NovelToon NovelToon
Serenada Putih Abu-Abu: Seteru Dan Rindu Jenawa

Serenada Putih Abu-Abu: Seteru Dan Rindu Jenawa

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Idola sekolah / Diam-Diam Cinta
Popularitas:923
Nilai: 5
Nama Author: prasfa

Di bawah teriknya matahari dan riuhnya masa remaja, dua insan dengan dunia yang bertolak belakang dipertemukan oleh takdir. Jenawa Adraw, seorang pemuda dengan sorot mata tajam dan nyali yang tak pernah padam, adalah sosok sentral dalam persaudaraan keras di sekolahnya. Ia hidup dalam putaran kesetiakawanan, peluh, dan perseteruan abadi antargeng SMA yang tak kunjung usai. Di seberang dunianya, berdirilah Sinaca Tina, seorang gadis dengan tutur kata yang santun, pesona yang anggun, namun memiliki pendirian sekeras karang yang tak gentar oleh gertakan siapa pun.
Kisah ini mengalun layaknya sebuah gita cinta yang syahdu namun dipenuhi riak gelombang. Hubungan Jenawa dan Sinaca tumbuh di antara letupan amarah sisa tawuran dan manisnya janji yang terucap di beranda rumah. Asmara mereka diuji dengan keras—bukan hanya oleh pedasnya cemoohan teman-teman sebaya atau ancaman dari kubu sekolah seberang, melainkan pula oleh ego darah muda yang sering kali memicu pertengkaran hebat di antara merek

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Lonceng Kemenangan dan Janji di Bawah Mahoni

Udara sore di batas wilayah simpang empat terasa kian menipis, tersedot oleh ketegangan yang memuncak di antara dua kubu. Agam, dengan seringai meremehkan yang masih tersungging, mengayunkan pipa besinya membelah udara. Suara desirannya terdengar tajam, sebuah peringatan akan marabahaya yang siap menghantam.

Namun, Jenawa Adraw tidak bergeming. Sepasang matanya yang sekelam malam menatap lekat pergerakan sang seteru. Di kepalanya, jarum jam seolah berdetak lebih keras mengalahkan riuh rendah sorak-sorai anak-anak SMA Pelita. Ia hanya memiliki sisa waktu belasan menit sebelum lonceng sekolah berbunyi.

"Maju kau, Pengecut!" raung Agam seraya menerjang ke depan, mengayunkan pipanya tepat ke arah pelipis Jenawa.

Dengan ketangkasan yang ditempa oleh kerasnya aspal jalanan, Jenawa merendahkan tubuhnya. Pipa besi itu hanya menebas ruang kosong di atas kepalanya. Belum sempat Agam menarik kembali senjatanya, Jenawa melontarkan sebuah tinju keras yang bersarang telak di ulu hati lawannya.

Agam terkesiap, napasnya seakan terputus. Pipa besi di genggamannya terlepas dan berdenting keras menghantam konblok. Memanfaatkan momentum tersebut, Jenawa mencengkeram kerah seragam Agam yang telah koyak, lalu membanting tubuh pemuda itu ke atas kap mobil tuanya sendiri. Suara dentuman logam yang pekak seketika membungkam sorak-sorai anak-anak SMA Pelita.

"Sudah kukatakan, Agam," desis Jenawa tepat di depan wajah lawannya yang kini menahan sakit. "Jalanan ini adalah urat nadi warga, bukan panggung pementasan egomu. Jika kau dan komplotanmu masih berani menginjakkan kaki di jalan utama ini, terlebih mengusik ketenangan mereka yang sekadar ingin pulang, aku pastikan kau tak akan bisa berdiri tegak untuk waktu yang lama."

Anak-anak SMA Pelita yang melihat pemimpin mereka takluk dalam waktu kurang dari lima menit mendadak kehilangan nyali. Seno dan barisan anak SMA Bangsa bersiap merangsek maju untuk memberikan pukulan penghabisan, namun Jenawa mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi. Isyarat mutlak untuk menghentikan pergerakan.

"Biarkan mereka pergi," perintah Jenawa tanpa mengalihkan pandangannya dari Agam. Ia melepaskan cengkeramannya dan mendorong tubuh Agam dengan kasar. "Bawa sisa harga dirimu dan enyahlah dari sini sebelum pasukan keamanan sekolah tiba."

Sambil memegangi dadanya, Agam tertatih mundur. Sorot matanya memancarkan dendam yang membara, namun ia tahu hari ini kekalahan telah mutlak menjadi miliknya. Ia memberi isyarat kepada kawan-kawannya, dan dalam hitungan detik, deru mesin motor berhamburan meninggalkan perbatasan, menyisakan debu yang mengepul di udara sore.

Tepat saat debu terakhir menjejak bumi, suara dentang lonceng sekolah terdengar sayup-sayup dari kejauhan. Teng... teng... teng...

Jenawa menghela napas panjang, membiarkan urat-urat lehernya yang menegang perlahan mengendur. Ia mengusap peluh di dahinya dengan punggung tangan. Sebuah goresan kecil di punggung tangannya mengeluarkan sedikit darah akibat bergesekan dengan ritsleting jaket Agam, namun ia tak memedulikannya.

"Seno," panggil Jenawa pada kawan karibnya yang baru saja memungut jaket almamater milik Jenawa dari tanah. "Bawa anak-anak kembali ke markas. Pastikan tidak ada yang melakukan pengejaran susulan. Hari ini kita menang bukan karena kita menghancurkan mereka, melainkan karena kita berhasil menjaga batas wilayah kita."

Seno mengangguk hormat, menyerahkan jaket itu. "Titahmu kami laksanakan, Wa. Tapi kau mau ke mana? Tidak ikut merayakan kemenangan ini di kedai Pak Dirman?"

Jenawa menyampirkan jaketnya di sebelah bahu, memutar tubuhnya menghadap ke arah gedung sekolah yang menjulang di kejauhan. Sebuah senyum tipis, amat berbeda dengan raut buasnya beberapa menit yang lalu, kini menghiasi wajahnya.

"Ada janji yang harus kutepati di bawah pohon mahoni, Seno. Rayakanlah tanpa diriku hari ini."

Tanpa menunggu balasan kawan-kawannya, Jenawa melangkah setengah berlari kembali menuju area sekolah. Ia mampir sejenak di keran air dekat pos satpam, membasuh wajahnya dan membersihkan sisa debu dari tangannya. Ia tak ingin terlihat seperti berandalan yang baru saja memenangkan perang saat berhadapan dengan gadis itu. Ia merapikan kerah seragamnya, mengatur napasnya agar kembali teratur, lalu berjalan menyusuri pelataran sekolah yang kini mulai dipenuhi siswa yang hendak pulang.

Di kejauhan, di bawah rindangnya pohon mahoni tertua, presensi itu masih setia di sana.

Sinaca Tina duduk dengan tenang, buku tebal di pangkuannya telah tertutup rapat. Matanya awas mengamati hilir mudik siswa, namun sorot matanya seketika mengunci pada satu sosok tegap yang berjalan mendekat.

Melihat kehadiran Jenawa yang utuh tanpa luka berarti, bahu Sinaca yang sedari tadi sedikit tegang perlahan turun, menyiratkan kelegaan yang tak mampu ia sembunyikan sepenuhnya. Gadis itu berdiri, merapatkan pelukan pada buku-bukunya saat Jenawa tiba di hadapannya.

"Kau berkeras menungguku rupanya, Sinaca," sapa Jenawa dengan nada lembut yang menggetarkan, mengganti formalitas dengan keakraban yang baru saja mereka sepakati kemarin.

"Bukankah kau sendiri yang memerintahkan saya untuk tidak beranjak dari sini?" balas Sinaca. Walau bahasanya masih baku dan tertata, intonasinya tak lagi setajam sebilah sembilu. Mata kecokelatannya menelisik wajah pemuda itu, lalu turun ke punggung tangannya yang memiliki segores luka baru.

Sinaca merogoh saku seragamnya, mengeluarkan sebuah saputangan berwarna putih bersih yang terlipat rapi. Tanpa berkata-kata, ia mengulurkannya ke arah Jenawa.

"Jalan raya telah bersih dari debu pertikaian, seperti yang Anda... maksud saya, seperti yang kau janjikan. Namun agaknya, debu itu menyisakan sedikit jejak padamu," ucap Sinaca pelan.

Jenawa menatap saputangan mungil yang disodorkan kepadanya, lalu menatap manik mata gadis di hadapannya. Sensasi hangat seketika menjalar di rongga dadanya, mengusir sisa-sisa adrenalin pertarungan. Ia menerima saputangan itu dengan hati-hati, seakan sedang menerima sebuah benda pusaka yang amat berharga. Aroma melati samar menguar dari kain tersebut, aroma yang kini telah menjadi candu baru bagi Jenawa.

"Terima kasih, Sinaca," ucapnya tulus. Senyumnya merekah sempurna, menyaingi warna jingga di ufuk barat. Ia melangkah satu tindak lebih dekat, berdiri bersisian dengan gadis itu. "Sekarang, mari kuantar kau pulang. Tak akan ada lagi halangan di sepanjang jalan menuju rumahmu sore ini. Aku yang menjaminnya."

Sinaca tidak menolak. Ia mengangguk pelan, dan bersama-sama, dua insan dari dunia yang teramat bising dan teramat sunyi itu melangkah berdampingan meninggalkan pelataran sekolah, mengukir sebuah kisah baru di atas aspal yang baru saja ditenangkan oleh janji seorang panglima.

1
Nita
pertama...
semangat Thor nulisnya...💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!