Sepupu menghina, anggota klan memandang rendah, tiga tahun tanpa kemajuan. Lin Han tahu rasa pahit berada di dasar. Namun ia tidak pernah membenci jalan keabadian. Sebaliknya, ia justru semakin keras mengejarnya. Dunia Hunyuan perlahan membuka topengnya. Di balik kemuliaan keabadian tersimpan kenyataan bahwa para pendekar bisa berubah menjadi binatang, sekte suci bisa menjadi sarang ular. Lin Han pun menyadari bahwa satu satunya jalan untuk selamat adalah menjadi lebih kejam daripada mereka. Ia memutuskan untuk tidak lagi mencari pengakuan, melainkan kekuatan absolut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tawaran Iblis
Setelah upacara penutupan kain selesai dan Lin Dan sudah diseret keluar oleh pelayan karena pingsan, acara dilanjutkan dengan jamuan makan bersama. Meja meja panjang dari kayu jati tua digelar di aula utama. Aneka hidangan daging panggang, sayuran rebus, dan nasi putih mengepul disajikan dalam porsi besar. Arak hangat dituangkan ke dalam cangkir cangkir tamu.
Lin Han dan Liu Mei duduk berdampingan di meja utama. Tidak ada percakapan di antara mereka. Hanya keheningan yang sesekali diselingi oleh suara tamu yang datang memberi selamat.
Satu persatu tamu dari Klan Liu dan Klan Lin mendekat. Mereka memberikan hadiah pernikahan berupa gulungan kain sutra, perhiasan perak, koin emas dalam kantung merah, beberapa pil, dan berbagai benda keberuntungan lainnya. Setiap tamu mengucapkan doa singkat.
"Semoga hidup bersama sampai maut memisahkan."
"Semoga cepat dikaruniai keturunan yang sehat."
"Semoga rumah tangga kalian selalu dipenuhi keharmonisan."
Lin Han mengangguk untuk setiap ucapan. Liu Mei melakukan hal yang sama. Wajah mereka sama sama datar, hanya gerakan kepala kecil sebagai tanda terima.
Beberapa tamu yang lebih tua memberikan nasihat pernikahan. Seorang wanita paruh baya dari Klan Liu berkata dengan nada bijak,
"Dalam berumah tangga, kesabaran adalah kunci. Jangan mudah terbakar amarah. Bicarakan semuanya baik baik."
Pria tua berjanggut putih menambahkan,
"Suami istri harus saling melengkapi. Jika satu terjatuh, yang lain harus siap mengangkat."
Lin Han mendengarkan semuanya tanpa banyak bereaksi. Nasihat nasihat itu masuk ke telinganya dan mengendap di suatu tempat di dalam ingatannya, entah akan berguna atau tidak.
Setelah dua jam berlalu, para tamu mulai berpamitan satu demi satu. Aula yang tadinya ramai perlahan menjadi sepi. Yang tersisa hanyalah keluarga inti dari kedua mempelai.
Lin Feng dan Ji Lianyue duduk berhadapan dengan Liu Bei dan Hong Jie. Empat orang tua itu berbincang panjang. Petuah tentang bagaimana membangun rumah tangga mengalir dari mulut mereka. Doa doa untuk kebahagiaan anak anak mereka dipanjatkan dalam diam. Percakapan berlangsung hingga sore hari, ketika cahaya matahari mulai berubah menjadi jingga tua.
Akhirnya Lin Feng dan Ji Lianyue bangkit dari duduk mereka. Lin Feng menangkupkan kedua tangannya ke depan dada.
"Saudara Liu, kami pamit. Terima kasih atas sambutan dan jamuannya hari ini."
Liu Bei membalas dengan gerakan yang sama. "Hati hati di jalan, Saudara Feng. Kunjungi kami lagi kapan saja."
Ji Lianyue menatap Lin Han sejenak. Matanya berbicara lebih banyak daripada kata kata yang bisa ia ucapkan. Kemudian ia berbalik dan berjalan keluar bersama suaminya.
Seluruh anggota Klan Lin yang tersisa mengikuti di belakang mereka. Kereta kuda yang sama membawa mereka kembali ke Kota Bilou. Suara roda kayu yang bergesekan dengan jalanan batu perlahan menjauh dan akhirnya lenyap.
Liu Bei menghela napas panjang lalu menatap kedua mempelai yang masih berdiri di aula yang kini kosong.
"Kalian berdua, beristirahatlah. Hari sudah mulai gelap."
Lin Han mengangguk. Liu Mei melakukan hal yang sama.
Liu Bei dan Hong Jie mengantarkan mereka berdua menyusuri lorong kediaman menuju kamar pengantin yang sudah disiapkan. Langkah kaki mereka bergema pelan di sepanjang lorong kayu. Ketika sampai di depan pintu kamar, Liu Bei menepuk bahu Lin Han dengan lembut.
"Selamat beristirahat."
Lin Han mengangguk.
Hong Jie hanya tersenyum tipis, matanya lembab. Ia tidak mengatakan apa apa.
Lin Han membuka pintu dan masuk bersama Liu Mei. Pintu kayu itu tertutup perlahan di belakang mereka, memisahkan mereka dari dunia luar.
Di lorong, Liu Bei dan Hong Jie berjalan berdampingan menuju kamar mereka sendiri. Setelah cukup jauh dari kamar pengantin, Liu Bei akhirnya membuka suara.
"Aku berharap... kali ini Lin Han tidak mati, karena kutukan putri kita."
Suaranya rendah, nyaris seperti bisikan yang tertahan.
Hong Jie menoleh ke arah suaminya.
"Kenapa kau tidak ungkapkan kebenarannya? Tiga suami Liu Mei sebelumnya selalu mati, bahkan sebelum sempat menyentuh anak kita. Apa kau tidak merasa bersalah?"
Liu Bei menghela napas begitu panjang hingga bahunya ikut turun.
"Aku terlalu takut jika berita itu tersebar. Jika sampai terjadi... putri kita akan menjadi putri terkutuk, yang dijauhi oleh pria manapun di seluruh wilayah ini. Sedangkan untuk menghilangkan kutukannya, dia butuh memiliki suami. Jika tidak... aku tidak akan menikahkannya secara paksa. Ini semua demi kebaikan putri semata wayang kita."
Hong Jie mengangguk pelan. Matanya sayu menerima penjelasan itu. Tidak ada lagi yang bisa dikatakan. Mereka berdua melanjutkan langkah menuju kamar dan menutup pintu di belakang mereka.
Di dalam kamar pengantin, Liu Mei melepaskan pakaian pengantinnya lapis demi lapis. Gerakannya tenang dan efisien, tidak ada keraguan atau rasa malu. Kain merah itu ia lipat rapi dan letakkan di atas meja kayu dekat jendela. Ia kemudian duduk di tepi ranjang, hanya mengenakan pakaian dalam berwarna putih polos.
Lin Han tidak memperhatikannya. Ia duduk di lantai dekat tumpukan hadiah pernikahan yang diberikan para tamu. Tangannya menyentuh gulungan kain sutra, kantung koin emas, dan beberapa benda kecil lainnya.
"Ini semuanya sangat bagus." Suaranya datar tanpa kekaguman. "Tapi lebih bagus lagi jika diberikan pada orang yang bisa berkultivasi."
Ia menghela napas panjang. Jari jemarinya berhenti di atas sebuah kotak kayu kecil yang diikat dengan pita merah.
"Memberikanku semua ini... akan menjadi sia sia."
Liu Mei menjawab tanpa menoleh. Suaranya sedingin es di puncak gunung.
"Tidak ada yang sia sia. Kau bisa simpan itu. Saat waktunya tiba... kau bisa menggunakannya."
Lin Han tidak menjawab. Ia hanya diam beberapa saat, lalu bangkit dan berjalan ke arah ranjang. Tanpa membuka pakaian pengantinnya, ia berbaring di sisi ranjang yang kosong. Matanya menatap langit langit kayu sebentar, lalu perlahan tertutup. Pikirannya hampa. Hanya ada kelelahan yang akhirnya menyeretnya ke dalam tidur.
Entah berapa lama ia terlelap.
Di tengah malam yang sunyi, Lin Han terbangun dengan sensasi aneh di sekujur tubuhnya. Udara di dalam kamar terasa berat dan dingin, lebih dingin dari seharusnya malam di Kota Baishi. Ia membuka matanya perlahan.
Ruangan itu penuh dengan aura hitam pekat.
Bukan asap. Bukan kabut. Sesuatu yang lebih padat, lebih hidup. Aura hitam itu bergerak perlahan, berputar putar di tengah kamar seperti pusaran air yang mengerikan. Cahaya rembulan dari jendela bahkan tidak bisa menembus kegelapan itu.
Lin Han bangkit perlahan. Ia menoleh ke sampingnya. Liu Mei tertidur nyenyak, napasnya teratur, wajahnya tenang tanpa gangguan. Aura hitam itu sama sekali tidak memengaruhinya.
Lin Han tidak ingin membangunkan istrinya. Apapun yang sedang terjadi, ia akan menghadapinya sendiri. Dengan tubuh yang sedikit gemetar, ia turun dari ranjang dan melangkah mendekati pusaran aura hitam itu.
Semakin dekat ia berjalan, semakin jelas bentuk yang muncul dari dalam pusaran tersebut. Aura hitam itu perlahan memadat, membentuk sesosok makhluk. Tingginya hampir mencapai langit langit kamar. Tubuhnya diselimuti kabut hitam yang terus bergerak. Matanya merah menyala seperti bara api. Wajahnya menyeramkan dengan taring yang menyembul dari sudut bibirnya.
Iblis.
Lin Han terus berjalan hingga hanya berjarak dua langkah dari makhluk itu. Tanpa berpikir panjang, ia mengangkat tangannya dan memukul ke arah dada iblis tersebut.
Tangannya menembus begitu saja.
Seperti memukul udara. Tidak ada benturan. Tidak ada perlawanan. Tubuh iblis itu hanyalah kumpulan asap yang memiliki bentuk.
Iblis itu tertawa. Suaranya menggelegar rendah, mengisi seluruh sudut ruangan. Kedua tangannya yang besar dan hitam terangkat, lalu mencengkeram kedua bahu Lin Han dengan kuat. Genggaman itu terasa nyata. Dinginnya menusuk hingga ke tulang.
"Aku punya penawaran bagus untukmu. Apakah kau mau dengar?"
Lin Han menatap mata merah menyala itu.
"Tidak."
Jawabannya singkat dan tegas.
Iblis itu tertawa lagi. Kali ini lebih keras. "Kau tidak punya pilihan."
tp gw seneng sm murid sekte, mereka rebutan tp ttp rasional, mereka gak ada niat membunuh( sejauh ini) ..