Santaka, anak dari pemilik pesantren besar di Solo—yang berprofesi sebagai chef pastry—terpaksa menikah dadakan dengan Nandini, tetangga sekaligus montir bengkel langganannya.
ini semua karena mereka tertangkap basah di mobil Santaka dalam kondisi mengundang fitnah.
"Gus Taka dan Dini tertangkap di mobil! Suaranya mencurigakan, apalagi baunya..."
Itu kesaksian pihak yang menangkap basah. Tak tanggung-tanggung, tiga orang jadi saksi.
Bisakah Santaka—gus yang lembut—menjadi imam bagi Nandini—montir bengkel yang keras?
Kini kehidupan Nandini bukan lagi tentang oli dan kunci inggris, tapi umat dan pesantren. Sanggupkah sang montir bengkel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inna Kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
05 SAH!
Syifa Azzura tersenyum getir mendengar perkataan Lastri. Santaka sudah memiliki calon sendiri. Bukan dari kalangan pesantren. Pelanggan toko rotinya, masih tetangga.
Seorang gadis biasa yang unggul karena menjadi pembeli setia roti Santaka. Tahu begitu setiap hari Syifa borong semua produk di SS, begitu orang biasa menyebut Sweet Sanctuary—toko roti Santaka.
Jika tak takut berdosa karena menyesali takdir, Syifa menginginkan waktu dapat ia ulang. Ia akan mengajak Santaka mengobrol di toko roti pria itu.
Padahal Syifa suka mengunjungi SS namun hanya jadi penikmat roti SS. Jadi penikmat pemiliknya juga, dari kejauhan. Dalam sunyi.
Ahsan Aulia Al Fatih—sepupu Santaka dari pihak Mansur sedang mengawasi Ndalem berbenah. Menyambut penyelenggaraan hajatan pamungkas Mansur.
“Gus Ahsan, Umi minta tulung... Kirim gamis ini, buat pengajian besok, ke rumah calon istri Gus Taka, deket kok.
Tanya alamatnya sama Lik Slamet.” Lastri mengangsurkan kantong kain kepada keponakannya. Ahsan mengangguk.
Menunggangi motor matic hitam, Ahsan berangkat ke rumah Surbakti. Ia sempat bertanya pada warga yang mana rumah yang ia tuju.
“Oh, rumah Mbak Dini yang mau nikah sama Gus Taka? Tuh di sana Mas, yang cat cokelat, pager cokelat,” tunjuk si warga yang tak mengetahui identitas Ahsan.
Ahsan memang baru enam bulan di Al Fatih. Ia diminta Danendra untuk membantu mengajar di pondok. Pelajaran sirah nabawiyyah dan sejarah Islam.
Sang gus yang seusia Nandini itu, 24 tahun, juga sedang memakai kaus oblong dan celana kain. Tak nampak sebagai orang pondok, apalagi gus.
“Assalamua’laikum.” Ahsan melihat seorang wanita muda berjongkok di samping motor. Ia seperti sedang memeriksa busi motor. Tunggu, kenapa sosoknya seperti tak asing?
“Wa’alaikumsalam.” Nandini bangkit dari jongkok dan menghampiri Ahsan. Matanya membulat ketika melihat siapa yang berdiri di balik pagar rumahnya.
“Ahsan?”
“Dini?”
Ahsan adalah pelanggan di Mulyo Jaya. Ia menservis motornya di bengkel Surbakti setiap bulan. Jadi tentu Nandini mengenalinya.
“Kamu, Mbak Dini, calon Gus Taka?” Ahsan terperangah. Nandini, seorang montir bengkel, bisa-bisanya menjadi calon istri Santaka. Tak masuk akal. Sudahlah Santaka itu kalem, dunianya itu jomplang dengan Nandini.
Ketemu di mana mereka? Katanya langganan toko Santaka? Sulit dipercaya. Nandini tak seperti wanita pemuja gula.
Proses pernikahan Santaka dan Nandini memang dilakukan secara bypass, potong kompas. Tidak ada lamaran atau perkenalan keluarga besar. Keluarga besarnya diinfokan jika proses lamaran dilakukan hanya oleh keluarga inti, privat. Permintaan Santaka.
Mengingat rekam jejak Santaka yang sering beda sendiri dan tidak berbau tradisi, keluarga besar pun memaklumi. Mau bagaimana lagi, toh sang Yai saja setuju, masa mereka tidak.
Ahsan memindai penampilan Nandini sekilas. Ia langsung menunduk. Gadis itu menggunakan oversized shirt tipis berwarna abu muda dan celana pendek selutut. Rambutnya digelung dengan beberapa helai rambut berjatuhan. Cantik dan... seksi. Serius istri gus seperti ini? Yai mengizinkan?
“Hehehe, ya... gitu deh... Kamu mau ngapain, San?”
“Anter ini.” Ahsan menyerahkan kantong kain itu pada Nandini.
“Kamu apanya Gus Taka?”
“Aku sepupunya.”
“Hah? Jadi... kamu gus juga?” Ahsan mengangguk.
“Ndak nyangka...” sahut Nandini.
“Sama... aku juga ndak nyangka kamu bisa jadi calon istri Gus Taka.”
Nandini tersenyum sinis. Sama San, aku juga ndak nyangka aku calon istri Gus Roti... Ndak mau malah sebenernya. Ndak mau banget.
*
*
Sehari sebelum pernikahan digelar, pengajian dilaksanakan di Ndalem. Pelaksanaannya terpisah antara laki-laki dan perempuan.
Nandini mengenakan gamis pemberian Lastri. Gamis berpotongan minimalis nan indah dengan kerudung segi empat lebar.
Ini akan menjadi model pakaian sehari-hari bagi Nandini. Seragam kebesarannya sebagai seorang istri gus.
Bukannya Nandini tak paham konsep kewajiban menutup aurat. Hanya saja ia belum siap menutup dirinya langsung sedrastis itu.
Pakaian seperti itu tak praktis untuk dirinya yang sat set. Bagaimana nanti jika ia mengganti oli atau memperbaiki mesin motor?
Nandini menarik napas. Ia perlu membuat dadanya yang sesak ini menjadi lega. Bisa-bisanya ia berpikir mau ganti oli. Jelas-jelas Surbakti mengatakan ia pensiun sebagai montir setelah menjadi istri Santaka.
Menjadi istri seorang gus adalah menjadi tawanan seumur hidup bagi Nandini. Ia ingin kabur, tapi bayangan wajah Surbakti dengan mata berkaca-kaca seakan mengikatnya. Menjadi jangkarnya untuk terpaku dan harus pasrah menerima suratan takdir yang pahit ini.
Hari besar itu tiba. Hari yang ditunggu-tunggu jamaah namun tidak dinantikan oleh pasangan pengantin yang bersangkutan.
Jamaah ingin melihat pendobrakan tradisi. Seorang gus yang menikah dengan gadis biasa, tanpa latar belakang pondok, dunia pendidikan atau hal agamis.
Ini adalah cinta sejati. Cinta yang bisa menyatukan dunia yang berbeda. Tak memandang kasta atau status sosial. Cinderella versi religius di dunia nyata.
Itulah anggapan yang beredar di kalangan jamaah. Sungguh manis dan menyentuh. Kue buatan Santaka kalah manis.
Sayang, realitanya tak semanis itu. Dengan wajah tertekuk Nandini didandani oleh tim perias. Sang pengantin wanita meminta dipakaikan cadar.
Bukan agar tampil layaknya wanita salihah. Alasan Nandini adalah tak mau wajahnya terpampang nyata di hadapan tamu. Setidaknya ia bisa tetap menekuk wajahnya tanpa membuat ayahnya sedih atau Lastri marah, karena ada cadar sebagai penghalang.
Santaka terus melafalkan zikir penenang hati. Di saat pengantin lain telah membulatkan hati sebelum menikah, hati Santaka belum juga yakin menjalani ijab kabul yang tinggal hitungan menit itu.
Helaan napas panjang keluar dari mulut Santaka. Ia melihat Nandini dengan cadar putih keluar dari ruangan pengantin wanita. Hati sang gus berdebar.
Bukan berdebar karena cinta. Berdebar karena rasa takut. Setelah ijab kabul wanita itu menjadi tanggung jawab Santaka, dunia akhirat.
Sanggupkah dirinya, sementara Santaka menjalani pernikahan ini dengan setengah hati? Ia khawatir pernikahan ini malah menjadi ladang dosa baginya, bukan ladang pahala seperti seharusnya.
Nandini menatap ayahnya yang juga menatapnya dari meja akad. Mata Surbakti penuh air yang siap merembes. Rasa haru menyeruak dari dada lelaki paruh baya itu.
Rasanya tak percaya, gadis kecil yang Surbakti besarkan seorang diri karena ditinggalkan oleh sang istri ke alam baka—sejak Nandini berusia enam tahun—hari ini menikah. Dengan laki-laki yang sangat unggul secara bibit, bobot dan bebetnya.
Aula Ndalem mendadak senyap ketika pembawa acara menyatakan puncak acara akan dimulai. Ijab kabul. Prosesi suci yang menggetarkan langit, disaksikan langsung oleh Allah dan ribuan malaikat.
Sejatinya akad nikah akan dilakukan dalam bahasa arab, sesuai tradisi di Al Fatih, namun Surbakti tak menyanggupinya. Ia sudah berlatih selama satu minggu, lidahnya tak kunjung lentur berucap teks ijab dalam bahasa Arab.
Menyadari calon besannya dari kalangan awam, Mansur pun memaklumi Surbakti. Akad nikah akan dilakukan dalam dua bahasa.
Surbakti berdeham. Santaka menahan napasnya. Tangan yang setiap hari berlumur oli itu kini menggenggam tangan kokoh yang lincah menguleni adonan.
Surbakti mengatur napas agar suaranya tak terlalu bergetar. Ia gagal, getar itu begitu kentara.
“Ananda Santaka Muttaqa Al Fatih bin Mansur Muttaqien Al Fatih... saya nikahkan dan saya kawinkan putri kandung saya, Nandini Basundari binti Surbakti Mulyo, kepada engkau... dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan perhiasan emas seberat 30 gram, dibayar tunai.”
Nandini memejamkan matanya. Kilasan insiden di mobil, tangis Surbakti, konfrontasinya dengan Santaka, berputar di pikirannya. Matanya menghangat.
Detik berikutnya, suara bariton Santaka menggema di aula Ndalem. Tanpa jeda, tanpa ragu, pria yang terkenal tak banyak bicara itu, mengucapkan ikrar sucinya.
“Qobultu nikahaha wa tazwijaha linafsi bil mahri madzkur haalan!”
“Bagaimana saksi, sah?” tanya petugas KUA.
“SAH!” kedua saksi menjawab bersamaan.
“Alhamdulillah, baarakallah...” ucapan tanda syukur terdengar di setiap sudut aula. Seluruh yang hadir turut berbahagia.
Nandini diminta maju ke meja akad untuk menandatangani berkas pernikahan. Kedua mempelai kemudian diminta berdiri.
Santaka meletakkan tangan kanannya di kepala Nandini yang tertunduk. Ia melafalkan doa memohon kebaikan dan perlindungan atas sifat pasangan.
“Allahumma inni as-aluka khairaha wa khaira maa jabaltaha alaihi, wa a'udzubika min syarriha wa syarri maa jabaltaha alaihi.”
“Silakan Gus Taka, kalau mau cium kening Mbak Dini. Sudah halal lho...” Petugas KUA menggoda pengantin baru itu.
Godaan itu menjadi bensin bagi jamaah yang hadir. Mereka ikut-ikutan menyuruh Santaka melakukan ritual yang lazim bagi pasangan yang baru menikah.
Apalagi Santaka dan Nandini adalah ikon baru cinta sejati Al Fatih. Jamaah gemas ingin menjadi saksi kisah itu.
Santaka menatap istrinya, ragu untuk memenuhi permintaan khalayak. Nandini mendelikkan matanya, tipis-tipis, takut dilihat Surbakti.
Melihat delikan mata Nandini, awalnya membuat Santaka tak ingin menanggapi keinginan jamaah, namun ucapan ‘Gus lemah! Tak greget!’ kembali melintas.
Santaka memajukan tubuhnya. Ia memegang bagian samping kepala sang istri kemudian mencium kening Nandini, cukup lama.
Nandini membeku. Bibir Santaka terasa hangat di dahinya. Bukankah seharusnya yang hangat membuat lumer?
Santaka menarik diri dari kepala sang istri. Senyum puas tercetak tipis di wajahnya. Nandini mengetatkan rahangnya yang tersembunyi cadar. Awas kamu Gus Roti, lancang!
istri Gus Taka, te ou pe be ge te. aku padamu mb Dini... 😘😘
Rasainnnn kelennnn 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Rasain Ahsan, emang enak lihat bekas kemesraan Taka & Dini... ? suruh tuh abahmu belain kamu, agar Taka kena sanksi Krn bekas mesranya Taka+ Dini terlihat. biar semua sadar, siriknya si Mahmud+ Ahsan
g tidur ah, nungguin Ahsan + Yai Mahmud angkat kaki balik ke Magelang 😄😄
panaaaaassss nihhhh Ahsannn panass yaaaaa.... yaaa panassss dongggg pastinyaaaa 🤣🤣😏 Nandini ituu sama Santaka udah saling sayang saling cinta jadi otomatis saling menguatkan satu sama lainn.. kamuuu iriiiiii ? ya tentu sajaaaa, maka nikmati dg baikkkk wahai sampahhhh pondok 😏😏😏😤
semoga Gus Abi bijak dlm mensikapi. tendang aj Ahsan dr Al Fatih. biar dia penerus PP Al Irsyad aj