NovelToon NovelToon
10 Cara Melihat Hantu

10 Cara Melihat Hantu

Status: tamat
Genre:Horor / Misteri / Hantu / Tamat
Popularitas:762
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

10 Cara Melihat Hantu adalah kisah misteri yang menggabungkan rasa penasaran manusia terhadap dunia gaib dengan konsekuensi menakutkan yang tak terduga. Cerita ini berpusat pada seorang remaja bernama Alin yang menemukan sebuah buku tua berdebu berjudul sama—10 Cara Melihat Hantu—di sudut perpustakaan yang hampir terlupakan.
Awalnya, buku itu tampak seperti panduan biasa yang berisi sepuluh metode berbeda untuk membuka “mata batin” dan melihat makhluk tak kasatmata. Mulai dari ritual sederhana seperti menatap cermin di tengah malam, hingga cara yang lebih ekstrem seperti mengunjungi tempat angker seorang diri. Didorong oleh rasa ingin tahu, Alin mencoba satu per satu cara tersebut, tanpa menyadari bahwa setiap langkah yang ia ambil semakin menarik dirinya lebih dalam ke dunia yang seharusnya tidak ia sentuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Di Antara Pintu dan Kehancuran

Raka berdiri sendiri.

Lebih lemah dari sebelumnya.

Namun masih bertahan.

Napasnya berat. Setiap tarikan terasa seperti menelan udara yang penuh debu tak kasatmata. Tubuhnya gemetar, bukan hanya karena lelah… tapi karena sesuatu di sekitarnya terus menekan.

Ia menatap ke arah tempat Dira menghilang.

Tempat itu kini bukan lagi sekadar ruang kosong.

Melainkan retakan.

Tipis… namun hidup.

Seperti luka pada kenyataan.

“Maaf… aku belum bisa menghentikannya…” bisiknya lirih.

Suaranya tenggelam dalam keheningan yang aneh.

Di belakangnya—

Sosok-sosok itu mulai bangkit lagi.

Lebih banyak.

Lebih gelap.

Dan penjaga baru… kini mulai terbentuk.

Langit di atas desa berubah.

Tidak sepenuhnya gelap.

Namun juga bukan malam.

Warna hitamnya… berdenyut.

Seperti sesuatu yang hidup di baliknya.

Rumah-rumah berdiri diam.

Lampu-lampu yang tersisa berkedip pelan, seolah berjuang untuk tetap menyala.

Namun satu per satu…

Mereka padam.

Raka memaksa dirinya berbalik.

Ia tahu… jika ia terus diam, semuanya akan berakhir di sini.

Dan kali ini… tidak akan ada yang tersisa.

Bayangan di belakangnya mulai membentuk sesuatu.

Awalnya kabur.

Lalu semakin jelas.

Tulang.

Daging.

Dan wajah…

Wajah yang tidak utuh.

Penjaga baru itu berbeda.

Lebih besar.

Lebih padat.

Dan di bagian dadanya…

Ada lubang.

Gelap.

Dalam.

Seolah menunggu untuk diisi.

Raka mengepalkan tangannya.

“Aku tidak akan membiarkan kalian mengambil yang lain…” katanya, meskipun suaranya hampir tidak terdengar.

Penjaga itu tidak menjawab.

Namun kepalanya perlahan menoleh.

Menghadap Raka.

Dan dalam satu detik—

Sosok itu sudah berada di depannya.

Terlalu cepat.

Terlalu tidak masuk akal.

Raka tersentak mundur.

Namun bayangan di lantai langsung mencengkeram kakinya.

Menahan.

Membekukan.

“Kau…” suara itu terdengar dari dalam tubuh penjaga.

Berlapis.

Seperti banyak orang berbicara sekaligus.

“Kau melihat terlalu banyak.”

Raka menatapnya.

“Aku tidak takut…” katanya.

Namun jantungnya berdegup liar.

“Bohong.”

Penjaga itu mengangkat tangannya.

Dan dari lubang di dadanya…

Keluar sesuatu.

Kabut hitam.

Bergerak.

Mencari.

Raka mencoba melawan.

Ia menutup matanya.

Mencoba mengingat.

Alya.

Dira.

Semua yang terjadi.

“Aku… tidak sendiri…” bisiknya.

Dan saat itu—

Sesuatu berubah.

Cahaya kecil muncul di telapak tangannya.

Lemah.

Namun cukup untuk membuat kabut itu berhenti.

Penjaga itu sedikit mundur.

Seolah merasakan sesuatu yang tidak disukainya.

“Menarik…” katanya.

Raka membuka matanya.

Cahaya itu masih ada.

Berkedip.

Seperti api kecil yang hampir padam.

Namun tetap hidup.

“Aku tidak tahu ini apa…” kata Raka pelan. “Tapi aku tahu… ini bukan milik kalian.”

Penjaga itu diam.

Lalu—

Ia tersenyum.

Senyum yang retak.

“Semua yang ada di sini… adalah milik kami.”

Tiba-tiba—

Cahaya di tangan Raka membesar.

Tidak banyak.

Namun cukup untuk membuat bayangan di sekitarnya mundur.

Dan untuk pertama kalinya—

Raka bisa bergerak.

Ia menarik kakinya dari cengkeraman bayangan.

Terhuyung.

Namun berdiri.

“Aku tidak akan lari lagi,” katanya.

Penjaga itu melangkah maju.

Setiap langkahnya membuat tanah retak.

“Kau akan hancur,” katanya.

“Mungkin,” jawab Raka.

“Tapi tidak sebelum aku mencoba.”

Di tempat lain…

Alya terjatuh keras.

Tubuhnya menghantam permukaan yang tidak terlihat.

Namun terasa nyata.

Ia mengerang pelan, mencoba bangkit.

Di sekelilingnya…

Kegelapan.

Namun bukan kosong.

Ada sesuatu di sana.

Banyak.

Terlalu banyak.

Mereka mengelilinginya.

Menatap.

Menunggu.

Alya menarik napas dalam.

Ia bisa merasakannya.

Dunia ini…

Bukan dunia manusia.

Namun juga bukan sepenuhnya milik mereka.

Ini adalah…

Perbatasan.

Dan di atas sana—

Ia melihatnya.

Dira.

Berdiri di ambang.

Matanya gelap.

Namun tubuhnya… gemetar.

Seperti masih melawan.

“Alya…” suara itu terdengar.

Bukan dari mulutnya.

Tapi dari dalam.

Alya menatapnya.

“Aku di sini,” jawabnya.

Sosok-sosok di sekelilingnya mulai bergerak.

Mendekat.

Namun kali ini… Alya tidak mundur.

Ia berdiri.

Mengangkat kepalanya.

“Aku tidak takut lagi,” katanya.

Dan untuk pertama kalinya—

Cahaya muncul.

Dari dalam dirinya.

Tidak besar.

Tidak menyilaukan.

Namun cukup untuk membuat bayangan itu berhenti.

“Alya…” suara Dira kembali muncul.

Lebih jelas.

“Tolong…”

Alya melangkah maju.

Menuju retakan yang menghubungkan mereka.

Setiap langkah terasa berat.

Namun ia terus berjalan.

“Dira… dengarkan aku,” katanya.

“Aku tidak akan meninggalkanmu.”

Tubuh Dira bergetar lebih kuat.

Bayangan di sekitarnya mencoba menahannya.

Namun ada sesuatu yang berubah.

Cahaya di antara mereka… semakin kuat.

Dan untuk sesaat—

Mata Dira kembali.

Normal.

Penuh ketakutan.

“Alya…” bisiknya.

“Aku tidak bisa menahannya…”

Alya menggeleng.

“Kau bisa,” katanya tegas.

“Karena kau bukan pintu.”

Ia mengulurkan tangannya.

“Dan aku tidak akan membiarkan mereka menjadikanmu satu.”

Dira menatap tangannya.

Ragu.

Tubuhnya ditarik ke belakang oleh bayangan.

Namun tangannya… perlahan terangkat.

Hampir menyentuh.

Hampir—

Tiba-tiba—

Sesuatu muncul di belakangnya.

Lebih besar.

Lebih gelap.

Lebih tua.

Sosok yang bahkan para bayangan pun… tunduk padanya.

Alya membeku.

Dira menegang.

Dan suara itu…

Berbicara.

Untuk pertama kalinya.

“Dia… milik kami.”

Suara itu tidak keras.

Namun mengguncang segalanya.

Cahaya di sekitar Alya bergetar.

Bayangan di sekitarnya kembali hidup.

Lebih liar.

Lebih lapar.

Dira menjerit.

Tubuhnya ditarik menjauh.

“Alya!”

Alya mencoba meraih.

Namun jarak di antara mereka tiba-tiba melebar.

Retakan itu… mulai menutup.

“Tidak!” teriak Alya.

Namun terlambat.

Dira menghilang kembali ke dalam kegelapan.

Dan di hadapan Alya…

Sosok besar itu kini berdiri.

Menatapnya.

“Dan kau…” katanya pelan.

“Akan menjadi yang berikutnya.”

Alya terdiam.

Namun kali ini…

Ia tidak mundur.

Ia menatap balik.

Dengan mata penuh tekad.

“Kalau itu satu-satunya cara untuk menghentikan kalian…” katanya pelan.

“Aku siap.”

Sosok itu tersenyum.

Dan dunia di sekitarnya…

Mulai runtuh.

Di kejauhan—

Raka melihat langit retak.

Secara harfiah.

Seperti kaca.

Dan dari balik retakan itu…

Sesuatu mulai turun.

Perlahan.

Tak terhentikan.

Raka mengepalkan tangannya.

Cahaya kecil itu kembali menyala.

Dan kali ini…

Sedikit lebih terang.

“Kalau ini akhir…” bisiknya.

“Setidaknya… aku tidak akan diam saja.”

Dan malam itu—

Pertempuran sebenarnya…

Baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!