Cassie datang ke Verovska dengan satu tujuan, menyelesaikan kuliahnya dan pulang.
Sederhana. Seharusnya.
Namun negara itu tidak ramah pada orang asing.
Dinginnya menusuk tulang,
orang-orangnya menjaga jarak,
dan kesepian menjadi hal yang harus ia telan setiap hari.
Cassie belajar bertahan sendiri.
sampai ia bertemu Liam.
Pria yang tidak hanya mengubah hidupnya,
tapi juga menyeretnya ke dalam dunia yang tidak pernah ia pahami.
Dan sejak saat itu, Verovska tidak lagi sekadar tempat asing.
Ia berubah menjadi sesuatu yang… tidak bisa ia tinggalkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four Forme, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ego Liam
Pagi berikutnya, suasana di meja makan terasa sangat hambar. Tidak ada lagi aksi balas-balasan ejekan antara Liam dan Cassie.
Cassie bergerak dengan sangat efisien, menyajikan kopi dan sarapan dengan gerakan mekanis, lalu segera beralih membersihkan sudut ruangan yang jauh dari meja makan.
Jino, yang biasanya paling berisik, mulai menyadari ada yang tidak beres. Ia melirik Liam yang juga tampak lebih pendiam dan hanya fokus pada ponselnya dengan wajah tegang.
Jino mencoba mencairkan suasana.
"Wah, Cassie! Telur mata sapinya hari ini kok bentuknya sempurna sekali? Kau lagi semangat ya?" goda Jino dengan senyum lebarnya.
Cassie hanya menoleh sekilas dan tersenyum tipis.
"Terima kasih, Jino. Aku hanya ingin memastikan semuanya rapi sebelum aku berangkat kuliah."
Jino mengerutkan dahi. Ia melirik Marco, tapi pria kaku itu hanya mengangkat bahu kecil, tanda tidak ingin ikut campur.
Begitu Cassie naik ke lantai atas untuk mengambil tasnya, Jino langsung mencondongkan tubuh ke arah Liam.
"Hei, Bos," bisik Jino tajam. "Kau apakan gadis itu? Dia jadi seperti robot hari ini. Mana Cassie yang biasanya marah-marah kalau kau ledek?"
Liam tetap diam, namun genggamannya pada ponsel mengerat. "Bukan urusanmu, Jino."
"Oh, tentu saja urusanku kalau masakan di rumah ini jadi terasa... sedih," balas Jino.
"Apa ini ada hubungannya dengan kau yang tiba-tiba mematikan ponsel kemarin sore? Jangan bilang kalian bertemu Amanda."
Mendengar nama itu, Liam mendongak dengan tatapan tajam yang membuat Jino sedikit mundur. Liam tidak perlu menjawab, ekspresi wajahnya sudah menjelaskan segalanya.
Jino menghela napas panjang, ia menyandarkan punggungnya ke kursi.
"Sudah kuduga. Kau bertemu masa lalumu, lalu kau membuat Cassie merasa tidak berharga. Lagipula kenapa kau membawa Cassie ke tempat yang sering kau dan Amanda datangin, sih."
"Aku tidak melakukan apa-apa padanya," bela Liam dengan suara rendah.
"Justru itu masalahnya. Kau tidak melakukan apa-apa saat dia merasa kecil di depan mantanmu," sahut Jino, kali ini dengan nada yang lebih serius.
Saat Cassie turun dengan tas ranselnya, ia langsung menuju pintu depan.
"Aku berangkat duluan. Aku akan naik bus hari ini, Liam. Kau pasti sibuk karena Marco bilang ada kiriman baru pagi ini," ucap Cassie tanpa menunggu jawaban.
"Tunggu, Cassie! Aku antar!" perintah Liam sambil berdiri.
"Tidak usah," tolak Cassie halus namun tegas, tangannya sudah memegang gagang pintu. "Aku ingin mampir ke suatu tempat dulu. Sampai jumpa nanti sore."
Blam.
Pintu tertutup. Jino bersiul panjang melihat keberanian Cassie menolak perintah Liam untuk pertama kalinya.
Liam tidak terbiasa ditolak, apalagi di depan Jino dan Marco yang selama ini tunduk pada otoritasnya. Egonya yang terluka bercampur dengan rasa denial yang ia rasakan terhadap perasaannya sendiri membuat emosinya meledak seketika.
Baru saja Cassie melangkah tiga kali di halaman depan, langkahnya terhenti secara paksa. Sebuah tangan yang kuat mencengkeram pergelangan tangannya dan menariknya berbalik arah.
"Aku bilang aku yang antar, berarti aku yang antar!" bentak Liam dengan suara yang menggelegar di keheningan pagi itu.
"Lepaskan, Liam! Sakit!" Cassie mencoba meronta, tapi kekuatan Liam bukan tandingannya.
Liam tidak memedulikan rintihan Cassie. Ia menyeret gadis itu menuju mobilnya, membuka pintu penumpang dengan kasar, dan seolah memaksa Cassie masuk ke dalam.
Jino dan Marco yang memperhatikan dari ambang pintu hanya bisa terdiam, mereka tahu kalau Liam sudah dalam mode seperti ini, tidak ada yang bisa menghentikannya.
Brak!
Liam membanting pintu mobil setelah Cassie masuk, lalu ia memutar dan duduk di kursi kemudi dengan napas yang memburu. Ia segera mengunci pintu secara otomatis (central lock) agar Cassie tidak bisa kabur.
Cassie menyusut di pojok jok mobil, tubuhnya sedikit gemetar karena terkejut melihat ledakan amarah Liam yang begitu tiba-tiba. Matanya menatap Liam dengan tatapan heran sekaligus takut.
"Kau kenapa sih?!" teriak Cassie dengan suara bergetar.
"Harusnya aku yang marah karena kau mengabaikanku kemarin! Harusnya aku yang kesal karena kau memperlakukanku seperti pajangan di depan mantanmu! Kenapa sekarang malah kau yang ngamuk-ngamuk?"
Liam tidak menjawab. Ia menginjak pedal gas hingga ban mobil berdecit di atas aspal. Ia mencengkeram setir begitu kuat seolah ingin menghancurkannya.
Di dalam kepalanya, Liam sebenarnya sedang berperang. Ia benci kenyataan bahwa sikap dingin Cassie membuatnya merasa gelisah. Ia benci kenyataan bahwa ia butuh Cassie untuk tetap "tunduk" padanya agar ia merasa kendalinya kembali.
"Diam, Cassie! Jangan memancing kemarahanku lebih jauh!" Liam membentak sambil menyalip sebuah truk dengan kecepatan tinggi.
"Kau egois, Liam! Kau cuma mau semuanya berjalan sesuai maumu!" Cassie mulai menangis karena frustrasi dan takut.
"Kau bawa aku ke rumahmu, kau cuma jadikan aku pelarian dari Amanda, kan? dan sekarang kau marah karena aku ingin sedikit ruang? Kau benar-benar monster!"
Mendengar nama Amanda disebut, Liam mendadak menginjak rem dengan sangat keras hingga mobil itu berhenti di pinggir jalan yang sepi.
Suasana di dalam mobil mendadak sunyi, hanya terdengar isak tangis tertahan dari Cassie.
Liam menoleh ke arah Cassie, wajahnya memerah karena amarah yang bercampur dengan rasa frustrasi yang mendalam.
"Kau tidak tahu apa-apa soal perasaanku, jadi tutup mulutmu soal Amanda!"
"Lalu kenapa kau tidak membiarkanku pergi?!" tantang Cassie dengan wajah basah oleh air mata.
Liam terdiam. Pertanyaan sederhana itu menghantamnya tepat di ulu hati. Kenapa ia tidak membiarkannya pergi? Kenapa ia merasa sesak saat Cassie menolak tumpangannya? Kenapa ia merasa lebih marah kehilangan perhatian Cassie daripada kehilangan kesepakatan bisnis?
Ia ingin bilang bahwa ia tidak bisa membiarkan Cassie pergi karena ia mulai ketergantungan pada kehadirannya, tapi ego Liam terlalu besar untuk mengakui itu.
"Karena kau adalah tanggung jawabku sekarang," jawab Liam dengan suara yang lebih rendah namun tetap dingin.
"Dan aku tidak suka barang milikku berada di luar jangkauanku."
Cassie tertawa getir di sela tangisnya. "Barang milikmu? Kau benar-benar menganggapku begitu, ya?"
Liam tidak menjawab. Ia kembali menjalankan mobilnya, kali ini dengan kecepatan yang lebih normal, namun ketegangan di antara mereka tetap terasa setajam silet.
Mobil berhenti dengan sentakan pelan tepat di depan gerbang kampus. Liam tidak mematikan mesin, suaranya terdengar dingin dan penuh otoritas saat ia menoleh sekilas tanpa melepas kacamata hitamnya.
"Sore nanti, jangan biarkan aku menunggu. Berdirilah tepat di sini saat aku datang."
perintahnya singkat, lebih mirip instruksi militer daripada tawaran jemputan.
Cassie hanya diam, ia segera turun dan menutup pintu mobil tanpa mengucapkan terima kasih.
Liam langsung memacu mobilnya pergi, meninggalkan kepulan asap dan rasa sesak yang masih tertinggal di dada Cassie.
Sepanjang hari di kampus, Cassie tidak bisa fokus. Kata-kata Liam soal "barang milikku" terus terngiang, membuatnya merasa rendah namun di saat yang sama ada perasaan aneh yang sulit ia jelaskan.
***
Namun, meski hatinya masih terluka, ia tetap berdiri di depan gerbang sore itu sesuai perintah. Ia terlalu lelah untuk memancing amarah Liam lagi.
Tepat waktu, S-class hitam itu muncul. Kali ini Liam menurunkan kaca jendela sepenuhnya. Wajahnya tampak jauh lebih tenang, tidak ada lagi sisa-sisa amukan tadi pagi. Sepertinya urusan bisnis dengan Marco dan Jino siang tadi berjalan lancar, atau mungkin dia sudah berhasil menekan egonya.
"Masuk," ucap Liam lebih lembut, meski tetap irit bicara.
Cassie masuk ke mobil, suasana hening menyelimuti mereka selama beberapa menit. Namun, alih-alih mengambil jalan pulang menuju bukit tempat rumahnya berada, Liam justru memutar arah menuju kawasan industri di pinggiran Verovska yang penuh dengan gudang-gudang tua.
"Kita mau ke mana? Ini bukan jalan pulang," tanya Cassie heran.
"Kau bilang kau penasaran bagaimana aku bisa punya uang sebanyak itu untuk membayar pelayan sepertimu, kan?" Liam meliriknya dengan seringai tipis yang mulai kembali ke wajahnya.
"Aku akan membawamu ke tempat usahaku."
Jantung Cassie berdegup kencang. Selama ini ia hanya mendengar selentingan dari Ethan tentang bisnis ilegal Liam.
Membayangkan dirinya akan dibawa ke markas besar pria itu membuatnya merasa sedang masuk ke dalam mulut singa.
Mobil berhenti di depan sebuah gudang besar dengan penjagaan yang ketat namun tertutup.
Beberapa pria berbadan tegap yang tampak waspada langsung membukakan gerbang begitu mengenali mobil Liam.
"Tetap di dekatku. Jangan menyentuh apa pun, dan jangan banyak tanya kalau ada orang yang melihatmu dengan aneh," bisik Liam saat mereka turun dari mobil.
Liam berjalan di depan, dan secara alami ia mengulurkan tangannya ke belakang—sebuah isyarat agar Cassie menggandengnya. Cassie ragu sejenak, namun akhirnya ia menyambut tangan besar itu. Rasanya hangat, dan kali ini, Liam tidak melepaskannya meskipun mereka sudah masuk ke dalam.
Di dalam gudang, bau tembakau yang kuat menyengat hidung. Cassie melihat deretan mesin besar dan ratusan kotak tanpa label yang sedang disusun oleh pekerja. Di sana juga ada Jino dan Marco yang sedang memeriksa daftar manifes.
"Ini duniamu, Liam?" bisik Cassie takjub sekaligus ngeri melihat skala bisnis yang ada di depannya.
"Ini sebagian kecil darinya," sahut Liam. Ia membawa Cassie ke balkon lantai dua yang menghadap ke seluruh area produksi.
"Di sini tidak ada kebohongan, Cassie. Semuanya keras dan nyata. Sama seperti aku."
Liam menoleh, menatap Cassie yang tampak kecil di antara mesin-mesin raksasa itu.
"Aku membawamu ke sini karena aku ingin kau tahu siapa pria yang kau sebut 'monster' tadi pagi. Aku tidak bersih, tapi aku tidak pernah berpura-pura menjadi pahlawan seperti polisimu itu."
Malah memperburuk keadaan
Kasian Cassie 😭