Lima mahasiswa KKN terjebak di Desa Larangan, desa gaib yang tidak ada di Google Maps.
Hari ketiga, Rani hilang dari kamar terkunci. Di kasurnya hanya ada selendang merah dan tanah kuburan. Kepala desa cuma bilang: "Tumbal pertama sudah diambil."
Setiap jam 01.00, gamelan dari hutan memanggil nama mereka. Sosok wanita berkebaya merah menatap dari sumur tua belakang balai desa.
Ternyata 7 tahun lalu ada mahasiswi KKN dibunuh dan dibuang ke sumur itu. Arwahnya menuntut 5 nyawa.
Mereka harus temukan tulang mahasiswi itu sebelum purnama, atau jadi penghuni tetap desa. Masalahnya, satu orang harus jadi tumbal sukarela untuk turun ke sumur.
Akankah mereka pulang selamat? Atau pulang tinggal nama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahrani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 9 Tahun Kemudian
Solo. Purnama. Jam 00.15.
RS Brayat Minulya, Kamar Bersalin No. 3.
Kami berempat masih nempel di kaca. Rendi, Bayu, Dina, Fajar. Umur 32, tapi rasanya kayak anak KKN kemarin sore. Bedanya sekarang perut buncit, rambut mulai uban, dompet tebel.
Di dalam, Laras Sinta udah dibedong. Matanya merem. Tidur. Damai. Satu coklat, satu ada semburat merahnya udah tidak keliatan kalau merem.
“Gila...” bisik Rendi. Suaranya serak. “Persis Sinta. Idungnya. Bibirnya.”
“Matanya juga,” tambah Dina. Dia dokter sekarang, tapi tangannya gemeter megang kaca. “Secara medis, heterochromia. Satu iris coklat, satu ada bercak merah. Langka. Tapi...”
“Tapi itu mata Lonceng,” potong Bayu. Dia udah kepala cabang bank, biasanya paling logis. Tapi sekarang logikanya kalah sama dada sesak. “Itu tandanya.”
Fajar diem. Dia Aiptu Reskrim. Matanya ngawasin CCTV lorong. Kebiasaan. “Aman. Tidak ada anomali. Tidak ada asep. Tidak ada bau menyan.”
Gue? Gue cuma ngeluarin taring Asu Kober dari tas. Dari pot kamboja 9 tahun lalu, gue pindahin ke kotak kayu jati. Sekarang gue bawa.
Taring itu... dingin. Tidak nyala. Polos. Kayak taring biasa. Tapi pas gue deketin ke kaca, ke arah Laras Sinta...
Kling.
Bunyi pelan. Kayak lonceng kecil. Cuma gue yg denger.
Bersamaan itu, Laras Sinta senyum dalam tidur.
Kami berlima — eh, berempat — langsung mundur selangkah.
“Paklik Joyo bener,” bisik gue. “Wijine Sinta ada di sini. Di taring. Sekarang udah pindah ke dia.”
Pintu kebuka. Suster keluar.
“Bapak-bapak om-nya mau gendong? Bayinya anteng banget. Dari tadi tidak nangis lagi sejak lihat bapak yg kaosan item.”
Dia nunjuk gue.
Gue beku. “Sa... saya?”
“Iya, Pak. Aneh. Tiap ada yg deket, dia buka mata. Tapi pas Bapak deket kaca tadi, dia malah merem, senyum. Kayak kenal.”
Rendi nyodor gue. “Udah, Min. Lu bapak angkatnya. Kami saksi.”
Gue cuci tangan. Pake jas rumah sakit. Masuk.
Dingin. AC-nya kenceng. Bau antiseptik, bukan bau anyir. Aman.
Suster nyerahin Laras Sinta. Kecil. Anget. Wangi bayi, kecampur wangi melati. Persis.
Gue gendong. Kaku. Takut salah.
Laras Sinta buka mata.
Satu coklat. Satu... merah. Jelas banget dari deket. Bukan bercak. Kayak ada api kecil muter di tengah irisnya. Tidak nyala, tapi hidup.
Dia natap gue. Lama.
Terus... tangannya yg kecil, yg cuma segede dua jari gue, ngangkat. Nyentuh pipi gue.
Dingin.
Terus dia... cooing. Bukan nangis. Suara, “Ahh...”
Tapi di telinga gue, suaranya beda.
“...Min...”
Jelas. Satu suku kata. Min.
Gue hampir jatohin bayi. Dengkul lemes.
Suster ketawa. “Iya, Pak. Bayi emang gitu. Sok-sok manggil. Lucu ya.”
Dia tidak denger. Cuma gue.
Laras Sinta merem lagi. Tidur. Tangannya masih nempel di pipi gue.
Gue keluar. Wajah pucat.
“Kenapa lu?” tanya Fajar.
“Dia... manggil gue. Min.”
Hening.
Dina langsung nangis. Nangis beneran. Sesenggukan. “Sinta... itu Sinta...”
Rendi sama Bayu meluk Dina. Fajar nepuk pundak gue. “Utang anyar mulai, Ndro. Kita jaga.”
Jam 2 pagi, kami pamit. Ibu Laras Sinta, namanya Bu Wulan, bingung. “Kok om-nya banyak? Terus kompak banget bawa melati?”
“Temen lama, Bu,” jawab gue. “Temen... adik kami. Kami janji mau jaga anaknya adik kami.”
Bu Wulan senyum. Capek tapi bahagia. “Oh, pantes bayinya anteng. Dari lahir auranya beda. Kayak... dijaga banyak orang.”
Banyak orang. Ardi, Mbak Dewi, Lestari, Asu Kober, Paklik Joyo.
Kami keluar RS. Langit masih purnama. Terang.
Di parkiran, Fajar nahan kami.
“Tim,” katanya. Nada dinas. “Ada yg aneh.”
Dia nunjuk ke mobil. Mobil sedan hitam. Parkir di pojok. Gelap. Tidak ada plat nomor.
“Dari tadi gue awasin. Pas kita masuk, mobil itu masuk. Kita di dalam 2 jam, dia tidak keluar. Mesin mati. Tapi...”
Fajar nunjuk ke kaca depan mobil.
Ada embun. Dan di embun, ada tulisan pake jari.
Satu kata:
“LUNAS”
Kami berlima lari nyamperin.
Kosong. Tidak ada orang. Pintu kekunci. Tapi di dashboard, ada satu benda.
Lonceng kecil. Lonceng tembaga. Ukirannya... sama kayak Lonceng Kyai Setan Kober yg pecah 9 tahun lalu. Tapi ini utuh. Baru.
Di bawahnya ada kertas.
Tulisan Jawa. Tinta merah.
“Utang lawas lunas. Utang anyar dimulai. Jaga wijine. Ojo nganti pecah meneh.
KKN 2044. Desa Larangan Anyar.
- Penagih”
Penagih. Tapi siapa? Ardi udah bebas. Mbak Dewi udah mulih.
Bayu motret. “Ini ancaman baru, Min.”
Dina ngambil lonceng itu pake tisu. “Berat. Dingin. Tapi... tidak ada aura jahat. Kayak... peringatan.”
Rendi nendang ban mobil. “Asu! 9 tahun tenang, sekarang mulai lagi? Anaknya belum gede!”
Gue ngelus taring Asu Kober di kotak. Dingin. Tapi aman.
“2044. 9 tahun lagi,” kataku. “Laras Sinta umur 9 tahun. Umur KKN... 18-21. Pas.”
Fajar catet. “Desa Larangan Anyar. Gue cek database Polri. Tidak ada desa nama itu.”
“Belum ada,” sahut gue. “Berarti bakal ada. Desa baru. Dibuat... buat kita. Buat dia.”
Kami diem. Purnama di atas kepala berasa jadi lampu interogasi lagi.
9 tahun damai. Itu kontraknya. Setelah itu, tagihan baru.
Tapi kali ini beda.
Dulu kami Saksi. Sekarang kami Penjaga.
Dulu kami diburu. Sekarang kami yg nyiapin perang.
Di jalan pulang, HP kami bunyi bareng. Notifikasi kalender.
“Pengingat: 9 Tahun Lagi. KKN 2044.”
Countdown baru. Angka merah lagi.
9:00:00:00:00
Bedanya, di bawahnya ada sub-teks.
“Generasi Penebus. Siap?”
Gue liat ke Rendi. Rendi liat ke Bayu. Bayu liat ke Dina. Dina liat ke Fajar. Fajar liat ke gue.
Terus kami berlima ngomong bareng. Tanpa aba-aba.
“SIAP.”
Jam 3 pagi, gue sampe kos. Bukan kos dulu. Rumah sekarang. Gue udah nikah. Istri gue tahu semua cerita. Dia yg nyuruh gue ke Solo malem ini.
“Gimana?” tanya istri gue. Perutnya buncit 7 bulan. Anak pertama kami.
Gue meluk dia. Meluk perutnya. “Dia lahir. Sinta lahir lagi. Matanya... sama.”
Istri gue nangis. Dia sayang Sinta juga. Dari cerita gue.
“Terus?”
Gue nunjukin foto lonceng sama kertas di HP. “9 tahun lagi. Kita punya anak. Laras Sinta punya kita. Mereka... seumuran. Takdir.”
Istri gue genggam tangan gue. Kenceng. “Kita jaga bareng. Berempat... berlima... bersepuluh kalo perlu.”
Gue angguk. Gue buka kotak kayu jati. Taring Asu Kober gue taruh di kamar bayi. Di atas lemari.
Taring itu... nyala. Biru. Terang. Terus redup. Kayak lampu tidur.
Jaga.
Malam itu, buat pertama kalinya dalam 9 tahun, gue tidur pules. Tidak mimpi buruk.
Mimpinya... pantai. Senja. Sinta kecil lari-lari. Tapi sekarang, di sebelahnya ada anak kecil lagi. Anak gue. Mereka pegangan tangan. Lari bareng ngejar ombak.
Di belakang, Ardi, Mbak Dewi, Lestari, Asu Kober, Paklik Joyo... masih jagain. Tapi sekarang mereka duduk. Ngopi. Ketawa. Damai.
Gue bangun jam 6 pagi. Adzan Subuh.
HP bunyi. Grup “KKN Neraka”.
Fajar: “Database nemu. Desa Larangan Anyar. Baru diresmiin tahun 2040. Pemekaran dari... Desa Larangan lama.”
Rendi: “JANCUK. MEREKA UDAH SIAPIN.”
Bayu: “Santai. Kita juga siapin. 9 tahun cukup buat bikin pasukan.”
Dina: “Aku hamil. 2 bulan. Hasil cek semalem. Jika cewek, namanya Lestari.”
Gue: “Istriku 7 bulan. Cowok. Namanya Ardi.”
Fajar: “Anjrit. Reuni.”
Bayu: “Generasi Penebus. KKN 2044. Kita yg jadi dosen pembimbing.”
Rendi: “Dan Penagihnya... kita gebukin rame-rame.”
Gue senyum. Ngelus perut istri gue.