NovelToon NovelToon
Garis Takdir Baru

Garis Takdir Baru

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: USR

Nata Prawira mati dalam kehancuran mental dan kemiskinan, meninggalkan kedua adiknya dalam penderitaan. Namun, takdir membawanya kembali ke tahun 2014, tepat di masa SMA-nya.
​Berbekal memori masa depan dan kepribadiannya yang dingin serta kalkulatif, Nata bertekad menulis ulang nasib. Dari gang sempit yang kumuh, ia mulai merancang strategi investasi di dunia BitCore dan industri teknologi yang baru tumbuh. Bukan sekadar mencari kekayaan, Nata adalah seorang arsitek yang sedang membangun kekaisaran bisnis untuk melindungi Kirana yang lembut dan Arya yang penuh semangat. Di dunia yang kejam, ia akan membuktikan bahwa kecerdasan strategis adalah senjata paling mematikan untuk menjungkirbalikkan kasta sosial.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon USR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: KEHIDUPAN GANDA

Sinar matahari pagi menembus jendela kaca besar apartemen lantai lima belas, memberikan pemandangan Jakarta yang berbeda dari biasanya. Bagi Nata, pemandangan ini bukan sekadar estetika; ini adalah peta peluang. Di bawah sana, ribuan orang terjebak dalam kemacetan yang sama setiap pagi—sebuah masalah sistematis yang sebentar lagi akan menjadi tambang emas bagi Nusa-Trans, perusahaan yang sahamnya kini mulai ia genggam.

​"Kak, dasinya miring," Kirana mendekat, merapikan dasi seragam SMA Nata dengan tangan yang lebih tenang dari biasanya.

​Kirana terlihat jauh lebih segar. Seragam sekolahnya disetrika rapi, dan tidak ada lagi bayang-bayang kelelahan di bawah matanya. Di apartemen ini, Kirana tidak perlu bangun pukul empat pagi untuk menimba air atau mencuci baju di sumur umum.

​"Terima kasih, Kirana. Arya sudah siap?" tanya Nata.

​"Sudah! Aku sudah pakai sepatu baru yang lampunya bisa nyala!" seru Arya dari arah ruang tengah.

​Nata tersenyum. "Ayo berangkat. Pak sopir dari kantor sudah menunggu di bawah untuk mengantar kalian."

​Fasilitas dari Hendra Wijaya benar-benar lengkap. Selain tempat tinggal, Hendra menyediakan transportasi untuk adik-adik Nata sebagai jaminan keamanan tambahan. Setelah memastikan adik-adiknya berangkat, Nata memilih untuk pergi ke sekolah menggunakan ojek pangkalan—ia ingin tetap menjaga profil rendah di sekolah agar tidak memicu kecurigaan yang tidak perlu.

​Di SMA Tunas Bangsa, Nata kembali menjadi "Nata yang pendiam". Ia duduk di bangku paling belakang, mendengarkan penjelasan guru matematika tentang logaritma. Baginya, materi ini terasa sangat mendasar dibandingkan dengan algoritma enkripsi yang ia pelajari saat memantau transaksi aset digital di malam hari.

​Saat jam istirahat, Raka Dirgantara mendekat ke meja Nata. Namun, tidak ada lagi aura intimidasi. Raka terlihat gelisah, matanya melirik ke kiri dan ke kanan.

​"Nata... boleh bicara sebentar? Di tempat sepi," bisik Raka.

​Nata menutup buku catatannya. "Katakan di sini saja, Raka. Aku tidak punya waktu banyak."

​Raka menelan ludah. "Ayahku... dia mulai bertanya-tanya soal taruhan bola waktu itu. Dia melihat catatan keuangan pribadiku dan bingung kenapa aku bisa punya uang tambahan setelah kalah balap liar. Dia juga dengar namamu disebut-sebut oleh Paman Danu di sebuah pertemuan pengusaha."

​Nata menatap Raka dengan tajam. "Lalu?"

​"Ayahku memperingatkanku untuk menjauhimu. Dia bilang kamu itu 'anak ajaib' yang berbahaya atau semacamnya. Tapi Nata, aku butuh bantuanmu lagi. Utang balap liarku yang lain... aku benar-benar buntu," Raka memohon dengan suara rendah.

​Nata menyandarkan punggungnya di kursi. Ia melihat peluang baru. Ayah Raka adalah seorang pengusaha kontraktor kelas menengah yang sering mendapatkan proyek pemerintah daerah.

​"Aku tidak akan membantumu menang taruhan lagi, Raka. Itu terlalu berisiko. Tapi, aku bisa memberimu cara untuk membayar utangmu secara legal jika kamu bisa memberikan satu informasi padaku," ucap Nata.

​"Apa saja! Katakan saja!"

​"Aku ingin tahu daftar lelang proyek perbaikan jalan di area Jawa Tengah yang akan diikuti perusahaan ayahmu bulan depan. Hanya daftarnya, bukan dokumen rahasianya," Nata memberikan syarat.

​Raka tampak bingung. "Hanya itu? Itu bukan rahasia negara, aku bisa mencarinya di ruang kerja Ayah."

​"Bagus. Berikan padaku lusa, dan aku akan memberimu tips investasi jangka pendek yang akan melunasi utangmu dalam dua minggu," Nata mengakhiri percakapan itu saat bel masuk berbunyi.

​Nata tahu, memiliki akses ke daftar proyek infrastruktur daerah akan membantunya memetakan di mana tepatnya titik-titik pembebasan lahan tol akan dilakukan secara lebih mendalam.

​Pukul dua siang, seragam putih-abu-abu itu dilepas. Nata berganti pakaian menjadi kemeja kasual yang rapi dan berangkat menuju kantor Nusa-Capital di Kuningan. Di sini, ia bukan lagi seorang siswa; ia adalah Konsultan Junior yang memiliki akses langsung ke ruang riset teknologi.

​"Nata, kamu sudah datang. Kebetulan, tim riset sedang pusing memikirkan sistem deposit untuk aplikasi kita," sapa salah satu manajer senior, seorang pria berkacamata bernama Andre.

​Nata duduk di depan deretan monitor yang menampilkan kode-kode rumit. "Masalahnya bukan pada kodenya, Mas Andre. Masalahnya pada kepercayaan pengguna di tahun 2014. Orang Indonesia masih takut menaruh uang di aplikasi ponsel."

​"Jadi solusinya?" tanya Andre penasaran.

​"Gunakan sistem 'top-up' lewat pengemudi. Biarkan pengguna membayar tunai kepada sopir ojek, dan sopir yang memasukkan saldo digital ke akun mereka. Itu akan menciptakan sirkulasi uang yang nyata dan membangun kepercayaan secara bertahap," jelas Nata.

​Andre terdiam, lalu menepuk dahinya. "Sederhana, tapi brilian. Kenapa kami tidak terpikirkan untuk menjadikan sopir sebagai agen bank berjalan?"

​Konsep ini adalah standar di masa depan, namun di tahun 2014, ini adalah sebuah revolusi. Hendra Wijaya yang baru saja masuk ke ruangan riset tersenyum lebar mendengar diskusi itu.

​"Nata, ikut ke ruangan saya sebentar," panggil Hendra.

​Di dalam ruangan kerjanya, Hendra menyodorkan sebuah peta besar Jawa Tengah. "Saya sudah membaca analisismu soal tanah di dekat Gunung Merapi. Kamu benar, pemerintah akan segera mengesahkan penentuan lokasi tol bulan depan. Pamanmu, Danu, sedang mencoba memborong lahan di sana lewat broker ilegal. Dia menggunakan nama orang lain agar tidak terdeteksi radar hukum Ibu Sari."

​Nata mendekati peta tersebut. Matanya tertuju pada sebuah desa kecil bernama Desa Sidomulyo. "Paman Danu hanya melihat apa yang tertulis di kertas rencana awal, Pak Hendra. Dia tidak tahu bahwa karena kondisi geografis dan potensi erupsi Merapi, jalur tol itu akan sedikit digeser ke arah timur, tepat melewati area persawahan yang sekarang dianggap lahan mati."

​"Dari mana kamu tahu detail itu?" Hendra menyipitkan mata.

​"Saya melakukan riset sejarah vulkanologi dan laporan drainase lama daerah tersebut, Pak. Tanah yang diincar Paman Danu justru akan menjadi area hijau yang dilarang dibangun, sementara lahan 'mati' di sebelahnya akan menjadi pintu keluar tol utama," Nata berbohong secara taktis—ia mengetahuinya karena ia ingat berita sengketa lahan besar yang terjadi di tahun 2017 di garis waktu aslinya.

​Hendra tertawa terbahak-bahak. "Kamu benar-benar gila, Nata. Danu akan bangkrut jika dia menaruh semua modalnya di sana."

​"Itu tujuannya, Pak Hendra. Biarkan dia membeli semua lahan yang salah. Sementara itu, saya butuh bantuan modal dari Nusa-Capital untuk membeli lahan di Desa Sidomulyo lewat skema kemitraan. Kita bagi hasil 60-40. Saya yang mengelola informasinya, Anda yang menyediakan perlindungan finansialnya."

​Hendra menatap Nata dengan pandangan kagum. Remaja ini tidak hanya ingin menyelamatkan warisan ayahnya; dia ingin menghancurkan musuhnya secara finansial sekaligus membangun kekayaan baru. "Deal. Saya akan siapkan tim untuk eksekusi lapangan secara senyap."

​Malam itu, Nata duduk di balkon apartemennya sambil memegang secangkir teh hangat. Di dalam, Kirana sedang mengajari Arya menggambar. Suasana yang begitu damai, namun Nata tahu perang besar baru saja dimulai.

​Ia membuka ponselnya dan melihat harga BitCore yang kini menyentuh angka 530 dolar AS. Keuntungan dari kenaikan aset digital ini akan ia gunakan sebagai modal cadangan untuk membeli beberapa ruko tua di pinggiran Jakarta yang ia tahu akan menjadi lokasi stasiun transportasi massal di masa depan.

​Namun, ketenangannya terganggu oleh sebuah panggilan telepon dari nomor yang sangat ia kenal. Paman Danu.

​"Nata," suara Danu terdengar parau, tidak lagi meledak-ledak seperti sebelumnya. "Paman tahu kamu sekarang merasa hebat karena didukung orang besar. Tapi ingat, darah itu lebih kental dari air. Paman hanya ingin kita bicara sebagai keluarga. Tanpa polisi, tanpa pengacara."

​"Darah yang Paman maksud adalah darah yang Paman hisap dari kami selama ini?" balas Nata dingin.

​"Nata, jangan keras kepala! Paman hanya butuh surat tanah itu sebagai jaminan sementara. Bisnis Paman sedang di ujung tanduk. Kalau Paman jatuh, nama keluarga Prawira juga akan tercemar!"

​"Nama keluarga Prawira sudah tercemar sejak Paman mencoba menipu anak yatim," Nata berdiri, menatap gemerlap lampu kota. "Paman Danu, saya beri saran gratis. Berhenti membeli lahan di lereng barat Merapi. Itu tanah mati. Jika Paman terus memaksa, Paman tidak akan punya apa-apa lagi untuk diselamatkan bulan depan."

​"Apa maksudmu?! Kau mencoba menakut-nakuti Paman agar Paman tidak mengambil peluang itu? Hah! Paman tahu itu jalur emas!" Danu berteriak di seberang telepon.

​"Silakan, Paman. Selamat bermain dengan nasib," Nata mematikan teleponnya.

​Nata sengaja memberikan "saran" itu. Ia tahu psikologi Paman Danu—semakin Nata melarangnya, semakin Danu akan merasa bahwa tanah itu memang sangat berharga dan Nata hanya mencoba menghalanginya. Danu akan mengerahkan seluruh sisa uangnya ke sana, masuk ke dalam lubang yang telah Nata siapkan.

​Nata menutup matanya sejenak, menghirup udara malam yang dingin. Rencananya sedang berjalan. Setiap bidak catur di papan ini sedang bergerak menuju posisi yang ia inginkan.

​Paman Danu akan hancur oleh keserakahannya sendiri. Raka akan menjadi pion informasinya di sekolah. Hendra Wijaya akan menjadi tameng dan penyedia modalnya. Dan yang paling penting, Kirana dan Arya akan selalu aman di balik dinding apartemen ini.

​"Perencana yang baik bukan mereka yang memenangkan satu pertempuran," gumam Nata sambil menatap bintang di langit. "Tapi mereka yang memastikan hasil akhirnya tidak bisa diubah lagi sejak langkah pertama dilakukan."

​Ia kembali ke dalam, menutup pintu balkon, dan mematikan lampu ruang tengah. Di kegelapan, cahaya kecil dari ponselnya masih menyala, menampilkan grafik pertumbuhan yang tidak pernah tidur. Nata Prawira siap untuk langkah selanjutnya: menguasai hari esok, sebelum hari esok itu benar-benar datang.

Bersambung.....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!