Setelah ayahnya hilang dalam kecelakaan mobil, Ella hidup dengan satu tujuan yaitu menemukan kebenaran tentang ayahnya.
Sementara Leo seorang jaksa muda hidup dengan satu prinsip yaitu menegakkan hukum tanpa pengecualian.
Ketika mereka bertemu di pesta dansa, keduanya tak sadar mereka berada di sisi yang berlawanan dari permainan yang sama.
Ketika perasaan mulai tumbuh, satu pertanyaan tak bisa dihindari, apa yang harus dimenangkan? Kebenaran atau cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CGS 27
Ella menghela napas pelan. “Tante…” panggilnya hati-hati. Tidak ada respons. Ia mencoba lagi, kali ini lebih jelas. “Aku minta maaf soal semalam.”
Tante Rosa akhirnya meletakkan sendoknya, tapi tidak langsung menatap Ella. Ada jeda sejenak sebelum ia berkata, datar tapi tegas, “Minta maaf ke orang yang tepat dulu.”
Ella mengernyit. “Maksudnya?”
Tante Rosa menoleh, menatapnya lurus. “Niko.”
“Lho… berarti Niko juga marah padaku?” tanya Ella, nadanya sedikit berubah.
Tante Rosa mengangkat alis tipis. “Tentu saja.”
Ella terdiam, benar-benar tidak menyangka.
“Dia datang,” lanjut Tante Rosa, suaranya tetap tenang tapi jelas menyimpan makna. “Tepat saat kamu keluar.”
Beberapa detik, Ella tidak memproses. Sampai kalimat berikutnya jatuh.
“Mobilnya persis di belakang mobil Leo.” Seolah ada sesuatu yang jatuh di dalam dirinya.
Pelan, tapi terasa. “Oh…” gumam Ella nyaris tak terdengar.
Pikirannya langsung memutar ulang kejadian kemarin, pintu terbuka, Leo berdiri di sana, keputusan yang ia ambil dalam hitungan detik, lalu ia pergi tanpa menoleh ke belakang.
Tanpa tahu Niko sudah ada di sana. Menunggu.
Ella menunduk sedikit, jemarinya saling bertaut di atas meja. Rasa tidak enak itu datang perlahan, bukan karena ia merasa salah sepenuhnya tapi karena ia tahu ia seharusnya bisa memilih cara yang lebih baik.
“Aku nggak tahu dia sudah sampai,” katanya pelan.
Tante Rosa tidak langsung menanggapi. “Bukan soal tahu atau nggak,” ujarnya akhirnya. “Soal kamu memilih. Padahal Niko sudah menyiapkan semuanya. Ia juga sudah bekerja keras mengumpulkan data tentang ayahmu. Itu semua demi kamu Ella!"
Kalimat itu sederhana. Tapi menohok. Ella mengangkat pandangannya, tapi kali ini tidak ada bantahan. Karena ia tahu itu benar. “Aku bakal minta maaf ke dia,” katanya, lebih serius sekarang.
Tante Rosa menatapnya beberapa detik, seolah menilai apakah itu sekadar ucapan atau benar niat. “Lakukan itu,” katanya singkat. “Baru kita bicara lagi.”
Hening kembali turun di antara mereka. Tapi kali ini berbeda. Bukan lagi dingin yang memisahkan melainkan jarak yang menunggu untuk diperbaiki.
Ella menatap makanannya yang masih utuh, lalu menghela napas pelan. Dalam semua permainan yang sedang ia jalani ternyata ada satu hal yang tidak ia perhitungkan: bahwa tidak semua orang bisa ia perlakukan sebagai bagian dari strategi. Dan Niko jelas bukan salah satunya.
***
Ella tidak menunggu lama. Begitu sarapan selesai, meski ia hampir tidak benar-benar makan ia langsung mengambil ponselnya dan berjalan ke kamar, menutup pintu tanpa suara. Ia berdiri beberapa detik di sana, menatap layar kosong, seolah sedang menyiapkan dirinya untuk sesuatu yang lebih sulit dari sekadar menghadapi Leo atau menyusup ke pesta elit.
Menghadapi Niko ternyata berbeda. Ia membuka pesan terakhir mereka. Masih sama. Terhenti di kata: Leo. Tidak ada balasan. Tidak ada tanda bahwa pesan itu pernah dilanjutkan.
Ella mengetik. Menghapus. Mengetik lagi. Menghapus lagi.
Akhirnya ia berhenti, menarik napas panjang, lalu memilih cara yang paling jujur bukan yang paling rapi.
Ella: Aku minta maaf. Bisa ketemu?
Pesan terkirim. Kali ini, balasan tidak datang secepat biasanya. Satu menit. Dua menit. Tiga menit. Semakin lama, semakin terasa bahwa diam itu bukan kebetulan. Lalu layar menyala.
Niko: Di mana?
Ella langsung menjawab.
Ella: Tempat biasa.
***
Kafe itu tidak banyak berubah, tapi suasananya terasa berbeda bagi Ella. Ia datang lebih dulu, memilih meja yang sama seperti sebelumnya, tapi kali ini ia tidak duduk dengan tenang. Tangannya sesekali memainkan ujung gelas, matanya terus melirik pintu setiap kali ada orang masuk.
Sampai akhirnya Niko datang. Langkahnya biasa saja. Wajahnya juga tidak menunjukkan kemarahan yang meledak. Tapi justru itu yang membuat Ella semakin tidak nyaman.
Niko duduk di hadapannya tanpa banyak kata. “Udah lama?” tanyanya singkat.
Ella menggeleng. “Nggak.”
Hening. Tidak seperti biasanya. Biasanya mereka tidak perlu waktu lama untuk mulai bicara. Tapi sekarang semuanya terasa tertahan.
“Aku minta maaf,” kata Ella lebih dulu, suaranya lebih pelan dari biasanya.
Niko tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Ella, seolah menunggu sesuatu yang lebih dari itu.
“Aku nggak tahu kamu sudah sampai,” lanjut Ella. “Kalau aku tahu,”
“Kamu tetap akan pergi sama dia?” potong Niko.
Langsung. Tepat sasaran. Ella terdiam. Karena ia tahu jawaban jujurnya tidak akan menyenangkan. “…aku nggak tahu,” akhirnya ia berkata. Dan itu cukup jujur.
Niko mengangguk pelan, menatap meja sebentar sebelum kembali menatap Ella. “Itu masalahnya, El,” katanya. Bukan marah. Tapi lebih berat dari itu. “Kamu mulai nggak tahu batasnya.”
Kalimat itu terasa familiar. Terlalu familiar.
“Aku tahu apa yang aku lakukan,” jawab Ella, refleks.
Niko tersenyum tipis, tanpa benar-benar tersenyum. “Semua orang bilang begitu,” katanya pelan.
Persis seperti yang Tante Rosa katakan. Ella menarik napas, kali ini lebih dalam. “Aku butuh dia, Nik.”
Niko langsung mengangkat pandangannya. “Sebagai apa?”
“Akses,” jawab Ella cepat. “Informasi. Dia lebih dekat ke semua ini daripada kita.”
“Dan kamu pikir kamu bisa kontrol itu?” tanya Niko.
Ella tidak menjawab. Karena itu bukan sesuatu yang bisa ia pastikan.
“Aku cuma nggak mau kamu jadi bagian dari sesuatu yang kamu kira kamu kendalikan,” lanjut Niko, suaranya tetap tenang, tapi jelas lebih dalam. “Padahal kamu yang lagi ditarik masuk.”
Hening. Ella menatapnya. Untuk pertama kalinya sejak percakapan itu dimulai ia tidak punya bantahan langsung. “Aku hati-hati,” katanya akhirnya.
Niko menggeleng kecil. “Masalahnya bukan kamu hati-hati atau nggak.”
“Terus apa?”
Niko menatapnya lebih lama, lalu berkata pelan, “Masalahnya… kamu mulai nyaman.”
Kalimat itu lagi. Dan kali ini, dari orang yang berbeda. Ella mengalihkan pandangannya, menatap ke luar jendela, mencoba menghindari sesuatu yang terlalu tepat untuk disangkal. “Aku nggak nyaman,” katanya, tapi nadanya tidak sekuat sebelumnya.
Niko tidak memaksa. Ia hanya berkata pelan, “Kalau kamu harus meyakinkan diri sendiri… biasanya itu sudah jawabannya.”
Sunyi kembali turun di antara mereka. Tapi kali ini bukan karena marah. Melainkan karena keduanya tahu, ini bukan sekadar soal semalam. Ini tentang arah yang mulai berubah. Dan mungkin tidak semua orang bisa ikut berjalan ke arah yang sama.
***
Percakapan itu tidak langsung berakhir, tapi juga tidak benar-benar berlanjut seperti sebelumnya. Ada sesuatu yang berubah di antara mereka bukan putus, bukan juga kembali seperti semula, melainkan sebuah jarak baru yang tidak pernah mereka miliki sebelumnya. Ella masih duduk di tempatnya, menatap gelas di depannya yang sejak tadi tidak ia sentuh, sementara Niko menyandarkan punggungnya, seolah mencoba menerima sesuatu yang tidak ia sukai tapi tidak bisa ia cegah.