Seorang motivator populer tiba-tiba meninggal dunia. Kepergiannya tidak hanya meninggalkan kesedihan yang mendalam tetapi juga memicu banyak asumsi di kalangan publik. Namun, tuduhan tersebut hanya ditujukan kepada seorang ibu muda yang berprofesi sebagai penulis novel bernama Kristal.
Rey, sebagai suaminya, tidak dapat menerima tuduhan tanpa dasar tersebut. Dia menyelidiki kebenaran. Karena baginya tidak hanya dirinya yang akan berdampak, Darrius putera semata wayang pasti juga terkena imbas.
Hasil penyelidikannya akhirnya mengubah seluruh keyakinannya pada istri tercintanya. Tetapi pertanyaannya, apakah Kristal benar-benar bersalah? Lalu apakah perasaan Rey tetap masih mencintai Kristal? Mampukah Kristal bertahan dengan rumah tangganya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IZI.01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Nomor telepon panggilan itu milik Reyhan, suamiku. Selama tinggal di apartemen, sangat jarang dia menghubungiku. Biasanya yang rajin menanyakan kabar hanya anak kesayanganku.
"Ada apa, Pi?"
"Pagi tadi anak kita badannya demam. Mungkin karena kemarin, dia terlalu kecapekan dengan pertandingan sepak bola di sekolahnya. Tapi aku udah kasih obat, sekarang keadaannya mulai membaik."
" Sakit? Seharusnya kamu bawa dia ke rumah sakit, jangan di kasih sembarang obat!" sanggahku sedikit meninggi.
"Loh, kenapa jadinya marah ke aku? Semestinya kamu sadar, tugas kamu itu apa?"
"Aku di sini juga kerja, bukan sedang liburan!"
"Kerja? Untuk apa lagi kamu kerja. Dari dulu kita tidak pernah kekurangan apapun! Di sini, semua kebutuhan kamu selalu bisa aku penuhi."
"Sayang, kita sudah sering membahas masalah ini! Kamu juga sudah setuju untuk mendukung semua kegiatan yang aku lakukan!"
"Dulu memang aku setuju tapi tidak dengan keadaan seperti sekarang! Aku sama sekali tidak pernah melarang kamu menerbitkan berpuluh-puluh judul buku. Jangan biarkan anak kita tumbuh tanpa mengenal kamu! Darrius sangat membutuhkanmu!"
"Sudahlah, kamu tidak akan pernah bisa mengerti aku. Sekarang dimana Darrius? Aku ingin bicara!"
"Dia sudah tidur! Besok saja kalau kamu memang masih mau bicara!"
"Please! Tidak bisakah kau membangunkannya untukku?"
"Biarkan dia tidur. Jangan kamu ganggu dulu," tukas Rey lewat bicaranya yang tegas.
"Baiklah, besok pagi secepatnya aku telepon kamu. Titip peluk untuk kesayangan yah, Pi. Love you!" kusudahi komunikasi dengan menyimpan setumpuk rindu. Tak hanya sebatas rindu, namun juga tersemat berjuta penyesalan. Dari kabar duka itu membuat perasaan gelisah tak tentu arah.
Kabut gelap mulai menjalar, amarah kian merambat menguasai logika. Maka kucurahkan segenap penyesalanku. Kusumpal mulut dengan bantal, melepas semua tekanan yang mengekang.
"I hate this!! Think Kristal!!!"
Setelah hampir semua tenaga habis tercurah untuk pelampiasan emosiku, kubuka kembali penutup wajah. Meratap, merenung, berpikir tentang segala hal yang tak seperti harapan semula. Semua masalah selalu ada jalan keluarnya. Tepat atau tidaknya keputusan yang diambil, selalu ada resiko yang membayangi. "Baiklah Kristal. Saatnya membuat rencana berikutnya," aku ambil telepon selular dan kutekan nomor Pak Ben dengan geram.
"Halo! Pak Ben, ini Kristal! Saya mau mundur dari tugas ini! Tidak apa-apa kalau cerita novel itu tidak bisa terbit. Saya akan tetap kirim ke penerbit lain!" hardikku kesal.
"Kamu itu bicara apa sih? Kita sama-sama sudah terikat kontrak Kristal!! Jangan langsung patah semangat seperti ini!"
"Tidak bisa! Sebelum terlalu jauh melangkah, lebih baik Pak Ben cari penulis lain! Saya tidak bisa menyelesaikan tugas ini!"
"Tugas yang saya kasih itu sudah cocok dengan kamu. Setelah proyek ini selesai, saya akan terbitkan cerita kamu. Kamu jangan berpikir yang macam-macam lagi. Buang jauh-jauh pikiran buruk itu! Segera tulis semua hasil interview kamu. Ingat, waktu kita singkat! Oke yah! Sudah dulu, saya masih di jalan." sahut Pak Ben membujuk, dengan nada suara terdengar terputus-putus.
"Pak Ben! Halo! Sial!" sambungan berahkir sepihak, "Ingat waktu kita singkat!" tandasku menirukan suaranya yang super nge-bass itu.
Tanpa terlalu larut dalam amarah, aku bergegas menyalakan laptop, memutar ulang hasil rekaman tadi, sambil membaca kembali buku dari Pak Gatot. Ide belum mau mengalir, buntu.
Sayup-sayup terdengar melodi musik yang memecah perhatianku. Alunan yang menyenandungkan lagu," Killing me softly penyanyi-nya bernama, Roberta flack," musik favoritku. Jantung berdentam keras, antara takut disertai rasa penasaran mendalam.
"Semoga bukan perampok atau pemerkosa yang datang malam-malam begini," gusarku tak karuan, rumit.
"Strumming my pain with his fingers
Singing my life with his words
Killing me softly with his song
Killing me softly with his song
Telling my whole life with his words
Killing me softly with his song..
Aku memindik selangkah demi selangkah, mendekati pintu dengan penuh kewaspadaan. Sangat perlahan-lahan, bahkan serasa menapak di atas air.
"Id? Kenapa tiba-tiba dia bisa masuk kemari? Oh my God! Apa tidak salah, dia memakai setelan jas seperti itu?" terus saja aku mendumal pada lelaki asing itu.
I heard he sang a good song
I heard he had a style
Tanpa banyak kata, buru-buru aku matikan lagu yang asik didengarnya. Anehnya dia sama sekali tidak terkejut melihatku tiba-tiba mematikan musik itu. Justru malah makin merayu agar mau memutarnya kembali.
"Kristal. Please don't..," jawab Id memasang mimik innocent.
"Siapa kamu berani memerintahku! Di tempat tinggalku ini? Cepat keluar!" segera aku tarik kasar lengannya, sampai berada di depan pintu keluar.
"Relax, would you?" diangsurkan sebelah tangan, meminta agar mau berdansa dengannya. Pasti dan sangat jelas aku tolak. Tak kenal putus asa, dia menekan tombol play pada remote. Musik kembali mengalun merdu.
And so I came to see him
To listen for a while
And there he was this young boy
A stranger to my eyes..
Lelaki itu seakan memenuhi seluruh ruang dengan kehadirannya. Aku terpaku, bersender pada tembok, memperhatikan lekat seluruh tingkah lakunya. Wajahku nampak kecut, serasa perasan jeruk nipis. Dia berdansa, berputar perlahan, menghentakkan kakinya, tap-tap, lantas berlagak seolah penyanyi yang membawakan lagu tersebut.
I felt all flushed with fever
Embarassed by the crowd
I felt he found my letters
And read each one out loud
Tak kusangka, dari arah belakang dilingkarkan tangannya ke pinggulku. Seakan tak perduli keberadaannya. Aku berjuang keras menepisnya.
I prayed that he would finish
But he just kept right on..
Dia terus-menerus merayu, memohon agar aku turut bersamanya. Kemudian Id mengambil bunga mawar kristal imitasi yang terpajang sebagai hiasan di rak buku. Dia membungkuk, mempersembahkan mawar imitasi itu, laksana seorang pangeran yang mengajak puteri cantik berdansa.
He sang as if he knew me
In all my dark despair
And then he looked right through me
As if I wasn't there..
"Kalau tawaran itu dibiarkan, bisa-bisa sampai pagi aku harus melihat batang hidungnya! Baiklah.." maka dengan berat hati aku menerimanya. Kami berdua tenggelam bersama lagu kesayanganku.
And he just kept on singing
Singing clear and strong
Strumming my pain with his fingers
Singing my life with his words..
Awalnya aku masih kesal, terutama tubuhku harus dihempas oleh lelaki asing. Tetapi herannya makin lama, senandung merdu itu meluluhkan tembok pertahananku. Membius, sampai kemudian tak sadar aku sudah bersandar di pundaknya. Melepas beban yang serasa menghimpit.
Killing me softly with his song
Killing me softly with his song
Telling my whole life with his words
Killing me softly with his song,"
"Sebentar.." Id ingin memutar kembali lagu itu dari awal, tetapi niat itu aku cegah. Kutepis dan keluar dari tubuhnya.
"Hentikan! Kenapa kamu seenaknya masuk tanpa permisi dan memutar lagu itu?"
"Apa kamu tidak suka?"
"Bukan itu yang aku tanyakan. Kenapa kamu.."
Id memotong dengan cepat, "Aku akan pergi kalau kamu tidak suka dengan caraku yang selalu memberi kamu kejutan!"
Aku hadang dia di depan pintu, "Tunggu, Id! ceritakan, siapa kamu sebenarnya? Apa kamu suruhan dari Pak Gatot?"
"Gatot? Aku sama sekali tidak kenal dengan dia. Jangan kamu bawa-bawa pekerjaan, saat kita sedang menikmati kebersamaan ini, Enjoy Kristal!"
"Mana bisa aku seperti kamu! Aku punya segudang masalah yang harus kuselesaikan."
"Ya ampun! Aku sedang berhadapan dengan seorang gadis yang memiliki segudang masalah," tandas Id, menirukan gaya bicara Kristal dengan ekspresi carut-marut di bibirnya.
"Berhenti! Keluar sekarang juga!!"
"Loh, kenapa kamu jadi cepat berubah marah seperti ini? Tidak bisa bicara baik-baik? Kristal, tunggu!" aku dorong keras, sampai badannya yang setengah eksotis itu berhasil keluar.
"Pergi sekarang, Id! Sebelum aku panggil keamanan untuk mengusir paksa kamu keluar! Pergilah!!" tandasku mengancam keluar dari apartemen.
"Kristal! Biar aku bantu selesaikan semua masalahmu!!"
"Pergilah atau aku laporkan kamu ke sekuriti!!"
"Dengan senang hati! Aku pulang nona cantik!"
Di balik pintu, tak terasa air mata mulai tergenang. Kesedihanku bukan hanya karena kehadiran saja Id yang menggores luka di hati. Tapi perkataan Id, seakan menambah penyesalan pada suami dan terlebih anakku. Ya, aku sangat rindu mereka. Lewat tangan terkepal, kupukul berkali-kali badan pintu. Sampai tak terdengar lagi adanya panggilan. Sunyi. Gelap gulita.