NovelToon NovelToon
RONALD & FANIA

RONALD & FANIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Cintapertama
Popularitas:384
Nilai: 5
Nama Author: WILONAIRISH

Menjalin hubungan yang cukup lama, apalagi setelah satu atap bersama. Membuat seorang Fania merasa bosan dan jenuh pada hubungannya bersama sang suami, Ronald.

Hingga suatu hari kejujuran Fania membawa perubahan baru dalam kehidupan mereka.

Sebagai seorang suami, Ronald yang begitu mencintai Fania akan selalu berusaha memenuhi keinginan istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WILONAIRISH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21

Pintu kamar tertutup. Kali ini lebih keras dari biasanya. Fania berdiri tepat di baliknya, tidak bergerak dan tangannya masih menempel di gagang pintu. Seolah kalau ia melepas semuanya akan benar-benar jatuh.

Dadanya naik turun cepat dan tidak teratur. Ia menutup mata sekejap, namun yang muncul justru gambar itu lagi. Ronald dan wanita itu yang terlihat dekat, tertawa dan tampak nyaman. Seperti bukan yang pertama kali.

“Mereka hanya sepupu,” bisiknya pelan. Seolah itu cukup, seolah itu tak harus cukup. Namun tubuhnya tidak percaya.

Ia mendorong dirinya menjauh dari pintu, langkahnya cepat menuju cermin. Berhenti tepat di depannya menatap wajahnya sendiri. Matanya terlalu jujur

“Apa yang sedang ku lakukan.” Ia menggeleng, kesal. Bukan pada siapa-siapa tapi pada dirinya sendiri.

“Aku tak cemburu.” Kalimat itu keluar dengan tegas, lebih keras dari sebelumnya. Seolah sedang memarahi seseorang. Padahal ia sedang berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Ia tertawa kecil, terasa hambar.

“Itu tak mungkin.” Ia menyilangkan tangannya menatap bayangannya dengan tajam.

“Aku sudah tak mencintainya.” Satu kalimat yang ia ulang, lagi dan lagi. Namun setiap kali diucapkan rasanya semakin tipis.

Semakin tidak kuat, seolah hanya lapisan luar yang menutupi sesuatu yang jauh lebih dalam. Ia memalingkan wajah, tidak sanggup melihat dirinya sendiri terlalu lama.

Langkahnya menuju ranjang, duduk lalu berdiri lagi. Ia terlihat gelisah dan tak bisa diam. Pikirannya terlalu bising.

“Hanya kebetulan.” Ia kembali bicara dengan cepat. “Mereka bertemu karena memang ingin bertemu.” Ia mengangguk sendiri, menyusun logika.

“Wajar, mereka keluarga.” Masuk akal, dan sangat masuk akal. Namun kenapa dadanya tetap sakit? Ia berhenti, kali ini benar-benar berhenti. Menekan dadanya sendiri, di sana rasa itu masih ada, tidak hilang, tidak mengecil, justru semakin jelas. Dan itu membuatnya kesal.

“Kenapa aku sebenarnya” gumamnya. Lebih frustrasi karena logikanya tidak sejalan dengan perasaannya.

Pintu kamar terbuka, Ronald masuk dengan langkah tenang seperti biasa. Seperti tidak ada yang berubah. Dan justru itu yang membuat sesuatu di dalam Fania kembali terusik.

Ia tidak menoleh namun seluruh tubuhnya sadar bahwa Ronald berada di ruangan yang sama dengannya. Ada dalam jarak yang terlalu dekat dan terlalu jauh di saat yang sama. Hening beberapa detik, sampai terdengar Ronal menutup pintu. Kemudian melangkah untuk melepaskan jamnya di atas nakas.

Gerakan sederhana, namun suara kecil itu terdengar jelas di kepala Fania.

“Aku pikir kau langsung istirahat.”

Suara Ronald akhirnya muncul, datar dan tenang. Seolah tidak ada yang perlu dibahas. Mengundang tawa kecil Fania.

“Kenapa? Harus?” Nada suaranya tipis, namun ada ujung yang tajam.

Ronald melirik, menangkap perubahan itu. “Tidak.” Jawabnya singkat, namun ia tidak berhenti di sana. “Kau terlihat lelah.”

Fania langsung menoleh, dengan cepat. “Aku memang lelah.” Kemudian ia berdiri menghadap ronald. “Normal kan?”

Ronald menatapnya lebih lama, seolah membaca namun tidak langsung merespon. Dan itu membuat Fania semakin tidak nyaman.

“Apa?” tanyanya defensif.

Ronald menggeleng kecil. “Tidak.” Jawaban itu justru memperparah.

Fania tertawa kecil lagi, kali ini lebih jelas dan lebih sinis. “Tapi kau tak berhenti menatapku?”

Ia melangkah mendekat, sedikit tidak sadar seolah tertarik atau tertarik untuk melawan.

Sedangkan Ronald tetap diam namun tatapannya tidak berubah.

“Fan.” Panggilan itu rendah dan berat “jika ada yang ingin kau katakana, katakanlah.” Langsung tanpa lapisan. Dan itu tepat sasaran.

Membuat Fania terdiam sesaat, ya hanya sesaat. Karena detik berikutnya pertahannya kembali naik.

“Tak ada yang ingin ku katakan” jawabnya dengan cepat.

Ronald mengangguk kecil, namun kali ini ia tidak mundur. “Serius?” Satu kata, namun menekan.

“Iya.” Ia memalingkan wajah, namun Ronald melangkah mendekat. Dan sekarang jarak mereka sangat dekat, bahkan terlalu dekat untuk pura-pura biasa.

“Saat di restoran …”

“Cukup.” Fania memotong dengan cepat dan lebih keras. Tidak akan memberi ruang.

Ronald berhenti dan menatapnya. Namun Fania tidak mundur, ia justru menatap balik lebih tajam.

“Aku tak peduli.” Kalimat itu keluar dengan tegas dan keras, dan bohong.

Ronald tidak langsung menjawab, ia hanya menatap. Dan itu membuat dada Fania semakin sesak. Seolah tatapan itu menembus semua yang ia tutupi.

“Tak peduli?” ulang Ronald pelan.

Fania mengangguk. “Iya.” Lebih tegas. “Dia siapa, dekat dengan siapa… itu urusan mu.” Ia menelan ludah sedikit, namun melanjutkan. “Tak ada hubungannya denganku.”

Kalimat itu tepat, namun terasa seperti menyakiti dirinya sendiri.

Ronald menarik napas pelan. “Kalau tak ada hubungannya… “ ia berhenti sebentar, menatap lebih lama. “Kenapa kau terus menatap ke arahku bersama wanita itu?” Langsung tanpa celah.

Fania terdiam, matanya sedikit melebar dengan refleks. Namun hanya sebentar.

“Refleks.” Jawabnya cepat dan sepertinya sangat lemah alasan yang ia gunakan.

Ronald tidak menyerah. “Kenapa tangan mu gemetar?”

Fania menggenggam tangannya seolah ingin menyembunyikan. “Itu dingin.” Alasan lagi.

Ronald menggeleng kecil hampir tak terlihat. “Dan kenapa kau langsung menolak saat akan ku antarkan pulang?”

Fania menelan, terjebak namun tetap melawan. “Karena aku tak mau diatur.”

Ronald menatapnya begitu lama dalam keheningan. Dan di keheningan itu semua jawaban Fania terdengar kosong, tidak kuat, tidak utuh. Fania akhirnya kehilangan ritme, napasnya mulai tidak stabil.

“Sudah cukup,” ujarnya lebih pelan, namun terdengar seperti ingin kabur.

Ronald tidak bergerak. “Fan.” Sekali lagi, lebih dalam. “Kau cemburu” bukan tanya, melainkan pernyataan langsung.

Fania membeku sepersekian detik. Lalu bereaksi, “Aku tak cemburu,” kali ini benar-benar keras tanpa ditahan. Matanya menatap Ronald dengan tajam, seolah marah dan tersinggung. Padahal ia hanya sedang ketakutan.

“Untuk apa aku cemburu?” lanjutnya dengan cepat hampir tidak memberi jeda.

“Aku sudah tak ada perasaan padamu!” Kalimat itu dilempar dengan kuat. Namun saat keluar ia langsung merasakannya, rasanya menusuk ke dirinya sendiri.

Ronald terdiam, tatapannya berubah lebih dingin dan jauh. “Kesepakatan yang kau inginkan.” Pendek, tegas seperti garis yang ditarik ulang.

Fania menatapnya, detik demi detik. Dan untuk pertama kalinya ia tidak merasa menang. Ia justru merasa kehilangan sesuatu yang bahkan belum sempat ia pegang.

Ronald mundur satu langkah, memberi jarak. “Kalau kau yakin tak cemburu…” Ia berhenti kemudian menatap Fania terakhir kali. “…harusnya kau tak sekeras ini menolak.”

Sunyi, kalimat itu jatuh dan menetap. Membuat Fania tak sanggup menjawabnya. Tidak bisa, karena ia tahu itu benar. Namun ia tetap berdiri, tetap diam dan tetap bertahan. Sampai Ronald berbalik berjalan menjauh, tidak menunggunya dan tidak memaksanya lagi.

Dan kali ini Fania tidak menahannya. Ia hanya berdiri di sana, membeku. Napasnya berat, dadanya sesak, matanya mulai panas, Namun menahan dengan kuat, sangat kuat

“Aku tak cemburu…” bisiknya lagi.

Dengan pelan hampir tak terdengar. Namun suaranya retak, dan untuk pertama kalinya ia tidak lagi sepenuhnya percaya pada kalimat itu.

NEXT .......

1
Dian
suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!