Di balik kelembutan sikap sang suami, ternyata ia menyimpan sejuta duri...
Rengganis tidak pernah menyangka jika di hari ulang tahun pernikahan yang ke sepuluh, ia akan mendapatkan sebuah kado yang sangat spesial. Kado yang menjadi awal petunjuk bahwa ada banyak dusta yang disembunyikan oleh sang suami.
Berawal dari sebuah foto USG yang ia temukan di dalam saku kemeja sang suami, Rengganis berhasil membuka sebuah rahasia yang selama ini disembunyikan. Satu rahasia bahwa ternyata sang suami diam-diam telah menikah sirri dengan wanita lain.
Lantas, jalan apakah yang akan diambil oleh Rengganis di saat pernikahannya sudah dipenuhi dusta oleh sang suami? Apakah ia akan tetap mempertahankan pernikahannya dengan menerima wanita lain untuk menjadi madunya? Atau apakah ia akan mengakhiri biduk rumah tangganya yang sudah berlayar sepuluh tahun dengan melepaskan sang suami?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laviolla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anniv 22. Sebuah Rencana (Jahat)
"Haaahhh... Ternyata udara di Jogja enak juga Din. Sepertinya Mama betah berlama-lama tinggal di sini."
Di sebuah balkon kamar hotel bintang lima, Rika menikmati udara kota Jogja di pagi hari ini. Langit terlihat cerah sehingga dari tempatnya berdiri saat ini, ia bisa melihat gagahnya gunung Merapi yang dihiasi awan tipis di puncaknya.
"Ya, aku sependapat sama Mama. Di sini entah mengapa aku jauh lebih merasa tenang dan damai. Bahkan bukan hanya itu saja. Aku merasa pergerakanku begitu leluasa. Mau ke mana saja bisa. Apalagi aku yang punya hobi shopping, tinggal pilih mall mana yang mau aku masukin."
Dinda menyesap susu hangat yang sudah tersaji di hadapannya. Melihat suasana kota Jogja dengan landscape gunung Merapi yang menjulang tinggi, sungguh menjadi mood booster tersendiri bagi Dinda setelah semalam ia uring-uringan melihat sang suami yang lebih memilih untuk bermalam bersama istri pertamanya. Beruntung, Rika langsung bergerak cepat menyusul sang anak. Sehingga emosi Dinda semalam sedikit teredam.
"Din...," panggil Rika.
"Apa Ma?"
Rika menggeser tubuhnya untuk bisa lebih dekat dengan sang anak. Wanita paruh baya itu duduk di sebuah sofa yang ada di sana.
"Apa tidak sebaiknya kamu minta jatah warisan di Jogja saja? Mama rasa jauh lebih enak tinggal di sini daripada di Magelang."
"Betul sih apa kata Mama. Tapi rumah yang ada di Magelang aku rasa jauh lebih bagus kok Ma. Meskipun tidak sebesar yang di sini, tapi desainnya lebih modern yang di Magelang."
"Tapi untuk lingkungan dan suasana jauh lebih enak di sini Din. Serius deh, mending kamu minta jatah warisan di Jogja," ucap Rika membujuk. Wanita itu sepertinya sangat ingin tinggal di kota ini.
"Tenang saja Ma, itu semua bisa diatur," jawab Dinda dengan santai.
"Bisa diatur? Maksudmu bagaimana Din?"
"Nanti kalau rumah yang ada di Magelang sudah sah menjadi milikku, bisa kita jual Ma. Nah, hasil jual rumah itu bisa kita belikan di sini. Gampang kan?" ujar Dinda dengan seribu angan-angannya. "Yang penting saat ini rumah itu bisa jadi milikku terlebih dahulu. Baru kita pikirkan yang lain."
"Hhhmmmmm... Lagipula Krisna kenapa lama sekali sih mengurus balik nama sertifikat rumah itu? Apa lagi yang ia tunggu. Toh sebentar lagi anaknya juga akan lahir," keluh Rika dengan bibir mencebik.
"Sabar dan tenang Ma. Yang terpenting saat ini di keluarga mas Krisna, aku yang menjadi primadonanya. Terlebih mama mertua, dia terlihat sayang banget sama aku, jadi apapun yang aku minta pasti dituruti," ucap Dinda bangga pada dirinya sendiri.
Rona kebahagiaan muncul di wajah Rika. Mendengar Dinda bercerita bahwa sang mertua begitu menyayanginya seakan menjadi angin segar dan angin surga baginya.
"Kalau begitu bisa kamu gunakan kesempatan ini Din. Kesempatan untuk meminta apapun. Minta perhiasan, berlian, mobil dan semua yang bisa mengangkat status sosial kita."
"Itu sudah pasti Ma. Aku udah capek hidup dalam kemiskinan. Kemiskinan yang ada pada keluarga kita seperti mimpi buruk yang tak ingin lagi aku peluk."
"Hhhmmmm, Mama juga sudah tidak sabar melihatmu mendapatkan harta warisan dari Krisna, Din. Pokoknya kehamilanmu ini merupakan berkat untuk kita Din."
Dinda hanya tersenyum miring mendengar ucapan Rika. Entah apa yang ada di dalam benak wanita itu, nampaknya ada sejuta rahasia yang ia simpan.
"Oh iya, kapan Krisna akan menyusulmu kemari Din?" tanya Rika yang seketika membuyarkan lamunan Dinda.
Dinda mengendikkan bahu. "Entahlah Ma, aku tidak tahu. Mungkin selama aku tinggal di hotel mas Krisna akan menghabiskan hari-harinya bersama mbak Ganis. Jadi ya biarkan saja lah."
"Memang istri pertama suamimu itu benar-benar mandul ya Din?"
"Aku tidak begitu tahu Ma, tapi yang jelas saat ini mbak Ganis kembali menjalani promil setelah lima tahun berhenti."
"Oh ya? Pantang menyerah juga ya istri pertama suamimu itu," ucap Rika sedikit takjub. "Tapi kamu harus hati-hati Din. Siapa tahu promilnya kali ini berhasil," sambungnya pula.
"Mau berhasil atau tidak, bukan masalah bagiku Ma. Karena itu semua tidak akan berpengaruh apapun untuk Mama mertuaku. Katanya kasih sayang yang dia punya sudah tercurahkan semua untuk anakku."
Rika berdecak pelan. Sejatinya untuk perkara ini bukan tentang sang besan yang sudah menyayanginya dengan penuh.
"Itu mertuamu Din. Lantas untuk suamimu bagaimana?" tanya Rika.
Dahi Dinda berkerut. "Maksud Mama apa?"
"Ingat, suamimu menikahi Ganis karena rasa cintanya yang begitu besar. Jika sampai Ganis berhasil hamil, apa tidak semakin menambah rasa cinta Krisna ke Ganis? Bagaimanapun juga sudah sepuluh tahun mereka berumah tangga. Mama rasa kamu justru bisa kehilangan perhatian dari suamimu."
Dinda terdiam. Mencoba mencerna kata demi kata yang keluar dari bibir sang Mama. Semakin dicerna, semua yang diucapkan oleh Rika memang terdengar masuk akal. Jika sampai Ganis berhasil pada promilnya kali ini, tidak menutup kemungkinan jika sang suami akan semakin cinta dan akhirnya melupakan keberadaannya.
"Jadi, menurut Mama apa yang harus aku lakukan?"
Rika nampak sejenak berpikir, hingga pada akhirnya senyum seringai muncul di bibirnya. "Bagaimana kalau kamu beli obat yang bisa melancarkan haid Din?"
"Obat pelancar haid? Untuk apa Ma?"
"Ya jelas untuk menggagalkan promil istri pertama Krisna."
"Mama serius dengan rencana itu? Apa tidak berbahaya?" tanya Dinda sedikit ragu.
"Membahayakan apa Din? Itu loh hanya sekedar obat pelancar haid, jadi tidak memiliki efek samping apapun. Efek sampingnya ya Ganis tidak akan hamil."
"Lalu aku bisa mendapatkan obat itu di mana Ma?"
"Di toko online juga banyak, Din. Nanti biar Mama yang checkout."
Dinda hanya manggut-manggut saja dengan apa yang menjadi rencana Rika. Untuk kali ini ia menyerahkan penuh rencana itu kepada sang mama, mengingat jika sampai Ganis hamil akan menjadi ancaman bagi keberlangsungan hidupnya.
Aku tidak mau tersisih dan terabaikan. Pokoknya aku mau selamanya hanya aku yang menjadi pemeran utamanya. Baik mas Krisna ataupun mama mertua, seluruh perhatian dan kasih sayangnya hanya boleh tercurah untukku dan untuk anakku.
***
"Mau berangkat ke toko kue Nis?"
Langkah kaki Ganis terhenti kala disapa oleh sang mertua yang berada di depan kamar utama. Sejenak, Ganis melongok ke arah dalam dan terlihat sudah ada beberapa orang yang ada di sana. Orang-orang yang akan merenovasi total bekas kamar yang pernah ia tempati bersama sang suami.
"Iya Ma, aku mau ke toko kue. Kenapa? Mama mau ikut kah?" ucap Ganis menawarkan. "Barangkali Mama mau melihat proses produksi di toko kue milikku?"
Puspa membuang napas kasar. "Haaah... Males Nis. Mending aku di rumah saja, melihat progres renovasi kamar calon cucuku."
"Oohhh ya sudah kalau begitu, Ma. Aku berangkat dulu ya," ujar Ganis dengan santai. Wanita itu mulai untuk kembali melangkahkan kaki.
"Nis, tunggu!"
Lagi, langkah kaki Ganis terhenti. "Apa lagi Ma?"
"Memang kamu tidak iri melihat kamar Dinda yang aku renovasi total seperti ini?" tanya Puspa begitu penasaran.
"Iri?" tanya balik Ganis. "Apa yang harus aku irikan Ma?"
"Ya melihat aku begitu antusias mempersiapkan ini semua untuk calon cucu pertamaku?"
Ganis tergelak lirih. "Tidak ada yang harus aku irikan. Aku sebagai wanita berdaya, dengan memiliki usaha kecil-kecilan. Aku sebagai istri mas Krisna sudah menemani perjalanan hidup suamiku selama sepuluh tahun yang pastinya sudah banyak makan asam garam kehidupan. Aku sebagai partner hidup mas Krisna, selalu aku support keuangan mas Krisna saat awal-awal mas Krisna membangun kembali bisnis orang tuanya. Jadi, apa yang harus aku irikan?"
Puspa terhenyak. Tidak ia sangka jika sang menantu bisa memberikan satu jawaban yang membungkam mulutnya.
Ganis tersenyum miring. "Jika dibandingkan dengan aku, menantu kesayangan Mama itu belum ada apa-apanya. Hanya perkara menantu kesayangan Mama itu bisa hamil lebih dulu, tidak lantas bisa menggeser value-ku sebagai seorang wanita dan istri mas Krisna yang sudah sepuluh tahun menemani."
Mulut Puspa semakin terbungkam mendengar jawaban Ganis. Ia yang berniat memanas-manasi hati sang menantu, justru yang terjadi adalah sebaliknya. Hatinya yang panas karena melihat ketangguhan sang menantu.
Ganis yang sudah berjalan beberapa langkah, seketika ia hentikan langkah kakinya. Ia sedikit berbalik punggung dan tersenyum tipis ke arah Puspa.
"Mungkin mulai saat ini bisa Mama ajarkan menantu kesayangan Mama itu untuk bisa berdaya dengan tumpuan kakinya sendiri. Tidak hanya bisa ongkang-ongkang kaki, berlagak seperti nyonya besar, padahal sesungguhnya dia tidak lebih dari sekedar wanita penggoda yang merusak rumah tangga orang."
.
.