Endric sadar dia tinggal di tempat yang sangat aneh. Semua orang terlihat normal, tapi terasa hampa. Dia bertemu Gandhul, sosok pocong kecil yang menjadi satu-satunya teman yang bisa diajak bicara.
Di tubuhnya muncul Garis Hitam misterius yang menyimpan kekuatan besar. Dia juga bertemu Ningsih, wanita misterius yang hanya bisa dilihat oleh Endric saja.
Mereka menyadari satu kebenaran mengerikan. Desa ini bukan tempat tinggal biasa. Ini adalah Penjara Raksasa yang dibuat untuk mengurung kekuatan jahat dan mengikat penduduk dengan aturan kejam.
Endric bukan orang asing. Dia sebenarnya pulang ke tanah leluhurnya. Nama keluarganya sengaja dihapus dari sejarah demi keselamatan.
Kini dia harus berani melawan segalanya. Bersama Bento, Ningsih, dan Gandhul, mereka akan menembus Hutan Terlarang, membangkitkan kekuatan leluhur, dan menghadapi Sang Tetua yang sudah berubah menjadi iblis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na-Hyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Undangan
Tulisan di kertas itu berubah. Tinta hitam merayap pelan dan huruf-hurufnya bergeser sendiri di permukaan kertas.
Endric terpaku dan napasnya tertahan. Ia belum sempat menutup lipatannya saat perubahan itu terjadi.
“Lo lihat ini, kan?” bisiknya.
Gandhul mendekat dan memperhatikan tanpa ekspresi berlebihan.
“Lihat.”
Tulisan “Besok malam giliranmu” bergetar, lalu muncul goresan baru di bawahnya. Huruf demi huruf terbentuk perlahan.
“Jangan terlambat.”
Endric langsung menjatuhkan kertas itu dan bahunya tersentak kaget.
“Anjir!”
Gandhul meloncat mundur sedikit lalu mendecak.
“Lebay, cok. Kertas doang.”
“Ini bukan kertas biasa!” tunjuk Endric dengan tangan gemetar.
“Ya jelas bukan. Kalau kertas biasa, gue juga malas lihat.”
Endric mengusap wajahnya frustrasi. Napasnya belum stabil.
“Gue disuruh datang besok malam. Itu artinya apa, Ndhul?”
Gandhul menatap kertas itu sebentar.
“Artinya lo dipanggil resmi.”
“Resmi apaan? Ini kayak undangan nikahan, cok!”
“Bedanya yang nikah bakal hidup. Lo belum tentu.”
Endric menatap tajam. Rahangnya mengeras.
“Bisa gak lo berhenti ngomong kayak gitu?”
“Gue cuma jujur.”
Endric memungut kembali kertas itu dengan hati-hati. Tangannya masih gemetar saat melipatnya.
“Gue gak mau datang.”
“Gak bisa.”
“Kenapa gak bisa?”
“Karena kalau lo gak datang, mereka yang bakal jemput.”
Endric langsung teringat tangan dari bawah lantai. Dingin menjalar di punggungnya.
“Gue lebih pilih kabur.”
Gandhul tertawa kecil.
“Silakan. Kita muter lagi sampai pagi.”
Endric diam. Ia menatap jalan gelap di depan rumah. Tidak ada tempat yang benar-benar aman.
“Gue benci tempat ini,” gumamnya.
“Semua juga gitu di awal.”
Mereka masuk ke dalam rumah. Endric mengunci pintu dua kali lalu mendorong kursi ke depan pintu sebagai penghalang tambahan.
“Lo kira ini bisa nahan apa?” tanya Gandhul.
“Minimal gue merasa aman,” jawab Endric cepat.
“Ya, itu penting juga.”
Endric duduk di lantai dan meletakkan kertas itu di depannya. Tatapannya tidak lepas dari tulisan di sana.
“Ndhul.”
“Hm?”
“Semua orang yang dapat ini pasti mati?”
Gandhul melompat dan duduk di seberangnya. Wajahnya lebih serius.
“Gak semuanya.”
“Serius?”
“Serius.”
Ada sedikit kelegaan di dada Endric.
“Berarti ada yang selamat?”
“Ada.”
“Gimana caranya?”
Gandhul tersenyum tipis.
“Belum pernah ketemu.”
Endric melempar tatapan kesal.
“Lo sengaja, ya?”
“Biar lo tetap realistis.”
“Gue butuh solusi, bukan roasting.”
“Biasanya yang selamat bukan karena kuat.”
“Terus?”
“Karena belum dipilih.”
Endric menatap kosong. Kalimat itu tidak membantu sama sekali.
“Jadi gue harus apa?”
“Bertahan.”
“Gimana caranya?”
“Jangan mati aja.”
Endric memijat pelipisnya kesal.
“Gue ngomong sama tembok juga lebih membantu.”
“Gak juga. Tembok di sini kadang bisa jawab.”
Endric langsung diam dan menoleh ke dinding.
“Serius?”
“Coba saja nanti.”
Endric berjalan mondar-mandir, mencoba berpikir logis di tengah situasi yang tidak masuk akal.
“Desa ini punya sistem. Ada aturan. Ada yang milih. Berarti ini bukan acak.”
“Betul.”
“Kalau bukan acak, berarti bisa dimanipulasi.”
“Mulai pintar.”
“Siapa yang nentuin daftar?”
Gandhul menatapnya lama.
“Yang tadi malam.”
Endric teringat pria tua itu dan tekanan yang dirasakannya.
“Yang paling atas kata lo?”
“Iya.”
“Berarti kalau gue bisa ngelawan dia—”
“Lo mati lebih cepat,” potong Gandhul santai.
Endric langsung diam.
“Iya juga.”
“Oke. Rencana B.”
“Apaan?”
“Gue gak datang. Gue sembunyi.”
“Di mana?”
“Kamar mandi?”
Gandhul tertawa keras.
“Lo mau mati di WC?”
“Ya minimal bersih!”
“Rek, kalau mereka mau ambil lo, tembok pun bisa kebuka.”
Endric duduk kembali dengan lemas. Bahunya turun.
“Gue kehabisan ide.”
“Wajar.”
Ia kembali menatap kertas itu.
“Ndhul, kalau gue datang lo ikut?”
Gandhul mengangguk.
“Gue ikut.”
“Minimal ada teman.”
“Walau gak bisa bantu banyak.”
“Gak apa-apa. Yang penting ada yang ngomong.”
“Lo takut kesepian, ya?”
Endric tidak menjawab, tapi ekspresinya sudah cukup jelas.
Malam semakin larut. Keheningan terasa menekan dan menunggu sesuatu.
Endric akhirnya berbaring di kasur dengan lampu mati. Matanya menatap langit-langit.
“Gue gak bisa tidur.”
“Tidur saja. Biar besok segar.”
“Lo enak. Udah mati.”
“Makanya gue santai.”
Belum sempat tertidur, suara itu muncul lagi.
Bukan dari lantai. Bukan dari luar.
Dari dalam kepalanya.
“Endric...”
Matanya langsung terbuka dan ia duduk cepat.
“Lo dengar?” tanyanya panik.
“Dengar apa?”
“Suara...”
Sunyi kembali. Endric mengusap wajahnya.
“Halusinasi lagi...”
Ia hendak berbaring, tapi suara itu muncul lagi, lebih jelas dan dekat.
“Endric...”
Gandhul ikut mendengarnya. Kepalanya menoleh tajam ke arah dinding.
“Bukan dari bawah.”
Endric ikut menoleh. Dinding di samping kasur perlahan muncul garis retakan tipis.
Retakan itu melebar. Dari celah itu muncul satu mata yang menatap lurus ke arahnya tanpa berkedip.
Endric membeku total.
“Ndhul...” bisiknya.
Gandhul tidak menjawab. Ia menatap mata itu dengan sangat serius.
Mata itu bergerak mengikuti posisi Endric. Suara itu terdengar lagi.
“Besok malam...”
“...jangan terlambat...”
Retakan itu menutup perlahan. Mata itu menghilang. Dinding kembali utuh dan rapat.
Sunyi kembali menguasai ruangan.
Endric menoleh ke arah Gandhul dengan wajah pucat.
“Sekarang gue harus datang, kan?”
Gandhul mengangguk pelan. Suaranya rendah dan tegas.
“Iya. Sekarang lo wajib datang. Kalau gak datang... lo bakal ditarik masuk ke dalam tembok itu sekarang juga.”