Bumi, anak SMA biasa yang cuma jago ML, terbangun pada tahun 6026 untuk menjadi penolong dunia. Ia harus mencari sebuah daerah yang paling aman di muka bumi, tapi ia malah terdampar di wilayah yang hanya diisi oleh perempuan muda dan cantik. Pemimpin mereka ingin Bumi menghamili semua yang ada di sana, padahal ternyata mereka adalah...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon imafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Bab 32
Besok paginya, Sally datang menjemput. Nuri dan Bumi dipinjamkan baju lain oleh ayah dan ibunya.
“Pam sudah ketemu?” tanya Bumi masuk ke dalam motor Sally.
“Nggak. Semalam aku dan Michael sudah mencarinya diam diam, tapi tidak ketemu,” jawab Sally menyalakan mesin motornya.
Ayah dan Ibunya Bumi melepas kepergian Bumi dan yang lainnya. Mereka tidak bisa menemani Bumi, karena harus bekerja.
Ya!
Ada empat golongan di kota itu. Golongan pertama, pemerintahan. Golongan kedua, para pekerja. Golongan ketiga, anak-anak – yang kemudian di sekolahkan dalam artian diberikan cara berpikir sesuai sistem, dan golongan keempat adalah tentara.
Matahari pagi di kota itu tampak cerah. Tapi tidak bisa membuat reklame hologram yang keluar memantul dari setiap gedung tersilaukan. Seperti ada teknologi yang membuat hologram reklame itu tetap terlihat jelas.
“Kemarin, Pam turun di daerah apa?” tanya Bumi heran.
“Jericho. Kafe underground yang dulu sempat tutup, tapi sekarang buka lagi, karena salah satu pemiliknya berhasil masuk ke sistem pemerintahan,” jelas Sally.
“Dan Pam tidak ada di sana?”
Sally menggelengkan kepalanya.
Apa berarti benar tadi malam aku bermimpi? Tanya Bumi dalam hati.
Sally menoleh ke Bumi, “Pam pasti akan selamat. Kita harus selesaikan misi ini, karena nama kamu sudah masuk ke sistem.”
Sally menunjukkan layar monitor di dashboard. Nama Bumi ada di daftar balapan yang hanya diikuti oleh 20 orang.
“Cuma 20 orang?” tanya Nuri kaget.
“Iya, tidak banyak orang yang mau punya anak, tau. Karena kalau punya anak, harus diserahkan ke negara, yah dalam hal ini kota,” Sally menggelengkan kepala sambil menaikkan kedua bahunya.
“Tapi kamu sepertinya tidak berpikiran seperti sistem?” tanya Nuri heran.
“Harusnya kalian jangan percaya sama kami,” Sally terkekeh.
Bumi dan Nuri saling lirik.
“Bercanda. Aku bukan orang jahat, tapi kalian tidak boleh berhenti waspada,” jawab Sally akhirnya tiba di sebuah tanah lapang.
Permukaannya tampak halus seperti kaca matte, tetapi saat diinjak, ia sedikit “mengalah” lalu kembali padat, seolah mengenali berat dan langkahmu. Ini bukan tanah biasa, melainkan lapisan bio-sintetik yang memadukan nanoteknologi dengan struktur mineral yang direkayasa. Setiap butirnya bisa berubah fungsi, dari keras seperti baja hingga lentur seperti lumut.
Warna lapangan tidak statis. Di pagi hari ia memantulkan cahaya keemasan, siang berubah menjadi hijau kebiruan seperti lautan dangkal, dan malam hari ia memancarkan cahaya lembut dari dalam, seperti bintang-bintang yang terperangkap di bawah permukaan. Jika seseorang berlari di atasnya, jejak langkah akan menyala sesaat, lalu memudar seperti ingatan yang perlahan hilang.
Tak ada debu. Tak ada lumpur. Bahkan setelah hujan, air tidak menggenang, melainkan langsung “diserap” oleh tanah dan diurai menjadi energi mikro yang disimpan untuk kebutuhan sekitar. Lapangan itu hidup dalam diam, mengolah, menyesuaikan, dan menjaga keseimbangan.
Di bawah permukaan, jaringan sensor bekerja seperti sistem saraf. Mereka membaca suhu, tekanan, bahkan emosi pengguna melalui getaran langkah. Jika seseorang lelah, tanah bisa sedikit melunak. Jika ada potensi bahaya, permukaan bisa mengeras atau menciptakan pola peringatan berupa cahaya dan tekstur.
Dan yang paling aneh sekaligus indah… lapangan itu bisa “beradaptasi” dengan kebutuhan. Hari ini bisa menjadi arena olahraga, besok berubah menjadi taman dengan rumput sintetis yang terasa nyata, dan malamnya mungkin berubah menjadi panggung holografik raksasa tanpa satu pun struktur fisik dibangun.
Sally mengajarkan tombol-tombol sistem mesin di motornya. Bumi bisa menghafalnya dengan mudah.
Michael yang duduk di belakang Bumi, sangat terlihat kagum, “ternyata kamu cepat sekali belajarnya!”
“Makasih,” Bumi tersenyum, tentu saja dia pasti dengan mudah mempelajari mesin seperti ini. Karena di tahun ini, dia bisa membuat pesawat kapsul dengan pilot otomatis.
“Wah, GR dia, pasti merasa sangat pintar sekarang!” ketus Nuri.
“Ngiri?” tanya Bumi pada Nuri.
“Nggak.”
“Sudah, ayo kamu sekarang yang kendalikan,” ujar Sally yang duduk di sebelah Bumi.
“Tunggu!” Nuri teriak. “Apa aku sebaiknya turun?”
“Kakak takut kalau aku yang bawa ini?” tanya Bumi melirik sinis.
“Tenang aja, kalau kita jatuh, kita tidak akan hancur. Lapangan ini merupakan lapangan adatif, yang bisa menyesuaikan dengan benda di atasnya,” jelas Sally.
“Ya sudah, coba jalankan!” pinta Nuri.
Bumi mengambil alih tuas kendali, lalu menyalakan mesin. Motor terbang melayang. “Woaaaaah!” tangan Bumi bisa merasakan beratnya motor. Tidak seberat kapsul pesawatnya, ketika ia menjalankan mode manual, tapi kalau dibuat ngebut, pasti terasa pegal.
Wajah Nuri menegang melihat mereka melayang di atas tanah, dengan kendali di tangan Bumi.
“Sekarang coba ngebut!” teriak Michael dari belakang.
“Nanti dulu. Sabar! Coba jalankan maju, rasakan pergerakannya,” ajar Sally.
Nuri agak sedikit kagum dengan anak-anak remaja di tahun 6026 ini. Walau lebih muda dari Pam, Sally terdengar sangat dewasa.
Bumi menjalankan motornya pelan, lalu belok, dan meliuk-liuk, bahkan sampai bisa berputar secara akrobatik.
“Oke, cukup, Bumi!” teriak Nuri ketakutan.
Bumi terkekeh, “Santai, Kak. Tenang aja. Kalau dipikir-pikir, kendalinya mirip kalau lagi main Harry Potter di PS5, Kak.”
“Game terus!” kata Nuri kesal. Karena dari dulu ayah dan ibunya selalu menuruti kemauan Bumi beli game terbaru. Memang Bumi termasuk pintar di kelasnya, tapi sejak ada game, prestasinya menurun. Ayah dan ibunya di 2026 jadi sering mengeluh ke Nuri, soal Bumi yang jadi terlalu sering main game ketimbang belajar.
“Oke, gimana kalau kita coba balapan?” tanya Michael menantang.
“Balapan?”
“Ya, turunkan aku!” pinta Michael.
Sambil belajar landing, Bumi menurunkan Michael. Michael keluar dari motor Sally, lalu masuk ke motornya. Ia menyalakan motornya, lalu mengangkat kedua jemol ke Sally. Sally mengangguk. Michael menjalankan motornya menjauhi Bumi dan yang lainnya.
“Katanya mau balapan, kok malah pergi?” tanya Nuri heran.
“Oke, sudah!” Sally melihat detik di dashboard motor. “Ayo, coba kejar dia!” teriak Sally pada Bumi.
Bumi menjalankan motornya dengan langsung ngebut, membuat Sally dan Nuri terhentak ke belakang, nempel ke sandaran kursi motor mereka masing-masing.
Motor Bumi melesat cepat di atas tanah. Membuat hembusan angin membelah tanah, sehingga menjadi cekungan panjang. Jauh di depannya ada motor Michael. Yang tiba-tiba ngebut karena Bumi mendekat. Bumi menaikkan kecepatan.
“Sally! Apa ini nggak terlalu cepat?” teriak Nuri ketakutan.
Sally terdiam. Nuri tidak bisa melihat wajah Sally yang justru tampak sangat senang sekali. Sedangkan Bumi tampak fokus menatap motor Michael. Keduanya sekarang memiliki kecepatan yang sama tingginya. Dengan begitu, harusnya motor yang dikendarai Bumi tidak akan bisa mengejar.
Tapi lapangan tidak seluas dunia.
Michael hampir berada di ujung lapangan. Mau tidak mau, harus belok. Entah ke kanan atau kiri, ke atas atau ke bawah.
Bumi memfokuskan diri pada pergerakan Michael. Ia harus bisa menangkap sedikit saja arah gerak motor Michael.
Tiba-tiba motor Michael tampak beregerak ke kiri.
Bumi langsung belok ke kiri, tapi ternyata Michael belok ke atas.
“Sial!” Bumi teriak kesal.
Sementara Sally tertawa terbahak-bahak.
Bumi mengendalikan motornya, kembali mengejar motor Michael. Membuntuti walau jaraknya jadi semakin jauh.
“Fokus, Bumi!” teriak Nuri.
“Diem!” balas Bumi.
Kali ini Bumi tidak mau kalah. Ia berusaha memerhatikan gerakan sekecil apa pun. Ketika motornya Michael bergerak ke atas. Bumi terdiam.
Ternyata motor Michael bener-benar bergerak ke atas, melenting akrobatik, berputar.
Bumi tidak mengikuitnya, malah ngerem.
Badan Nuri dan Sally jadi terlempar ke depan.
Ketika motor Michael berada tepat di atas motor Bumi. Bumi dan Michael saling bertatapan.
Michael tampak kaget, sedangkan Bumi tersenyum nakal.
Motor Michael turun kembali ke track. Sedangkan Bumi menggas motornya, melesat jauh, sehingga membuat Michael tertinggal.
Sally menoleh ke Bumi, “Nice!”
Bumi tersenyum senang lalu mengedipkan satu matanya sambil tersenyum.