"Zel, kita cuma nikah kontrak! Berhenti kirim kurir obat ke sekolah, aku malu sama guru-guru lain!"
Dazello Zelbarra, CEO dingin itu justru menarik Runa ke pelukannya. "Di catatanku, jam segini lambungmu mulai perih karena kamu lupa sarapan. Aku tidak peduli kamu malu, Runa. Aku hanya peduli kamu tetap hidup untuk melunasi kontrakmu padaku."
Runa Elainzica, guru honorer yang ceroboh dan pelupa, terpaksa menikahi mantan pacarnya, Dazello ‘Azel’ Zelbarra, demi menyelamatkan sekolahnya dari kebangkrutan.
Runa mengira Azel membencinya. Namun, ia tak pernah tahu bahwa di ponsel Azel terdapat aplikasi rahasia berjudul "Runa’s Manual Book". Sebuah catatan obsesif berisi ribuan detail tentang kebiasaan kecil Runa, pantangan makannya, hingga cara melindunginya saat badai datang.
Dunia mereka berbeda, tapi di buku catatan Azel, nama Runa sudah tertulis sebagai milik sahnya... selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Runa terpaku. Kalimat Azel barusan terdengar seperti lelucon, tapi nada suaranya yang rendah dan tidak main-main membuat Runa sadar bahwa pria di depannya ini sedang sangat serius.
"Kamu... apa?" suara Runa nyaris hilang. "Menikah? Azel, jangan bercanda. Kita bahkan nggak pernah bicara lagi sejak—"
"Lima tahun lalu. Aku tahu," potong Azel cepat. Ia meletakkan pulpennya dan memajukan tubuh, menumpu kedua tangannya di atas meja. "Dan sejak saat itu, kamu nggak berubah. Masih keras kepala, masih suka memaksakan diri, dan masih... berantakan."
Pintu ruangan terbuka pelan. Seorang staf masuk membawa baki berisi air mineral, teh hangat, dan semangkuk bubur ayam yang aromanya langsung menusuk indra penciuman Runa. Begitu staf itu keluar, keheningan kembali menguasai ruangan yang terlalu luas itu.
"Makan," perintah Azel singkat, matanya melirik ke arah mangkuk bubur.
"Aku nggak lapar," dusta Runa. Padahal, sejak tadi lambungnya sudah terasa seperti diremas-remas.
Azel mendengus tipis, sebuah tawa sinis yang sangat familiar di telinga Runa. "Runa Elainzica, kamu baru saja memegang perutmu sebanyak tiga kali sejak masuk ke ruangan ini. Jangan mencoba berbohong pada orang yang tahu persis kapan terakhir kali kamu makan hanya dengan melihat warna bibirmu."
Runa tersentak. Ia menarik tangannya dari perut, merasa malu karena tertangkap basah. "Itu bukan urusanmu, Zel. Kita bahas soal kontrak ini. Kenapa harus aku? Kamu punya segalanya. Kamu bisa bayar model, artis, atau siapapun untuk jadi istri pura-puramu."
Azel terdiam sejenak. Ia memperhatikan bagaimana Runa menunduk, menghindari tatapannya. Ada rasa minder yang terpancar jelas dari bahu Runa yang merosot. Bagi Runa, Azel yang sekarang adalah sosok asing yang bergelimang kemewahan, sementara bagi Azel, Runa tetaplah gadis yang sama—gadis yang butuh dijaga meski dunia mungkin menganggapnya hanya seorang guru biasa.
"Karena ibuku mau aku menikah dengan orang yang aku... kenal," Azel menjeda kalimatnya, memilih kata-kata dengan hati-hati. "Dan sejujurnya, aku malas berurusan dengan orang baru. Kamu sudah tahu buruknya aku, dan aku sudah tahu betapa merepotkannya kamu. Kita nggak perlu pura-pura di depan satu sama lain."
"Tapi ini gila," bisik Runa. "Keluargamu itu... mereka orang terpandang. Kalau mereka tahu aku cuma guru honorer yang—"
"Ibuku nggak peduli soal gelar," sela Azel lagi. Ia bangkit dari kursinya, berjalan perlahan mengitari meja hingga berdiri tepat di samping kursi Runa.
Azel bisa mencium aroma sabun mandi bayi yang samar dari tubuh Runa—aroma yang masih sama seperti dulu. Ia juga melihat betapa kurusnya lengan Runa yang menyembul dari balik kemeja putihnya.
"Satu tahun, Runa. Kamu dapat sponsor penuh untuk sekolahmu, gaji guru-guru akan aman, dan kamu nggak perlu lagi panas-panasan bagi brosur di bandara sampai pucat begitu," Azel merendahkan suaranya, sedikit membungkuk hingga wajahnya sejajar dengan Runa. "Sebagai gantinya, kamu cukup tinggal di apartemenku. Pakai marga Zelbarra di belakang namamu. Dan biarkan aku... mengawasi supaya kamu nggak mati muda karena lupa sarapan."
Runa mendongak, matanya yang besar menatap Azel dengan penuh keraguan. "Kenapa kamu melakukan ini, Zel? Apa ini semacam balas dendam karena dulu aku yang mutusin kamu?"
Azel tertegun sejenak, namun ia segera menguasai ekspresinya. Ia kembali berdiri tegak, memasukkan tangan ke saku celana bahannya. "Balas dendam? Jangan terlalu percaya diri. Aku cuma pengusaha yang sedang melakukan transaksi yang menguntungkan. Jadi, bagaimana?"
Runa menatap mangkuk bubur di depannya yang masih mengepul. Ia membayangkan wajah Pak Haris yang penuh harap, membayangkan murid-muridnya yang butuh fasilitas sekolah yang lebih layak, dan ia membayangkan dirinya sendiri—yang jujur saja, sudah sangat lelah berjuang sendirian.
"Aku butuh waktu untuk berpikir," ujar Runa lirih.
"Aku kasih waktu sampai bubur itu habis," balas Azel datar, lalu ia berjalan kembali ke kursinya dan mulai membuka laptop, seolah-olah percakapan tentang pernikahan itu hanyalah urusan bisnis biasa yang tidak berpengaruh pada detak jantungnya yang sebenarnya mulai tidak beraturan.
Runa akhirnya meraih sendok dengan tangan gemetar. Di dalam hatinya, ia tahu ia akan kalah. Karena Azel selalu tahu titik lemahnya, dan sialnya, pria itu juga tahu bagaimana cara "memaksanya" untuk menerima bantuan tanpa terlihat seperti sedang mengasihani.
apa susahnya sih, pake alesan dijodohin segala 🤣