Arkan Pemimpin organisasi mafia "The Void". Dingin, efisien, dan tidak mempercayai cinta karena masa lalunya yang kelam. Baginya, wanita adalah kelemahan yang tidak perlu ada di dunianya.
Liana Seorang gadis dari keluarga sederhana yang hangat. Hidupnya hancur saat keluarganya tewas dalam sebuah insiden berdarah. Ia lembut namun memiliki tekad baja untuk membalas dendam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iinayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mahkota Elektronik
Sektor Selatan tidak lagi sunyi. Di atas bunker "The White Bloom", suara tembakan sporadis dan teriakan amuk massa bersahutan dengan raungan sirine manual milik Unit 9.
Namun, di dalam ruangan beton yang lembap itu, Liana berdiri tegak dengan mata yang terus berpendar biru elektrik. Ia tidak lagi menyentuh papan tik; ia hanya menatap udara kosong, jemarinya bergerak halus seolah sedang memetik dawai harpa yang tak terlihat.
"Liana, hentikan! Suhu tubuhmu mencapai 40 derajat!" Arkan mencoba memegang bahu Liana, namun ia merasakan sengatan listrik statis yang cukup kuat untuk membuatnya terpental.
"Aku bisa melihat mereka, Arkan..." suara Liana terdengar berlapis, seperti ada ribuan bisikan yang menyertai setiap katanya.
"Aku melihat setiap unit patroli Varo yang terjebak di kemacetan. Aku melihat kapal selam Hendra yang sedang melakukan pre-heating mesin di Dermaga 7. Aku... aku adalah sistem ini sekarang."
Gideon mendekat dengan wajah pucat, memegang tablet tua yang layarnya terus berkedip.
"Dia meretas seluruh satelit cadangan Sektor Selatan tanpa protokol enkripsi. Arkan, jika dia tidak segera melakukan dumping data, otaknya akan hangus."
Tiba-tiba, Liana mengerang kesakitan. Ia mencengkeram kepalanya dan berlutut. Seluruh lampu di bunker meledak serentak, menyisakan kegelapan yang hanya diterangi oleh pendaran biru dari mata dan pembuluh darah di leher Liana.
"Terlalu banyak... suara mereka... semua akun bank, semua sandi rahasia... mereka berteriak di kepalaku!" rintih Liana.
Arkan memeluk Liana dari belakang, mengabaikan sengatan listrik yang menyiksa kulitnya. "Liana, fokus padaku! Ingat toko bunga itu! Ingat aroma mawar yang kau tanam di halaman belakang! Jangan biarkan kode itu menelanmu!"
Mendengar suara Arkan, pendaran di mata Liana perlahan meredup. Napasnya kembali teratur, meski keringat dingin membanjiri tubuhnya. Ia bersandar lemas di dada Arkan.
Aku harus mengeluarkannya, Arkan," bisik Liana parau. "Jika aku menyimpannya sendiri, aku akan menjadi monster seperti Elena. Aku butuh server fisik yang murni untuk membagi beban ini."
Gideon mengangguk paham. "Ada satu tempat. Menara Penyiaran Pusat di Sektor Tengah. Itu adalah gedung tua peninggalan era analog, tapi memiliki pemancar microwave yang paling kuat di negeri ini. Jika kau bisa menyambungkan sarafmu ke pemancar itu, kau bisa memancarkan 'virus perdamaian'—sebuah perintah shutdown permanen untuk semua senjata pintar milik Unit 9 di seluruh kota."
"Tapi itu adalah wilayah paling dijaga oleh Varo," Arkan berdiri, memeriksa amunisi HK416-nya. "Dia pasti tahu itu satu-satunya tempat bagi Liana untuk melakukan transmisi."
"Maka kita butuh pengalihan," Gideon menyeringai, mengeluarkan sebuah detonator dari sakunya.
"Rakyat Sektor Selatan sudah muak. Mereka hanya butuh percikan api untuk membakar markas besar Unit 9. Aku akan memimpin pemberontakan di gerbang depan, sementara kalian masuk lewat jalur udara."
Pukul 03.00 Pagi.
Langit Sektor Selatan yang gelap tiba-tiba merah membara. Ledakan demi ledakan mengguncang barikade Unit 9 saat ribuan warga yang dipimpin oleh anak buah Gideon menyerbu dengan bom molotov dan peralatan konstruksi. Varo terpaksa menarik sebagian besar pasukannya dari Menara Penyiaran untuk mempertahankan markas besarnya.
Di atas ketinggian 500 meter, sebuah helikopter kargo curian terbang rendah di sela-sela gedung pencakar langit. Arkan berdiri di pintu terbuka, memegang tali fast-rope.
"Siap, Liana?"
Liana mengangguk. Ia mengenakan setelan taktis hitam dengan kabel-kabel yang menjuntai dari pergelangan tangannya.
"Jika aku tidak berhasil kembali dari 'jaringan' itu, Arkan... berjanjilah kau akan menghancurkan menara ini."
"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi," Arkan mencium kening Liana sekilas, lalu mereka meluncur turun ke atap Menara Penyiaran.
Begitu mendarat, mereka disambut oleh sistem pertahanan otomatis menara. Dua senapan mesin otomatis muncul dari balik parabola raksasa. Arkan segera berlindung, namun Liana hanya mengangkat tangannya.
ZAP!
Tanpa melepaskan satu peluru pun, kedua senapan mesin itu berputar arah dan menembak satu sama lain hingga hancur. Liana telah mengambil alih kendali mereka hanya dengan pikirannya.
"Pintu terbuka," ucap Liana datar.
Mereka masuk ke ruang kendali utama. Liana duduk di kursi operator, menyambungkan kabel-kabel dari pergelangan tangannya ke port data utama menara. Tubuhnya seketika menegang saat arus data raksasa mulai mengalir.
Di layar raksasa, progres transmisi global dimulai.
10%... 25%... 40%...
Namun, tiba-tiba sebuah pesan muncul di layar, menutupi semua data.
"Halo, Liana. Kau pikir kau satu-satunya yang bisa menyatu dengan mesin?"
Suara itu milik Varo. Tapi bukan dari pengeras suara. Suara itu muncul dari dalam pikiran Liana sendiri.
Di gerbang ruang kendali, pintu baja meledak. Varo melangkah masuk, namun penampilannya telah berubah. Setengah wajahnya kini ditutupi oleh masker oksigen siber, dan lengan kanannya telah diganti dengan prostetik mekanis yang terhubung langsung ke sistem sarafnya.
"Aku juga telah melakukan upgrade, Arkan," Varo mengangkat lengan mekanisnya, yang seketika berubah menjadi meriam energi kecil. "Selamat datang di era baru. Di mana manusia adalah tuhan, dan tuhan adalah kode."
V
aro melepaskan tembakan energi ke arah Arkan. Arkan melompat menghindar, namun ledakannya menghancurkan konsol di dekat Liana. Transmisi terhenti di angka 60%.
"Jangan ganggu dia, Varo!" Arkan menyerang dengan pisau taktisnya, memulai duel maut di ruang sempit yang penuh dengan percikan api dan kabel-kabel yang menjuntai.
Liana terjebak dalam perang batin. Di dalam alam bawah sadarnya, ia sedang bertarung melawan kecerdasan buatan Phoenix yang mencoba mengambil alih, sementara di dunia nyata, Arkan sedang bertaruh nyawa melindunginya dari monster siber bernama Varo.