NovelToon NovelToon
Kisah Cinta: Daisy Dan Tuan Jenderal

Kisah Cinta: Daisy Dan Tuan Jenderal

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Daisy, seorang wanita muda berusia dua puluh tiga tahun dengan paras bak boneka, adalah sosok jenius di balik lagu-lagu hits global dan komik-komik legendaris yang merajai dunia. Meski hidup dalam kemewahan sebagai kerabat dekat Sang Raja, ia memilih tetap rendah hati. Namun, kebebasannya terusik saat kepulangannya dari Oxford disambut dengan berita perjodohan. Ia harus menikah dengan Matthew von Eisenberg, seorang Duke sekaligus Jenderal Agung berusia dua puluh enam tahun yang kaku dan dingin. Di balik kemegahan pernikahan mereka, ada dinding es yang tinggi. Enam bulan pertama berlalu dengan keheningan, hingga sebuah tugas negara memaksa Matthew pergi ke medan perang selama dua tahun, meninggalkan pernikahan yang bahkan belum sempat dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Sandiwara di Balik Jamuan

Pagi itu, ketenangan dingin di Glanzwald pecah oleh suara deru iring-iringan mobil mewah yang berhenti tepat di depan tangga porselen paviliun utama. Tanpa pemberitahuan sebelumnya, Duchess Helena—ibu Matthew—dan Sang Matriark Eisenberg, Nenek Matthew yang terkenal bertangan besi, turun dari mobil dengan keanggunan yang mengintimidasi.

Matthew, yang sedang berada di ruang kerjanya, langsung berdiri tegak saat mendengar laporan pelayan. Ia merapikan seragamnya, mengancingkan kerah tingginya hingga rapat, dan melangkah keluar dengan wajah kaku seperti patung.

Di aula utama, Daisy sudah berdiri menunggu. Ia mengenakan gaun sutra berwarna biru pucat yang sangat sopan. Wajahnya tenang, namun matanya yang cokelat madu menatap Matthew dengan kilatan peringatan: Jangan coba-coba mengacaukan sandiwara ini.

"Matthew, Daisy," Helena menyapa dengan senyum tipis, menyodorkan tangannya untuk dicium oleh putra dan menantunya.

Matthew membungkuk kaku, mencium punggung tangan ibunya, lalu melakukan hal yang sama pada neneknya. "Selamat datang kembali di Glanzwald, Ibu, Nenek. Saya harap perjalanan Anda tidak terlalu melelahkan."

"Kau ini," gumam Sang Nenek sambil menatap Matthew dari balik kacamata emasnya. Matanya kemudian beralih ke Daisy. "Dan menantuku yang cantik... Daisy, kemarilah."

Daisy tersenyum manis—senyum palsu yang ia latih khusus untuk acara sosial. "Senang melihat Anda berdua sehat, Nenek, Ibu. Saya sudah meminta pelayan menyiapkan teh terbaik di beranda belakang."

"Bagus sekali. Kami merindukan suasana hutan ini. Dan tentu saja, kami merindukan melihat kemesraan kalian setelah dua tahun berpisah, dan maafkan kami baru berkunjung lagi sekarang," ujar Helena sambil melirik Matthew dengan penuh arti.

Di beranda belakang yang menghadap ke sungai, suasana terasa mencekam di bawah permukaan yang tenang. Matthew duduk di samping Daisy, bahunya bersentuhan dengan bahu istrinya. Ia bisa merasakan aroma parfum bunga bakung Daisy yang lembut, dan jantungnya berdegup kencang karena kedekatan fisik yang sudah lama tidak ia rasakan.

"Jadi, Matthew," Sang Nenek memulai sambil menyesap tehnya. "Bagaimana perjalananmu selama dua tahun ini? Dan selama kau datang, kau memperlakukan Daisy dengan baik kan?"

Matthew berdehem, wajahnya tetap datar namun telinganya sedikit memerah. "Saya menjalankan kewajiban saya sebagai suami dengan sebaik-baiknya, Nenek. Daisy adalah prioritas utama bagi saya."

Daisy hampir tersedak tehnya mendengar kata prioritas. Ia melirik Matthew dengan tatapan tajam, namun Matthew justru mengambil kesempatan itu. Di bawah meja yang tertutup taplak renda putih, Matthew meraih tangan Daisy dan menggenggamnya erat.

Daisy tersentak, mencoba menarik tangannya, namun Matthew mempererat genggamannya hingga buku-buku jarinya memutih. Ini adalah genggaman yang posesif, seolah Matthew sedang berkata: Jangan berani-berani melepaskannya di depan mereka.

"Benarkah begitu, Daisy?" Tanya Helena dengan mata berbinar. "Ibu perhatikan kalian berdua tampak sedikit... berjarak tadi di aula."

Daisy memaksakan senyum, meski tangannya di bawah meja terasa sakit karena remasan Matthew. "Tentu saja tidak, Ibu. Jenderal memang sangat formal, bahkan saat kami hanya berdua. Saya rasa itu adalah bagian dari pesonanya yang... unik."

Matthew menoleh ke arah Daisy, matanya yang dark blue menatapnya dengan intensitas yang dalam. "Saya rasa Daisy hanya malu untuk mengakuinya, Ibu. Dia lebih suka menunjukkan perasaannya saat tidak ada orang lain yang melihat."

Matthew kemudian mengangkat tangan Daisy yang ia genggam ke atas meja, lalu mencium punggung tangan istrinya itu dengan sangat lama di depan Ibu dan Neneknya. Itu adalah ciuman yang penuh dengan provokasi.

Daisy menatap Matthew seolah suaminya itu baru saja menumbuhkan kepala kedua. Berani-beraninya dia! Batin Daisy geram. Di mata Ibu dan Neneknya, itu tampak seperti adegan romantis, tapi bagi Daisy, itu adalah taktik militer untuk mengklaim wilayah.

"Oh, lihatlah mereka," Helena berbisik pada Sang Nenek. "Matthew sepertinya sudah jauh lebih dewasa sekarang."

Namun, Sang Nenek tetap menatap mereka dengan curiga. "Matthew, bicaralah lebih lembut pada istrimu. Jangan gunakan nada bicara seperti sedang memberi perintah pada batalion. Kalau sedang bersama Daisy, bukan sedang di medan perang."

Matthew menegakkan punggungnya. "Saya mengerti, Nenek. Saya akan menyesuaikan nada bicara saya sesuai dengan protokol rumah tangga."

Daisy hampir ingin tertawa sinis. Protokol rumah tangga? Pria ini benar-benar tidak tertolong, pikirnya. Daisy kemudian memutuskan untuk membalas permainan Matthew. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Matthew yang keras dan bidang, membuat Matthew sedikit menegang karena terkejut.

"Jenderal memang sangat memperhatikan protokol," ucap Daisy dengan suara yang dibuat semanis mungkin. "Bahkan semalam, dia sangat memperhatikan kesehatan saya sampai-sampai dia harus menggendong saya ke ruang makan. Bukankah begitu, Jenderal?"

Daisy memberikan penekanan tajam pada kata "Jenderal", mengingatkan Matthew bahwa dia masih marah soal kejadian "karung beras".

Matthew melirik Daisy, menyadari bahwa istrinya sedang menyindirnya habis-habisan di depan keluarganya. Namun, ia justru merangkul pinggang Daisy, menarik tubuh mungil itu agar semakin menempel padanya.

"Itu karena Saya tidak ingin Anda jatuh sakit, Daisy," sahut Matthew dengan suara rendah yang terdengar seperti geraman di telinga Daisy. "Kesehatan Anda adalah aset terpenting dalam keluarga ini."

Aset? Daisy merasa ingin mencubit pinggang Matthew saat itu juga. Pria ini benar-benar tidak tahu cara menggunakan kata-kata romantis. Bagi Matthew, semuanya adalah "aset", "protokol", dan "prioritas".

Jamuan teh itu berlanjut dengan percakapan formal yang membosankan bagi Daisy. Ia harus mendengarkan Ibu dan Nenek Matthew membicarakan tentang silsilah keluarga dan rencana pesta besar di Ibukota untuk merayakan kepulangan Matthew.

Setiap kali Matthew berbicara pada Ibu dan Neneknya, ia menggunakan bahasa yang sangat formal. "Ya, Nenek," "Tentu, Ibu," "Saya akan mempertimbangkannya." Daisy melihat Matthew seperti melihat mesin perang yang sedang melakukan simulasi sosial.

Namun, di sela-sela pembicaraan itu, Matthew tidak pernah melepaskan rangkulannya di pinggang Daisy. Tangannya yang besar sesekali mengusap sisi pinggang Daisy secara perlahan—sebuah gerakan yang sangat tidak formal dan terasa sangat pribadi.

"Jenderal, tangan Anda..." bisik Daisy di sela-sela tawa Helena.

"Diamlah, Daisy. Ini adalah bagian dari sandiwara yang baru saja Anda setujui," Matthew berbisik balik, suaranya sangat dekat dengan telinga Daisy hingga membuat Daisy merinding.

Daisy merasa seperti sedang berada di dalam sangkar yang dibuat dari lengan Matthew. Ia menyadari satu hal: Matthew benar-benar mengambil kesempatan ini untuk menyentuhnya secara legal di bawah restu keluarganya. Matthew yang biasanya takut mendekat karena bayang-bayang Maira, kini merasa memiliki tameng yang kuat untuk bersikap posesif.

Saat sore hari tiba dan Ibu serta Nenek Matthew bersiap untuk beristirahat di paviliun tamu, Helena memeluk Daisy sekali lagi.

"Ibu senang kalian terlihat jauh lebih baik. Teruslah seperti ini, Daisy. Matthew memang begitu, tapi Ibu tahu dia sangat memuja setiap langkah yang kau ambil."

Daisy hanya tersenyum sopan. Begitu kedua wanita tua itu menghilang di balik pintu aula, Daisy segera melepaskan diri dari rangkulan Matthew dengan sentakan kuat.

"Cukup, Jenderal!" Desis Daisy, wajahnya memerah karena amarah dan rasa malu yang campur aduk. "Anda benar-benar keterlaluan. Anda menggunakan Ibu dan Nenek Anda sebagai alasan untuk menyentuh saya!"

Matthew berdiri diam, menatap tangannya yang kini terasa kosong. "Aku hanya menjalankan peranku agar mereka tidak khawatir, Daisy. Bukankah itu tujuanmu juga?"

"Menjalankan peran tidak berarti Anda harus memegang saya seperti itu!" Sahut Daisy. "Dan jangan pernah menyebut saya sebagai aset lagi. Saya bukan tanah atau pabrik senjata milik keluarga Eisenberg!"

Matthew melangkah maju, kembali menundukkan kepalanya hingga matanya yang dark blue sejajar dengan mata Daisy. "Bagi saya, kata aset adalah sesuatu yang harus dijaga dengan nyawa, Daisy. Jika Anda tidak menyukainya, maka ajari saya kata lain yang lebih masuk akal bagi telinga Anda."

Daisy tertegun. Ia melihat kejujuran yang kaku di mata Matthew—kejujuran seorang pria yang benar-benar buta soal cinta namun sedang mencoba sekuat tenaga untuk tidak kehilangan apa yang ia miliki.

"Saya tidak bisa mengajari pria yang hatinya terbuat dari batu, Jenderal," ucap Daisy sebelum ia berbalik dan berlari menuju kamarnya, meninggalkan Matthew sendirian di aula yang luas itu.

Matthew berdiri di sana, menatap bayangan Daisy yang menghilang. Ia meraba bibirnya yang tadi sempat mencium tangan Daisy. "Setidaknya..." Gumam Matthew pelan, "Tanganmu tadi terasa sangat hangat di dalam genggamanku."

Malam itu di Glanzwald, sandiwara mungkin sudah berakhir, namun bekas sentuhan Matthew masih tertinggal di pinggang Daisy, membuat wanita itu sulit untuk memejamkan mata di balik kemandiriannya yang keras.

1
Fbian Danish
aku suka sekali ceritamu Thor. pendek, ringan, GK bertele2... cocok sekali untuk hiburanku disela puyengnya mikirin dunia😄😄 fighting thor💪💪💪💪
W.s • Bae: benar banget kak 😄 terimakasih ya😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!