karya ini aku buat atas pemikiran aku sendiri,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agnura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEY DAPAT ORDERAN DARI PERUSAHAAN KEN
Malam mulai turun perlahan, menyelimuti kota dengan cahaya lampu yang berkelap-kelip. Sweety Bakery yang sejak pagi dipenuhi pelanggan kini akhirnya terasa lebih tenang. Key berdiri di belakang meja kasir, merapikan beberapa nota dan memastikan semua pesanan hari itu sudah selesai. Tubuhnya terasa lelah, namun ia tetap berusaha fokus hingga semuanya benar-benar beres.
Beberapa pegawai lain sudah mulai bersiap pulang. Suasana toko menjadi hening, hanya terdengar suara pelan alat-alat dapur yang masih dibersihkan, lalu menghela napas panjang. Hari itu benar-benar menguras tenaga.
Ia baru saja hendak mengambil tasnya ketika tiba-tiba telepon toko berbunyi nyaring, memecah keheningan malam.
Key sedikit terkejut. Jarang sekali ada yang menelepon di jam seperti itu.
Dengan langkah pelan, ia mendekat dan mengangkat gagang telepon.
“Halo, Sweety Bakery,” ucapnya dengan suara tenang, meskipun lelah masih terasa jelas.
Di seberang sana, suara yang cukup familiar langsung terdengar.
“Selamat malam, Key. Ini saya, Rifa.”
Key terdiam sejenak. Nama itu langsung ia kenali. Rifa adalah asisten pribadi Ken—orang yang… tanpa sadar, membuat hatinya kembali terasa tidak nyaman. Namun Key cepat-cepat menenangkan dirinya.
“Malam, pak Rifa,” jawabnya sopan. “Ada yang bisa saya bantu?”
Rifa tidak berbasa-basi terlalu lama.
“Saya mau memesan kue untuk besok pagi. Di kantor Pak Ken akan ada meeting besar, jadi kami butuh beberapa kue dan snack untuk tamu.”
Jantung Key berdetak sedikit lebih cepat saat mendengar nama itu disebut. Ken.
Nama yang selalu ia coba hindari, tapi entah kenapa selalu kembali muncul dalam hidupnya.
Namun Key tetap menjaga nada suaranya agar terdengar profesional.
“Baik, pak. Untuk jumlah dan jenis kuenya bagaimana?”
Rifa mulai menjelaskan dengan detail. Ia menyebutkan beberapa jenis kue—mulai dari pastry, cake kecil, hingga beberapa dessert manis yang cocok untuk acara formal. Jumlahnya tidak sedikit, bahkan cukup banyak untuk ukuran pesanan mendadak.
Key mencatat semuanya dengan teliti.
“Baik, semuanya bisa kami siapkan,” jawab Key setelah memastikan tidak ada yang terlewat.
Ia sempat terdiam sebentar, lalu bertanya dengan nada hati-hati, “Untuk pengirimannya, kira-kira jam berapa dibutuhkan?”
Di seberang, Rifa menjawab tanpa ragu, “Meeting akan dimulai sekitar jam sebelas siang.”
Key mengangguk pelan, meskipun Rifa tidak bisa melihatnya.
“Baik. Kalau begitu, saya akan mengantarkannya sekitar jam sepuluh pagi, supaya ada waktu untuk persiapan sebelum meeting dimulai.”
“Ya, itu lebih baik,” jawab Rifa. “Pastikan semuanya siap tepat waktu, ya.”
“Tentu, pak. Kami akan pastikan semuanya sesuai pesanan.”
Percakapan itu berlangsung singkat, tapi cukup meninggalkan jejak di hati Key. Setelah memastikan semua detail sudah jelas, mereka pun menutup telepon.
Key perlahan menaruh kembali gagang telepon itu.
Toko kembali hening.
Namun kali ini, pikirannya tidak setenang sebelumnya.
Nama Ken kembali terngiang di kepalanya. Meeting besar. Kantor Ken. Dan besok… ia sendiri yang akan mengantarkan pesanan itu ke sana.
Artinya, ada kemungkinan mereka akan bertemu.
Key menatap catatan pesanan di tangannya. Tulisan-tulisan rapi itu kini terasa berat. Ia tahu ini hanya pekerjaan. Tidak lebih. Tapi tetap saja, ada perasaan yang sulit ia jelaskan.
Ia menarik napas dalam, mencoba menenangkan dirinya sendiri.
“Ini cuma kerja,” gumamnya pelan. “Tidak ada yang perlu dipikirkan.”
Namun hatinya tidak sepenuhnya setuju.
Ia kembali bergerak, menyimpan catatan itu di tempat khusus agar tidak hilang. Lalu ia mulai memeriksa bahan-bahan yang dibutuhkan untuk besok pagi. Tepung, gula, mentega—semuanya harus cukup. Tidak boleh ada kesalahan.
Kesibukan kecil itu sedikit membantu mengalihkan pikirannya.
Setelah semuanya dipastikan aman, Key akhirnya benar-benar bersiap pulang. Ia mematikan lampu satu per satu, menyisakan cahaya redup di bagian depan toko.
Sebelum keluar, ia sempat berhenti sejenak.
Besok akan menjadi hari yang panjang.
Bukan hanya karena pesanan besar, tapi juga karena kemungkinan yang tidak bisa ia hindari.
Pertemuan.
Dengan seseorang yang selama ini ia coba lupakan.
Key menggenggam tasnya sedikit lebih erat, lalu melangkah keluar dari toko. Pintu ditutup perlahan, suara kunci terdengar jelas di tengah malam yang sunyi.
Di bawah langit gelap, Key mengendarai mobil berjalan pulang dengan langkah pelan.
Besok pagi, ia akan datang lebih awal. Menyelesaikan pesanan dengan sempurna. Mengantarkannya tepat waktu.
Dan menghadapi apa pun yang menunggunya di sana.
😉🤍