NovelToon NovelToon
Jarak Antara Kita

Jarak Antara Kita

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:211
Nilai: 5
Nama Author: ilham Basri

Arga Ardiansyah baru saja dikhianati setelah tiga tahun berdedikasi saat perusahan tersebut mencapai puncaknya, namun yang membuat dia tetap waras adalah Elina yang sedang berada di Praha.
Arga Ardiansyah kemudian bertekad untuk bangkit kembali dan menyusul cintanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilham Basri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 Titik Merah Di Dermaga

​Dinginnya angin Sungai Vltava yang menusuk tulang terasa tak ada apa-apanya dibandingkan dengan hawa kematian yang terpancar dari titik laser merah di dada Arga. Titik itu kecil, namun bagi Arga, itu terasa seperti beban berton-ton yang menekan jantungnya. Di atas dermaga yang remang-remang oleh lampu pelabuhan yang berkedip, bayangan Dani berdiri tegak, memegang senapan laras panjang dengan ketenangan seorang profesional sejati.

​"Satu inci lagi kamu naik, Arga, dan aku akan memastikan peluru ini menembus jantungmu sebelum kamu sempat membisikkan nama Elina," suara Dani bergema melalui pengeras suara kecil, terdengar dingin tanpa sedikit pun sisa kehangatan persaudaraan yang mereka jalin di Jakarta.

​Nadia, yang masih berada di anak tangga di bawah Arga, mencengkeram pergelangan kaki Arga sebagai isyarat untuk tetap diam. Dia tahu posisi mereka sangat tidak menguntungkan. Mereka terjebak di lubang sempit, sementara lawan mereka memiliki keunggulan posisi dan jarak pandang.

​"Dani!" Arga berteriak, suaranya mencoba melawan deru angin. "Apa kakekku juga merancang pengkhianatanmu? Apa semua tawa kita di kantor itu hanya bagian dari kontrak kerjamu dengan Hendrawan?"

​Dani terdiam sejenak. Titik laser di dada Arga sedikit bergoyang, tanda bahwa ada sedikit keraguan atau mungkin rasa muak. "Tawa itu nyata, Arga. Tapi tugasku lebih besar dari sekadar persahabatan. Pak Broto membangun kekaisarannya di atas tumpukan mayat, dan sekarang kamu adalah tumbal terakhir yang harus dia bayar. Menyerahlah. Berikan kode biometrik cadangan yang tertanam di ingatan bawah sadarmu, dan aku akan membiarkanmu mati dengan cepat."

​"Kode biometrik cadangan?" Arga mengernyit. Jadi koper itu bukan segalanya? Kakeknya menanamkan sesuatu di kepalanya?

​"Jangan dengarkan dia, Arga!" Nadia berbisik tajam dari bawah. "Dia memancingmu agar tetap berada di garis tembak."

​Nadia kemudian melakukan sesuatu yang nekat. Dia melepaskan sebuah granat asap kecil dari ikat pinggangnya dan melemparkannya ke atas dermaga, tepat di antara Arga dan Dani.

​Pshhhhhh!

​Asap putih pekat seketika menyelimuti dermaga. Arga merasakan tarikan kuat di kakinya. Nadia menariknya turun kembali ke dalam lubang, tepat saat suara letusan senapan sniper memecah kesunyian malam.

​Duar!

​Peluru itu menghantam pinggiran besi tangga, memercikkan bunga api tepat di depan wajah Arga. Jika Nadia terlambat satu detik saja, kepala Arga pasti sudah hancur.

​"Lari! Ke arah pipa pembuangan!" perintah Nadia.

​Mereka tidak lagi merangkak; mereka berlari menembus kegelapan lorong yang kini licin oleh air limbah. Di belakang mereka, suara sepatu bot Dani dan anak buahnya mulai terdengar menuruni tangga besi. Jarak di antara mereka semakin menyempit.

​"Nadia, kita terjepit!" seru Arga saat mereka sampai di ujung pipa yang tertutup jeruji besi raksasa yang digembok.

​Nadia tidak membuang waktu. Dia mengeluarkan bahan peledak plastik kecil, menempelkannya pada gembok, dan menarik Arga berlindung di balik lekukan pipa.

​BUM!

​Gembok itu hancur. Mereka mendorong jeruji besi itu dan melompat keluar, jatuh ke dalam air sungai yang sedingin es. Arga merasa seluruh tubuhnya mati rasa seketika. Arus sungai Vltava cukup kuat, menyeret mereka menjauh dari dermaga.

​Arga berusaha tetap mengapung, matanya menatap kembali ke arah dermaga. Di sana, di bawah lampu yang remang, dia melihat Dani berdiri di tepi sungai, menurunkan senjatanya. Dani tidak menembak lagi. Dia hanya menatap ke arah mereka yang hanyut terbawa arus.

​Dani mengeluarkan ponselnya, seolah sedang melaporkan sesuatu. "Target hanyut ke sungai. Aktifkan unit pembersihan di hilir. Jangan biarkan dia sampai ke perbatasan Tatra."

​Di dalam air yang gelap dan membekukan, Arga berpegangan pada sepotong kayu hanyut bersama Nadia. Kesadarannya mulai menipis karena hipotermia, namun satu pikiran tetap menjaganya tetap terjaga: Elina.

​Dia melihat anting perak di genggamannya. Anting itu berkilau tertimpa cahaya bulan yang pucat. Arga menyadari bahwa perjalanan menuju Tatra bukan lagi sekadar pelarian. Itu adalah perang suci untuk mengambil kembali cintanya dari tangan orang-orang yang menganggap manusia hanya sebagai angka dan aset.

​"Aku... tidak akan mati di sini," gumam Arga sebelum semuanya menjadi gelap.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!