Nata Prawira mati dalam kehancuran mental dan kemiskinan, meninggalkan kedua adiknya dalam penderitaan. Namun, takdir membawanya kembali ke tahun 2014, tepat di masa SMA-nya.
Berbekal memori masa depan dan kepribadiannya yang dingin serta kalkulatif, Nata bertekad menulis ulang nasib. Dari gang sempit yang kumuh, ia mulai merancang strategi investasi di dunia BitCore dan industri teknologi yang baru tumbuh. Bukan sekadar mencari kekayaan, Nata adalah seorang arsitek yang sedang membangun kekaisaran bisnis untuk melindungi Kirana yang lembut dan Arya yang penuh semangat. Di dunia yang kejam, ia akan membuktikan bahwa kecerdasan strategis adalah senjata paling mematikan untuk menjungkirbalikkan kasta sosial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon USR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: PERANG SARAF
Jakarta dan Singapura mungkin hanya dipisahkan oleh satu setengah jam penerbangan, namun bagi Nata, jarak itu kini terasa seperti jutaan kilometer. Berita tentang "likuadiasi" Prawira Global telah menjadi konsumsi hangat di kolom bisnis koran-koran regional. Di permukaan, Nata Prawira tampak seperti seorang pemuda jenius yang sayapnya patah sebelum sempat terbang tinggi. Namun, di bawah permukaan yang tenang, ia sedang melakukan manuver paling berbahaya dalam hidupnya.
Pagi itu, Tuan Lim kembali datang. Kali ini ia tidak membawa tim besar, hanya seorang asisten yang membawa koper hitam. Mereka duduk di ruang tamu kondominium Nata yang kini terasa hampa tanpa perangkat-perangkat canggih yang biasanya menyala.
"Kamu menyerah dengan sangat cepat, Nata," Tuan Lim memulai, matanya memindai setiap sudut ruangan dengan skeptis. "Seorang pemain yang bisa mengguncang pelabuhan Malaysia dalam semalam, tiba-tiba menutup perusahaannya hanya karena satu interogasi? Itu tidak masuk akal."
Nata duduk dengan bahu yang sedikit merosot, memberikan gestur seseorang yang sudah kehilangan semangat. "Saya masih remaja, Tuan Lim. Saya punya adik-adik di Jakarta. Saat Anda menyebut nama mereka di ruang interogasi itu, saya menyadari bahwa uang sebanyak apa pun tidak sebanding dengan keselamatan mereka. Saya memilih mundur untuk menyelamatkan apa yang tersisa."
Lim mengeluarkan sebuah tablet dari kopernya, menggeser beberapa grafik. "Lalu bagaimana kamu menjelaskan ini? Penjualan ruko milikmu di Jakarta Barat dilakukan kepada sebuah yayasan sosial yang baru berdiri dua minggu lalu. Setelah kami telusuri, yayasan itu didanai oleh perusahaan cangkang di Seychelles. Struktur yang sangat rumit untuk seseorang yang mengaku 'menyerah'."
Nata menatap Lim dengan tatapan kosong yang terlatih. "Itu adalah langkah likuidasi aset untuk membayar hutang-hutang operasional saya, Tuan. Saya menjualnya kepada siapa pun yang mau membayar tunai. Jika pembelinya menggunakan perusahaan cangkang, itu bukan urusan saya."
"Jangan bermain-main denganku!" Lim memukul meja. Suaranya rendah namun penuh ancaman. "Aku sudah mengamati pola ini selama dua puluh tahun. Kamu tidak sedang melikuidasi; kamu sedang memindahkan organ-organ kekaisaranmu ke dalam tubuh baru yang belum bisa kami lacak. Kamu sedang melakukan rebranding di bawah bayang-bayang."
Nata terdiam. Ia tahu Lim hampir menyentuh kebenaran. Tekanan ini jauh lebih berat daripada saat ia menghadapi Paman Danu. Lim memiliki sumber daya negara, dan yang lebih penting, Lim memiliki intuisi seorang pemburu.
Di sudut ruangan, Elena berdiri dengan nampan berisi kopi. Ia tampak seperti asisten yang ketakutan, namun di balik rambut yang menutupi telinganya, ia mengenakan earpiece mikro yang terhubung ke sistem deteksi frekuensi.
Bos, dia sedang merekam biometrikmu, Elena mengirimkan kode lewat getaran pada ponsel di saku Nata melalui aplikasi khusus. Dia mencari perubahan pola napas dan pupil matamu untuk mendeteksi kebohongan.
Nata segera mengatur napasnya. Ia membayangkan masa lalunya yang paling menyedihkan—saat ia kelaparan dan kedinginan. Ia memanggil rasa sakit itu agar emosinya selaras dengan narasi "orang yang kalah".
"Tuan Lim," suara Nata bergetar sedikit, sangat meyakinkan. "Jika Anda ingin menghancurkan saya, Anda sudah berhasil. Aset saya dibekukan, nama saya tercemar, dan mitra saya—keluarga Chen—sudah tidak mau mengangkat telepon saya. Apa lagi yang Anda inginkan? Apakah Anda ingin saya mengemis di jalanan Orchards agar Anda puas?"
Lim menatap Nata selama beberapa detik yang terasa sangat lama. Ruangan itu menjadi sunyi, hanya suara detak jam dinding yang terdengar. Akhirnya, Lim berdiri.
"Aku akan terus mengawasimu, Nata. Kamu boleh merasa menang hari ini karena aku belum punya bukti fisik untuk menahanmu kembali. Tapi ingat satu hal: di Singapura, tidak ada rahasia yang terkubur selamanya. Satu kesalahan kecil saja, dan aku akan menyeretmu kembali ke ruang putih itu tanpa surat jaminan."
Setelah Lim pergi, Elena segera mengunci pintu dan melakukan pemindaian laser untuk memastikan tidak ada alat penyadap baru yang ditinggalkan.
"Dia benar-benar curiga, Bos. Kita tidak bisa terus begini. 'Protokol Hantu' kita sudah mulai tercium," ucap Elena dengan nada cemas.
Nata berdiri tegak kembali. Matanya yang semula layu kini kembali berkilat tajam. "Dia curiga karena dia cerdas. Tapi dia tidak tahu bahwa aku sudah menyiapkan 'pintu keluar' yang sah secara hukum internasional."
Malam itu, Nata melakukan langkah nekat. Ia meminta Elena menghubungkan jalur komunikasi satelit terenkripsi kepada satu orang yang tidak pernah ia duga akan ia hubungi: Duta Besar dari negara kecil di Eropa Timur yang merupakan pusat offshore banking dunia.
Melalui bantuan Arthur Chen—yang dipaksa membantu karena ancaman "bom waktu" digital Nata—Nata mengajukan permohonan status Konsul Kehormatan Bidang Ekonomi Digital.
Status ini memberikan satu hal yang paling dibutuhkan Nata saat ini: Kekebalan Diplomatik.
"Bos, ini gila. Jika pemerintah Singapura tahu kita mencoba membeli status diplomatik lewat negara ketiga, mereka akan menganggap ini sebagai upaya spionase," Elena memperingatkan.
"Ini bukan membeli, Elena. Ini adalah pertukaran. Negara itu membutuhkan sistem keamanan siber untuk bank nasional mereka, dan aku adalah satu-satunya orang yang bisa memberikannya secara cuma-cuma lewat protokol Prawira Global. Sebagai imbalannya, aku mendapatkan paspor diplomatik yang membuat Tuan Lim tidak bisa lagi menggeledah apartemen atau perangkatku tanpa izin kementerian luar negeri," jelas Nata.
Ini adalah langkah Benteng Berdaulat. Nata menyadari bahwa di dunia ini, kekuatan swasta selalu kalah oleh kekuatan negara, kecuali jika kekuatan swasta itu sendiri menyamar sebagai bagian dari negara lain.
Dua hari kemudian, sebuah amplop resmi dengan segel diplomatik tiba di apartemen Nata. Di dalamnya terdapat paspor berwarna merah marun dengan lambang negara asing. Nata memegangnya dengan tangan yang stabil. Ini adalah kartu bebas penjaranya.
Namun, kemenangan kecil itu segera dibayangi oleh berita buruk dari Jakarta. Yuda mengirimkan pesan darurat lewat jalur kurir fisik.
"Kirana dalam bahaya. Orang-orang suruhan Arthur Chen mulai bergerak secara fisik di Jakarta. Mereka tidak lagi mencari data; mereka mencoba menculik Kirana untuk dijadikan sandera agar Anda menyerahkan kunci enkripsi utama."
Nata meremas paspor itu hingga lecek. Amarah yang selama ini ia tekan meledak di dalam dadanya. Ia telah membiarkan Arthur Chen hidup terlalu lama karena menganggapnya masih berguna. Namun, menyentuh keluarganya adalah garis merah yang tidak boleh dilintasi.
"Elena, batalkan semua rencana investasi di Singapura minggu ini," suara Nata terdengar seperti es yang membeku. "Aktifkan 'Operasi Pembersihan'. Kita tidak akan lagi bermain defensif."
"Apa instruksinya, Bos?"
"Gunakan semua data aset tersembunyi Arthur Chen yang kita curi kemarin. Kirimkan kepada otoritas pajak internasional dan badan intelijen keuangan Singapura secara anonim hari ini juga. Hancurkan banknya, hancurkan reputasinya, dan pastikan dia tidak punya waktu lagi untuk memikirkan penculikan."
"Tapi Bos, itu akan memicu kekacauan finansial di pasar lokal!"
"Aku tidak peduli!" bentak Nata. "Jika dunia harus terbakar agar adikku aman, maka biarlah dunia terbakar. Dan satu hal lagi... hubungi unit keamanan swasta terbaik di Jakarta. Kirim mereka ke ruko Jakarta Barat sekarang juga. Instruksinya singkat: 'Tembak untuk melumpuhkan siapa pun yang mendekati Kirana'."
Nata berjalan menuju jendela, menatap ke arah pelabuhan. Ia telah mencoba menjadi pengusaha yang bersih, ia telah mencoba menjadi mahasiswa yang patuh, tapi dunia terus menekannya ke sudut yang gelap. Sekarang, sang arsitek telah memutuskan untuk menjadi penghancur.
Malam itu, di bawah hujan lebat yang mengguyur Singapura, Nata Prawira secara resmi menyatakan perang terbuka terhadap keluarga Chen. Ia bukan lagi seorang remaja yang mencari keadilan; ia adalah seorang predator yang sedang melindungi sarangnya.
Tuan Lim, yang sedang memantau dari kejauhan, terkejut melihat aktivitas data yang meledak dari apartemen Nata. Namun, saat ia hendak mengirim tim untuk menggerebek, ia menerima telepon dari atasannya yang memerintahkannya untuk berhenti karena Nata kini memiliki status perlindungan diplomatik.
Lim membanting teleponnya. Ia tahu Nata baru saja melompat keluar dari jaringnya dan masuk ke dalam lubang yang lebih dalam dan berbahaya.
"Permainan ini baru saja berubah menjadi perang berdarah," gumam Nata sambil menatap foto Kirana di ponselnya. "Dan aku tidak akan berhenti sampai tidak ada lagi musuh yang tersisa untuk mengancammu."
Bersambung.....