Bagi dunia luar, Reihan Arta Wiguna adalah sosok "Ice King" di lantai bursa—dingin, tak tersentuh, dan selalu kalkulatif. Namun, di balik kemewahan hidupnya, ia terikat oleh janji konyol kakeknya puluhan tahun silam. Ia dipaksa menikahi Laluna Wijaya, seorang gadis yang ia anggap hanya sebagai "beban" tambahan dalam hidupnya yang sudah sibuk.
Laluna sendiri tidak punya pilihan. Menikah dengan Reihan adalah satu-satunya cara untuk melindungi apa yang tersisa dari nama baik keluarganya. Mereka sepakat pada satu aturan main: Pernikahan ini harus menjadi rahasia. Tidak ada cinta, tidak ada kemesraan di depan publik, dan tidak ada campur tangan dalam urusan pribadi masing-masing.
Namun, tinggal di bawah satu atap perlahan meruntuhkan tembok yang dibangun Reihan. Laluna bukan sekadar gadis penurut yang ia bayangkan; ia adalah api yang hangat di tengah musim dingin Reihan. Saat satu per satu rahasia keluarga dan pengkhianatan bisnis mulai terkuak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifra Sulistya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: DURI DI BALIK MAHKOTA
Kepulangan dari Singapura seharusnya menjadi perayaan kemenangan. Kesepakatan dengan grup hotel internasional itu telah ditandatangani, dan Ibu Ratna telah pergi dengan membawa beban dendam yang selama ini menghimpit pundak Reihan.
Namun, saat jet pribadi Arta Wiguna mendarat di landasan pacu Jakarta yang basah, atmosfer yang menyambut mereka terasa berat, seolah-olah kota ini sedang menyimpan rahasia baru yang jauh lebih dingin daripada AC di kabin pesawat.
Reihan langsung diserbu oleh Dimas begitu mereka menginjakkan kaki di lobi utama gedung pusat.
Wajah Dimas yang biasanya tenang kini tampak sangat tegang, matanya berkali-kali melirik ke arah Laluna dengan ragu.
"Ada apa, Dimas? Jangan membuatku menebak-nebak di hari yang melelahkan ini," ucap Reihan sambil menyerahkan tas kerjanya.
"Tuan... Kakek Surya. Beliau masuk rumah sakit pagi tadi. Serangan jantung ringan, tapi kondisinya stabil," bisik Dimas.
Laluna merasakan cengkeraman Reihan di lengannya mengeras. Tanpa kata, mereka segera menuju Rumah Sakit Medika, tempat keluarga Arta Wiguna memiliki sayap privat khusus.
Di ruang tunggu VVIP, suasana sangat mencekam. Yang membuat Laluna terkejut bukan hanya kehadiran para kerabat jauh, melainkan kehadiran seorang pria paruh baya yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Pria itu mengenakan setelan jas hitam yang sangat kaku, berdiri di depan pintu kamar Kakek Surya seolah-olah ia adalah penjaga gerbang neraka.
"Siapa dia?" bisik Laluna pada Reihan.
"Pengacara utama keluarga, Pak Baskoro. Dia hanya muncul jika ada urusan warisan atau... kematian," jawab Reihan dengan nada bicara yang kembali ke mode Ice King.
Reihan melangkah maju, namun Baskoro menghalangi jalannya. "Mohon maaf, Tuan Reihan. Kakek Surya meminta untuk bicara dengan Nyonya Laluna terlebih dahulu. Sendirian."
Reihan mengerutkan kening.
"Apa maksudmu? Aku adalah walinya, aku adalah CEO—"
"Ini adalah wasiat langsung dari beliau sebelum mendapatkan obat penenang, Tuan. Hanya Nyonya Laluna," tegas Baskoro.
Laluna menatap Reihan, mencari kepastian. Reihan menghela napas panjang, lalu mengangguk kecil.
"Masuklah. Aku ada di sini, tepat di balik pintu ini."
Di dalam kamar yang beraroma antiseptik itu, Kakek Surya tampak sangat rapuh. Mesin pendeteksi jantung berbunyi ritmis, memecah kesunyian yang mencekam.
Saat Laluna mendekat, pria tua yang dulu tampak begitu perkasa itu perlahan membuka matanya.
"Laluna..." suaranya serak, nyaris tak terdengar.
"Saya di sini, Kakek," ucap Laluna sambil menggenggam tangan keriput itu.
"Aku melakukan kesalahan besar, Nak. Jauh lebih besar dari sekadar membiarkan kecelakaan ayah Reihan terjadi,"
Kakek Surya menarik napas pendek yang terdengar menyakitkan.
"Danu... dia benar tentang satu hal. Ada dokumen yang tidak ditemukan oleh polisi. Dokumen yang membuktikan bahwa kakekmu, Wijaya, tidak hanya menjadi korban sabotase... tapi dia ditekan untuk tutup mulut dengan imbalan nyawamu saat kau masih bayi."
Laluna membeku.
"Apa maksud Kakek?"
"Ayah Danu mengancam akan melenyapkanmu jika Wijaya tidak mengakui kelalaian rem itu. Kakekmu... dia mencintaimu lebih dari reputasinya. Dia membiarkan dirinya dihina dunia demi melindungimu," Kakek Surya terbatuk, darah sedikit terlihat di sudut bibirnya.
"Dan aku... aku membiarkan itu terjadi karena aku terlalu pengecut untuk menghancurkan nama Arta Wiguna saat itu. Pernikahanmu dengan Reihan bukan hanya penebusan, tapi caraku untuk memastikan kau kembali mendapatkan apa yang seharusnya milikmu, sebagian besar saham pribadi yang kutanam, atas nama ibumu."
Laluna merasa kepalanya berputar. Jadi, selama ini ia bukan hanya "bayaran hutang", tapi ia adalah pewaris sah dari bagian besar perusahaan yang bahkan Reihan tidak tahu.
Ini bukan lagi soal cinta atau dendam keluarga, ini adalah perebutan kekuasaan yang bisa membuat Reihan kehilangan segalanya jika kebenaran ini tidak dikelola dengan hati-hati.
"Bawa dokumen ini... di bawah bantal," bisik Kakek Surya sebelum matanya kembali terpejam karena pengaruh obat.
Laluna merogoh bagian bawah bantal dan menemukan sebuah amplop kecil berwarna emas tua. Tangannya gemetar saat ia menyembunyikan amplop itu di balik blusnya.
Saat ia keluar dari kamar, Reihan segera menghampirinya. "Apa yang dia katakan? Apa dia baik-baik saja?"
Laluna menatap mata Reihan yang penuh kekhawatiran.
Untuk pertama kalinya, ia merasa memiliki rahasia yang jauh lebih berat daripada rahasia yang pernah disimpan Reihan darinya. Jika ia memberitahu Reihan sekarang, pria itu mungkin akan hancur mengetahui bahwa kakeknya adalah alasan keluarganya menderita selama ini.
Namun jika ia diam, ia akan menjadi pembohong yang sama seperti orang-orang yang mereka benci.
"Dia hanya... merindukan donat lavender buatan kita, Reihan," bohong Laluna, suaranya terdengar sangat meyakinkan namun hatinya menangis.
Reihan menarik Laluna ke dalam pelukannya, tidak menyadari bahwa di dalam pelukan itu, Laluna sedang memegang kunci yang bisa meruntuhkan seluruh imperium Arta Wiguna.
Di sudut lorong, Pak Baskoro memperhatikan mereka dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan singkat:
"Laluna sudah memegang kuncinya. Mulai fase kedua."