Pada suatu malam di bulan Mei, hidup Andra hancur dalam satu detik, kecelakaan itu tidak merenggut nyawa istrinya.Tapi merenggut sesuatu yang jauh lebih kejam—seluruh ingatan Meisyah tentang dirinya.
Bagi Mei waktu berhenti di tahun 2020.
Sebelum Andra ada sebelum mereka jatuh cinta, sebelum mereka menikah diam-diam di apartemen kecil yang bahkan keluarganya tidak pernah mengakui.
Sekarang, Andra hanyalah pria asing yang mengaku sebagai suaminya.Dan di dunia yang tidak lagi mengingat mereka,ada satu orang yang justru terasa familiar bagi Meisyah—
Fero.
Pria yang dulu dipilih keluarganya, pria yang seharusnya menjadi masa depan Meisyah… sebelum Andra datang dan mengubah segalanya.
Dipaksa hidup bersama orang yang tidak ia kenal, Mei mencoba memahami dirinya sendiri melalui foto, diary, dan seorang suami yang mencintainya dengan kesabaran menyakitkan.
Apakah cinta yang pernah mereka bangun akan kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Tuhan
Tiga tahun sebelum Andra mengenal arti kehilangan, dan untuk pertama kalinya ia melihat Meisyah di sebuah tempat bahkan tidak pernah dia rencanakan untuk datang.
Namun, takdir sering kali bekerja dengan cara yang paling sunyi. Ia tidak pernah mengetuk pintu dengan terburu-buru hanya hadir, merayap pelan, membawa pertemuan-pertemuan kecil kelak terasa monumental di mata hati.
Panti asuhan kecil itu berdiri di ujung jalan yang tidak terlalu ramai disudut kota, hanya ada beberapa rumah di sekitarnya, dan satu warung kecil di seberang jalan menjual es teh dan gorengan.
Bangunannya sederhana dengan cat tembok mulai pudar, dan pagar besi sedikit berkarat—sisa-sisa air hujan yang membekas terlalu lama.
Di halaman depan ada pohon mangga tua menaungi beberapa bangku kayu. Daun-daunnya yang rimbun jatuh berguguran saat angin berembus, menciptakan karpet alami di tanah.
Andra sebenarnya datang hanya karena temannya Rei memaksa.
"Sekali saja ikut," kata Rei dua hari sebelumnya. Ada nada memohon terdengar asing dari seorang laki-laki biasanya cuek. "Panti Asuhan Aisyah lagi butuh orang untuk acara makan siang. Gue janji, lo gak bakal nyesel."
Andra bukan tipe orang yang sering ikut kegiatan seperti itu, bukan karena dia tidak peduli, hati keras atau dingin, hanya… tidak tahu harus melakukan apa di tengah keramaian orang-orang dengan tujuan mulia. Dia seperti orang asing yang salah kostum—tidak tahu cara berbicara, memulai dari mana.
Tapi pagi itu, entah kenapa dia tetap datang.
Mungkin karena akhir pekan terlalu sepi di kamar kosnya, suara Rei terdengar lebih serius dari biasanya. Atau mungkin—hatinya terlalu sunyi dalam kesendirian.
Halaman panti sudah ramai ketika Andra tiba.
Anak-anak berlarian ke sana kemari dengan suara tawa terlalu jujur untuk dunia kejam. Ada yang bermain kejar-kejaran di antara bangku kayu, bergelantungan di dahan rendah pohon mangga meski sudah dilarang berkali-kali.
Beberapa anak duduk di tikar plastik di bawah pohon mangga, asyik menggambar dengan kapur tulis di atas lantai teras. Yang lain membantu membawa piring dari dapur kecil di belakang bangunan, langkah kecil mereka tertatih-tatih dengan penuh rasa tanggung jawab yang mengharukan.
Andra berdiri di dekat gerbang, sedikit canggung tangan ke dalam saku celana, melihat kiri dan kanan, mencari Rei di tengah lautan anak-anak yang riuh. Dia seperti pulau kecil sunyi tanpa penghuni.
Seorang anak laki-laki kecil kira kira lima tahunan berlari sambil membawa sendok plastik hampir menabrak seorang gadis muda baru saja masuk ke halaman.
Dia dengan refleks memegang bahunya gerakan cepat"Hati-hati, Pak Kapten."
"Kakak kenapa manggil aku kapten?" Anak itu berhenti matanya berbinar
Sudut bibir gadis berwajah lembut itu mengulas kecil hangat, seperti mentari pagi yang baru muncul."Kamu larinya seperti kapal perang hampir menabrak kakak"
"Eh, ia kak, berarti Deni kapten sungguhan."
Ia mengangguk pelan, " Tapi pak Kapten harus harus tahu bagaimana membawa kapal jalan kalau enggak kapalnya nabrak."
"Siap Kak." Ia berlari lagi—kali ini sedikit lebih pelan.
Gadis itu menghela napas lega, kehangatan yang tak bisa disembunyikan.
Andra tidak tahu kenapa ia memperhatikan gadis cantik berkemeja putih sederhana dengan lengan digulung sampai siku itu. Rambutnya diikat asal di belakang kepala, beberapa helai jatuh di pelipis karena gerah. Tidak ada sesuatu yang terlalu mencolok dari penampilannya, tidak ada make-up tebal, aksesori mahal.
Tapi ...wajahnya penuh kelembutan dengan sorot mata damai, caranya berbicara dengan anak kecil berbeda, bukan datang untuk "beramal" atau relawan membaca skrip dari buku panduan, ia benar-benar menikmati keberadaannya di sana.
Suara Rei membuatnya menoleh, tubuh gendut muncul dari kerumunan, membawa kardus berisi gelas plastik.
"Lo bengong ngapain?"
Andra menunjuk ke arah halaman."Banyak anak."
"Ya iya. Ini panti asuhan. Lu kira mal?" Rei tertawa ngikik.
Ia nyengir masam.
" Tugas Lo sekarang menjaga nasi."
" Ha? "
" Lu bantuin nyendokin nasi anak anak biar gak berserak."
Andra hanya diam mematung
--+
Seorang pengurus panti, perempuan paruh baya memakai celemek keluar dari dapur membawa panci besar. Asap mengepul dari dalam panci, membawa aroma sayur sop yang hangat dan goreng ayam. "Adik adik relawan yang mau bantu bagi makanan, ke sini ya!"
Beberapa relawan langsung bergerak mengambil piring sendok, mengatur meja lipat.
Andra ikut mendekat berdiri di belakang meja panjang tugasnya menuangkan nasi untuk anak anak. Mereka mulai berbaris dengan piring plastik di tangan, ada yang sabar menunggu, ada yang tidak sabar menjulurkan piring dengan dagu naik ke atas meja.
Beberapa anak terlalu kecil untuk memegang piring dengan stabil. Salah satu dari mereka berdiri di depan Andra, gadis kecil dengan rambut di kuncir dua. Usianya mungkin lima atau enam tahun memakai baju long dress kebesaran, tapi bersih. Dia menatap Andra dengan mata besar—bola mata cokelat jernih seperti air sungai.
"Om."
Andra sedikit kaget panggilan itu terasa berat di telinga, umurnya baru 26 tahun.
"Iya?"
"Nasinya jangan terlalu banyak."
Andra mengerutkan kening sendoknya berhenti di atas piring."Kenapa?"
"Nanti gak abis, masih banyak yang mau makan ."
Andra tersentak menatap nya serasa melihat bayangannya sendiri di permukaan piring plastik buram. Terkadang manusia terlalu rakus mengambil yang bukan haknya, sungguh berbeda di sini. " Segini?"ia menuangkan setengah centong di piringnya.
Gadis kecil tersenyum lebar begitu polos membuat dada laki laki itu menghangat diremas pelan.
--
Andra tidak menyadari perempuan berwajah lembut itu berdiri tepat didepannya membagikan sayur. Gerakannya terampil, cepat, tapi lembut. Dia menyendok sayur ke setiap piring anak dengan jumlah pas—tidak terlalu banyak, dan tidak pula terlalu sedikit.
Seorang anak laki-laki kecil menarik ujung bajunya."Kak."
Ia menunduk rambutnya lepas jatuh ke depan.
"Iya?"
"Mizan boleh tambah ayam?"
"Sayang habiskan nasinya dulu, ya." ucapnya tersenyum tipis
" Nanti Mizan habiskan!"
"Janji?"
"Janji!" Ia mengangkat tangan kecilnya seperti bersumpah.
"Oke sayang kakak simpan satu buat kamu."
Anak itu berlari dengan wajah bahagia hampir menabrak temannya karena terlalu bersemangat.
Ia melanjutkan membantu anak berkebutuhan khusus dengan sabar membuka tempat minum, mengelap dagunya yang basah.
Gerakannya natural seolah-olah dia sudah melakukan ini berkali-kali, tidak ada tempat lain di dunia ini yang ingin dia tuju selain di sini.
Setelah anak anak mendapat makanan panti menjadi lebih tenang, yang terdengar hanya suara sendok plastik menyentuh piring dan obrolan kecil anak-anak. Beberapa dari mereka tertawa tidak terdengar jelas. dan yang lain sibuk memilah sayur tidak mereka sukai.
Tugas Andra sudah selesai menjauh di dekat pohon mangga tidak tahu harus ke mana. Rei sibuk mengobrol dengan pengurus panti di dekat dapur. Meja makanan sudah mulai dibersihkan.
Dia melihat gadis itu duduk dengan seorang anak perempuan kecil bersandar di bahunya dengan mata setengah terpejam,
"Kenapa kakak tidak makan?" tanyanya sambil mengantuk.
"Kakak belum lapar."
" Anya suapin ?"
Dia tertawa lembut lonceng kecil tertiup angin," Kakak belum laper."
"Sekarang lapar." Tangannya yang mungil bergerak menyuapkan sedikit nasi ke mulutnya
Pemandangan itu membuat hati Andra tersentuh, caranya bicara, senyuman dengan mata sebelum bibir bergerak, dan sikap lembutnya membuat anak-anak di sekitarnya merasa aman.
Rei berjalan mendekat menepuk bahunya "Lu kenal dia?"
Andra tersentak "Siapa?"
"Meisyah gadis yang membantu anak anak panti"
"Tidak."
"Dia sering ke sini."
"Serius?"
"Dari dulu Mei suka membantu menghabiskan akhir pekannya."
Meisyah, Andra bergumam, gadis cantik penuh kesabaran membantu anak anak, tidak sedang mencetak poin kebaikan di buku catatan langit hanya… berada di sana sepenuhnya dengan hati utuh.
Beberapa menit kemudian, seorang anak kecil tiba-tiba menangis cukup keras, duduk di sudut tikar memegang piring kosong. Air matanya mengalir deras, membasahi pipi tembemnya.
Meisyah langsung mendekat cepat "Kenapa sayang?"
"Ayamku jatuh…"
Ia dengan reflek berjalan ke meja makan, pengurus panti sudah mulai membereskan panci, tapi dengan cepat mengambil satu potong ayam tersisa
"Ini."
Anak itu menatap dengan mata basah, tangisnya mulai mereda. "Tapi itu bukan punyaku, Kak."
"Sekarang punyamu, Nak."
Ia menerima dengan hati-hati seperti menerima harta karun, tangisnya berhenti total.
---
Gadis itu tidak merasa sedang diperhatikan, di bawah pohon mangga yang daunnya berguguran. Di sebuah panti asuhan dengan cat tembok pudar diantara anak-anak tak berayah beribu.
Dan Andra tidak tahu bahwa beberapa tahun lagi wanita itu akan menjadi istrinya, suatu hari nanti, ia akan mengenakan gaun putih berjalan menuju pelaminan dengan gugup, lalu tersenyum padanya dengan cara yang sama seperti senyumannya pada anak-anak itu.
Dia juga tidak tahu bahwa suatu hari nanti—
wanita yang sekarang duduk di tengah anak-anak yatim akan bangun di rumah sakit dan tidak lagi mengingat bahwa mereka pernah bertemu di bawah pohon mangga
di sebuah panti kecil pada hari pertama
Andra jatuh cinta.