Catherina Lawrence (24 tahun) mengira pernikahannya dengan Adrian Mettond, senior di kampusnya dulu, adalah pelabuhan tenang setelah badai masa lalu yang kelam. Namun, belum genap satu tahun berjalan, kenyataan pahit menghantamnya. Adrian ternyata tidak siap menjadi ayah bagi putra mereka, Liam, dan sang ibu mertua terus memperlakukannya layaknya orang asing yang tak diinginkan.
Di tengah dinginnya sikap Adrian, Catherina dihantui oleh bayang-bayang Everest Cavanaught—mantan kekasih sekaligus "pangeran berandalan" dari masa Lalunya. Hubungan Empat tahun itu berakhir karena keegoisan Catherina, meninggalkan luka yang belum sembuh. Ironisnya, semakin Liam tumbuh, wajah sang bayi justru semakin menyerupai Everest, bukan Adrian.
Terjebak dalam rumah tangga yang hampa dan penuh tuntutan, Catherina mulai mempertanyakan segalanya.
Apakah Adrian benar-benar mencintainya?
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#4
Ruangan privat di restoran The Obsidian itu terasa begitu menyesakkan, meski sistem pendingin udaranya bekerja sempurna. Lampu kristal yang menggantung di tengah ruangan membiaskan cahaya keemasan yang mewah, namun bagi Catherina, cahaya itu terasa seperti lampu interogasi.
Di seberang meja bundar itu, duduklah pria yang pernah menjadi seluruh dunianya.
Everest Cavanaught.
Pria itu mengenakan setelan jas abu-abu gelap yang melekat sempurna pada bahunya yang lebar. Rambutnya ditata rapi ke belakang, mempertegas rahangnya yang kokoh dan garis wajahnya yang semakin matang. Namun, yang paling menyakitkan bagi Catherina bukanlah penampilannya, melainkan matanya.
Mata biru kelabu yang dulu selalu berbinar dan mencari sosok Catherina di tengah keramaian High School, kini telah tiada. Saat mata mereka bersinggungan tadi, Everest hanya menatapnya dengan pandangan dingin, kosong, dan asing—seolah Catherina hanyalah sekadar ornamen di ruangan itu, atau mungkin hanya istri dari kolega bisnis yang membosankan. Tidak ada sapaan hangat, tidak ada getaran rindu, bahkan tidak ada benci. Hanya kehampaan yang luar biasa.
Catherina menarik napas dalam-dalam, mencoba mempertahankan harga dirinya. Ia tidak akan membiarkan dirinya terlihat hancur. Ia fokus pada pembicaraan bisnis yang mengalir. Sebagai lulusan komunikasi bisnis di Los Angeles, istilah-istilah tentang akuisisi, merger, dan persentase saham bukanlah hal asing baginya.
"Saya rasa, perluasan pasar ke wilayah Asia Tenggara akan lebih stabil jika Cavanaught Group menggunakan infrastruktur logistik yang sudah dibangun oleh Mettond," ujar Catherina tiba-tiba, menyela pembicaraan teknis antara Adrian dan Ben, asisten kepercayaan Everest.
Adrian tampak sedikit terkejut istrinya berani bicara, namun ia tersenyum tipis. "Istriku selalu memiliki insting yang tajam," sahut Adrian, walau nada suaranya terdengar seperti sedang memuji pajangan yang pintar bicara.
Everest bahkan tidak menoleh ke arah Catherina saat ia merespons. "Kita lihat datanya nanti, Ben," ucapnya singkat, suaranya berat dan rendah, mengirimkan gelombang nostalgia yang menyakitkan ke ulu hati Catherina.
Di tengah ketegangan itu, atmosfer semakin aneh bagi Catherina. Di sisi kiri Adrian, duduk Julie—asisten pribadi suaminya. Julie mengenakan gaun yang sedikit terlalu berani untuk acara makan malam bisnis, dan dia duduk sangat dekat dengan Adrian.
Catherina menatap Julie dengan perasaan campur aduk. Julie adalah temannya saat masa-masa sulit dulu. Catherina pulalah yang merekomendasikan Julie kepada Adrian saat wanita itu butuh pekerjaan setahun lalu. Namun sekarang, melihat bagaimana Adrian sesekali berbisik pada Julie atau bagaimana Julie dengan cekatan menuangkan air ke gelas Adrian sebelum Catherina sempat melakukannya, membuat sebuah kecurigaan pahit mulai tumbuh.
"Maaf, saya izin ke toilet sebentar," ujar Julie dengan suara lembut yang dibuat-buat, sambil melirik Adrian dengan tatapan yang sangat dikenal Catherina: tatapan memuja.
"Tentu," jawab Adrian. "Oh, sekalian saja. Saya dengar restoran ini baru saja mendatangkan Vintage Bordeaux dari tahun 2005. Aku akan pergi ke gudang anggur mereka sebentar untuk memastikan mereka menyajikannya dengan benar untuk tamu kehormatan kita. Everest, kau tidak keberatan menunggu sebentar?"
Everest hanya mengangguk kecil, masih tanpa ekspresi.
Begitu Adrian dan Julie melangkah keluar dari ruangan, keheningan yang mencekam langsung menyergap. Di meja itu kini hanya tersisa Catherina, Everest, Ben, dan seorang wanita cantik di sebelah Everest yang sejak tadi hanya diam mengamati.
Stefhanie Cavanaught.
Adik kandung Everest itu menatap Catherina dengan binar mata yang berbeda dari kakaknya. Stefhanie adalah orang yang dulu sering menemani Catherina saat Everest sedang latihan football. Dia tahu segalanya.
"Lama tidak bertemu, Cathe," Stefhanie memecah kesunyian. Suaranya hangat, sangat kontras dengan aura dingin kakaknya.
"Lama tidak bertemu, Stef," jawab Catherina dengan senyum kaku. Ia bisa merasakan tatapan Everest yang kini tertuju pada gelas anggurnya, seolah benda itu jauh lebih menarik daripada keberadaan Catherina.
"Kau beruntung Cepat menikah," Stefhanie melanjutkan, mencoba mencairkan suasana. "Dan kudengar juga kau baru saja melahirkan? Berita itu sampai ke telingaku kemarin."
Catherina mengangguk pelan. "Ya, baru satu bulan yang lalu."
"Oh, congratulations!" Stefhanie tersenyum tulus. "Laki-laki atau perempuan? Siapa namanya? Aku selalu membayangkan kau akan memiliki anak-anak yang cantik."
Mendengar pertanyaan itu, Catherina merasa tenggorokannya tercekat. Ia sempat melirik ke arah Everest. Untuk sepersekian detik, tangan Everest yang memegang gelas tampak menegang, namun wajahnya tetap seperti patung es.
"Laki-laki," jawab Catherina lirih. "Namanya... Liam."
"Liam," Stefhanie mengulangi nama itu dengan nada manis. "Nama yang kuat. Apakah dia mirip dengan ayahnya? Adrian pasti sangat bangga."
Pertanyaan basa-basi itu terasa seperti tamparan bagi Catherina. Apakah dia mirip ayahnya? Di kepalanya, terbayang wajah Liam yang dehidrasi, wajah bayi yang memiliki garis rahang dan mata yang persis dengan pria yang kini duduk di depannya—pria yang pura-pura tidak mengenalnya.
"Dia... dia anak yang tampan," Catherina menjawab dengan samar, menghindari jawaban tentang kemiripan.
Everest tiba-tiba meletakkan gelasnya ke meja dengan bunyi klunting yang cukup keras. "Stef, kita di sini untuk bisnis, bukan untuk membicarakan urusan domestik orang lain," potong Everest tajam.
Stefhanie mendengus, tidak takut pada kakaknya. "Ayolah, Ev. Kita sudah lama tidak bertemu Cathe. Tidak ada salahnya bertanya tentang bayinya."
Everest akhirnya mengangkat kepalanya. Matanya bertemu dengan mata Catherina. Untuk pertama kalinya malam itu, ada kilatan emosi di sana—bukan cinta, melainkan sesuatu yang menyerupai amarah yang ditekan sedalam mungkin.
"Nama yang bagus," ujar Everest dingin. "Semoga anak itu tidak mewarisi sifat ibunya yang... sulit diprediksi."
Catherina merasa napasnya tertahan. Kata-kata itu adalah serangan langsung. Everest masih mengingat bagaimana Catherina menghancurkan hubungan mereka. Sebelum Catherina sempat membalas, pintu ruangan terbuka.
Adrian masuk bersama Julie. Mereka tampak sedikit terengah-engah, dan Catherina menyadari ada noda lipstik yang sedikit berantakan di sudut bibir Julie—yang segera wanita itu hapus dengan gerakan cepat.
"Anggurnya akan segera datang," ujar Adrian dengan nada riang yang terdengar palsu di telinga Catherina.
Catherina menatap suaminya, lalu beralih ke Julie, dan terakhir ke Everest. Ia berada di sebuah meja makan yang penuh dengan pengkhianatan dan masa lalu yang belum selesai. Adrian dengan asistennya, Everest dengan kebenciannya, dan dirinya sendiri—terjebak dengan rahasia tentang siapa sebenarnya ayah dari bayi yang ia beri nama Liam.
Malam itu, Catherina menyadari satu hal: Everest tidak hanya menganggapnya asing. Everest sedang menghukumnya dengan cara yang paling kejam—dengan berpura-pura bahwa masa empat tahun mereka tidak pernah ada, seolah-olah Catherina hanyalah debu yang tidak sengaja menempel di sepatunya yang mahal.
Namun, di balik sikap dingin itu, Catherina tahu. Jika Liam benar-benar anak Adrian, kenapa Everest tampak begitu terluka saat nama "Liam" diucapkan? Dan jika Liam adalah anak Adrian, kenapa Adrian sendiri seolah ingin membuang mereka berdua?
Pertempuran sesungguhnya baru saja dimulai. Di bawah lampu kristal The Obsidian, Catherina Lawrence bersumpah akan mencari tahu kebenaran tentang darah dagingnya sendiri, meskipun ia harus menghancurkan dua pria paling berkuasa di hidupnya.
🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear😍