(GERHANA SEMBILAN LANGIT SEASON 3)
Setelah menaklukkan Benua Kuno, Han Luo dan Long Tian bertujuan menginjakkan kaki di Cakrawala Suci—pusat dunia kultivasi yang sesungguhnya.
Di benua super-masif ini, kekuatan Jiwa Baru Lahir hanyalah prajurit biasa, dan para dewa Pemutus Roh menguasai langit. Menjadi buronan faksi raksasa akibat kematian Jian Wuji, Han Luo terpaksa menyembunyikan taringnya.
Dan saat rahasia sebenarnya di balik 'Dao Langit' dan Penjara Benua Kuno mulai terkuak, Han Luo bersiap menyalakan api pemberontakan terbesarnya. Di negeri para dewa, gerhana akan membuktikan bahwa ia mampu menelan matahari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kokop Gann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hukum Daratan Utama
Setengah jam kemudian, Leviathan Emas merapat di dermaga luar Kota Gerbang Astral.
Pelabuhan ini luar biasa padat. Ratusan kapal terbang dan kapal laut berlabuh. Ribuan pekerja kasar—sebagian besar dari mereka berada di tingkat Pondasi Puncak atau Inti Emas Awal.
Begitu kapal emas raksasa milik Han Luo merapat, ia langsung menarik perhatian.
Sekelompok pria berzirah merah gelap dengan lambang ular melilit pedang segera berjalan menghampiri dermaga mereka. Mereka adalah Geng Ular Laut, salah satu preman resmi yang mengontrol pajak dermaga luar.
Pemimpin mereka, seorang pria dengan bekas luka bakar di wajahnya yang berada di tingkat Jiwa Baru Lahir Awal, melompat ke geladak Leviathan Emas tanpa izin. Matanya berkilat tamak melihat lapisan emas di lambung kapal.
"Kapal yang bagus," pria itu menyeringai, menatap Han Luo (Xie Yan) yang sedang batuk-batuk dibantu oleh pengawalnya. "Dari mana kalian berasal, tikus darat? Pelabuhan ini punya tarif sandar. Untuk kapal semewah ini... tarifnya seratus ribu Batu Kristal Suci per hari."
Itu adalah pemerasan terang-terangan. Seratus ribu Batu Kristal Suci adalah jumlah yang cukup untuk membeli kapal ini tiga kali lipat.
Long Tian secara refleks memegang gagang pedangnya, siap memotong kepala pria itu.
Namun Han Luo dengan cepat menekan tangan Long Tian.
"Uhuk... uhuk..." Han Luo (Xie Yan) terbatuk darah ke saputangannya, memasang wajah ketakutan dan putus asa yang sangat sempurna. Tubuhnya gemetar.
"T-Tuan... kami tidak punya uang sebanyak itu," Han Luo berbicara dengan nada memelas. "Klan kami baru saja dibantai oleh perompak Laut Hitam. Ini adalah satu-satunya kapal yang tersisa untuk saya melarikan diri. Semua harta kami sudah habis untuk menyuap jalan keluar."
Pria berbekas luka itu tertawa keras. "Kalau begitu, nasibmu sangat buruk, Tuan Muda. Jika kau tidak bisa membayar, kapal ini akan disita oleh Geng Ular Laut sebagai pembayaran hutang. Dan kalian berdua akan dijual sebagai budak tambang untuk melunasinya."
Banyak pasang mata dari kapal lain yang menonton adegan ini. Mereka sudah terbiasa melihat pendatang baru dari benua pinggiran diperas dan dirampok hingga habis di hari pertama mereka.
Di Benua Kuno, Bai Ze akan menghancurkan pria ini menjadi debu hanya dengan tatapan mata.
Tapi di Cakrawala Suci, "Xie Yan" melakukan hal yang membuat Long Tian hampir jantungan.
Han Luo tiba-tiba berlutut.
"Tuan yang mulia!" Han Luo memohon dengan wajah berlinang air mata kepalsuan. "Tolong, ampuni nyawa anjing ini! Saya menderita penyakit kronis, saya tidak akan bertahan sehari di tambang! Jika Anda menginginkan kapal ini, ambillah! Ambillah seluruhnya sebagai hadiah dari saya! Tapi tolong, berikan saya dan pengawal saya dua buah Token Identitas Penduduk Pinggiran agar kami bisa masuk ke kota dan mencari pekerjaan!"
Pria berbekas luka itu tertegun. Para anak buahnya di bawah juga tertawa terbahak-bahak.
Seorang kultivator Inti Emas menyerahkan kapal tingkat Surga secara gratis hanya demi dua keping token identitas kayu yang bernilai kurang dari lima batu roh?! Ini adalah pengecut terbesar yang pernah mereka lihat.
"Hahaha! Tuan Muda yang sangat tahu diri!" Pria itu menepuk kepala Han Luo yang menunduk. "Kau pengecut yang pintar. Baiklah! Karena kau bersedia menyerahkan kapal ini dengan sukarela, aku akan bermurah hati. Ini dua token identitas kelas bawah. Sekarang, ambil anjing bisumu ini dan enyah dari kapalku sebelum aku berubah pikiran!"
Pria itu melemparkan dua keping token kayu murahan ke wajah Han Luo.
Han Luo dengan panik memungut token itu, mengucapkan terima kasih berkali-kali sambil terbatuk, lalu segera menarik lengan Long Tian untuk bergegas turun dari kapal dan berlari menjauh menuju gerbang kota yang kumuh.
Begitu mereka berbelok di ujung jalanan yang gelap, jauh dari pandangan pelabuhan, postur membungkuk dan ketakutan Han Luo menguap tanpa sisa.
Dia merapikan jubahnya dan membersihkan debu dari lututnya. Senyum dingin dan licik yang tak tertandingi kembali terukir di wajahnya.
Long Tian menatap tuannya dengan ekspresi tidak percaya.
"T-Tuan... kenapa Anda memberikan Leviathan Emas pada preman rendahan itu?! Kapal itu adalah kapal pusaka terbaik kita! Anda bahkan berlutut kepadanya?!"
Han Luo membersihkan kotoran di tangannya dengan saputangan, lalu membuang saputangan berdarah palsu itu ke selokan.
"Hei Mian, gunakan otakmu," Han Luo menatap Long Tian. "Kau pikir kapal berlapis emas yang memancarkan aura formasi tingkat tinggi itu adalah aset? Di tempat asing di mana kita tidak punya perlindungan, kapal itu adalah target raksasa di punggung kita."
Han Luo mulai berjalan santai memasuki gang-gang kumuh Kota Gerbang Astral.
"Jika kita melawan dan membunuh mereka tadi, Geng Ular Laut akan memburu kita, dan otoritas pelabuhan akan mendeteksi kekuatan asli kita. Kita akan dikejar-kejar di hari pertama."
"Dengan menyerahkan kapal itu secara 'sukarela' dan berlutut seperti pengecut, kita mencapai tiga hal," Han Luo mengangkat tiga jarinya.
"Satu: Kita mendapatkan Token Identitas resmi yang sah untuk bergerak di kota tanpa dicurigai. Dua: Semua orang di pelabuhan kini menganggap 'Xie Yan' adalah bangsawan jatuh yang penakut, miskin, dan tidak memiliki ancaman apa pun. Penyamaran kita absolut. Dan Tiga..."
Han Luo tersenyum, menepuk Cincin Penyimpanan di jarinya yang tak kasat mata karena sihir penyembunyi.
"Sebelum kita berlabuh, aku sudah menyedot habis seluruh Inti Formasi Utama, meriam spiritual, dan emas murni di dalam lambung kapal itu. Kapal yang kuberikan pada preman idiot tadi tak lebih dari cangkang kayu kosong yang dicat emas. Begitu mereka mencoba membawanya berlayar besok pagi, kapal itu akan tenggelam."
Long Tian ternganga. Dia akhirnya mengerti. Tuannya baru saja membuang sampah, mendapatkan identitas legal, dan menciptakan alibi sempurna hanya dengan modal air mata buaya dan berlutut satu kali.
Kelenturan mental Sang Dalang benar-benar tidak memiliki batas bawah. Selama itu demi kemenangan mutlak, dia bersedia menjadi dewa atau pengemis dalam hitungan detik.
"Selamat datang di Cakrawala Suci, Hei Mian," Han Luo menatap ke arah pusat kota yang dipenuhi menara-menara tinggi yang memancarkan aura mengerikan. "Mari kita mulai mendaki dari selokan ini, dan lihat leher siapa yang akan kita potong pertama kali."