Sequel Novel "The End Of Before"
"Satu sayatan mengakhiri Hidupnya, satu dekapan memulai penebusannya."
Satu sayatan dalam di pergelangan tangan menjadi titik terakhir bagi Elowen Valerio. Baginya, kematian adalah satu-satunya jalan keluar dari jeratan cinta terlarangnya. Setelah Setahun pelarian bersama Jeff Feel-Lizzie tak cukup membasuh lukanya.
Namun, takdir berkata lain saat Ezzra Velasquez, seorang pria yang sedang menjalani hukuman sebagai pelayan hotel, menemukannya bersimbah darah.
Ezzra menyadari Elowen adalah labirin berbahaya. Dan Elowen sendiri merasa
menghadapi kenyataan bahwa maut jauh lebih ramah daripada Pria Bernama Ezzra Velasquez.
Selamat Membaca 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#15
Malam di Mansion Valerio selalu terasa lebih panjang ketika Elowen harus mengenakan topeng di depan Jeff. Setelah panggilan telepon singkat yang penuh dengan kepura-puraan—di mana Jeff terus-menerus merencanakan masa depan yang tidak pernah diinginkan Elowen—gadis itu akhirnya berhasil memutus sambungan.
Dengan alasan sakit kepala dan keinginan untuk segera tidur, ia melepaskan diri dari jerat suara Jeff yang menenangkan namun posesif.
Begitu layar ponselnya gelap dari panggilan Jeff, Elowen tidak langsung memejamkan mata. Jantungnya justru berdegup lebih kencang karena sebuah kewajiban baru yang lahir dari kegilaan seminggu terakhir. Ia tahu, jika ia tidak menghubungi Ezzra sebelum tengah malam, pria itu akan berubah menjadi monster yang jauh lebih merepotkan. Ezzra Velasquez bukan tipe pria yang bisa diabaikan tanpa konsekuensi.
Elowen menarik selimutnya hingga ke dada, menyandarkan punggung pada kepala ranjang, dan dengan ragu menekan tombol panggil pada kontak bernama "Ezzra Velasquez".
Hanya butuh satu nada sambung sebelum suara serak yang khas itu menjawab.
"Kau terlambat sepuluh menit, Baby. Aku hampir saja memanjat balkon kamarmu lagi hanya untuk memastikan kau tidak sedang berpelukan dengan si kaku itu di bawah selimut," suara Ezzra terdengar langsung, tajam namun ada nada lega yang terselip di sana.
Elowen mendesah, namun kali ini ada sedikit senyum yang tertahan di bibirnya. "Aku baru saja selesai bicara dengan Jeff. Dia sulit sekali diajak mengakhiri pembicaraan."
"Tentu saja. Pria itu kan hidup dari memakan energimu. Sedang apa kau sekarang?" tanya Ezzra. Elowen bisa mendengar suara gemerincing es batu di gelas di seberang sana. Ezzra pasti sedang berada di bar pribadinya di penthouse.
"Sedang berbaring. Mencoba untuk benar-benar tidur," jawab Elowen pelan. "Lalu, kau sendiri sedang apa?"
"Tentu saja merindukanmu, Sayang. Pertanyaan bodoh macam apa itu?" sahut Ezzra enteng. "Aku sedang menatap langit malam dan membayangkan betapa indahnya jika kau ada di sini, tanpa pakaian, hanya mengenakan kemejaku, sambil menyesap wine bersamaku."
Elowen memutar matanya, meski wajahnya memanas. Ia sudah mulai terbiasa dengan bahasa blak-blakan Ezzra. Awalnya, ia merasa terhina, namun lama-kelamaan, ia menyadari bahwa kejujuran gila Ezzra jauh lebih menyegarkan daripada kesopanan palsu yang sering ia temui.
"Mau main ke penthouse-ku besok?" tanya Ezzra tiba-tiba. Nadanya berubah menjadi lebih rendah, penuh godaan yang tidak terselubung.
"Dasar mesum!" ketus Elowen, meskipun suaranya tidak benar-benar marah. "Aku tahu apa yang ada di otakmu, Ezzra. Kau tidak benar-benar ingin aku melihat pemandangan kota dari sana."
"Aku tidak pernah bilang aku ingin kau melihat pemandangan kota, El. Aku ingin melihatmu. Aku ingin melihat bagaimana tubuhmu merespons sentuhanku lagi. Aku benar-benar merindukanmu, Baby. Bagian bawahku bahkan lebih merindukanmu daripada hatiku," ucap Ezzra tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Ezzra!" Elowen memekik kecil, menutupi wajahnya dengan bantal. "Bisa tidak kau bicara seperti manusia normal sekali saja?"
Ezzra tertawa lepas, suara tawa yang terdengar sangat jantan dan tulus. "Aku sedang bicara sebagai pria normal yang sedang menginginkan wanitanya, El. Apa itu salah?"
Keheningan menyelimuti mereka sejenak, namun bukan keheningan yang canggung. Ada kenyamanan aneh yang mulai terbangun di antara frekuensi telepon mereka. Elowen merapatkan ponselnya ke telinga, merasakan kehangatan yang menjalar dari suara Ezzra.
"Kau... benar-benar akan mengantarku lusa?" tanya Elowen, mencoba mengalihkan pembicaraan dari topik mesum Ezzra. Ia teringat tawaran Jeff di kantin tadi agar Ezzra menjaganya saat observasi.
"Aku tidak akan mengantarmu, El. Aku akan menjemputmu tepat di depan gerbangmu. Pastikan Jeff tidak melihatnya, atau aku terpaksa harus berakting sebagai supir pribadimu yang kurang ajar," jawab Ezzra.
Elowen terdiam sejenak. "Terima kasih, Ezzra. Maksudku... untuk semuanya. Meskipun kau gila, kau selalu ada saat aku merasa tidak punya jalan keluar."
"Terima kasih? Hanya itu?" Ezzra mendengus pura-pura kecewa. "Sangat tidak romantis. Panggil aku 'sayang', El."
Elowen tersentak. "Kau gila? Aku tidak terbiasa. Bahkan pada Jeff saja aku tidak melakukannya. Kami sangat formal."
"Itu karena Jeff itu kaku seperti papan, Baby. Tapi aku? Aku berbeda. Aku sudah masuk ke dalam dirimu, El. Kita sudah melewati tahap formalitas itu sejak malam di penthouse," suara Ezzra kembali melunak, merambat masuk ke dalam sanubari Elowen. "Panggil aku 'sayang' seperti malam itu? Saat kau memohon padaku untuk tidak berhenti? Kau ingat, kan?"
Pipi Elowen terasa terbakar hebat. Ingatan tentang malam itu—malam di mana ia menyerahkan segalanya pada Ezzra—kembali berputar seperti film di kepalanya. Ia ingat bagaimana ia membisikkan kata itu di tengah deru napas dan peluh yang menyatu.
"Itu... itu karena aku sedang tidak terlalu sadar, Ezzra," bisik Elowen malu.
"Kau sangat sadar saat itu, Sayang. Kau tahu persis siapa yang sedang memilikimu. Ayo, katakan sekali saja. Aku ingin mendengarnya sebelum aku menutup telepon. Anggap saja itu sebagai bayaran karena aku sudah bersikap 'baik' seharian ini di depan Jeff."
Elowen menggigit bibir bawahnya. Ia melirik ke arah pintu kamarnya yang terkunci, memastikan tidak ada siapa-siapa di sana. Keheningan malam di Mansion Valerio seolah memberinya keberanian kecil yang terlarang.
"Selamat malam... Sayang," bisik Elowen dengan suara yang sangat pelan, hampir menyerupai hembusan angin.
Di seberang sana, Ezzra terdiam sejenak. Elowen bisa mendengar pria itu menghela napas panjang, seolah kata sederhana itu baru saja menghantam dadanya lebih keras daripada pukulan di ring tinju.
"Sialan, El. Kau baru saja membuatku ingin memacu mobilku ke mansion mu sekarang juga," gumam Ezzra dengan suara serak yang penuh gairah. "Tidurlah sebelum aku benar-benar melakukan kegilaan. Sampai jumpa lusa, Sayang."
Setelah sambungan terputus, Elowen memeluk bantalnya erat-erat. Ia menyadari bahwa tembok pertahanannya terhadap Ezzra bukan lagi retak, melainkan sudah runtuh sepenuhnya. Ia tidak lagi merasa asing dengan bahasa pria itu, bahkan ia mulai mendambakan kehadiran suara itu setiap malam.
Di bawah cahaya bulan yang masuk dari celah gorden, Elowen menyadari bahwa ia telah benar-benar jatuh ke dalam pelukan sang iblis, dan yang paling menakutkan adalah, ia merasa lebih aman di sana daripada di pelukan sang malaikat pelindungnya, Jeff.
Malam itu, Elowen tertidur dengan senyum tipis yang jarang ia miliki. Sementara di tempat lain, Jeff sedang menatap layar monitor yang menampilkan titik GPS ponsel Elowen yang tidak bergerak, menyadari bahwa kekasihnya baru saja melakukan panggilan panjang dengan seseorang yang bukan dirinya.
Badai itu semakin dekat, dan Elowen Valerio baru saja menyalakan lilin di tengah pusarannya.
biasanya si laki yg dibikin babak belur di ceritamu kak....
poor elowen...