10 Cara Melihat Hantu adalah kisah misteri yang menggabungkan rasa penasaran manusia terhadap dunia gaib dengan konsekuensi menakutkan yang tak terduga. Cerita ini berpusat pada seorang remaja bernama Alin yang menemukan sebuah buku tua berdebu berjudul sama—10 Cara Melihat Hantu—di sudut perpustakaan yang hampir terlupakan.
Awalnya, buku itu tampak seperti panduan biasa yang berisi sepuluh metode berbeda untuk membuka “mata batin” dan melihat makhluk tak kasatmata. Mulai dari ritual sederhana seperti menatap cermin di tengah malam, hingga cara yang lebih ekstrem seperti mengunjungi tempat angker seorang diri. Didorong oleh rasa ingin tahu, Alin mencoba satu per satu cara tersebut, tanpa menyadari bahwa setiap langkah yang ia ambil semakin menarik dirinya lebih dalam ke dunia yang seharusnya tidak ia sentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Wajah yang Memakai Namanya
Gelap itu tidak pergi.
Bahkan setelah mata Alya terbuka sepenuhnya—
bahkan setelah ia yakin ia sudah kembali ke kamarnya—
sesuatu tetap terasa… salah.
Ia masih di lantai.
Dingin meresap dari ubin ke tubuhnya.
Namun bukan itu yang membuatnya tidak bergerak.
Melainkan—
Cermin itu.
Kosong.
Tidak ada pantulan.
Tidak ada dirinya.
Tidak ada apa pun.
Hanya hitam.
Dalam.
Seperti lubang yang menunggu sesuatu jatuh ke dalamnya.
Napas Alya tersendat.
“Raka…” suaranya hampir tidak terdengar.
Tidak ada jawaban.
Namun—
Senyum itu.
Perlahan muncul lagi.
Di dalam kegelapan cermin.
Bukan langsung.
Tapi seperti… digambar dari dalam.
Garis demi garis.
Tipis.
Panjang.
Tidak wajar.
Alya tidak bisa bergerak.
Tubuhnya kaku.
Seolah ada sesuatu yang menahannya dari dalam.
Lalu—
Mata itu muncul.
Dua titik.
Putih.
Kosong.
Tanpa pupil.
Tanpa kehidupan.
Namun menatap.
Langsung ke arahnya.
“Alya…”
Suara itu keluar dari cermin.
Pelan.
Serak.
Namun… familiar.
Itu suara Raka.
Atau setidaknya… bentuknya.
Alya langsung menggeleng.
“Bukan kamu…” bisiknya.
Senyum di cermin itu melebar.
Terlalu lebar.Seolah wajah itu tidak peduli dengan batas tulang.
“Kenapa kamu selalu bilang itu…”
Suara itu berubah.
Berlapis.
Seperti lebih dari satu orang berbicara dalam satu waktu.
“Padahal aku di sini…”
Sesuatu mulai keluar dari cermin.
Perlahan.
Seperti tangan yang mendorong permukaan air dari dalam.
Namun bukan air.
Permukaan itu tetap gelap.
Dan tangan itu—
Tidak punya warna.
Hanya bayangan yang lebih pekat dari sekitarnya.
Alya akhirnya bergerak.
Ia mundur.
Pelan.
Namun tubuhnya terasa berat.
Setiap gerakan seperti melawan sesuatu.
“Jangan mendekat…” suaranya gemetar.
Namun tangan itu terus keluar.
Lalu lengan.
Lalu—
Kepala.
Wajah Raka.
Namun rusak.
Retak.
Seperti topeng yang dipakai terlalu lama.
Dan dari celah-celah retakan itu—
Terlihat sesuatu bergerak.
Seperti banyak wajah lain mencoba keluar dari dalamnya.
“Alya…” sosok itu memanggil lagi.
Kini hampir keluar sepenuhnya.
“Kamu ninggalin aku…”
Nada suaranya berubah.
Lebih dalam.
Lebih penuh kebencian.
“Seperti kamu ninggalin dia…”
Alya berhenti.
Jantungnya terasa jatuh.
“Dira…” bisiknya.
Sosok itu tertawa.
Keras.
Namun tidak ada suara.
Hanya getaran.
Seperti suara yang terlalu dalam untuk didengar.
“Kamu selalu ninggalin…”
Satu kaki keluar dari cermin.
Lalu yang lain.
Sekarang ia berdiri di dalam kamar.
Namun—
Bayangannya tidak ada.
Cermin di belakangnya tetap kosong.
Seolah ia tidak pernah benar-benar keluar.
Alya menabrak meja saat mundur.
Kotak surat jatuh.
Isinya berserakan.
Namun—
Surat-surat itu tidak jatuh diam.
Mereka bergerak.
Perlahan.
Seperti sesuatu di dalamnya mencoba keluar lagi.
“Lihat…” sosok itu menunjuk ke surat-surat itu.
“Semua yang kamu tulis…”
“Semua yang kamu simpan…”
“Semua yang kamu… sembunyikan…”
Amplop-amplop itu mulai terbuka sendiri.
Satu per satu.
Dan dari dalamnya—
Tidak ada kertas.
Hanya kegelapan.
Dan dari kegelapan itu—
Keluar suara.
Bisikan.
Tangisan.
Teriakan.
Semua suara yang pernah ia tulis…
Kini kembali.
“Aku takut…”
“Aku gak siap…”
“Aku nanti aja…”
“Aku tunggu waktu yang tepat…”
Semua alasan.
Semua penundaan.
Semua ketakutan.
Kini mengelilinginya.
Menjadi nyata.
Menjadi hidup.
Alya menutup telinganya.
“Berhenti… berhenti…”
Namun suara itu tidak berhenti.
Justru semakin keras.
Semakin dekat.
“Lihat apa yang kamu lakukan…”
Sosok “Raka” kini berdiri tepat di depannya.
Terlalu dekat.
Alya bisa melihat—
Matanya.
Kosong.
Namun bergerak.
Seperti ada sesuatu di dalamnya… yang mencari jalan keluar.
“Kamu bukan penyelamat…” katanya pelan.
“Kamu pintu.”
Alya langsung menggeleng.
“Tidak… aku sudah menutupnya…”
Sosok itu tersenyum.
Pelan.
Menyeramkan.
“Kalau sudah tertutup…”
Ia mendekat.
Hampir menyentuh wajah Alya.
“Kenapa aku masih di sini?”
Sunyi.
Alya tidak bisa menjawab.
Karena jauh di dalam—
Ia tahu jawabannya.
Pintu itu…
Tidak pernah benar-benar tertutup.
Hanya… tertunda.
Tiba-tiba—
Lampu berkedip.
Sekali.
Dua kali.
Lalu—
Semua berubah.
Ruangan itu… tidak lagi
kamarnya.
Dindingnya menghilang.
Digantikan oleh kegelapan luas.
Tanpa batas.
Tanpa arah.
Dan di kejauhan—
Ada banyak pintu.
Berdiri sendiri.
Mengambang.
Sebagian terbuka.
Sebagian tertutup.
Sebagian…
Bergetar.
Alya berdiri di tengahnya.
Sendirian.
Namun tidak benar-benar sendiri.
Karena di antara pintu-pintu itu—
Ada sosok-sosok.
Berdiri diam.
Menghadapnya.
Tidak bergerak.
Tidak berbicara.
Namun—
Menunggu.
“Apa ini…” suara Alya hampir hilang.
Sosok “Raka” berjalan pelan di sampingnya.
Santai.
Seolah tempat itu miliknya.
“Ini tempat semua yang tidak selesai…”
Ia menunjuk ke pintu-pintu itu.
“Semua pilihan yang tidak diambil…”
“Semua kata yang tidak diucapkan…”
“Semua yang kamu tunda…”
Ia menoleh ke Alya.
“Semua itu… tidak hilang.”
“Cuma… menunggu.”
Salah satu pintu di depan Alya bergetar lebih kuat.
Pelan.
Lalu—
Terbuka.
Dari dalamnya—
Keluar cahaya.
Hangat.
Familiar.
Alya langsung melangkah maju.
“Dira…?”
Namun sebelum ia sampai—
Sosok “Raka” menahannya.
“Jangan.”
Alya menoleh.
“Kenapa?!”
Sosok itu tersenyum tipis.
“Karena itu bukan dia…”
Pintu itu terbuka lebih lebar.
Dan dari dalamnya—
Keluar sosok Dira.
Utuh.
Normal.
Tersenyum.
“Alya…” suaranya lembut.
Sama seperti dulu.
Alya menangis.
Ia hampir berlari.
Namun—
Ia berhenti.
Karena ia ingat.
Semua yang ia lihat… bisa jadi bukan nyata.
“Kalau kamu Dira…” suaranya gemetar.
“Bilang sesuatu yang cuma aku yang tahu…”
Sosok itu terdiam.
Senyumnya tidak hilang.
Namun matanya…
Kosong.
Lalu—
Ia berkata:
“Kamu selalu takut sendirian…”
Alya mundur.
“Itu bukan jawaban…”
Senyum itu berubah.
Menjadi lebih lebar.
Lebih tajam.
“Karena tidak ada jawaban…”
Tubuh Dira retak.
Seperti yang sebelumnya.
Dan dari dalamnya—
Keluar wajah-wajah lain.
Menjerit.
Marah.
Lapar.
Alya berteriak.
“CUKUP!”
Ia mundur.
Jauh.
Namun pintu-pintu lain mulai terbuka.
Satu per satu.
Dan dari masing-masing—
Keluar sesuatu.
Versi berbeda.
Kenangan berbeda.
Kesalahan berbeda.
Semua menuju ke arahnya.
“Ini salahmu…”
“Kamu yang bikin…”
“Kamu yang buka…”
“Kamu yang gak nutup…”
Suara-suara itu menyatu.
Menjadi satu tekanan yang tidak bisa ia tahan.
Alya jatuh berlutut.
Menutup telinganya.
Menutup matanya.
“Berhenti… berhenti…”
Namun satu suara—
Berbeda.
Lebih pelan.
Lebih dalam.
“Alya…”
Ia membuka mata.
Di kejauhan—
Ada satu pintu.
Tidak seperti yang lain.
Gelap.
Tertutup.
Namun… berdenyut.
Seperti hidup.
Sosok “Raka” langsung menegang.
“Jangan ke sana…” katanya cepat.
Namun Alya berdiri.
Perlahan.
“Kenapa…?”
Sosok itu tidak menjawab.
Dan itu—
Jawaban yang cukup.
Alya berjalan ke arah pintu itu.
Langkahnya berat.
Namun pasti.
Suara-suara di sekitarnya mulai berubah.
Menjadi panik.
Menjadi marah.
“JANGAN!”
“ITU BUKAN UNTUKMU!”
“KAU TIDAK BOLEH—”
Alya tidak berhenti.
Ia sampai di depan pintu itu.
Tangan gemetarnya menyentuh gagangnya.
Dingin.
Berdenyut.
Seperti menyentuh sesuatu yang hidup.
Di belakangnya—
Sosok “Raka” berubah.
Tubuhnya mulai retak.
Tidak stabil.
“Kalau kamu buka itu…” katanya.
“Semuanya selesai.”
Alya menoleh.
“Bagus.”
Ia kembali menatap pintu.
Dan—
Membukanya.
Sekejap.
Dunia hening.
Total.
Tidak ada suara.
Tidak ada gerakan.
Hanya—
Satu ruangan kecil.
Kosong.
Gelap.
Dan di tengahnya—
Seseorang duduk.
Membelakanginya.
Alya melangkah masuk.
Pelan.
“Siapa…”
Sosok itu tidak bergerak.
Namun saat Alya mendekat—
Ia sadar.
Itu…
Dirinya sendiri.
Duduk.
Memeluk lutut.
Diam.
Namun saat Alya semakin dekat—
Sosok itu mulai berbicara.
Tanpa menoleh.
“Akhirnya kamu datang…”
Suaranya sama.
Persis.
Namun—
Kosong.
Tanpa emosi.
Tanpa kehidupan.
“Aku nunggu kamu…”
Alya berdiri di belakangnya.
Tidak berani menyentuh.
Tidak berani bicara.
Lalu—
Sosok itu berdiri.
Perlahan.
Dan berbalik.
Wajahnya—
Alya.
Namun—
Matanya hitam.
Penuh.
Tanpa putih.
Tanpa cahaya.
Dan senyumnya—
Persis seperti yang di cermin.
“Kamu tahu kenapa mereka masih ada…?”
Alya tidak menjawab.
Tidak bisa.
“Karena aku…”
Ia menyentuh dadanya sendiri.
“Tidak pernah pergi.”
Sunyi.
Dan saat itu—
Di luar pintu—
Semua mulai runtuh.
Bayangan menjerit.
Pintu-pintu pecah.
Sosok “Raka” berteriak sesuatu—
Namun tidak terdengar.
Karena di dalam ruangan itu—
Hanya ada dua.
Alya.
Dan dirinya sendiri.
Yang satu lagi—
Melangkah maju.
Dan berbisik:
“Sekarang…”
“Gantian aku yang keluar.”
Lampu—
tidak pernah menyala lagi.