Note: Ini cuma sekedar novel santai aja, kemungkinan besar dari kalian akan bosan membacanya. karena alurnya yang lambat, jadi jangan tanya author masalah debeh, aksi gelut gelut dan semacamnya yaa...😀
Xiao Yan bereinkarnasi ke dunia kultivasi modern sebagai bayi dengan status dan keahlian maksimal menyentuh angka 9999. Di tengah tragedi serangan monster yang merenggut nyawa ayahnya dan mengancam ibunya, dia tanpa sengaja melepaskan satu tembakan energi mematikan yang menghapus sang monster beserta daratan sejauh tiga kilometer dalam sekejap. Demi kehidupan yang damai dan tenang, Xiao Yan memutuskan untuk menyembunyikan identitasnya, meski takdir dan sistem di kepalanya seolah terus memaksanya untuk bertindak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Namun, baru dua menit dia memejamkan mata, suara langkah kaki berat memasuki tendanya.
Tap! Tap! Tap!
"Xiao Yan! Kau di sini rupanya!" Suara Guru Li menggelegar di dalam tenda kecil itu.
Xiao Yan membuka maskernya lagi. Dia menatap Guru Li yang berdiri di depan ranjangnya dengan membawa sebuah buku catatan.
"Ya, Guru," jawab Xiao Yan dengan nada suara yang mulai terdengar sedikit lelah.
"Hah... Aku tahu kau butuh istirahat, tapi Kepala Sekolah meminta laporan rinci dari seluruh saksi mata," jelas Guru Li. "Sebagai anggota kelompok Lin Fan, kau berada di lokasi kejadian. Ceritakan padaku, bagaimana posisi sekte itu saat Lin Fan mengeluarkan serangan gelombang kejutnya?"
"Mereka berdiri melingkar," jawab Xiao Yan asal.
"Lalu? Apakah Lin Fan membaca mantra sebelum menyerang? Kepala Sekolah menduga Lin Fan menggunakan teknik kuno yang hilang," desak Guru Li, pena di tangannya siap mencatat.
"Ugh... Tidak. Dia hanya berteriak keras. 'Rasakan kemarahan Pahlawan Kelas Biasa'. Begitu teriakannya," kutip Xiao Yan tanpa mengubah nada suaranya.
Guru Li mencatat dengan cepat. Wajahnya terlihat sangat serius.
"Berteriak? Jadi dia menggunakan resonansi pita suara untuk memicu ledakan Qi di bawah tanah? Luar biasa. Sungguh pemahaman energi yang jenius," gumam Guru Li. "Baiklah, itu saja. Kau adalah saksi yang baik, Xiao Yan. Lanjutkan istirahatmu."
Guru Li berbalik dan keluar dari tenda.
Xiao Yan memijat pangkal hidungnya. Pemikiran analitis dari guru di dunia kultivasi ini benar-benar terlalu berlebihan. Mereka selalu mencari penjelasan rumit untuk hal-hal yang sebenarnya sangat sederhana.
"Dua kali gangguan. Harap tidak ada yang ketiga," batin Xiao Yan.
Dia merapikan posisinya lagi, menutupi matanya, dan bersiap tidur.
Sreett!
Kali ini bukan perawat atau guru, melainkan Lin Fan yang menerobos masuk. Remaja berjaket kuning itu berjalan dengan langkah pincang tapi wajahnya berseri-seri penuh kegembiraan.
"Xiao Yan! Kau tidak akan percaya apa yang baru saja terjadi!" teriak Lin Fan sambil duduk di ranjang kosong di seberang Xiao Yan.
Xiao Yan bahkan tidak repot-repot membuka masker matanya.
"Kau diangkat jadi murid Kepala Sekolah," tebak Xiao Yan datar dari balik masker.
"Hah?! Bagaimana kau bisa tahu?!" Lin Fan terkejut bukan main.
"Itu adalah alur yang logis di dunia ini," gumam Xiao Yan.
"Ugh, ya! Bukan Kepala Sekolah secara langsung, tapi Wakil Kepala Sekolah bidang Pertarungan menawariku masuk ke Kelas Unggulan bulan depan!" cerita Lin Fan dengan antusiasme yang meledak-ledak. "Su Xue juga mendatangi tendaku tadi. Dia memberiku sebuah pil penyembuh tingkat menengah sebagai tanda terima kasih keluarganya. Keluarga Su berutang padaku, Xiao Yan! Aku benar-benar menjadi pahlawan!"
"Selamat. Tolong kecilkan suaramu, Pahlawan. Aku sedang tidur," tegur Xiao Yan.
"Bagaimana kau bisa tidur di saat-saat bersejarah seperti ini?!" Lin Fan melemparkan sebuah apel dari meja terdekat ke arah Xiao Yan.
Xiao Yan menangkap apel itu dengan satu tangan tanpa perlu membuka mata, lalu meletakkannya di samping bantal.
"Ugh, kau ini membosankan sekali," keluh Lin Fan. "Ngomong-ngomong, aku tadi ditanya banyak hal oleh tim penyidik. Mereka bertanya tentang pedangku, tentang gaya bertarungku. Aku menceritakan apa yang kau suruh aku ceritakan. Aku bilang aku menyuntikkan energi ke tanah. Mereka percaya begitu saja!"
"Tentu saja. Manusia lebih mudah percaya pada apa yang ingin mereka lihat," balas Xiao Yan pelan.
"Hah... Tapi sejujurnya, aku merasa agak aneh," nada suara Lin Fan tiba-tiba menurun. Dia menatap pedangnya yang tersandar di pinggir ranjang. "Xiao Yan, apakah aku benar-benar sekuat itu? Saat kejadian, kepalaku rasanya kosong. Aku hanya berteriak, dan tiba-tiba tanahnya meledak. Sama seperti saat beruang itu mati. Apakah mungkin aku ini dirasuki roh pahlawan masa lalu?"
Di balik masker penutup matanya, Xiao Yan tersenyum sangat tipis.
"Ya. Kau dirasuki roh keberuntungan," batin Xiao Yan.
Namun di luar, Xiao Yan menjawab dengan nada meyakinkan.
"Kekuatan besar sering kali bangkit di saat yang krisis, Lin Fan. Tubuhmu bergerak lebih cepat dari pikiranmu. Itu adalah tanda bakat alami yang terpendam. Jangan ragukan kemampuanmu sendiri."
Lin Fan mendengar penjelasan itu dan matanya kembali berbinar.
"Kau benar! Aku tidak boleh meragukan diriku sendiri! Jika aku ragu, aku tidak akan bisa melindungi kalian di masa depan!" tekad Lin Fan sambil mengepalkan tangannya. "Aku akan berlatih lebih keras lagi! Mulai besok, aku akan berlari keliling lapangan sepuluh kali setiap pagi!"
"Bagus. Lakukan itu. Jauh-jauhlah dariku setiap pagi," kata Xiao Yan.
Lin Fan tertawa kecil.
"Baiklah, aku akan pergi ke tenda medis utama untuk mengambil perban baru. Kau tidurlah, Si Muka Datar. Terima kasih karena sudah percaya padaku," ucap Lin Fan tulus.
Lin Fan berdiri dan berjalan keluar tenda, meninggalkan Xiao Yan sendirian.
Suasana di dalam tenda akhirnya benar-benar hening. Di luar, suara hiruk-pikuk masih terdengar, tetapi jarak tenda ini cukup jauh untuk meredam kebisingan menjadi sekadar dengungan pelan.
Xiao Yan menarik napas dalam-dalam.
"Evaluasi insiden Keamanan terancam, identitas rahasia aman, gangguan tidur mencapai sembilan puluh persen," batin Xiao Yan.
Meski begitu, Xiao Yan tidak merasa terlalu kesal. Dia menyadari bahwa memiliki Lin Fan sebagai pusat perhatian adalah investasi jangka panjang yang sangat menguntungkan. Selama Lin Fan berada di dekatnya, semua mata akan tertuju pada "sang pahlawan" yang berisik, dan tidak ada yang akan memperhatikan teman sebangkunya yang pendiam dan lemah.
"Tugas melindungi bumi atau menumpas sekte jahat biarlah menjadi urusan Lin Fan dan Su Xue," pikir Xiao Yan dengan nyaman. "Aku hanya butuh nilai pas-pasan, makanan enak dari Ibu, dan waktu tidur siang yang cukup."
Xiao Yan mengubah posisi tidurnya menjadi menyamping, memeluk bantal lehernya dengan nyaman.
"Hah... Selamat malam, dunia kultivasi yang merepotkan," gumamnya pelan.
Dalam hitungan detik, napas Xiao Yan kembali teratur. Di tengah kekacauan, laporan medis, dan investigasi akademi yang masih berlangsung, Xiao Yan akhirnya berhasil mendapatkan waktu tidurnya yang sangat berharga. Ujian bertahan hidup ini telah berakhir, dan kehidupan SMA yang damai dengan sedikit penyesuaian kembali menantinya.