Malam sebelum pernikahan yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan Ambar berubah menjadi mimpi buruk saat ia memergoki Jayden, calon suaminya, berkhianat dengan Gea, adik tirinya sendiri. Alih-alih mendapat pembelaan, Ambar justru diusir dalam kehinaan oleh ayahnya yang menganggapnya "wanita kuno" dan tidak becus menjaga pria.
Di titik nadir kehidupannya, di atas sebuah jembatan kelam, Ambar bertemu dengan Baskara Mahendra, seorang pria di kursi roda yang nyaris mengakhiri hidup karena merasa tak berharga. Dalam sisa-sisa harga diri yang hancur, Ambar menawarkan sebuah kesepakatan nekat: sebuah pernikahan kontrak untuk saling menyelamatkan.
Ambar tidak tahu bahwa pria lumpuh yang ia selamatkan adalah penguasa tunggal keluarga Mahendra yang sangat disegani. Kini, tepat di jam yang sama saat mantan kekasih dan adiknya merayakan pesta mereka, Ambar siap kembali—bukan sebagai korban, melainkan sebagai istri dari pria yang kekuasaannya mampu meruntuhkan segalanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Sinar matahari pagi mulai menyeruak masuk melalui celah gorden kamar utama yang megah.
Ambar terbangun lebih awal, tubuhnya terasa jauh lebih segar meskipun hatinya masih menyimpan luka yang dalam.
Ia melirik ke samping; Baskara masih terlelap, wajah tegasnya tampak tenang dalam keheningan pagi.
Tanpa suara, Ambar turun dari ranjang dan melangkah keluar kamar.
Ia tidak ingin hanya berdiam diri sebagai pajangan di rumah ini.
Kakinya melangkah menuju dapur luas yang terletak di sayap belakang rumah.
Begitu Ambar menginjakkan kaki di area dapur, beberapa pelayan yang sedang sibuk membersihkan lantai dan menata peralatan makan seketika berhenti.
Mereka serentak menundukkan kepala dengan sangat dalam.
"Selamat pagi, Nyonya Mahendra," sapa mereka hampir bersamaan, suara mereka penuh dengan rasa hormat yang tulus—sesuatu yang tidak pernah Ambar rasakan di rumah ayahnya sendiri.
Ambar tersenyum tipis, merasa sedikit canggung namun juga tersentuh.
"Selamat pagi. Lanjutkan saja pekerjaan kalian."
Di bagian tengah dapur yang beraroma sedap, Gabby tampak sedang sibuk di depan kompor, menyiapkan menu sarapan yang berkelas. Ia menoleh saat mendengar langkah kaki Ambar.
"Nyonya? Anda sudah bangun sepagi ini?" tanya Gabby dengan nada terkejut namun tetap sopan.
"Harusnya Anda beristirahat, tim penata rias akan datang dua jam lagi."
"Aku sudah cukup istirahat, Gabby," jawab Ambar lembut. Ia melangkah mendekati konter dapur.
"Aku ingin menyiapkan sesuatu untuk suamiku. Apakah ada jahe dan susu?"
Gabby segera menyiapkan bahan-bahannya. Dengan telaten, Ambar mulai mengiris jahe, merebusnya, dan mencampurkannya dengan susu hangat.
Ia ingat bagaimana semalam tangan Baskara terasa begitu dingin.
Ia ingin memberikan kehangatan kecil untuk pria yang telah memberinya perlindungan itu.
"Tuan Baskara biasanya hanya minum kopi hitam tanpa gula, Nyonya," celetuk Gabby sambil terus mengaduk masakan.
"Tapi saya yakin, susu jahe buatan Anda akan terasa jauh lebih istimewa baginya."
Ambar hanya tersenyum kecil. Sambil mengaduk susu di dalam panci kecil, ia menatap ke luar jendela dapur yang menghadap ke taman.
Hari ini adalah hari resepsi besar itu. Hari di mana ia akan bertemu kembali dengan orang-orang yang telah menginjak-injak harga dirinya.
"Gabby," panggil Ambar tanpa menoleh.
"Iya, Nyonya?"
"Apakah undangan untuk keluarga Wijaya sudah dipastikan sampai ke tangan mereka?"
Gabby tersenyum penuh arti. "Sudah, Nona. Tuan Muda sendiri yang memastikan mereka mendapatkan kursi di barisan depan. Beliau bilang, penonton harus duduk di tempat yang paling jelas untuk melihat pertunjukan utamanya."
Ambar mengangguk pelan. Susu jahe itu sudah siap.
Ia menuangkannya ke dalam cangkir porselen yang cantik, bersiap membawanya kembali ke kamar untuk menyambut suaminya yang mungkin sebentar lagi akan terbangun.
Ambar melangkah masuk ke dalam kamar utama dengan gerakan yang sangat hati-hati.
Aroma jahe yang segar dan uap hangat dari cangkir porselen di tangannya seolah membawa suasana baru ke dalam ruangan yang biasanya terasa dingin dan kaku itu.
Ia mendekati ranjang besar tempat suaminya masih berbaring.
"Tuan Baskara, selamat pagi," sapa Ambar lembut.
Baskara perlahan membuka matanya. Sinar matahari yang menembus gorden membuat pria itu mengerjap sejenak, sebelum pandangannya terkunci pada sosok Ambar yang berdiri di sisi tempat tidur.
Sebuah senyum tipis yang jarang terlihat muncul di wajahnya.
"Selamat pagi, istriku," jawab Baskara dengan suara bariton yang masih serak khas orang bangun tidur. Ia menatap Ambar dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Aku hampir lupa kalau aku sudah menikah. Aku kira tadi ada bidadari yang salah masuk kamar," ucap Baskara dengan nada bergurau yang membuat pipi Ambar sedikit merona.
Ambar berdehem pelan, mencoba menyembunyikan kegugupannya.
Ia menyodorkan cangkir yang dibawanya. "Tuan, ini susu jahe hangat. Tuan mau minum dulu atau saya antar ke kamar mandi?"
Baskara terdiam sejenak, matanya menatap cangkir itu lalu beralih kembali ke wajah Ambar.
"Ambar, panggil namaku saja. Jangan pakai 'Tuan'. Kita ini suami istri, bukan majikan dan pelayan," ucap Baskara dengan nada yang lebih tegas namun hangat.
Ambar tertegun, lalu menganggukkan kepalanya pelan.
"Baik, Baskara."
Baskara tampak puas mendengar namanya disebut oleh wanita itu. Namun, matanya kemudian mencari-cari sesuatu di atas nakas.
"Kopiku mana? Biasanya Gabby langsung membawakan kopi hitam ke sini."
Ambar menggeleng pelan, meletakkan susu jahe itu tepat di depan Baskara.
"Jangan minum kopi saat perut kosong. Itu tidak baik untuk lambungmu. Minum ini dulu, jahenya akan menghangatkan tubuhmu."
Baskara menaikkan sebelah alisnya, menatap susu putih kecokelatan itu dengan sangsi.
Selama bertahun-tahun, tidak ada yang berani melarangnya minum kopi di pagi hari, bahkan Gabby sekalipun.
"Ternyata seperti ini ya punya istri," gumam Baskara.
Tiba-tiba, tawa pria itu pecah. Baskara tertawa terbahak-bahak, suara tawanya menggema memenuhi kamar luas tersebut.
"Baru satu malam menikah, aku sudah punya 'polisi' kesehatan di kamarku sendiri."
Ambar hanya bisa terdiam melihat suaminya tertawa lepas.
Ada rasa hangat yang menjalar di hatinya melihat pria yang semalam ingin mengakhiri hidup itu kini bisa tertawa seperti ini.
"Baiklah, Istriku," ucap Baskara setelah tawanya mereda, ia meraih cangkir itu dan menyesapnya perlahan.
"Aku akan minum susu jahe ini. Setelah itu, bantu aku bersiap. Hari ini adalah hari besar kita, dan aku ingin duniaku tahu siapa wanita hebat yang berani mengatur kesehatan Baskara Mahendra."
Cangkir susu jahe itu kini kosong, meninggalkan kehangatan yang menjalar di tubuh Baskara.
Dengan gerakan lembut namun pasti, Ambar membantu suaminya bergeser dari ranjang ke kursi roda.
Tidak ada keluhan, tidak ada raut wajah jijik; yang ada hanyalah ketulusan yang membuat Baskara terus memperhatikan gerak-gerik istrinya.
Ambar mendorong kursi roda itu masuk ke dalam kamar mandi mewah yang luasnya hampir menyamai kamar tidur.
Uap air hangat mulai memenuhi ruangan, menciptakan suasana yang intim dan tenang.
Dengan sisa tenaganya, Ambar membantu Baskara berpindah ke dalam bathtub yang sudah terisi air hangat dengan aroma sandalwood.
Baskara menyandarkan kepalanya di tepian porselen yang dingin, menatap langit-langit sejenak sebelum pandangannya jatuh pada Ambar yang kini berlutut di samping bathtub.
"Apakah kamu sudah mulai lelah bersama suamimu yang lumpuh ini, Ambar?" tanya Baskara tiba-tiba. Suaranya rendah, nyaris berbisik, seolah sedang menguji ketahanan hati wanita di depannya.
Ambar tertegun sejenak. Tangannya yang sedang meraih spons mandi terhenti di udara.
Ia menatap mata Baskara, lalu menggelengkan kepalanya perlahan namun mantap.
"Tidak, Baskara. Lumpuh bukan berarti mati. Aku justru melihat kekuatan yang tidak dimiliki pria-pria yang bisa berjalan tegak di luar sana," jawab Ambar tenang.
Ambar mulai membasahi punggung suaminya yang lebar dengan air hangat.
Ia menuangkan sabun cair beraroma maskulin, lalu mulai menyabuni dan memijat punggung Baskara dengan gerakan memutar yang rileks.
Baskara memejamkan matanya, menikmati sentuhan tangan Ambar yang terasa begitu nyata.
"Dulu, semuanya sangat berbeda," gumam Baskara memulai ceritanya.
"Aku adalah singa di dunia bisnis. Begitu gagah, begitu banyak wanita yang memuja dan memperebutkan perhatianku. Klien-klien besar akan mengantre hanya untuk bersalaman denganku. Aku merasa dunia ada di genggamanku."
Suaranya mendadak berubah getir. "Lalu kecelakaan itu terjadi. Dalam semalam, puja-puji itu berubah menjadi tatapan iba, atau yang lebih buruk, tatapan jijik. Mereka yang dulu memujaku, pergi satu per satu seolah aku adalah penyakit menular."
Ambar terus memijat punggung suaminya, mendengarkan setiap patah kata dengan penuh empati.
"Aku juga merasakannya, Baskara," sahut Ambar pelan.
"Dulu aku adalah putri kebanggaan keluarga Wijaya. Aku melakukan segalanya untuk menyenangkan mereka. Tapi saat Jayden dan Gea berkhianat, mereka membuangku seperti sampah yang tidak berharga hanya karena aku dianggap 'kuno' dan tidak lagi menguntungkan bagi bisnis mereka."
Ambar menuangkan air untuk membilas busa di punggung Baskara.
"Kita berdua adalah orang-orang yang dibuang oleh dunia yang kita cintai. Tapi lihatlah kita sekarang, kita masih bernapas."
Baskara memutar kepalanya sedikit, menatap Ambar yang kini wajahnya lembap karena uap air.
"Mungkin itu sebabnya Tuhan mempertemukan kita di jembatan itu, Ambar. Dua orang hancur yang mencoba membangun benteng baru."
Tangan Ambar berpindah ke bahu Baskara, meremasnya pelan untuk menghilangkan ketegangan.
Di dalam kamar mandi itu, di tengah uap air dan aroma sabun, dinding pertahanan yang mereka bangun masing-masing mulai runtuh, digantikan oleh ikatan batin yang lebih kuat dari sekadar kontrak kertas.