Di dunia yang kejam, tempat di mana yang lemah selalu diinjak, dia hanyalah sampah yang diremehkan. Namun, ketika nyawa nyaris terenggut dan pengkhianatan terasa di setiap sudut, sebuah sistem misterius muncul memberinya kesempatan untuk bangkit.
Dari titik terendah, ia memulai perjalanan menaklukkan dunianya, mengasah kekuatan, dan mengungkap rahasia di balik kekuasaan yang tersembunyi. Setiap pertarungan bukan hanya soal kekuatan, tapi strategi, kepercayaan, dan pengorbanan. Dari seorang yang hina, ia perlahan berubah menjadi sosok yang tidak bisa diremehkan, menantang dewa dan musuh yang lebih kuat dari imajinasi.
Apakah ia akan menjadi penakluk dunia atau korban dari permainan yang lebih besar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 Kehilangan Harapan
Angin malam berhembus lebih dingin dari biasanya, membawa aroma tanah dan debu yang mengendap di sepanjang jalan pinggir kota Arvandor. Udara terasa kering dan sepi, seolah seluruh kehidupan yang ada di siang hari menghilang tanpa meninggalkan jejak yang berarti.
Alverion Dastan berjalan tanpa arah, langkahnya pelan dan tidak teratur seperti seseorang yang tidak benar-benar tahu ke mana harus pergi. Pakaian yang ia kenakan masih sama seperti saat ia keluar dari kediaman keluarga, hanya saja kini terlihat kusut dan dipenuhi debu karena perjalanan yang tidak jelas tujuannya.
Lampu-lampu jalan mulai redup satu per satu, menyisakan cahaya temaram yang hanya cukup untuk menerangi bayangan di bawah kaki. Kota yang siang tadi penuh suara kini berubah menjadi sunyi, hanya menyisakan gema langkahnya yang memantul di antara bangunan tua yang berdiri diam tanpa kehidupan.
Ia sudah berjalan cukup jauh, melewati beberapa persimpangan tanpa pernah benar-benar berhenti untuk memilih arah. Kakinya terus bergerak seolah mengikuti kebiasaan lama, bukan karena ada tujuan yang ingin dicapai.
Tidak ada tempat yang bisa ia sebut rumah, dan pikiran itu terasa lebih berat daripada langkah yang ia ambil.
Perutnya mulai terasa kosong sejak beberapa waktu lalu, tetapi rasa lapar itu tertutup oleh sesuatu yang jauh lebih mengganggu. Ada tekanan di dadanya yang tidak bisa ia abaikan, sesuatu yang selama ini ia tahan perlahan mulai muncul tanpa bisa dihentikan.
Kehilangan datang dalam bentuk yang tidak sederhana, tidak hanya menyentuh satu bagian dari hidupnya saja. Ia kehilangan tempat tinggal, kehilangan status, dan yang paling sulit diterima adalah hilangnya harapan yang dulu begitu jelas.
Alverion berhenti di depan sebuah bangunan tua yang tampak setengah runtuh, berdiri miring seolah hanya menunggu waktu untuk benar-benar jatuh. Dindingnya retak di banyak bagian, pintunya menggantung tidak seimbang, dan jendelanya sebagian besar sudah pecah tanpa sisa kaca yang utuh.
Ia menatap bangunan itu beberapa saat, mempertimbangkan tanpa benar-benar berpikir panjang. Tangannya terangkat perlahan, lalu mendorong pintu kayu yang langsung berderit pelan, suara itu terdengar cukup jelas di tengah keheningan malam.
Di dalamnya gelap dan dipenuhi debu yang menumpuk di hampir setiap permukaan, tetapi cukup untuk melindunginya dari angin yang terus berhembus dari luar. Ia melangkah masuk dengan hati-hati, lalu duduk di sudut ruangan yang paling jauh dari pintu, bersandar pada dinding yang terasa dingin.
Kepalanya tertunduk tanpa usaha untuk menahan, sementara tangannya terkulai di atas lutut dengan tenaga yang hampir habis. Tidak ada suara selain napasnya sendiri yang terdengar pelan, seiring waktu yang berjalan tanpa gangguan.
Beberapa saat berlalu dalam keheningan yang panjang, dan pikirannya mulai bergerak mundur tanpa ia sadari. Ingatan yang selama ini ia tekan perlahan muncul kembali, menembus lapisan yang ia bangun untuk melupakannya.
—
Beberapa tahun lalu, aula pelatihan keluarga Dastan dipenuhi suara benturan energi dan langkah kaki yang saling bersahutan. Para murid muda berlatih dengan semangat, mencoba menunjukkan kemampuan terbaik mereka di hadapan para pengawas yang memperhatikan dari pinggir arena.
Di tengah area latihan, Alverion berdiri dengan pedang di tangannya, posisi tubuhnya stabil dengan napas yang teratur. Saat itu, matanya penuh fokus dan keyakinan, berbeda jauh dari kondisi dirinya sekarang.
Energi mengalir kuat di seluruh tubuhnya, membentuk lapisan tipis yang bergetar di udara setiap kali ia bergerak. Setiap ayunan pedangnya cepat dan terarah, memaksa lawannya mundur beberapa langkah tanpa sempat membalas dengan baik.
“Luar biasa.”
Suara itu datang dari pinggir arena, menarik perhatian beberapa orang di sekitar. Seorang pemuda berdiri di sana dengan senyum lebar, rambut hitamnya tersisir rapi dan matanya memancarkan ketajaman yang sulit diabaikan.
Kaelen Virel.
Sahabat yang selalu berada di sisinya sejak mereka masih kecil.
“Kamu semakin kuat saja,” lanjut Kaelen sambil berjalan mendekat, langkahnya santai tetapi penuh percaya diri. “Kalau terus seperti ini, aku benar-benar akan tertinggal jauh.”
Alverion menurunkan pedangnya sedikit, napasnya tetap stabil meskipun latihan barusan cukup intens. Ia tersenyum tipis, tidak menunjukkan kesombongan.
“Kamu juga berkembang cepat.”
Kaelen tertawa ringan, lalu menepuk bahunya dengan santai seolah itu adalah hal yang biasa.
“Kita akan jadi yang terbaik di generasi ini.”
Kalimat itu diucapkan tanpa ragu, penuh keyakinan yang terasa nyata. Tidak ada keraguan dalam nada suaranya, dan saat itu, Alverion juga mempercayainya tanpa berpikir dua kali.
Hari-hari seperti itu terasa ringan, dipenuhi latihan, tawa, dan ambisi yang jelas arahnya. Masa depan tampak sederhana untuk dipahami, hanya tinggal berjalan lurus menuju tujuan yang sudah mereka tetapkan.
Namun semuanya berubah pada satu malam yang seharusnya menjadi awal dari segalanya.
Malam ritual kebangkitan inti energi.
Langit malam dipenuhi bintang yang bersinar terang, sementara aula utama keluarga Dastan dipenuhi cahaya dari lingkaran sihir besar di tengah ruangan. Pola yang terukir di lantai memancarkan cahaya biru yang berdenyut perlahan, menunjukkan bahwa ritual sudah siap dimulai.
Alverion berdiri di tengah lingkaran itu, tubuhnya tegap dengan napas yang teratur. Semua mata tertuju padanya, termasuk para anggota keluarga yang berdiri di sekeliling dengan ekspresi serius.
Valerian Dastan berada di depan, mengawasi setiap detail tanpa melewatkan satu pun gerakan.
“Mulai.”
Perintah itu singkat, tetapi cukup untuk menggerakkan seluruh mekanisme ritual.
Energi dalam lingkaran sihir mulai bergerak, mengalir perlahan menuju tubuh Alverion. Cahaya biru itu menyelimutinya, masuk melalui pori-pori kulit dan menyatu dengan inti energi yang sudah ada di dalam dirinya.
Awalnya berjalan lancar.
Alverion merasakan kekuatan itu tumbuh dengan stabil, seperti aliran air yang semakin deras namun tetap terkendali. Sensasi hangat menyebar ke seluruh tubuhnya, memberikan rasa nyaman yang sulit dijelaskan.
Namun beberapa detik kemudian, sesuatu berubah.
Rasa panas yang sebelumnya stabil tiba-tiba meningkat dengan cepat, menjadi tidak terkendali dalam waktu singkat. Alverion mengerutkan kening, tubuhnya menegang saat ia mencoba memahami apa yang terjadi.
“Ada yang tidak beres...” gumamnya pelan.
Energi yang masuk mulai berputar tidak teratur, tidak lagi mengikuti pola yang seharusnya. Bukannya menyatu, energi itu justru saling bertabrakan di dalam tubuhnya, menciptakan tekanan yang semakin besar.
Ia mencoba mengendalikannya dengan kemampuan yang ia miliki, memusatkan fokus untuk menstabilkan aliran tersebut. Namun usahanya tidak membuahkan hasil.
“Alverion?” suara Kaelen terdengar dari luar lingkaran, kali ini tidak lagi santai.
Cahaya biru berubah menjadi liar, bergetar dengan intensitas yang semakin tinggi. Retakan kecil mulai muncul di lantai, merambat perlahan mengikuti pola lingkaran sihir.
“Matikan ritualnya!” teriak seseorang dengan nada panik.
Namun semuanya sudah terlambat.
Ledakan energi terjadi tanpa peringatan, cahaya menyilaukan memenuhi seluruh ruangan diikuti oleh gelombang kejut yang memaksa semua orang mundur. Suara benturan dan retakan terdengar bersamaan, menciptakan kekacauan yang sulit dikendalikan.
Ketika cahaya itu mereda, suasana berubah menjadi sunyi.
Alverion tergeletak di tengah lingkaran, tubuhnya tidak bergerak dengan napas yang hampir tidak terdengar. Cahaya biru yang sebelumnya mengelilinginya sudah menghilang tanpa sisa.
Dan sejak saat itu, semuanya runtuh tanpa bisa diperbaiki.
Energinya menghilang sepenuhnya, tidak meninggalkan jejak yang bisa dilacak.
—
Alverion membuka matanya perlahan, napasnya terasa lebih berat dari sebelumnya. Ingatan itu masih jelas di kepalanya, seolah tidak pernah benar-benar pergi meskipun ia berusaha mengabaikannya.
Namun ada bagian lain yang belum selesai, sesuatu yang selalu ia hindari karena ia tahu jawabannya tidak akan mudah diterima.
Ia mengangkat kepalanya sedikit, menatap kegelapan di dalam bangunan itu tanpa fokus yang jelas.
“Kenapa...” gumamnya pelan.
Pertanyaan itu sebenarnya tidak lagi membutuhkan jawaban, karena ia sudah mulai memahami apa yang terjadi. Hanya saja, menerima kenyataan itu adalah hal yang berbeda.
Langkah kaki terdengar dari luar bangunan, pelan tetapi teratur, memecah keheningan yang sebelumnya tidak terganggu.
Alverion langsung menoleh ke arah pintu, tubuhnya sedikit menegang meskipun kondisinya tidak memungkinkan untuk bereaksi cepat.
Siluet seseorang muncul di ambang pintu, diterangi cahaya bulan yang masuk dari luar. Sosok itu berdiri sejenak sebelum melangkah masuk dengan santai.
“Jadi kamu di sini.”
Suara itu tidak asing, bahkan terlalu mudah dikenali.
Alverion berdiri perlahan, matanya menyipit saat wajah orang itu terlihat jelas.
Kaelen Virel.
Seseorang yang dulu ia percaya tanpa ragu.
“Sudah lama,” ucap Kaelen dengan senyum tipis yang tidak sepenuhnya tulus.
Alverion menatapnya tanpa ekspresi, tidak menunjukkan keterkejutan yang ia rasakan di dalam.
“Kamu mengikuti aku?”
Kaelen mengangkat bahu dengan santai, langkahnya ringan saat mendekat.
“Tidak sulit. Kamu berjalan tanpa arah.”
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi ada nada lain yang tidak bisa diabaikan.
Alverion tidak menjawab, hanya memperhatikan setiap gerakan Kaelen dengan lebih waspada.
Suasana menjadi hening selama beberapa saat, hanya suara angin dari luar yang sesekali masuk melalui celah bangunan.
Kaelen melangkah lebih dekat, jarak di antara mereka semakin pendek.
“Aku dengar kamu diusir,” katanya tanpa basa-basi. “Cukup menyedihkan.”
“Kalau hanya ingin mengatakan itu, kamu tidak perlu datang jauh-jauh,” balas Alverion dengan suara datar.
Kaelen tertawa kecil, seolah jawaban itu sudah ia duga.
“Masih sama seperti dulu.”
Ia berhenti beberapa langkah di depan Alverion, lalu menatapnya dengan lebih serius.
“Aku tidak datang hanya untuk itu.”
Tatapannya berubah, senyumnya masih ada tetapi tidak lagi terasa ringan.
“Masih ingat malam ritual itu?”
Pertanyaan itu membuat udara di dalam ruangan terasa lebih berat.
Alverion menatapnya tajam, tubuhnya sedikit menegang.
“Kenapa kamu menanyakan itu?”
Kaelen tidak langsung menjawab, ia berjalan memutar perlahan seolah menikmati situasi tersebut.
“Semua orang menganggap itu kecelakaan,” katanya pelan. “Kegagalan yang tidak bisa dihindari.”
Ia berhenti di belakang Alverion.
“Padahal bukan.”
Jantung Alverion berdetak lebih cepat, pikirannya langsung terhubung pada kemungkinan yang selama ini ia tolak.
Ia berbalik dengan cepat, menatap Kaelen dengan tatapan tajam.
“Apa maksudmu?”
Kaelen menatapnya langsung, kali ini tanpa menyembunyikan apa pun.
“Energi dalam ritual itu tidak stabil karena ada yang mengubahnya.”
Sunyi menyelimuti ruangan, membuat setiap detik terasa lebih panjang.
“Dan orang itu adalah aku.”
Kata-kata itu jatuh dengan jelas, tanpa keraguan sedikit pun.
Alverion membeku, pikirannya berusaha mengejar makna di balik pengakuan tersebut.
“Kamu...” suaranya pelan, hampir tidak terdengar.
Kaelen tersenyum tipis, seolah reaksi itu adalah hal yang ia harapkan.
“Aku tahu kamu akan seperti ini.”
“Kenapa?” tanya Alverion.
Pertanyaan itu keluar tanpa tambahan kata lain, tetapi cukup untuk menunjukkan tekanan yang ia rasakan.
Kaelen menghela napas ringan, seolah jawaban itu terlalu mudah baginya.
“Aku lelah berada di bawah bayang-bayangmu.”
Matanya menyipit, sorotnya berubah menjadi lebih dingin.
“Kamu selalu lebih kuat, lebih dihargai, dan selalu menjadi pusat perhatian.”
Setiap kata diucapkan dengan jelas, tanpa ada usaha untuk menahan emosi.
“Aku hanya ingin melihatmu jatuh.”
Alverion mengepalkan tangannya, amarah yang ia tahan mulai muncul perlahan.
“Jadi kamu menghancurkan hidupku karena itu?”
Kaelen tertawa pelan, tidak menunjukkan penyesalan.
“Menghancurkan terdengar berlebihan. Aku hanya memberi dorongan kecil.”
Nada suaranya tetap santai, seolah semua ini hanyalah bagian dari permainan.
“Dan hasilnya sesuai harapan,” lanjutnya. “Kamu benar-benar berubah.”
Amarah di dalam diri Alverion semakin jelas, meskipun tidak meledak.
Ia melangkah maju, mencoba mendekat.
Namun tubuhnya tiba-tiba terasa berat.
Langkahnya terhenti.
Ada sesuatu yang tidak beres.
Kaelen tersenyum lebih lebar, seolah sudah menunggu reaksi itu.
“Aku sudah mempersiapkan semuanya,” katanya. “Termasuk kemungkinan kamu mencoba melawan.”
Ia mengangkat tangannya sedikit, energi tipis muncul di sekelilingnya.
“Tempat ini tidak sembarangan.”
Alverion mencoba menggerakkan tubuhnya, tetapi reaksinya lambat dan tidak terkoordinasi.
“Racun...” gumamnya.
Kaelen mengangguk pelan.
“Tidak mematikan. Hanya membuatmu tidak bisa bergerak dengan baik.”
Langkah Alverion goyah, keseimbangannya mulai hilang.
Ia mencoba bertahan, tetapi tubuhnya tidak mengikuti perintahnya sendiri.
Pandangan di sekelilingnya mulai kabur.
“Kenapa...” suaranya melemah.
Kaelen mendekat, berdiri sangat dekat di depannya.
“Karena aku tidak ingin ada kemungkinan kamu kembali.”
Kalimat itu diucapkan tanpa ragu.
Tangan Kaelen terangkat, lalu mendorong dada Alverion dengan ringan.
Namun cukup untuk menjatuhkannya.
Tubuh Alverion terhempas ke lantai, punggungnya membentur permukaan keras dengan suara yang pelan namun terasa jelas.
Napasnya tercekat, pandangannya semakin tidak stabil.
Kaelen berdiri di atasnya, menatap tanpa emosi.
“Seharusnya kamu tetap di tempatmu sekarang.”
Alverion mencoba bangkit, tetapi tubuhnya tidak merespons.
Kegelapan mulai merayap di pinggir penglihatannya, perlahan menutup segalanya.
Kaelen berbalik, berjalan menuju pintu dengan langkah santai tanpa terburu-buru.
“Selamat tinggal, Alverion.”
Pintu terbuka dengan suara berderit, cahaya bulan masuk sebentar sebelum kembali tertutup.
Ruangan itu kembali gelap.
Sunyi.
Alverion terbaring di lantai, napasnya semakin lemah seiring waktu yang berjalan. Dingin mulai merambat dari ujung jari, menjalar perlahan ke seluruh tubuh tanpa bisa dihentikan.
Kesadarannya perlahan tenggelam, pikirannya tidak lagi mampu mempertahankan fokus.
Di ambang antara sadar dan tidak, satu hal masih tersisa di dalam benaknya.
Perjalanan ini belum selesai.
Namun tubuhnya tidak mampu mengikuti keinginan itu.
Kegelapan akhirnya menutup segalanya tanpa sisa.