NovelToon NovelToon
Milik Bos Mafia: Benci Tapi Harus Jadi Istrinya

Milik Bos Mafia: Benci Tapi Harus Jadi Istrinya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Jumling

Rayya, seorang perawat yang terperangkap dalam permainan cinta dan kekuasaan Marsel, seorang ketua Mafia yang sangat di takuti.
Marsel tidak mau melepaskan nya, Rayya sudah memiliki pacar dan akan segera menikah, akan tetapi Marsel menyatakan kepemilikan terhadap Rayya.

Marsel membuat Rayya tidak bisa menikah selain dengan nya. Ciuman di pertemuan pertama mereka membuat Marsel tidak bisa tenang memikirkan Rayya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jumling, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Draft

"Rayya, kamu berubah karena Marsel kan? Kamu tidak cinta aku lagi karena dia. Iya kan, Rayya?!"

Rayya menarik kuat tangan nya sampai berhasil melepaskan genggaman Riko. Wanita itu muak melihat wajah Riko, hal tersebut membuat Rayya teringat kejadian penculikan beberapa hari yang lalu, jika bukan karena Carla, Rayya tidak akan mendapatkan nasib buruk sampai harus di culik.

Ternyata Riko juga malah menyalahkan Marsel, jelas-jelas semua ini karena Carla, mamanya.

"Jangan menggangguku lagi, Riko."

Setelah mengatakan itu Rayya langsung pergi dari hadapan Riko. Ia malas berbicara dengan pria itu.

Melihat kepergian Rayya, Riko mengepalkan kuat kedua tangan nya karena merasa tidak berguna menjadi pacar Rayya.

"Pasti Marsel yang memaksa Rayya untuk menjauhiku," gumamnya marah.

Ia bertekad tidak akan menyerah pada Rayya walau Marsel membunuhnya sekalipun.

Riko segera pergi dari sana setelah melihat Rayya sudah bergabung dengan temannya, Kayla.

"Ray, Kalian ada masalah apa?" tanya Kayla yang belum tahu tentang masalah yang sebenarnya menimpa Rayya. Yang Kayla tahu, Rayya masih memiliki hubungan dengan Riko. Walau sudah mendengar kabar kalau mereka tidak jadi menikah.

Sebelumnya Kayla tidak bisa menghadiri pernikahan Rayya, jadi Ia tidak tahu berita pastinya. Di tambah Marsel yang telah menutup berita apapun tentang Rayya dan dirinya.

"Katanya kalian batal nikah?" Kayla bertanya kembali. Walau Ia tidak enak mempertanyakan hal tersebut, tapi rasa penasaran nya membuat Kayla tetap harus bertanya.

"Iya, kami tidak jadi menikah," kata Rayya sambil tersenyum.

'Aku malah menikah dengan orang gila seperti Marsel' batin Rayya melanjutkan ucapannya dalam hati karena Rayya tidak mau ada banyak orang yang tahu tentang pernikahan mereka. Secara Rayya tidak menyukai orang itu, untuk apa orang lain tahu.

"Kenapa? Apa Riko menyakiti mu?" tanya kembali Kayla penuh perhatian dan merasa Iba pada nasib pernikahan teman nya itu. Padahal Rayya dan Riko sangat cocok menurut nya.

"Aku cerita soal itu kapan-kapan saja ya," pinta Rayya.

Kayla memaklumi dan mengiyakan, Ia tidak mau memaksa Rayya untuk bercerita. Jika Rayya enggan untuk bercerita, pasti alasan itu menyakitkan bagi Rayya. Sebagai teman yang baik, Kayla hanya menenangkan Rayya agar tidak bersedih.

______________

Malam hari tiba, Rayya yang tidak melihat Marsel tidak peduli dengan keberadaan pria itu, Ia naik ke atas ranjang dan siap untuk tidur.

Rayya mulai memejamkan mata dan belum sepenuhnya tertidur, tiba-tiba Ia mendengar suara pintu kamar yang di buka dari luar. Rayya yakin itu Marsel dan tidak mau menampakkan diri di depan pria tersebut, jadi Rayya memilih untuk tetap pada posisinya dan melanjutkan tidur.

Langkah kaki Marsel mendekati ranjang, tidak lama suaranya kembali melangkah jauh. Akan tetapi Rayya terganggu dengan sesuatu.

'Darah?' batinnya mencium aroma anyir darah.

Mungkinkah Marsel terluka? Begitu pikirnya.

Rayya membuka matanya sedikit, Ia sebenarnya malas tahu apa yang terjadi pada Marsel, tapi rasa penasaran mengalahkannya.

Terlihat dari jarak sepuluh meter, Marsel membuka satu persatu baju yang membalut tubuhnya untuk pergi meninggalkan menyegarkan diri. Di punggung pria itu Rayya melihat sebuah luka sayatan yang dialiri darah segar.

'Sepertinya dia terluka lagi seperti terakhir kali' batin Rayya mengingat pertemuan pertamanya dengan Marsel di malam itu yang membuat Rayya memberikan pertolongan pada Marsel.

Dari yang Rayya lihat tadi, sepertinya luka sebesar itu tidak berarti apa-apa bagi Marsel, berarti pertolongan yang Ia lakukan malam itu juga biasa saja.

Rayya yang membayangkan hal tersebut kesal sendiri dibuatnya. Kenapa juga saat itu Ia harus menolong Marsel, kenapa tidak meninggalkan Marsel saja, toh tidak akan membuat Marsel mati.

"Rayya."

Marsel yang mendengar nafas memburu di belakang punggung nya cepat-cepat memakai jubah mandi untuk menutupi lukanya, Ia segera melihat Rayya, tapi wanita itu hanya membuka mata sejenak dan berbalik membelakangi Marsel, seakan tidak peduli dengan keberadaan Marsel.

Marsel memandangi Rayya sejenak dengan wajah datar dan berjalan menuju kamar mandi untuk segera membersihkan diri.

Setelah Marsel pergi, perlahan Rayya membuka matanya dan bangun, Ia menatap pintu toilet yang tidak lama terdengar gemericik air dari dalam sana.

"Sebenarnya orang gila itu habis ngapain sih?" tanyanya pada diri sendiri yang tidak mendapatkan jawaban. Setelah memikirkan hal itu cukup lama, Rayya memilih untuk kembali tidur, Ia tidak mau bertanya pada Marsel. Untuk apa, begitu pikirnya.

Tapi saat Ia mulai memejamkan mata, Rayya gelisah dan tidak bisa tidur memikirkan Marsel yang terluka tadi. Wanita itu kesal dengan dirinya sendiri dan kembali bangun.

"Ngapain aku mikirin dia sih! Biar saja dia luka atau mati sekalipun. Bukannya malah bagus?" kesalnya keki sendiri.

Rayya bahkan tanpa sadar mengambil kotak P3K dan tidak lepas Rayya terus melihat ke arah toilet.

"Lama banget sih, mandi aja udah kayak gaya cewek," katanya lagi dengan wajah tidak bersahabat.

Sebenarnya apa yang membuat Rayya menunggu Marsel keluar dari toilet, apakah dia khawatir pada Marsel? Rayya Menggeleng cepat, Ia tidak mengkhawatirkan pria itu, ya Rayya tidak mungkin peduli pada Marsel, Ia hanya penasaran saja dan ingin tahu pria itu dari mana dan apa yang terjadi sampai dirinya terluka.

Padahal itu sudah termasuk rasa peduli, namun nampaknya Rayya enggan untuk mengakui. Belum lagi benda yang tangannya pegang itu.

Cukup lama Rayya menunggu, Ia bahkan sempat kembali berbaring namun tetap tidak bisa terlelap memaksanya untuk kembali bangun. Mungkin Rayya tidak terpikirkan, karena Marsel terluka, jadi lebih lama berada dalam kamar mandi untuk sekalian membersihkan luka nya tersebut.

"Apa jangan-jangan dia kenapa-napa di dalam?"

Rayya terkejut dengan pertanyaan nya sendiri dan langsung turun dari ranjang untuk melihat langsung kondisi Marsel.

Baru saja hampir mengetuk pintu toilet, tiba-tiba pintu itu terbuka membuat Rayya hanya mengetuk udara dan hampir mengenai Marsel.

"Eh!"

Rayya terkejut dengan kemunculan Marsel, Ia diam mematung sejenak dan kemudian berlari kembali ke ranjang untuk melanjutkan tidur. Entah mengapa Rayya merasa malu dengan tingkah lakunya sendiri.

'Apa yang ku lakukan?' batinya sambil mengutuk diri.

"Rayya," suara lembut Marsel memanggil wanita itu.

Marsel duduk di bibir ranjang dan Rayya berbalik melihat pria tersebut.

"Rayyaku butuh sesuatu?" tanya Marsel hendak mengelus kepala Rayya, tetapi wanita itu dengan cepat menghindari tangan Marsel.

Dengan wajah datar Marsel terpaksa menarik kembali tangannya yang hanya menggapai angin.

"Punggung mu terluka kenapa?" tanya balik Rayya tanpa membalas pertanyaan Marsel, dan Marsel yang mendengar pertanyaan Rayya tersenyum tipis. Rupanya Rayya sedang mengkhawatirkan dirinya dan sedang peduli pada Marsel. Padahal mulut nya keras kepala

"Bukan apa-apa, hanya sedikit tergores. Kalau Rayyaku yang obati akan langsung sembuh," kata Marsel masih mempertahankan wajah senang nya dan menatap Rayya dari dekat.

"Apaan sih, Aku cuma tanya. Lagian kau bilang cuma goresan, tidak perlu aku segala yang obati."

Rayya kembali menjauh karena Marsel nampaknya menertawakan dirinya.

Tapi Rayya malah melirik kotak P3K yang Ia letakkan di atas nakas.

'Bagaimana kalau lukanya tadi jadi infeksi kalau tidak di beri obat' batin Rayya tetap tak tenang.

1
Ruth Berliana
bagus ceritanya tp msh sepi yg baca nya
Jumli: Terimakasih sudah mampir, kak. Saya sangat senang jika cerita nya kakak suka🥰

mungkin sepi karena tidak ada yang tahu kalau ceritanya bagus😁😁😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!