Joshua Halim, anak ketua yayasan sekaligus cowok paling berkuasa di Seventeen International School, tiba-tiba menyatakan cinta, Yeri Marliana L. menolaknya tanpa ragu.
Penolakan itu melukai ego Joshua. Terlebih lagi, ia sedang berada di tengah taruhan dengan gengnya VOCAL (Vanguard Of Commanding Alpha Leaders), dan Joshua tidak pernah menerima kekalahan.
Sejak saat itu, ia terus mendekati Yeri dengan berbagai cara, memaksa jarak di antara mereka semakin sempit. Di sisi lain, Yeri justru harus menghadapi konsekuensinya: diincar, dijahili, dan dibully.
Tapi Yeri bukan tipe yang lemah. Ia melawan semuanya tanpa ampun. Namun keadaan berubah saat neneknya membutuhkan biaya operasi besar. Dalam kondisi terpojok, Joshua datang dengan tawaran yang tak bisa ia abaikan—ia akan menanggung seluruh biaya, asalkan Yeri mau menjadi pacarnya.
Dan di balik hubungan yang dimulai dari taruhan dan paksaan itu, satu hal mulai keluar dari kendali—perasaan yang seharusnya tidak pernah ada.
Story by Instagram & Tiktok @penulis_rain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 1
Angin sore berhembus pelan di halaman sekolah, bikin daun-daun goyang cantik kayak slow motion film. Anak-anak udah mulai bubar, sebagian nongkrong, sebagian sibuk gosip.
Tapi hari itu, semua tiba-tiba nge-freeze.
Soalnya ada satu scene yang nggak mungkin nggak diliatin.
Joshua Halim berdiri di tengah halaman dengan seragam berantakan, dasi merah marun kece, rambutnya kena angin kayak baru kelar photoshoot. Dan senyumnya, bukan senyum tengil biasanya.
Lebih ke something soft, something weird, something sus… buat ukuran Joshua.
Di sisi lain, Yeri keluar dari gedung utama sambil meluk buku-buku. Rambut hitamnya tergerai rapi, mukanya datar kayak biasa. Aura nggak mau diganggunya nyala banget. Yeri cuek jalan, nggak sadar kalau satu sekolah lagi ngeliatin dia.
Sampai suara itu manggil.
“Yeri.”
Yeri otomatis berhenti. Ia ngangkat wajah, ngeliat Joshua berdiri cuma beberapa langkah dari dia. Alisnya naik dikit.
“Lo ajak ngomong gue?” Tatapan ketus yang bagaikan pisau daging bikin Joshua rasanya kebelet pipis.
“Iya… hehe.”
“Kenapa?”
“Ma…mau ngobrol bentar.” Joshua berharap dia punya sisa keberanian dalam dirinya yang sekarang mulai menciut. Yeri dengan tatapan mau makan orang bikin dia agak sedikit ngambang.
“Oh. Oke. Buka dulu anting lo.”
“What?”
“Buka anting di kuping lo. Gue nggak mau ngobrol sama preman sekolah. Paham?”
“Oh… got it.” Joshua membuka antingnya satu-persatu. Lumayan lama nunggunya, perkara anting yang dipasang di kedua kupingnya ada banyak banget.
“Udah? So? Lo mau apa?”
Joshua narik napas panjang yang kalau ada BGM bakal kayak mau confess di ending episode. Diluar prediksi BMKG, tiba-tiba…
“Gue… suka sama lo.”
Dan duarrr.
Halaman sekolah langsung hening. Bahkan burung gereja pun kayaknya berhenti berkicau. Cewek-cewek melongo. Cowok-cowok bahkan ikutan bengong.
Joshua Halim. Anak ketua yayasan. Anak orang kaya. Murid paling ganteng versi polling anonim. Sering jadi bahan halu ig story anak-anak cewek.
Sekarang lagi nembak… Yeri? Murid kutu buku yang terkenal ketus dan jutek. Semua orang pun tahu kalau Yeri adalah salah satu murid penerima beasiswa, yang pastinya sangat nggak level sama Joshua.
“Lo mau jadi pacar gue kan?”
Yeri masih diem.
Bukan karena grogi, tapi karena… ya ampun, ini apaan lagi dah. Tanpa sadar idungnya berkedut sendiri bersamaan dengan rasa syok yang munculnya delay.
“Enggak.”
Boom. Seboom-boomnya. Satu halaman sekolah syok berjamaah. Joshua kedip pelan, kayak buffering.
“Loh kenapa?” tanyanya pelan banget tapi kayak mau pingsan.
Yeri melotot ringan. “Karena gue nggak tertarik buat jadi pacar playboy kayak lo.”
Simple. Savage. Effortless.
Joshua nahan senyum awkward. “Lo serius—”
“Josh.” Yeri motong cepat. “Gue tau lo cuma main-main. Jadi, nggak perlu lo pura-pura suka sama gue kayak gini.”
Joshua terdiam. Semua orang ikut diem. Angin berhenti. Bumi berhenti. Banyak yang kepo tapi pura-pura nggak liat.
Yeri bergeser, mau pergi. Joshua otomatis menghalangi tapi nggak maksa, cuma… panik sama agak gila dikit mungkin.
“Gue serius,” katanya, suaranya nurun.
“Gue juga.” Yeri lewat aja di sampingnya. “Sekarang minggir, gue mau pulang.”
Dan Yeri pergi. Tanpa nengok. Rambutnya melambai-lambai kayak slow motion iklan shampo.
Joshua berdiri di tempat, tangannya gemeter dikit, matanya kosong. Semua orang siap-siap nyinyir, tapi tiba-tiba… Joshua nyengir kecil.
“Wah ... berani banget dia nolak gue,” gumam Joshua pelan. “Kita lihat aja, balasan apa yang bakal gue lakuin?” Lanjutnya kesal.
***
Besoknya, sekolah mulai rame. Tapi bukan karena ada artis nyasar yang nongkrong, melainkan rame ala serangan zombie di sekolah yang siap meledak kapan aja.
Soalnya kabar Joshua nembak Yeri, dan Yeri nolak mentah-mentah udah nyebar lebih cepat dari notif diskon flash sale 11.11.
Kabar miring itu bikin satu kelompok cewek yang ngaku fansnya Joshua langsung ngamuk. Mereka nongkrong di koridor belakang, nunggu Yeri lewat.
Ada yang ngunyah permen karet sambil nyinyir, ada yang ngaca terus bilang, “Gue aja yang jauh lebih cantik nggak ditembak, kenapa Yeri bisa-bisanya dia nolak Joshua? Hellooo??”
Pas Yeri lewat, mereka langsung gerak kayak satpam mall ngejar maling.
“Eh, Yeri.”
Yeri berhenti. Matanya dingin. “Apa?”
Cewek berambut pirang palsu maju duluan. “Gue cuma mau bilang… lo jangan halu. Joshua itu punya pacar, ngerti?”
Yang lain langsung ikut nyerocos.
“Dia cuma kasihan sama lo.”
“Yeri, lo tuh kelasnya beda banget sama kita.”
“Awas aja lo deket-deket Joshua lagi.”
Yeri ngedip pelan. Terus dia senyum kecil. Senyum… yang nggak menenangkan.
“Udah selesai bacotnya?” tanya Yeri, datar.
Mereka bengong. Yeri mendekat satu langkah, menatap mereka tanpa takut sedikit pun.
“Oke. Giliran gue.”
Ia melihat rambut pirang-palsu itu dari atas sampai bawah. “Extension lo copot dikit tuh. Mungkin gegara lo sibuk nguntit Joshua 24/7.”
Cewek itu langsung pegang rambutnya panik.
Yeri lanjut, suaranya halus tapi pedesnya level dewa, “Gue nolak Joshua. Lo tau itu? Harusnya lo makasih.”
Cewek-cewek itu makin kesal. “Lo jangan sok!”
Yeri mendecak. “Please. Lo semua ribut, tapi satu pun dari lo nggak ada yang Joshua akui. Miris nggak sih?”
Yang paling galak maju dan dorong Yeri. “Jaga mulut lo!”
Yeri nggak goyah. Malah ia tersenyum lebih lebar. “Gue saranin lo jaga harga diri dulu.”
Dan di detik itu Yeri membalas. Ia menarik tas salah satu cewek dan membantingnya ke lantai.
“Ups. Tas lo jatoh.”
Cewek itu teriak. “GILA LO?!”
Tapi Yeri belum selesai. Ia maju, dorong si galak balik sampai nabrak loker.
“Lo kira gue tipe yang diem aja? Salah alamat, babe,” gumam Yeri, pelan tapi mematikan.
Koridor makin ramai. Banyak yang ngeh, banyak yang mulai rekam.
“Lo mau bully gue? Gas. Tapi gue balas double,” kata Yeri sambil melipat tangan.
Para cewek itu langsung gemeter campur marah, karena mereka nggak nyangka Yeri akan ngelawan sekeras itu.
“Dasar psycho!”
“Perempuan nggak tau diri!”
Yeri cuma tertawa kecil. “Kalo kalian mau perang, ayo. Tapi inget, gue bukan tipe yang main cantik.”
Cewek-cewek itu mundur sambil maki-maki, tapi jelas mereka kalah. Suara mereka keras, tapi keberanian mereka cuma setengah.
Yeri ngambil tasnya sendiri dan pergi tanpa menoleh.
***
Joshua masuk kelas dengan muka sengak tapi elegan, kombinasi khas cowok kaya yang baru habis diledekin geng sendiri.
Geng VOCAL kepanjangan dari Vanguard Of Commanding Alpha Leaders, udah dalam posisi ngumpul di meja belakang, ngakak tiap kali leader mereka, Joshua lewat.
“Woi, Loverboy!” teriak Johan sambil melempar bungkus roti.
“Gila sih, lo ditolak? Prestasi baru!” tambah Uji, tepuk-tepuk bangku kayak nyorakin atlet gagal servis.
“Udah kayak adegan FTV, cuma lo jadi figuran yang kena skip karna durasi,” celetuk Sengkara.
Dika cuma senyum licik sambil nyeruput tumblernya. “Respect, bro. Enggak expect lu jadi looser.”
“Sialan! Diem nggak lo pada!”
Joshua cuma mencak-mencak tapi nggak bisa ngelawan, karena… ya emang dia ditolak. Di depan sekolah. Dan seluruh sekolah kayaknya udah bikin muka Joshua yang sempurna melampaui pahat karya patung Yunani ini, jadi meme di rekaman handphone masing-masing.
Johan nepuk pundak Joshua dengan pelan sambil tersenyum lebar. “Kita menang taruhan, lo harus transfer kita berempat masing-masing dua puluh juta!”
Uji, Dika, dan Sengkara bersorak nyuruh Joshua untuk cepet bayar taruhannya. Dengan wajah kesalnya. Joshua ngeluarin ponselnya.
“Tuh! Udah gue transfer!” katanya sambil ngasih liat layar ponselnya.
Joshua nyender ke kursinya dengan mikirin Yeri yang bukan cuma bikin dia kalah taruhan. Tapi juga udah bikin namanya tercoreng dari sebutan playernya.
“Liat aja lo, Yeri. Lo harus jadi cewek gue!”
***
Pas istirahat, halaman sekolah rame. Yeri duduk sendirian di bangku beton sambil makan roti murahan dari koperasi.
Tepat dari lorong, geng VOCAL yang beranggotakan lima orang masuk beriringan. Jelas hal itu bikin semua noleh ke arah mereka dengan tatapan penuh kagum. Layaknya kerumunan netizen yang ngeliat artis lewat.
“Eh cewek lo tuh!” ucap Sengkara nunjuk Yeri.
Johan dan Dika noleh tanpa komentar.
Sementara Joshua yang ngeliat pemandangan itu tersenyum sinis.
“Perfect timing.”
Dia jalan ke arah Yeri sambil masang muka tengil. Semakin dekat, semakin banyak mata yang ngikutin. Semua udah tau ada spark-spark aneh antara mereka berdua setelah insiden penolakan kemarin dan kejadian Yeri ngehajar balik cewek-cewek iri itu.
Yeri baru mau gigit rotinya lagi ketika bayangan Joshua nutupin cahaya matahari kayak sengaja banget mau ganggu hidup orang.
“Apa lagi, sih?” Yeri ngelirik datar sambil tetap duduk.
“Roti lo kelihatan nggak enak, sayang,” jawab Joshua santai, nyender ke meja. “Mau gue beliin makanan yang enak?”
“Nggak makasih. Lo enyah dari hadapan gue.”
“Jahat banget sih. Padahal gue udah mau beliin lo sandwich mahal. Dari pada roti yang murah banget vibes-nya kayak gitu.”
Yeri mau ngelempar tatapan maut, tapi Joshua tiba-tiba ngambil susu kotak Yeri.
“Ini apaan?” ujarnya sambil ngangkat susu itu seolah benda asing. “Lo nggak punya uang ya? Kenapa beli susu yang murahan banget? Susu basi di rumah gue lebih enak dari ini.”
Yeri langsung mendesis. “Balikin.”
Joshua geleng santai. “Nggak.”
“Joshua. Balikin.” Nada Yeri turun satu oktaf. Tajem. Sabarnya udah limit kerongkongan.
Joshua cuma nyengir.
Yeri akhirnya berdiri dan narik lengan Joshua buat ngerebut susu itu.
“Balikin! Sekarang!!”
“Oke. Oke.” Joshua ngangkat tangan seolah nyerah, tapi tatapannya licik.
“Gue balikin,” katanya pelan. “Nih.”
Dan sebelum Yeri sempat gerak…
BYUR!
Joshua menuang susu kotak itu di atas kepala Yeri.
Susu putih netes dari rambut Yeri, ngalir ke pipi, terus ke blazernya yang langsung lengket dan basah total.
Seluruh kantin diem terkejut. Ada yang langsung nutup mulut.
Ada yang teriak, “Anjir Joshua gila!”
Ada yang udah siap rekam buat story. Lumayan kan kalau jadi selebgram.
Joshua cuman berdiri di depan Yeri, santai banget kayak habis siram tanaman, bukan habis siram orang.
“Udah,” katanya enteng. “Tuh, gue balikin, SAYANG.” Ucap Joshua penuh penekanan.
...JOSHUA HALIM...
...YERI MARLIANA L....