NovelToon NovelToon
Something Between Us

Something Between Us

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Perjodohan / Idola sekolah
Popularitas:23
Nilai: 5
Nama Author: NitaLa

Mungkin kebanyakan orang bilang menjadi orang kaya adalah hal paling gampang dilakukan. Tapi tidak jika dikaitkan dengan Some, ditengah terkaan dia malah diberi harapan panjang untuk menikah. Hal itulah menjadi awal - awal Some mengenal cowok - cowok yang lahir dengan keluarga sama darinya. Hanya cowok itu yang menerima seornag wanita mempunyai penyakit, namanya Dinner. Dari Dinner, Some dapat menerima segala sesuatu yang menimpanya. Meski bukan hal mudah ketika harus operasi beberapa kali, tapi Dinner menemaninya seperti seorang pacar. Pacaran bahakn menjalani hubungan dengan Dinner, seperti dijodohkan ini, menjadi pertanyaan besar apakah Dinner akan sanggup ?

•untuk kisahnya sudah tamat dari tahun lalu. dan masih bisa dinikmati dengan dukungan like, dan komentar kecil kalau ada kesalahan. thanf for one.

•karya original dari Nita Juwita

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NitaLa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Between 12

**

Jalan Bareng Ranu

**

Something menghapus air matanya supaya ekspresi wajah pak Hanry, tidak berubah murung. Ia nampak hanya berpura - pura bersikap biasa, dan menampilkan senyum seperti biasanya. Padahal perubahannya begitu terlihat jelas, Pak Hanry duduk di sebelah Something. Karena perubahan sikap yang ketara di keduanya membuat Something hanya terdiam, karena ia sendiri tidak tahu harus berkata apa.

"Hi Some, masih ingat sama saya kan?" tanya pak Hanry hati - hati. Melihat bekas anak didiknya dengan perlahan - lahan. Lamunan Some yang begitu terkesan mendalam membuat pak Hanry menghembuskan nafas panjang.

"Ingat, bapak kan guru SMP saya, juga orang yang menjadi ketua kelas saya di kelas dua SMP, mana mungkin saya lupa. Lagi pula saya yang nggak sopan di sini," jawab Some panjang, ia selalu ingat siapa gurunya. Sekalipun dia bukan orang yang begitu akrab dengan guru - guru sekolahnya, hanya saja ia tidak mungkin melupakan jasa mereka. Sekalipun dia tidak selalu akrab dan bersikap kenal pada mantan gurunya, termasuk pak Hanry.

"Ya saya juga agak kenal dengan anak kelas delapan yang saya didik," ucap pak Hanry sambil tersenyum. Ia menundukkan kepalanya, merasa merenungkan ketika jaman Some masih smp. Kebetulan anaknya juga satu tahun di bawah Some, masa yang menurut siswanya mungkin masa yang indah.

"Hmm, maaf pak saya kesini hanya untuk melihat anak - anak panti," ucap Some dengan senyum singkat. Membayangkan betapa bahagia Some waktu SMP, dan di hadapkan dengan kenyataan masa SMA-nya yang seperti ini. Mungkin kebahagian itu tidak dapat menular dengan gampang. Karena di masa Smp Some masih muda, belum ngerti segala hal tentang hidup dan cinta.

"Hmm lagian jarang banget anak muda main ke sini, menurut mereka sih tempat ini bukan tempat buat nongkrong. Ini tempat melamun, jadi jangan kesini," ucap pak Hanry sambil terkekeh mencairkan suasana. Lagian panti ini adalah panti yang nggak terurus, meski suasananya bersih. Ini merupakan panti kesukaan Some, dan tempat nyaman baginya.

"Cuaca yang mendukung membuat aku kesini, panas pasti anak - anak lagi amin," jawab Some sambil melihat keramaian anak - anak kecil yang bermain di ayunan. Mereka tertawa seolah tidak ada beban, padahal untuk ibu dan bapaknya pun tidak tahu siapa.

"Bapak kenapa ada di sini?" tanya Some akhirnya. Ia tahu pak Hanry ada di sini karena ada sebuah alasan, jika bukan karena dia siapa lagi. Apalagi dengan map yang ia bawa pastinya isinya ronsen kesehatannya. Pasti pria lansia itu, menunggunya dari kemarin.

"Bapak kesini lihat anak - anak juga, katanya mereka butuh ajaran dari bapak lagi. O, ya Some kenapa kamu baru kesini?" tanya balik pak Hanry yang membuat Some seketika terdiam.

"Aku baru mengingatnya sekarang, suasana di rumah membuat ku ingin ke sini," jawab Some cuek. Masih tidak menatap pak Hanry. Entah mengapa semenjak pak Hanry ikut campur atas kesehatannya, Some jadi kesal sama tingkah guru itu.

"Apa karena surat kesehatan yang sempat bapak kabarkan?" bingung pak Hanry sambil mengernyitkan kening. Ia tidak mau terlalu lama melihat Some sakit, makannya ia langsung pada intinya.

"Iya," jawab Some sambil menunduk dalam.

Terlihat senyum kecil di sudut bibir pria empat puluh tahun itu. "Some itu bukan semacam kanker, itu hanya gejala awal, masih ada harapan untuk kamu sembuh," kata pak Hanry dengan tekad. Sejujurnya ia sempat merasa bersalah ketika menyampaikan gejala kanker itu.

"Yah itu juga merupakan penyakit berbahaya, tidak beda jauh," jawab Some putus asa sambil menangis. Setelah mengalami mimisan beberapa kali baru Some sadar bahwa peraturan pak Hanry benar adanya.

"Some itu baru awal, kamu masih bisa berobat, selama kamu mau menuruti kata dokter," ucap pak Hanry penuh tekad. Setelah berkonsultasi dengan beberapa dokter, ia tahu Some perlu penanganan khusus.

"Mereka pasti menyarankan beberapa operasi, sampai terapi, dan semua itu membuatku sembuh," ucap Some terlihat nyalang. Ia menutup wajahnya dengan tangan, ia menangis.

Pak Hanry tahu ia hanya menyarankan, ia memberikan map yang ia pegang dan memberikannya perlahan. Setidaknya itu kabar baik untuk saat ini, "Ini ronsen kemarin lalu, Some, kata dokter paru - paru, kamu akan terserah kanker stadium satu, sekitar satu atau beberapa bulan lagi. Tapi jika itu penyakit tak memberikan hasil juga, kamu masih bisa menjalani hidup ini Some," ucap pak Hanry penuh rasa syukur.

Some tahu semua tentang paru - parunya itu buruk, tapi untuk kabar ini baik karena dia tidak terserang kanker secara langsung. Tapi siapa yang tahu kabar paru - parunya suatu hari nanti.

Some melihat map itu perlahan dan membawanya antara ragu dan takut. "Pak apa mungkin aku masih bisa menjalani hidup ini dengan normal?"

"Some itu hanya ronsen, jadi kamu tetaplah Some yang semua orang tahu, jalani hidup kamu seperti yang kamu impikan ya," ucap pak Hanry sambil mengelus bahu Something penuh kasih sayang. "Bapak pergi dulu," lanjut pak Hanry sambil berdiri. Ia perlahan berjalan meninggalkan Some meski sedikit ragu.

Some menghapus bulir - bulir air matanya lagi. Ia juga berdiri dari duduknya, lalu berjalan kecil ke luar area panti. Membuat rambut - rambutnya ikut berterbangan, digerai angin yang lewat.

**

Sudah dua hari yang lalu semenjak kejadian Some datang ke panti, dan seperti yang diucapkan pak Hanry. Untuk hari berikutnya Some akan baik - baik saja. Bahkan saking baik - baik sajanya, Some sampai jalan bareng Ranu, dalam mengatasi rasa bosan mereka. Sudah menjadi kebiasaan juga lari dari para pembantu. Mereka pastinya cukup mendesah kesal ketika mobil majikannya lagi - lagi di bawa kabur sama Ranu.

Dan di mobil itu Ranu nampak happy, ia mungkin jomblo sehingga memutar lagu dengan kencang. Dan lagunya adalah lagu Dewa 19, Sedang ingin Bercinta. Membuat Some ikut happy, tapi ia menutup telinganya kesal. Lagu ini beneran membuatnya merasa aneh, atau dirinya terlalu polos untuk berkata kalau dia agak ngeh.

"Kenapa lagu kayak gini sih Ran?" tanya Some masih menutup gendang telinganya. Ranu nampak terkekeh, ia fokus menyetir.

"Gapapa kali kak, lagian kakak yang ikut main sama Ranu," ucap Ranu. Some mendengus kesal, lalu membuka gendang telinganya. Cukup membuatnya ingin menari karena lagunya berputar tepat di telinganya.

"Bukan gue yang ikut main, ya udah turunin gue disini, loe juga kan yang ngajak," ucap Some sambil melihat ke luar mobil yang melaju kencang itu. Ia juga nampak cemberut, sebenarnya ia merasa Ranu mempermainkannya dari tadi. Ia mengajak Some ikut, lalu memintanya enggak boleh. Dan mengajaknya ke taman mini, lalu ke bar dan yang terkahir ke mall.

"Apaan deh kak nggak asik banget," balas Ranu kesal. Ia mendenguskan nafas padahal kan udah biasa bagi mereka buat jalan - jalan kayak gini. Akhir - akhir ini sang kakak lebih suka melamun, pikir Ranu. Dia nggak kayak biasanya buat healing apa saja. Semua yang biasa dilakukan keduanya hampir membuat cewek sedikit bar - bar itu tertawa.

"Iya sih emang nggak asik," balas Some ketus.

"Loe yang nggak asik," balas Ranu keki.

"Jadi menurut loe ngajak gue hang out tanpa jelas mau kemana itu asik?" heran Some.

"Biasanya loe nggak kayak gitu kak, suka - suka aja di ajak kemana pun. Loe ada masalah apa sih?" tanya Ranu dengan mengalihkan tatapannya pada Some. Tapi karena ia lagi nyetir sikap perhatiannya itu teralih ke mobil yang dikendarainya.

Some terdiam sejenak, apakah disaat ini dia punya masalah serius. Percayalah Some akan kembali ke sikap biasanya.  "Enggak, kakak loe kurang becandanya ya?" tanya Some sambil terkekeh kecil.

"Serius enggak canda sama sekali," jawab Ranu kembali keki, ia merasa sebal karena kakaknya malah terus mengerjainya.

"Ya udah let's go kita main!" teriak Some agak kencang, memasuki gendang telinga Ranu cukup kuat. "Yuhuuu," lanjut Some sambil membawa minuman botol, dan meminumnya perlahan.

"Gila deh, jadi ya kita ke mall abis itu nongkrong di bar," kata Ranu tak kalah semangat juga.

"Kenapa nggak ke taman mini juga sih Ran, kita nongkrong di sana," tanya Some tidak mengerti kenapa taman mini kesukaannya di lewat begitu saja.

"Loe mau ketemuan sama pacar ya, nggak usah ajak gue deh," ucap Ranu.

"Hmm terserah apa kata loe deh," pasrah Some. Lalu keduanya nampak menikmati suasana mobil yang kembali hangat.

"Yuhuuu!" teriak keduanya ketika mobil yang dikendarai Ranu memanjang gas lebih cepat.

**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!