, netra mereka saling bersitatap sejenak. Hingga Karin memalingkan wajahnya karena tersipu malu.
“Masuk, kak! Papa sudah menunggu sejak tadi,” Karin langsung membalik badan dan bergegas masuk ke dalam rumah.
Aiden terkekeh melihat Karin yang salah tingkah, setelah memastikan penampilannya rapi dia turun dari mobil. Aiden berjalan di belakang Karin, dia terus memandangi punggung perempuan yang saat ini mengandung calon anaknya.
Mereka berdua masuk ke dalam rumah, jika kemarin hanya sebatas di ruang tamu. Kali ini Karin membawa Aiden masuk hingga ruang keluarga.
“Kak Aiden silahkan duduk! Karin panggil papa dulu,” ucapnya diangguki Aiden.
Karin meninggalkan Aiden sendiri di sana, dia berjalan menuju ruang kerja papa Andi.
Tok…Tok
“Masuk!” titah papa Andi.
Karin masuk ke dalam ruang kerja, di sana ada papa Andi dan juga Alya. Entah ke duanya sedang membahas tentang apa, karena saat Karin masuk mereka sudah selesai bicara.
“Ada apa, Rin?”
“Kak Aiden sudah datang, pa. Dia ada di ruang keluarga,” ucap Karin diangguki papa Andi.
Papa Andi beranjak dari singgasananya, dia melangkah keluar dari ruang kerja. Karin menoleh ke belakang saat dia sudah ada diambang pintu ruang kerja papanya dan hendak keluar.
“Kamu tidak ikut?” tanyanya pada Alya.
Gadis itu menggeleng. “Baby masih piyik, ndak boleh ikut campur urusan orang dewasa. Nanti bisa tantlum,” jawabnya menirukan suara khas anak kecil.
“Bayi mana yang segede kamu, Alya. Bisa minta ini itu,” gerutu Karin.
“Bayinya papa Andi, Alya yang cuntik dan baik hati ini.” Alya beranjak dari duduknya, dia juga keluar dari sana karena obrolannya dengan sang papa sudah selesai. “Minggir dikit! Baby mau lewat,” Alya sedikit menyenggol lengan sang kakak.
Gadis itu naik ke lantai atas, bukan tidak perduli pada masalah yang sedang dialami kakaknya. Hanya memang Alya tidak ingin ikut campur, dia berhenti dan menoleh ke bawah. Di mana Karin masih berdiri diambang pintu sedang melamun menatap ke depan, tepatnya kearah ruang keluarga.
“Mbak!” panggil Alya.
Karin membuyarkan lamunannya dan menoleh pada Alya. “Hmm?”
“Jangan merasa ini adalah hukumanmu karena kak Rhea, dia pasti juga sedih jika tahu apa yang terjadi padamu saat ini. Kamu juga berhak bahagia atas dirimu sendiri, tidak harus selalu menuruti permintaan mama. Dirimu sendiri dululah yang paling penting untuk bahagia, bakti pada mama dan papa harus. Tapi jangan sampai kamu mengorbankan dirimu dan menjadi jahat di mata orang lain,” Alya menatap sendu pada Karin. “Aku dan kak Rhea merindukan mbak Karin yang dulu. Mbak Karin yang tiba-tiba minta di temani makan sea food pinggir jalan atau makan soto seger pagi hari,” lanjut Alya.
Karin menatap sang adik, dia tidak menjawab satu katapun. Ke dua kakak beradik tersebut saling tatap, Alya lantas tersenyum pada Karin. Dia bisa melihat dari sorot mata kakaknya. Karin memang tidak membalas ucapan Alya, namun sang adik dapat melihat jawaban dari sorot dan tatapan mata kakaknya tersebut.
“Karin!”
Panggilan dari papa Andi membuat ke duanya seolah kembali ke dalam kenyataan. “Iya, pa.” Karin langsung bergegas menuju ruang keluarga, sedangkan Alya kembali ke kamarnya di lantai atas.
***
Suasana di ruang keluarga Darmawan cukup hening, belum ada satupun dari mereka yang mengeluarkan suaranya. Aiden duduk berbatas meja kaca di hadapan papa Andi dan mama Nirma, dia tegang. Andai Rega sedang tidak terkena musibah, mungkin saat ini papa Harun dan mama Indah akan ada bersamanya di tempat itu dan membuatnya lebih tenang.
Sedangkan Karin duduk di single sofa yang ada di samping papa Andi, dia menunduk tak berani memandang papanya maupun Aiden.
Aiden seperti seorang terdakwa yang akan di hakimi karena kejahatannya, namun dia tidak boleh mundur. Dia harus siap menghadapi hukuman apapun dari papa Andi, meskipun sebenarnya yang terjadi dengan Karin dan dirinya bukanlah seratus persen kesalahannya. Aiden tetap haru bertanggung jawab atas semua yang sudah terjadi, dia sudah melakukan kesalahan berat dan dia tidak ingin anak yang ada dalam kandungan Karin akan mengalami seperti dirinya. Aiden harus hidup tanpa kasih sayang lengkap dari orang tuanya, dia tahu benar rasa sakitnya terabaikan dari ke dua orang tua yang masih ada.
“Ekheem…apa tujuanmu kemari, Aiden?” papa Andi mengawali pembicaraan.
Aiden langsung mengangkat wajahnya, dia membenarkan posisi duduknya sedikit lebih tegak. Dia menarik napas dan menghembuskannya perlahan, baru setelah itu Aiden mulai mengutarakan tujuannya datang ke rumah keluarga Darmawan.
“Sebelumnya saya ingin minta maaf dulu pada om juga tante, dan lebih utamanya saya ingin minta maaf pada Karin.” Aiden menatap Karin yang masih menunduk, namun dia sedikit mengangkat wajahnya saat mendengar Aiden menyebut namanya.
“Maaf Karin, harusnya hari itu aku memaksa untuk menikahimu. Atau seharusnya aku datang ke Indonesia lebih cepat untuk mencari keberadaanmu, nyatanya aku baru muncul sekarang. Bahkan saat janin itu sudah mulai tumbuh di dalam rahimmu, aku benar-benar minta maaf.”
Papa dan mama Karin mendengarkan Aiden yang saat ini sedang menatap kearah putri mereka, tak ada satupun dari mereka yang menyela ucapan Aiden. Papa Andi bahkan terus menatap netra Aiden tanpa henti, dia ingin tahu apakah Aiden mengatakannya dengan jujur tulus dari hati atau hanya karena sebuah tanggung jawab yang di barengi rasa bersalah. Sedangkan Karin, tenggorokannya tercekat mendengar ucapan Aiden.
Aiden kemudian beralih menatap papa Andi dengan tatapan penuh arti. “Saya tahu sudah melukai om Andi sebagai papa dari Karin, perbuatan saya tidak bisa di benarkan. Meskipun bukan sepenuhnya kesalahan ada di saya ataupun Karin, tapi saya tidak akan menghindar. Saya minta maaf, om. Tujuan saya datang ke mari adalah ingin meminang putri om untuk menjadi istri saya,” ucap Aiden tegas dan penuh keyakinan, dia menatap papa Andi.
Papa Andi menghela napas. “Kamu tahu Aiden, bagaimana hancurnya seorang ayah saat mendapati putrinya di rusak oleh seorang pria?“ Aiden menggeleng. “Maaf, om!” lirihnya.
“Sebagai seorang ayah aku merasa gagal, Aiden. Bukan hanya sebagai ayah, tapi juga sebagai suami.” Papa Andi menghela napas berat, mama Nirma dan Karin menatap pemimpin dalam keluarga Darmawan tersebut dengan sendu.
“Jika ada yang harus di salahkan dalam hal ini adalah aku, papanya Karin. Aku yang tidak bisa mendidik istriku dengan baik, sehingga dia sangat memanjakan Karin. Apapun yang diinginkan Karin selalu dia turuti, hingga hari di mana kalian bertemu dan terjadilah dosa besar itu.” Papa Andi bahkan sudah berkaca-kaca, dia menatap putrinya yang sudah berderai air mata. “Maafkan papa, nak! Semua ini salah papa dan mama yang terlalu egois,” ucapnya.
Karin menggeleng. “Papa adalah papa yang terbaik untuk Karin, semua yang terjadi adalah kesalahan Karin sendiri. Papa jangan menyalahkan diri sendiri,” ucap Karin dengan berderai air mata, sedangkan mama Nirma hanya diam. Hatinya sakit saat melihat suaminya menyalahkan diri sendiri, semalam bahkan papa Andi tidur di ruang kerja dan sejak semalam juga papa Andi tidak bicara sepatah katapun pada mama Nirma.
“Aiden!”
“Iya, om.”
“Apa kamu serius ingin menikahi Karin bukan hanya karena rasa bersalah dan tanggung jawab?”
Aiden mengangguk. “Saya serius!”