CEWEK BADUNG VS COWOK KAKU
AYUNDA
Cantik, manis, dan bergaya kece abis... tapi kelakuannya liar!
Mulutnya tajam, berani, dan paling benci diatur-atur.
"Badung? Yeah, that's me."
Dia cewek yang hidup sesuka hati, nggak peduli omongan orang, dan siap melabrak siapa saja yang berani cari gara-gara.
GIOVANI
Ganteng, kaya, dan selalu tampil sempurna... tapi kaku setengah mati!
Hidupnya penuh aturan, rapi, dan terjadwal kayak robot.
"Terlalu diatur, terlalu sulit dimengerti."
Dia tipe cowok yang alergi sama kekacauan, apalagi sama cewek rusuh kayak Ayunda.
Dua kepribadian. Satu konflik yang tak terhindarkan.
Lo badung, gue kaku.
Kita emang mustahil.
Satu mau bebas, satu mau aturan.
Satu bawa kekacauan, satu bawa masalah.
Tapi entah kenapa... dua kutub yang saling tolak ini, selalu saja ketemu di titik yang sama.
Apakah si Badung bisa meluluhkan si Kaku?
Atau malah si Kaku yang bakal ikut rusuh karena si Badung?
A hate-love romance that you can't miss! ❤️🔥
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon exozi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BELAI-BELAIN DEMI DIA
Hari itu cuaca sangat panas. Matahari bersinar terik sekali, membuat aspal jalanan seolah bergetar karena panasnya. Tapi di dalam rumah besar itu, suasana terasa sangat tenang dan sejuk berkat AC yang menyala stabil.
Ayunda sedang tidur siang di kamar. Badannya memang sudah tidak demam tinggi seperti semalam, tapi dia masih terlihat lemah dan lesu. Wajahnya masih sedikit pucat.
Giovani duduk di tepi kasur, menatap istrinya dengan wajah penuh perhatian. Tangannya sesekali meraba dahi Ayunda untuk memastikan suhu tubuhnya.
"Masih agak hangat," gumam Gio pelan. "Ah, kalau gini terus nanti gak enak. Perlu sesuatu yang segar buat nurunin panas dan bikin dia enakan."
Pikiran Gio langsung tertuju pada satu makanan. Es Campur.
Ayunda pernah bilang sekali waktu kalau es campur itu obat paling ampuh kalau lagi badmood atau lagi sakit. Apalagi kalau yang bikin sendiri dengan buah-buahan segar dan sirup yang manis pas.
"Tunggu disini ya sayang. Aku keluar sebentar," bisik Gio lembut. Dia mencium pelan kening Ayunda, lalu berjalan pelan keluar kamar dan menutup pintu hati-hati.
Gio biasanya adalah tipe orang yang sangat menjaga penampilan. Selalu rapi, selalu wangi, dan tidak pernah terlihat berantakan. Tapi hari ini, demi Ayunda, dia melakukan hal yang tidak biasa.
Dia tidak memakai jas atau kemeja rapi seperti biasanya pergi keluar. Dia cuma memakai kaos oblong putih polos dan celana chino santai. Dia tidak memakai topi atau kacamata hitam. Dia langsung menaiki mobilnya dan pergi menuju pasar tradisional atau toko buah terdekat.
Tujuannya cuma satu: mencari bahan-bahan segar terbaik buat bikin Es Campur spesial buat istrinya.
Di pasar yang panas dan berdebu itu, Giovanni terlihat sangat mencolok. Dia berjalan di antara kerumunan orang, mencium bau sayuran dan ikan, sesuatu yang biasanya sangat dia hindari. Tapi dia tidak peduli. Keringat mulai membasahi punggung dan dahinya, membuat bajunya sedikit basah, tapi dia tetap fokus mencari-cari bahan yang dia butuhkan.
"Bu, ini buah nangka nya masih segar kan?" tanya Gio sopan pada seorang penjual buah.
"Masih segar banget dong Mas! Baru datang tadi pagi!" jawab ibu penjual itu sambil tersenyum melihat cowok ganteng yang sopan.
"Ya sudah, potongin yang banyak ya Bu. Sama ini alpukat, melon, dan jelly nya juga ambil yang banyak," kata Gio langsung tanpa tawar-menawar. Dia bahkan rela merogoh kocek lebih dalam demi mendapatkan kualitas terbaik.
Setelah belanja selesai, tangan Gio penuh dengan kantong-kantong plastik berisi buah-buahan dan bahan lainnya. Tubuhnya sudah berkeringat banyak, bajunya sedikit lengket, dan rambutnya agak berantakan karena kepanasan. Tapi senyum di wajahnya tidak pernah hilang. Dia merasa senang karena bisa melakukan ini untuk Ayunda.
Sesampainya di rumah, Gio tidak langsung istirahat. Dia langsung masuk ke dapur dan mulai bekerja.
Dia mencuci semua buah itu sampai bersih. Lalu dia mulai memotong-motongnya dengan teliti. Meskipun jarang memegang pisau dapur, tapi tangannya cekatan dan rapi. Potongan buahnya bagus-bagus dan ukurannya pas.
Dia tidak main-main. Dia masukkan nangka, alpukat, melon, jelly warna-warni, biji selasih yang sudah direndam, hingga rumput laut. Dia bahkan merebus sendiri sirup merah dan gula pasir buat bikin kuah es yang manis dan kental.
Suasana dapur jadi sibuk sekali. Suara pisau menimpa talenan, suara air mengalir, dan suara es batu yang dihancurkan terdengar bersahutan.
Gio benar-benar serius. Keringat lagi-lagi menetes di pelipisnya, tapi dia tidak peduli. Yang dia pikirkan cuma satu: "Semoga Ayunda suka. Semoga dia langsung sembuh setelah makan ini."
Sekitar satu jam kemudian...
DUG!
Sebuah mangkuk besar berisi Es Campur super lengkap dan mewah diletakkan di atas nampan. Warnanya sangat cantik, merah menyala dari sirup, bertabur dengan berbagai macam buah dan isian yang melimpah. Es batu masih berdegup kencang, mengeluarkan uap dingin yang segar.
Gio mengelap keringat di dahinya dengan punggung tangan, lalu tersenyum puas melihat hasil karyanya.
"Jadi juga akhirnya," gumamnya bangga. "Wangi juga nih kayaknya."
Dia membawa nampan itu naik ke kamar dengan hati-hati.
Saat masuk ke kamar, Ayunda sudah terbangun. Cewek itu sedang duduk bersandar di kepala ranjang, matanya masih terlihat sayu dan lemas.
"Gio?" tanya Ayunda pelan, bingung melihat suaminya masuk membawa mangkuk besar. "Lo dari mana? Kok keringatan gitu? Wajah lo merah banget."
Gio meletakkan nampan itu di meja samping kasur, lalu duduk di tepi tempat tidur sambil tersenyum lelah tapi manis.
"Dari dapur dong," jawab Gio singkat. "Tadi aku pergi ke pasar sebentar, cari buah-buahan segar. Aku bikinin kamu Es Campur. Yang lengkap kayak yang kamu suka."
Mata Ayunda langsung membelalak lebar. Dia menatap mangkuk berisi es campur yang isinya melimpah ruah itu, lalu menatap wajah Gio yang terlihat capek, berkeringat, dan bajunya bahkan agak kotor sedikit terkena debu pasar.
"Lo... lo sendiri yang beli? Lo sendiri yang bikin?" tanya Ayunda tidak percaya. Suaranya bergetar. "Tapi kan panas banget di luar Gio... Lo kan biasanya gak suka tempat yang kotor dan panas..."
Gio menggeleng pelan, lalu mengambil sendok dan mengaduk es campur itu sampai rata.
"Biasa aja lah. Apa sih yang gak mau buat kamu?" kata Gio santai, seolah itu hal biasa. "Lagian kan kamu lagi sakit. Aku mau bikinin yang seger-seger biar badan kamu enakan, biar panasnya turun, biar kamu sembuh cepet."
Dia menyendok sedikit es campur, meniupnya pelan biar tidak terlalu dingin, lalu mendekatkannya ke mulut Ayunda.
"Nah... sini buka mulutnya. Cobain dulu enak apa enggak. Aku bela-belain loh panas-panasan ke pasar, potong tangan hampir kena pisau, semua demi ini loh."
Ayunda menatap Gio dalam-dalam. Matanya mulai berkaca-kaca. Rasanya haru sekali. Cowok yang dulu dia anggap kaku, sombong, dan manja, sekarang rela berpanas-panasan, rela kotor-kotoran, cuma demi menyiapkan makanan buat dia.
"Bela-belain banget ya..." bisik Ayunda pelan, air mata haru hampir jatuh.
"Iya dong... bela-belain demi dia," jawab Gio sambil tersenyum manis, menatap mata Ayunda dalam. "Karena kamu istri aku. Kamu prioritas aku. Apapun bakal aku lakuin biar kamu bahagia dan sehat."
Ayunda akhirnya membuka mulutnya, menerima suapan dari Gio.
Rasanya... SEMPURNA! Manis, dingin, segar, dan buahnya sangat terasa. Enak banget bahkan lebih enak daripada yang dijual di restoran mahal sekalipun.
"Hhh... enak banget Gio!" seru Ayunda senang. "Enak parah! Lo jago banget bikinnya!"
Mendengar itu, senyum Gio makin lebar. Semua rasa capek, panas, dan lelahnya langsung hilang seketika digantikan oleh rasa bahagia yang luar biasa.
"Alhamdulillah kalau enak. Makan yang banyak ya sampai habis. Biar kuat lagi badannya."
Malam itu, Ayunda sadar satu hal. Bahwa cinta sejati itu bukan cuma soal kata-kata manis atau kencan romantis. Tapi cinta itu adalah kesediaan seseorang untuk keluar dari zona nyamannya, rela berkorban waktu dan tenaga, hanya demi melihat senyum orang yang dia sayang.
Dan Gio, sudah membuktikannya dengan tulus.