NovelToon NovelToon
Nikah Paksa Gus Soft Boy Dan Cewek Bengkel

Nikah Paksa Gus Soft Boy Dan Cewek Bengkel

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Pernikahan Kilat / Cinta setelah menikah
Popularitas:22.2k
Nilai: 5
Nama Author: Inna Kurnia

Santaka, anak dari pemilik pesantren besar di Solo—yang berprofesi sebagai chef pastry—terpaksa menikah dadakan dengan Nandini, tetangga sekaligus montir bengkel langganannya.

ini semua karena mereka tertangkap basah di mobil Santaka dalam kondisi mengundang fitnah.

"Gus Taka dan Dini tertangkap di mobil! Suaranya mencurigakan, apalagi baunya..."

Itu kesaksian pihak yang menangkap basah. Tak tanggung-tanggung, tiga orang jadi saksi.

Bisakah Santaka—gus yang lembut—menjadi imam bagi Nandini—montir bengkel yang keras?

Kini kehidupan Nandini bukan lagi tentang oli dan kunci inggris, tapi umat dan pesantren. Sanggupkah sang montir bengkel?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inna Kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18 Semakin Nyaman

Acara Tabligh Akbar berakhir. Jamaah mulai membubarkan diri. Seluruh keluarga Mansur kembali ke lounge.

"Mbak, saya peluk ya? Saya bangga sama Mbak Dini." Santaka berbisik.

Sang Gus benar-benar menempelkan bibirnya di telinga Nandini yang tertutup hijab. Bulu kuduk Nandini meremang.

"Gus Taka, astagfirullahaladziiim, sampeyan benar-benar ya, setelah menikah baru ketauan ternyata seganas ini!" Sarah kembali menghujat pasangan baru itu.

Semua tergelak mendengar omelan Sarah. "Biarin saja, Ning Sarah. Namanya juga pengantin baru. Ini membuktikan teori, yang diem itu lebih menghanyutkan," seloroh Danendra.

Tawa kembali berderai. Santaka hanya tersenyum simpul. Nandini menunduk. Salah tingkah juga ditertawakan semua. Suaminya itu memang keterlaluan, tak lihat situasi. Modus tingkat tinggi.

Petinggi penyelenggara acara menghampiri Mansur sekeluarga. Ia mencium tangan Mansur dan menjabat takzim kepada para gus. Ia menganggukkan kepala kepada Lastri dan seluruh menantu.

"Yai, maasya Allah, acara hari ini luar biasa. Materi Yai dan Gus Yasa, seperti biasa. Selalu menyentuh tapi ringan. Mudah dicerna umat." Sang petinggi bicara sambil manggut-manggut. Mansur dan Abyasa tersenyum.

"Gus Nendra, jangan lupa minggu depan agenda kita." Sang petinggi menoleh ke arah Danendra, yang mengangguk kepada pria paruh baya itu.

"Gus Taka, maasya Allah ternyata punya istri dengan public speaking yang unik. Bisa jadi daya tarik bagi jamaah." Giliran Santaka yang diajak bicara si petinggi.

"Mungkin nanti kalau acara khusus akhwat, Mbak Dini bisa dikasih porsi lebih banyak. Saya yakin akan banyak peminatnya."

Abyasa tertawa kaku. "Pak Reza, adik ipar saya ini masih harus banyak belajar dulu. Sedang dibimbing istri saya. Beliau kebetulan kan backgroundnya bukan dakwah."

Sarah tersenyum lebar. Ia menatap tajam pada Nandini. Istri Santaka itu hanya bisa menghela napas. Tak mungkin meladeni Sarah di depan Mansur. Ia masih memiliki adab.

Ndak mau aku, Ning, jadi pendakwah. Tau diri aku juga. Ndak perlu merasa menang begitu. Aku memang bukan levelmu.

Santaka tersenyum simpul. "Istri saya masih senang belajar, Pak Reza. Mau fokus belajar dan mengembangkan diri dulu di Al Fatih."

Nandini menatap Santaka yang kembali membelanya. Ia menggigit bibir. Desir hatinya muncul kembali.

Santaka membalas tatapan istrinya. Selalu ada kebahagiaan baginya membela sang istri. Ia merasa menjadi penjaga bagi wanita yang sudah ia cintai itu.

Mansur tersenyum. "Insyaa Allah, Pak Reza, doakan kami sekeluarga bisa bermanfaat bagi umat. Bagi masyarakat. Barokah, aamiin."

Sang petinggi alias Reza mengaminkan harapan Mansur. Setelah sedikit berbasa-basi, ia undur diri.

Beberapa panitia memohon izin untuk bisa berfoto bersama dengan keluarga Mansur. Tentu saja diizinkan. Sesudah berfoto bersama sekeluarga, mereka menghampiri Santaka dan Nandini.

"Gus Taka, Mbak Dini, berkenan ndak foto sama kami?" Perwakilan mereka meminta izin pada pengantin baru itu.

"Oh boleh, Mbak. Yuk, di samping saya ya." Nandini merangkul salah satu dari panitia. Santaka, seperti biasa, hanya tersenyum simpul. Para panitia pun berfoto bersama dengan pasangan viral teranyar di kota Solo.

Acara telah rampung. Santaka dan Nandini memisahkan diri. Mereka membawa mobil sendiri. Tidak bergabung dengan rombongan Mansur. Tak muat juga, tergabung dalam satu mobil.

Sarah menghadang langkah Nandini. "Mbak Dini, harus konsisten ke depannya. Kalau ada yang muji-muji lagi, bilang masih mau belajar. Jangan besar kepala!"

Sarah kemudian pergi begitu saja. Meninggalkan Santaka dan Nandini yang melongo melihat kelakuan kakak ipar mereka.

*

*

Santaka membuka pintu kamarnya. Nandini yang sedang komat-kamit murojaah atau mengulang hafalan lama surat Al Qur'an, menoleh. Suaminya itu membawa semangkok mie goreng.

"Hadiah buat yang sukses di tabligh akbar. Saya buatin mie goreng. Makan dulu yuk." Santaka mengaduk mie kecoklatan itu. Ia menggulung makanan panjang itu di garpu.

"Aaa..." Santaka ikut membuka mulut ketika meminta Nandini menganga. Sang istri memutar bola matanya namun tetap membuka mulut. Tak konsisten antara netra dan bibir.

"Enak?" Santaka ikut menyuap dirinya sendiri dengan garpu yang sama.

"Enak... Banget..." Nandini manggut-manggut.

"Alhamdulillah... Nanti minta ongkos capeknya ya." Santaka mengerlingkan mata.

"Ih, ndak ada yang minta dibuatin ya! Kenapa harus ada bayarannya? Mau modus ya?" Nandini mendelik tapi kemudian kembali menganga. Kembali tak sinkron bersikap.

Santaka terkekeh. "Tadi sama Umi, mau dipeluk. Sama saya, kapan?" Nandini menghentikan kunyahannya. Mulutnya mencebik.

"Emang pengen banget dipeluk?" tanya Nandini setelah menelan mie di mulutnya. Ia menganga lagi.

"Iya. Kan sama istri sendiri." Santaka kembali menyuapi sang istri. Nandini menipiskan bibirnya. Dadanya berdegup kencang.

"Gus, Ning Sarah itu bener-bener ndak suka sama saya ya?" Nandini mengalihkan pembicaraan. Ia masih menimang-nimang permintaan suaminya.

Santaka terdiam. Ia menipiskan bibirnya. "Hhmm, karena awalnya ndak suka sama saya. Mbak Dini istri saya, jadi ikut-ikutan ndak dia suka."

"Kenapa dia ndak suka sama Gus? Karna... Gus ndak mau aktif di pondok?"

"Ya... Karna itu... Dia kecewa saya ndak mau bantu suaminya."

Nandini melipat bibirnya. Mie goreng buatan Santaka sudah habis. Sang suami menyimpan mangkok kosong di nakas. Ia kemudian mengangsurkan gelas berisi air putih pada istrinya. Santaka berharap Nandini tak melanjutkan topik ini.

Nandini meneguk air itu dan meletakkan kembali gelas di nakas. "Hhmm, Gus... Saya boleh nanya?"

Santaka mengangguk atas pertanyaan sang istri, walau agak tegang juga. Takut tak sanggup menjawab.

"Kenapa... Gus ndak mau... aktif di pondok?" Nandini bertanya dengan hati-hati.

Santaka termangu. Matanya nampak melirik ke kiri. Wajahnya nampak sendu. Nandini bingung. Ada apa sehingga wajah teduh itu begitu sedih? Seperti ada luka tersimpan.

"Karna... Saya mau fokus besarin usaha saya. Banyak yang bergantung sama usaha saya. Karyawan, supplier. Kalau saya ninggalin mereka begitu saja, zolim saya."

Santaka menatap lantai kamar. Sepertinya itu jawaban teraman yang dapat ia berikan. Nandini tersenyum dan mengelus lengan suaminya. Santaka raih tangan itu. Nandini membiarkannya.

Sudah menjadi adegan biasa dengan sang suami. Lagipula Santaka terlihat sedih saat ini. Nandini tak setega itu, menolak tak jelas.

Bagaimanapun Santaka memang suami Nandini yang berhak atas dirinya. Bahkan lebih dari sekadar pegang tangan, namun Nandini belum bisa memberikannya. Ia sadar diri, jadi biarlah tangannya digenggam oleh sang suami.

Nandini kini menganggap dirinya sedang pacaran setelah menikah. Pacaran halal. Aktivitas fisiknya bertahap.

Santaka genggam tangan halus Nandini. Matanya menerawang. Nandini jadi penasaran alasan suaminya semelankolis ini.

"Gus... SS kan baru setahun, kalau dulu alasannya apa ndak mau aktif di pondok?" Nandini memiringkan kepalanya.

Santaka kembali tercenung. Ia tersenyum sendu. Istrinya ternyata masih penasaran. "Saya merasa bisa dakwah di mana saja. Ndak perlu di pangggung atau di pondok."

Nandini menatap mata suaminya. Seperti ada kabut yang menyelimuti. Ada yang disembunyikan oleh Santaka.

"Bahagia saya di dapur. Boleh kan saya, beda?" Mata Santaka kian sendu. Ia ingin bercerita tetapi belum sanggup. Lagipula ia sudah berusaha berdamai dengan alasannya tak ingin aktif di Al Fatih. Membahasnya membuat luka itu menganga. Sulit iklas jadinya.

Nandini mengangguk mendengar jawaban sang suami. Semua orang berhak untuk berbeda, tak perlu punya peran seragam.

"Gus, mau saya peluk?" Nandini tak tega melihat Santaka sesedih ini. Padahal selama sebulan bersama, Santaka yang selalu menghibur dan menyemangati Nandini. Menenangkan sang istri.

Nandini merasa sekarang gilirannya untuk menenangkan sang suami. Bukankah menjadi suami istri itu harus bersikap saling, membalas kebaikan pasangan?

Santaka mengangguk. Ia peluk Nandini, erat. Matanya terpejam. Mencoba mengusir luka itu.

Santaka lebih banyak diam hingga waktu tidur. Sudah tak ada guling di antara mereka namun Nandini masih tidur membelakangi suaminya. Masih belum siap melayani Santaka.

Mata Nandini mendadak membeliak. Tangan Santaka tiba-tiba melingkar di lehernya. Memeluknya dari belakang.

"Mbak, izinin saya peluk malam ini. Saya ndak minta lebih. Saya... butuh pelukan Mbak sekarang. Malam ini. Seperti ini cukup."

Nandini mengangguk perlahan. Suara Santaka terdengar sedih. Ia menarik tubuh Nandini, mengeratkan pelukan itu.

Tangan Santaka melingkar di perut Nandini. Pipinya menempel di rambut Nandini. Sang istri mengelus lembut tangan kokoh sang suami.

Santaka mencoba memejamkan matanya. Ia berusaha tawakal, berserah diri. Luka itu sudah terlalu lama. Ia merasa sudah menerimanya, ternyata belum sepenuhnya. Terutama dengan adanya tekanan seperti saat ini.

Satu hal yang lagi-lagi Santaka syukuri, ia kini memiliki Nandini di sisinya. Penguatnya. Penghiburnya.

Akhirnya suara nafas lembut terdengar dari keduanya. Mereka tertidur dalam kenyamanan yang baru mereka kenali.

1
Aisyah Virendra
Biasanya klo orang ngomongnya ceplas ceplos itu emang lebih baik daripada yg terlihat kalem diem tapi menghanyutkan...
mestinya Boy sebagai lelaki ngerti gimana cara pandang Ahsan ke Dini yg ga wajar, dan lagii...Fiona sm Boy apa saling kenal 🤔
Inna Kurnia: kita liat ya Kaaaak 🤭🤭
total 1 replies
Aisyah Virendra
ya Ampunnn jangan canda yg aneh² ya Boy, Ucapan sama dg Doa.. hati² dalam berucap gemblung 🙄🙄🙄
Inna Kurnia: hahaha
total 7 replies
Aisyah Virendra
🙄🙄🙄 bahasane dikitik kitik bikin geliii membayangkannn 🤣🤣🤣🤣
Aisyah Virendra: kakak mau dikitik 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 ketik kata dikitik aja aku terkikikk geliii loh inii ngakakkk 🤣
total 2 replies
Nanik Arifin
kau tunggu jandanya Dini ya Boy....🤭🤭
Inna Kurnia: ada aja yaaa kelakuan orang ya, Kak 🤭
total 1 replies
Jaojatun Ma'rup
Maasyaallaah.. Gus Taka Super Duper Sabaar... semangaaat Gus💪💪💪
Inna Kurnia: iya, Kak Jaojatun. kan sabar nama tengah Gus Taka 🤭🤭
total 1 replies
Aisyah Virendra
Taka dan Dini memang bener² harus waspada yaa sama sepasang sejoli resek itu (Ahsan n Syifa), mereka merencanakan sesuatu yg sedikit ehem tapiii smg ada salah 1 dari Ning Sarah atau Ning Husna juga menyadari kejanggalan dan berpihak pada Taka dan Dini 🫠
Aisyah Virendra: hhuuuh
total 2 replies
Nadia Zalfa
syafakillah kak
Inna Kurnia: aaamiin ya Allah, jazaakillahu khoyr Kak Nadia ❤️❤️
total 1 replies
Aisyah Virendra
Syafakillah waa fii amanillah kakak sayang.. semoga dunia nyata kita baik² aja dan ga ada problem apapun, sehat² selalu.. kutunggu up nyaa bolak balik, tapi yasudahlah.. kesehatan itu lebih utama, segera membaik kakak 🤝😇🥰
Aisyah Virendra: Aamiin Allahumma Aamiin 🤲🥰
total 3 replies
Aisyah Virendra
Diiiiihhhh...ngapain lagi si Ahsan beluuuttt datang kekamar orang, yg sakit juga Nandini bulan Santaka, anehhh bgt.. Ustadz gajeee 😂🤣 lelepinn neeeehhh 🫳
Inna Kurnia: 🤭😂😂🤭😂
total 5 replies
Aisyah Virendra
marah.. tertatih, pelaku eh merasa korban 😂🤣 Nandini gemblung 🤣🤣🤣 mlm itu Santaka menang berkali lipat banyak dan dini ya ampunnn pasti malu banget setelahnya 😂😂 ky nya ntar jadi kembar 4 ehh 🤣🤣🤣
Inna Kurnia: 🤣🤣🤣🤣 subuhhhh
total 5 replies
Aisyah Virendra
gaskuy lagiiii 🤣🤣🤣🤣
duuuuhhh cenut² pala barbiee 🫠
kenapa pas unboxing disaat bginiii 😂🤣🤣🤣
Inna Kurnia: hahaha, saa-bar 🤭🤭
total 3 replies
Aisyah Virendra
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
kocak parahhhh kamu dinoooooooo 🤣🤣 menang banyak nih Santakaa malam ini dan besok dini teparrrrr 😂🤣 aiiiihhh membayangkan yg bergulat ehemm 😂🤣😂🤣
Inna Kurnia: hissss 😂😂😂😂
total 4 replies
Aisyah Virendra
Nandini salah ambil jamu, jamunya Taka diminumnya 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 mengandung perangsang herbal ini mah, duh bisa² ntar langsung hamil baby twins 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Inna Kurnia: gasss 😂😂😂
total 1 replies
Aisyah Virendra
ko sur ? harusnya mud kan yaa 🤔🤔🤔
Inna Kurnia: typo, wkwkwk
total 1 replies
Aisyah Virendra
minta traktir banyak² yaa Din, jangan lupaaa alu dikasih jugaaa 🤣🤣🤣🤣🤣
Nanik Arifin
Dini salah minum jamu ?
Gus Taka yg bakalan di KO Dini ...🤭🤭
Inna Kurnia: pantengin bab besok ya Kak Naniiik 😂😂
total 1 replies
Aisyah Virendra
Gus Agam... ini sepeeti sosok pria yg kalau mencintai bisa sedalam dan sesetia ituu.. tapi skrg kondisinya berbeda, jadi lelaki yg tak punya perinsip hidup dalam berkomitmen. sudah punya pasangan masing² masih juga tak tahu diri ko malah tahu bakso 😂🤣🤣
Inna Kurnia: ❤️❤️🙏🏻🙏🏻
total 13 replies
Aisyah Virendra
huhhhh akhirnya nongol juga..
Inna Kurnia: sip, insyaa Allah malem ❤️❤️😘
total 3 replies
Nanik Arifin
baby blues ini Ning Rini. harusnya Gus Agam berperan agar baby blues g berlanjut, kasihan bayinya
Inna Kurnia: betul bgt Kak Nanik, ning rini depresi abis lahiran ❤️❤️
total 1 replies
Aisyah Virendra
kasian sih Rini 🙄🙄 trnyata Agam gamon dan menghanyutkan bahtera rumah tangganya sendiri. menyebalkan
Aisyah Virendra: 😂😂😂🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!