"Jangan pakai namaku untuk karakter mati tragis, Elodie!"
Peringatan Blair diabaikan. Ia justru terbangun sebagai Charlotte Lauren Blair, istri durhaka dan ibu kejam dalam novel sahabatnya. Di naskah asli, ia akan mati mengenaskan dikhianati selingkuhannya, Andreas.
Misi Blair hanya satu: Batalkan Kematian!
Namun, rencananya terhambat oleh suaminya, Ralph Liam Alexander. CEO dingin yang ditakuti dunia itu selalu menatapnya tajam. Tapi tunggu... kenapa Blair bisa mendengar suara hati suaminya yang sangat berisik?
Liam (Dingin): "Jangan harap kau bisa bercerai dariku!"
Suara Hati Liam (Bucin): [Tolong jangan pergi... Aku mencintaimu sampai mau gila. Satu langkah kau menjauh, aku akan mengurungmu di kamar selamanya!]
Ternyata, sang "Monster" adalah simp kelas berat yang takut kehilangan dirinya! Bisakah Blair mengubah alur tragis ini, meluluhkan hati putranya yang membencinya, dan bertahan dari obsesi gila sang suami?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Retakan di Balik Topeng
Di sebuah apartemen mewah yang tersembunyi dari hiruk-pikuk kota, suasana terasa sangat mencekam. Bradly Andreas membanting gelas kristalnya ke lantai hingga hancur berkeping-keping. Napasnya memburu, wajahnya yang biasanya terlihat rapi kini tampak kusut dan penuh amarah.
"Sialan! Apa yang terjadi dengan wanita itu?!" teriak Andreas.
Elodie Lunara, yang duduk di sofa sambil menyesap anggur merah, hanya menatap kosong ke arah jendela. Tangannya sedikit gemetar. "Aku sudah bilang padamu, Andreas. Blair sudah berubah. Dia bukan lagi boneka yang bisa kita gerakkan sesuka hati."
"Berubah?! Manusia tidak berubah dalam semalam, Elodie!" Andreas mencengkeram bahu Elodie, memaksa wanita itu menatapnya. "Dia merobek surat cerainya di depan Liam! Dia mengusirku seperti anjing di depan para pelayan! Rencanamu di pelelangan semalam juga gagal total, kan?"
Elodie menepis tangan Andreas dengan kasar. "Jangan salahkan aku! Dia tahu tentang minuman itu. Dia menantangku di balkon. Dia bicara seolah-olah dia bisa membaca pikiranku!"
Elodie bergidik ngeri mengingat tatapan dingin Blair semalam. Sebagai penulis novel ini di dunia nyata, dia merasa kehilangan kendali atas ciptaannya sendiri. Karakter Blair yang seharusnya hancur, kini justru tampak seperti ratu yang sedang bertahta.
"Kita tidak bisa diam saja," gumam Andreas, matanya berkilat licik. "Jika Liam dan Blair semakin solid, perusahaan Alexander Group tidak akan pernah jatuh ke tanganku. Dan hartanya... aku butuh harta itu untuk membiayai gaya hidup kita, Elodie."
"Lalu apa rencanamu?"
Andreas menyeringai, sebuah seringai yang menjijikkan. "Jika kita tidak bisa menyerang Blair, kita serang titik lemahnya. Anaknya. Axelle."
Elodie mengerutkan kening. "Axelle? Bukankah Blair membencinya?"
"Dulu, iya. Tapi sekarang dia mulai melindunginya. Itu artinya, Axelle adalah kartu as kita," Andreas mengambil ponselnya dan mendial sebuah nomor. "Lucas? Kau dengar aku?"
Di ujung telepon, suara remaja laki-laki yang sombong menyahut. "Ya, Papa. Ada apa?"
"Besok di sekolah, buat Axelle meledak. Provokasi dia di depan umum. Hancurkan reputasinya, atau buat dia melakukan sesuatu yang membuat Liam malu memilikinya sebagai pewaris. Kau tahu apa yang harus kau lakukan, kan?"
"Tenang saja, Papa. Axelle itu lemah. Sekali aku sebut tentang ibunya yang 'murahan', dia pasti akan menangis seperti bayi," sahut Lucas sambil tertawa meremehkan.
"Bagus. Lakukan dengan rapi." Andreas menutup teleponnya dan menatap Elodie. "Kita lihat seberapa tangguh Blair saat melihat anaknya sendiri hancur di sekolah."
...****************...
Keesokan paginya, di sekolah internasional elit tempat Axelle belajar.
Axelle melangkah melewati koridor dengan tas ransel yang tersampir di satu bahu. Kepalanya tidak lagi tertunduk seperti biasanya. Ingatan tentang pelukan ayahnya dan dukungan ibunya semalam memberinya kekuatan baru.
"Wah, wah... lihat siapa yang datang dengan wajah penuh percaya diri pagi ini."
Langkah Axelle terhenti. Lucas Gasendrico berdiri di depan loker bersama antek-anteknya. Lucas menatap Axelle dengan pandangan menghina, sementara tangannya sibuk memainkan kunci mobil mewahnya.
"Minggir, Lucas. Aku ada kelas," ucap Axelle datar.
"Oho! Sekarang si bisu ini sudah berani bicara?" Lucas melangkah maju, memojokkan Axelle ke loker. "Kudengar ibumu tidak jadi cerai dengan ayahmu? Apa dia gagal merayu papaku sehingga harus kembali mengemis di rumah Alexander?"
Teman-teman Lucas tertawa terbahak-bahak.
Axelle mengepalkan tangannya, namun ia mengingat pesan ibunya: Jangan biarkan sampah membuatmu kotor.
"Lucas, urusi saja urusanmu sendiri. Jangan bawa-bawa ibuku," sahut Axelle, suaranya tetap tenang meski hatinya mulai memanas.
"Kenapa? Takut kenyataan?" Lucas mendekatkan wajahnya ke telinga Axelle, berbisik dengan nada penuh racun. "Semua orang tahu ibumu itu hanya wanita haus harta yang suka bergonta-ganti pria. Bahkan papaku bilang, dia hanya butuh jentikan jari untuk membuat ibumu berlutut di bawah kakinya. Dia itu... sampah."
Bugh!
Satu pukulan telak mendarat di rahang Lucas, membuatnya tersungkur ke lantai lorong. Suasana seketika menjadi sunyi senyap. Semua murid yang ada di sana ternganga melihat Axelle—si kutu buku yang pendiam—baru saja memukul anak paling populer di sekolah.
Axelle berdiri tegak, matanya berkilat tajam seperti obsidian milik Liam. "Katakan sekali lagi tentang ibuku, dan aku pastikan kau tidak akan bisa bicara lagi selamanya."
Lucas memegang rahangnya yang berdarah, matanya merah karena amarah dan rasa malu. "Kau... kau akan menyesal, Axelle Alexander! Aku akan melaporkanmu! Kau akan dikeluarkan dari sekolah ini!"
Axelle tidak peduli. Ia berbalik dan melangkah pergi, namun di dalam hatinya, ia merasa sedikit cemas. Apa Mama akan marah jika tahu aku berkelahi?
Namun, di balik pilar koridor, seorang pengawal suruhan Liam segera menekan tombol di walkie-talkie-nya. "Tuan Besar, Tuan Muda Axelle baru saja memukul putra Tuan Andreas di sekolah. Apa instruksi Anda?"
Di kantornya, Liam yang sedang melihat laporan keuangan langsung berdiri. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman bangga yang sangat tipis.
[Bagus. Putraku benar-benar sudah dewasa. Dia membela ibunya. Aku ingin melihat bagaimana reaksi Blair saat mendengar kabar ini. Pasti dia akan sangat bangga.]
"Siapkan mobil," perintah Liam pada asistennya. "Kita jemput Tuan Muda ke sekolah. Dan pastikan pihak sekolah tahu, jika mereka berani menyentuh Axelle, aku akan membeli sekolah itu dan meratakannya dengan tanah."
semoga bisa menghibur semuanya...
mending kalian berdua pergi biar Liam nyesek/Right Bah!/