NovelToon NovelToon
BANGKIT DARI LUKA

BANGKIT DARI LUKA

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Amira 3 Tahun Jadi TKI, melunasi hutang keluarga suami
meninggalkan dua anaknya yang masih kecil
saat pulang di mendapatkan
arjuna anak sulungnya usia 7 tahun sedang di pukul oleh seorang wanita
wanita itu adalah istri muda suaminya
anak keduanya saat itu usia 1 tahun tidak ada di rumah
Hati Amira hancur namun dia harus tetap hidup
sebuah kisah kebangkitan wanita

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

pagi pertama

“Sudahlah, jangan berlebihan begitu.” Nanda mengusap pundak Amira dengan lembut.

“TIdak, Mah… tidak… Mira banyak salah sama Mamah.”

“Mamah juga tahu kamu memang banyak salah sama Mamah, tapi jangan menangis begini. Nanti kamu dipukuli Dewi.”

Amira mendongak, matanya basah, dadanya naik turun menahan sesak.

“Boleh peluk Mamah?” tanya Amira lirih.

“Tentu saja, tapi jangan kencang-kencang,” jawab Nanda.

Amira pun memeluk Nanda. Tubuhnya bergetar. Tangisnya pecah tanpa sisa, bahkan ingusnya ikut keluar tanpa peduli.

“Jorok banget sih,” ucap Nanda, setengah menggerutu, setengah menahan haru.

Amira perlahan melepaskan pelukannya, lalu mencium tangan ibunya yang kasar—tangan yang menyimpan terlalu banyak cerita.

“Sudahlah, yang berlalu biar berlalu.”

Amira duduk di samping Nanda, lebih dekat dari sebelumnya.

“Mamah juga minta maaf sering memarahi kamu.”

Amira mendongak, matanya kembali berkaca-kaca.

“Nah, ini harus kita selesaikan,” ucap Amira.

“Kamu ini,” sahut Nanda, menggeleng, “baru saja baikan, sudah ngajak ribut lagi.”

Amira tersenyum tipis. Ada satu hal yang sejak lama mengganjal di hatinya.

“Kenapa sih Mamah itu marahi terus Amira? Mamah selalu nyuruh Amira masak, padahal Mamah juga tidak pernah masak… Mamah selalu nyuruh Mira ibadah, padahal Mamah juga jarang ibadah.”

Nanda menatap Amira dengan raut kesal. Amira refleks menangkupkan tangan, bersiap kalau-kalau omelan datang.

“Memang salah kalau Mamah mau lihat kamu serba bisa, ha? Memang Mamah salah menginginkan kamu menjadi terbaik dan mendapatkan yang terbaik? Lihatlah Mamah… hanya jadi beban ayah kamu. Apa salah Mamah ingin lihat kamu mandiri?”

“Tapi Mamah kan harusnya menjadi contoh… bukan hanya menyuruh,” jawab Amira pelan, tapi tegas.

Nanda terdiam sejenak. Ada jeda yang terasa panjang.

“Mamah memang salah… Mamah egois. Mamah hanya ingin yang terbaik untuk kamu. Makanya Mamah jengkel kalau kamu tidak nurut.”

Amira tersenyum, lalu menggenggam tangan Nanda.

“Apa pun itu, Mah… Sekarang Mira sadar Mamah adalah yang terbaik untuk Mira.”

“Baru sadar, ya?”

“Tuh, Mamah gitu kan,” ketus Amira manja.

Nanda mendengus sangat nurut sama Dewi?” tanya Amira, ada nada cemburu yang tipis di sana.

“Dasar anak bodoh,” ucap Nanda. “Dengan sikap kasar dan keras kepala Mamah sama kamu, Mamah sudah kehilangan kamu. Mana mungkin Mamah mengulangi hal yang sama. Tentu saja Mamah harus memanjakan Dewi… biar dia tidak kabur seperti kamu.”

Amira menunduk. Rasa bersalah menyesap pelan.

“Sekarang Mira sudah kembali. Kita sudah bersama, Mah. Mira janji akan membahagiakan Mamah dan anak-anak.”

“Ya… Mamah juga hampir putus asa kalau kita akan baikan.”

“Jadi selama ini Mamah berharap kita baikan?”

“Dasar anak bodoh,” ucap Nanda lagi, kali ini lebih lembut. “Mana ada ibu yang rela berpisah dengan anaknya.”

Amira tersenyum. Hatinya menghangat. Mungkin benar, selama ini dialah yang terlalu egois.

Waktu memang guru terbaik. Dulu, Nanda adalah sosok yang suka membentak dan mengatur hidupnya. Kini, wanita itu tampak lebih lunak, bahkan bisa mengalah—terutama pada Dewi.

“Mah, ada hal yang ingin aku ketahui tentang Ayah,” tanya Amira hati-hati.

“Kamu pasti menyangka akulah yang menyebabkan ayah kamu meninggalkan kita?”

“Ko Mamah tahu?”

“Tahulah. Kamu kan lebih percaya omongan tetangga ketimbang Mamah kamu sendiri.”

Amira terdiam, sedikit malu.

“Terus… apa sebenarnya yang terjadi?”

Nanda menghela napas panjang. Sorot matanya berubah, lebih dalam.

“Ayah kamu itu orang baik. Terlalu baik, sampai tidak tegas. Sebenarnya dia sudah kena penyakit jantung dua tahun sebelum kamu menikah. Dia terus berpesan agar menyembunyikannya dari kamu. Dan salah satu alasan Mamah tidak menghalangi kamu menikah dengan si Rudi itu… karena Mamah khawatir dengan kesehatan ayah kamu.”

Suara Nanda mulai bergetar.

“Namun takdir berkata lain. Sebulan setelah kamu menikah, ayah kamu kena serangan jantung. Kalau kamu tidak percaya, Mamah masih pegang rekam medis bapak kamu.”

Amira menggenggam tangan Nanda erat.

“Mira percaya, Mah… sekarang dan yang akan datang, Mira hanya akan percaya sama Mamah.”

Nanda tidak menjawab. Hanya mengangguk pelan.

“Mah, kepala Mira gatal.”

“Sini.”

Nanda menyuruh Amira duduk di bawahnya.

Amira menurut. Ia duduk di lantai, bersandar di lutut ibunya.

Nanda mulai membelai rambut Amira, jemarinya bergerak pelan, mencari kutu seperti dulu—sederhana, tapi penuh rasa.

Sore itu, mereka berbagi banyak cerita. Hal-hal kecil, remeh-temeh, tentang kehidupan Dewi sehari-hari, tentang masa lalu yang perlahan dimaafkan.

Dan bagi Amira, momen itu terasa sangat langka.

Seingatnya, terakhir kali ia diperlakukan seperti ini… saat usianya masih lima tahun.

Hingga larut malam akhirnya mereka tidur bersama dengan perasaan lega

Pagi datang begitu cepat. Seolah baru saja malam memejamkan mata, matahari sudah kembali bersinar.

Amira bangun lebih dulu. Ia pergi belanja ke tukang sayur di dekat stasiun. Hari ini ia ingin memasak untuk Dewi. Ia membeli satu ekor ayam untuk dimakan bersama. Setelah itu, Amira langsung pulang dan segera masuk dapur.

Sementara itu, Nanda mengintip ke kamar Dewi. Pemandangan di sana membuatnya tersenyum tipis. Dewi tidur dengan kaki menempel di kepala Arjuna, seolah tempat tidur itu miliknya sendiri. Nanda merasa hangat sekaligus geli melihat tingkah kedua cucunya.

Setelah itu, Nanda mengumpulkan pakaian kotor, merendamnya dengan deterjen, lalu mulai membersihkan kamar.

Di dapur, minyak goreng mulai mendesis. Aroma ayam goreng dengan bumbu ala Taiwan perlahan memenuhi rumah.

“Ah, sakittttt!”

Teriakan Arjuna memecah pagi yang tenang.

Amira refleks mematikan kompor, nyaris lupa kalau ayamnya belum dibalik. Ia bergegas menuju kamar.

“Kenapa, Juna?” tanya Amira panik.

“Mah… tangan Juna, Mah…”

Amira menoleh ke arah tangan Arjuna. Seketika matanya membulat.

Tangan Arjuna sedang digigit oleh Dewi.

Arjuna meringis, hampir menangis. Sementara itu, Dewi masih memejamkan mata, seolah tidak merasa bersalah sedang menggigit kakaknya.

Mulutnya masih menempel di tangan Arjuna, seperti sedang menikmati ayam goreng yang dimasak Amira.

“Dewi, bangun, Dewi,” ucap Nanda dari belakang. Nadanya lebih kesal daripada khawatir.

“Dasar zombi…” gumam Dewi tanpa membuka mata. Tangannya mendorong tubuh Arjuna begitu saja.

Arjuna terbanting dan jatuh dari tempat tidur.

“Mamah…” isaknya, kali ini benar-benar menangis.

Sementara pelaku utamanya masih mendengkur, seolah tidak terjadi apa-apa.

Amira memijat pelipisnya. Ia bahkan tidak tahu harus menolong siapa lebih dulu.

“Jangan nangis,” kata Nanda santai. “Nanti Dewi malah memukuli kamu. Jangan pernah menangis di depan Dewi. Dia bisa membuat kamu babak belur. Lagian kamu laki-laki, masa menangis.”

Arjuna langsung menahan tangisnya. Bukan karena kuat, tapi karena takut. Dengan mata terpejam saja adiknya sudah bisa menyakitinya, apalagi kalau sudah bangun.

Amira membelai kepala Arjuna, berusaha menenangkannya.

Di situ terlihat perbedaan yang mencolok.

Arjuna tumbuh menjadi anak yang rapuh, mungkin karena sering disiksa oleh keluarga Rudi. Sementara Dewi tumbuh menjadi anak yang sangat berani, bahkan terlalu berani.

Dalam keadaan tidur saja, ia bisa membuat orang menangis. Apalagi jika sudah bangun.

Amira tidak bisa membayangkan betapa kewalahannya Nanda mengasuh Dewi selama ini.

Amira menoleh ke arah ibunya.

“Ini gara-gara kamu masak ayam goreng. Kamu masak berapa ekor?”

“satu.”

Nanda menggeleng pelan.

“Kamu harus beli lagi ayam. Kalau tidak, kakaknya bisa jadi sasaran Dewi kalau dia lapar.”

1
nunik rahyuni
karena rukonya sarsng preman mabuk mabukan...iya tak mira🤔🤔🤔
nunik rahyuni
g ada takut takut dewi ni ...hebat...hasil didikan nenek nanda g menye menye...
ayo semangat demi masa depan yg cerah..secerah duit merah merah di dompet dan bawah kasur🤣🤣🤣🤣
nunik rahyuni
kok adik thor bukanya ansk2 nya 🤔
nunik rahyuni
iya nek berapa pun yg di dapat harus di syukuri
nunik rahyuni
banyak banyak up thor.....semangat sehat selalu thor 💪💪
nunik rahyuni
kulihan apa hayo....iwak kah emas lah🤔🤔🤔 pina nyaring kuciak🤣🤣
sunaryati jarum
Dapat harta Karun
sunaryati jarum
Semangat Amira , sekarang kalian sudah bersatu menjadi kuat.Wah Dewi mau mengurangi porsi makannya dengan kemauan sendiri,semoga Juna tumbuh jadi pemuda kuat dan gagah sedangkan Dewi jadi gadis cantik.Keduanya jadi manusia bermartabat.
sunaryati jarum
Lanjut dan Semangat semoga Bu Nanda bisa menolong orang yg akan dibegal dengan balok kayu yang dibawanya, kemudian saling tolong agar Nanda dan Amira bangkit jadi orang sukses lalu bisa membalas perbuatan mantan suami dan keluarganya
Anonim
Lanjut thor seru ,up nya jangan dikit dikit thor
nunik rahyuni
mangga di lanjutken thor triple up 🤣🤣✌️✌️✌️
nunik rahyuni
g sopan manggil ibu kok langsung nama nya
nunik rahyuni
bener itu...merusak pemandangan...penebar janji palsu
ambil j nek buat alas tidur🤣🤣
Anonim
Lanjut thor buat amira ibu nya dan anak anak nya bangkit dan bisa balas dendam thor
nunik rahyuni
g da habis habis nya ujian dan penderitaan..
Anonim
Lanjut thor up nya banyakan dong
nunik rahyuni
tegang thor..tahan nafas ikit memburu cari udara
huuuuh...akhirnya
mudah mudahan mereka lekas bangkit..menyusun masa depan dg kuat dan tegar
nunik rahyuni
judulnya bangkit dr luka..tp klo menye menye kya itu masih lama lg bangkitnya
yg ada di tindas terus
nunik rahyuni
ujian datang lagi...
semangat thor banyak banyak up tiap hari
💪💪💪💪
nunik rahyuni
aq setuju sama nanda...mira terlalu bodoh..polos atau picik atau pengecut sdh merasakan di hiba direndahkan dihianati sama lakinya masih ssja bodoh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!