"Turun dari langit bukan untuk jadi Dewi, tapi untuk jadi istrimu!"
Demi kabur dari perjodohan Dewa Matahari, Alurra—bidadari cantik yang sedikit "gesrek"—nekat terjun ke bumi. Bukannya mendarat di istana, ia malah menemukan Nael Gianluca Ryker, pewaris tunggal yang sekarat dan kehilangan suaranya akibat trauma masa lalu.
Bagi Alurra, Nael adalah mangsa sempurna. Tampan, kaya, dan yang paling penting: tidak bisa protes saat dipaksa jadi pangerannya!
Nael yang dingin dan bisu mendadak pusing tujuh keliling. Bagaimana bisa bidadari penyelamatnya justru lebih agresif dari pembunuh bayaran? Ditolak malah makin menempel, diusir malah makin cinta.
Dapatkah sihir bidadari bar-bar ini menyembuhkan luka bisu di hati Nael? Atau justru Nael yang akan menyerah pada "teror" cinta dari langit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: AIR MATA EMAS DAN PENCARIAN DI TENGAH BADAI
Di atas hamparan awan hitam yang bergulung, di sebuah paviliun cahaya yang kini meredup, Alurra bersimpuh dengan bahu yang terguncang hebat. Sayapnya yang dulu megah kini layu, helai-helai bulu cahayanya berguguran menjadi serpihan debu setiap kali ia terisak.
"Kenapa, Nael...?" bisik Alurra, suaranya parau dan nyaris hilang ditelan gemuruh guntur. "Kenapa kau membiarkan tangan manusia itu menyentuh janji kita? Kenapa kau membiarkan dia berada sedekat itu di tempat yang seharusnya hanya milik kita?"
Bayangan Stella yang berdiri anggun di samping Nael terus berputar di benak Alurra seperti pisau yang mengiris inti energinya. Baginya, sentuhan tangan Stella pada kalung itu adalah pengkhianatan terhadap kesucian ikatan mereka. Cahaya di dada Alurra berkedip-kedip tidak stabil, menandakan bahwa ia sedang berada di ambang kepunahan karena patah hati yang teramat dalam.
Tiba-tiba, sesosok bayangan agung muncul di belakangnya. Dewa Matahari berdiri dengan mata yang membara, jubah apinya berkobar mengikuti amarah yang terpancar dari wajahnya yang tampan namun angkuh.
"Cukup, Alurra! Lihat dirimu! Kau adalah Putri Langit, namun kau meratap seperti budak hanya karena seorang manusia bisu yang bahkan tidak bisa menjaga sebuah kalung!" Dewa Matahari mengepalkan tangannya, memicu kilatan petir di angkasa. "Pria itu sudah mengotori kehormatanmu. Biarkan aku turun sekarang dan menghanguskan gedung itu beserta isinya. Akan kupastikan Nael Ryker menjadi debu agar kau bisa melupakannya!"
"Jangan... jangan sakiti dia..." Alurra mendongak, matanya yang sembap menatap Dewa Matahari dengan sayu. "Jika kau membunuhnya, kau juga membunuh sisa cahayaku, Kak."
"Dia membiarkan wanita lain menyentuhmu, Alurra! Dia menyerah!" bentak Dewa Matahari. "Lihatlah ke bawah sana! Lihat betapa lemahnya sauh yang kau banggakan itu!"
Dewa Matahari mengibaskan tangannya, membelah awan hitam untuk memperlihatkan apa yang terjadi di Bumi.
...****************...
DI JALANAN JAKARTA - BAWAH HUJAN BADAI
Di bawah sana, Jakarta sedang dilanda kiamat kecil. Hujan turun begitu deras hingga jarak pandang hanya beberapa meter. Di tengah aspal yang banjir dan deru mobil yang saling membunyikan klakson, sesosok pria berlari seperti orang gila.
Itu Nael. Tanpa jas, hanya dengan kemeja putih yang kini basah kuyup dan menempel di tubuhnya yang menggigil. Ia berlutut di tengah jalan, mengabaikan makian para pengemudi dan cipratan air kotor dari ban mobil.
"Di mana... di mana...?" suara Nael keluar dalam rintihan yang menyakitkan.
Ia merangkak di aspal, jemarinya yang berdarah karena tergores kerikil tajam meraba-raba setiap celah selokan di bawah gedung Ryker Group. Ia tidak peduli pada petir yang menyambar tepat di atas kepalanya. Ia tidak peduli jika ia tertabrak kendaraan. Baginya, jika akar perak itu tidak ditemukan, dunianya sudah berakhir.
"NAEL! KELUAR DARI JALANAN! KAU BISA MATI!" teriak asistennya, Bram, yang mengejarnya dengan payung yang langsung hancur tertiup angin.
Nael tidak menoleh. Ia terus merangkak, wajahnya tertunduk menatap air yang mengalir deras ke selokan. "Alurra... jangan pergi... maafkan aku... aku tidak membiarkannya... dia merebutnya..."
Setiap kata yang keluar dari mulut Nael adalah perjuangan melawan rasa sakit di tenggorokannya yang kembali meradang.
...****************...
KEMBALI KE LANGIT
Alurra terpaku menatap pemandangan di bawah sana. Ia melihat Nael yang biasanya rapi dan angkuh, kini tampak seperti gelandangan yang hancur. Ia melihat Nael membenamkan tangannya ke dalam lubang selokan yang gelap dan kotor, mencari sebuah benda kecil yang mungkin sudah hanyut.
"Dia... dia mencarinya?" isak Alurra, tangannya menyentuh permukaan awan yang menjadi cermin itu. "Nael... kenapa kau sebodoh itu? Kau bisa mati tersambar petir..."
Dewa Matahari mendengus, tangannya yang sudah siap melepaskan tombak api sedikit melonggar. "Manusia bodoh. Dia benar-benar mencari benda sampah itu di tengah badai begini? Dia tidak tahu bahwa perak itu tidak akan bersinar lagi jika sudah menyentuh air bumi yang kotor."
"Dia tidak mencari peraknya, Kak," bisik Alurra, sebuah senyum tipis yang pedih muncul di bibirnya. "Dia sedang mencari hatiku yang dia rasa ikut jatuh bersamanya."
Alurra melihat Nael tiba-tiba berhenti merangkak. Pria itu terpaku di depan sebuah lubang drainase besar. Cahaya dari lampu mobil yang lewat memperlihatkan kilatan perak kecil yang terjepit di antara jeruji besi selokan.
Nael menjerit tanpa suara—sebuah teriakan kelegaan yang luar biasa. Ia memasukkan tangannya ke dalam celah sempit itu, mengabaikan kulitnya yang terkelupas karena gesekan besi berkarat.
"Dapat..." Nael memegang kalung itu, mendekapnya ke dadanya yang sesak. Ia menangis tersedu-sedu di tengah guyuran hujan, bersujud di aspal sambil mengangkat kalung itu tinggi-tinggi ke arah langit yang gelap, seolah ingin menunjukkan pada Alurra bahwa janjinya masih ada.
"Alurra! Aku menemukannya! Lihat! Aku tidak membuangnya!" teriak Nael ke arah langit, suaranya tenggelam oleh gelegar guntur, namun getaran hatinya sampai ke telinga Alurra.
Di langit, Alurra menutup mulutnya dengan tangan. Air mata emasnya kini mengalir lebih deras, namun bukan lagi karena cemburu, melainkan karena rasa haru yang melampaui logika dewa.
"Ayah... Kakak..." Alurra menoleh ke arah Dewa Matahari dan Dewa Langit yang kini terdiam menyaksikan pemandangan itu. "Lihatlah manusia itu. Dia merangkak di lumpur hanya untuk memegang sepotong janji dariku. Tidakkah kalian lihat bahwa dia lebih tulus daripada semua cahaya yang kalian miliki?"
Dewa Matahari membuang muka, ia menurunkan tangannya. "Keberanian yang sia-sia... tapi aku harus mengakui, dia punya nyali untuk menantang badai demi seorang wanita."
Alurra berdiri dengan sisa tenaganya. Pendar emas di tubuhnya yang tadi meredup, kini kembali menyala perlahan. Resonansi itu kembali. Lemah, namun ada.
"Nael... tunggu aku," bisik Alurra, ia menempelkan tangannya di atas pilar cahaya yang menghubungkan Langit dan Bumi. "Aku akan turun. Sekalipun aku harus kehilangan seluruh sayapku, aku akan menjemputmu di tengah hujan itu."
Langit yang tadinya murka mendadak melunak. Hujan badai di Jakarta mulai berganti menjadi gerimis halus yang hangat, seolah-olah alam semesta sedang memberikan jalan bagi sang bidadari untuk kembali menemui sauh takdirnya.
...****************...
aku suka namanya Nael ....