NovelToon NovelToon
Perempuan Yang Selalu Di Tinggalkan

Perempuan Yang Selalu Di Tinggalkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Wanita Karir / Keluarga
Popularitas:976
Nilai: 5
Nama Author: Dinna Wullan

"Apakah namaku adalah sinonim dari kata perpisahan? Mengapa setiap tangan yang kugenggam, selalu berakhir dengan melepaskan?"
Dina mengira pelariannya ke sebuah kota kecil akan mengakhiri teror Rama, mantan kekasihnya yang obsesif dan kasar. Di sana, ia menemukan perlindungan pada sosok Letda Adrian, seorang perwira muda yang mencintainya dengan tulus tanpa syarat. Adrian adalah satu-satunya orang yang membuat Dina merasa "pulang". Namun, semesta seolah enggan melihat Dina bahagia. Tugas negara memanggil Adrian ke Papua, dan ia pulang dalam peti jenazah yang terbalut bendera. Sekali lagi, Dina ditinggalkan oleh satu-satunya alasan ia bertahan hidup.
Setahun berlalu, namun Dina masih hidup dalam bayang-bayang nisan Adrian. Penyakit lambung kronis akibat trauma batin membawanya pindah ke Bandung demi mencari udara baru. Di sebuah rumah sakit besar, ia kembali bertemu dengan dr. Arga, Sp.PD, dokter spesialis tampan yang dulu merawatnya di masa-masa paling rapuh. Arga jatuh hati

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MATA YANG TAK BISA BERBOHONG

Keesokan harinya, mendung masih bergelayut rendah, seolah enggan membiarkan matahari menyapa kota yang lembap itu. Bagi Dina, suasana hatinya jauh lebih kelabu. Sebelum kakinya sempat melangkah keluar pintu, ruang makan sudah riuh dengan suara yang paling ia hindari. Makian pagi hari telah menjadi sarapan wajib, sebuah rutinitas yang lebih konsisten daripada rasa lapar itu sendiri.

“Anak tidak berguna! Bisa-bisanya kamu masih tidur tenang sementara piring kotor menumpuk!” pekik ibu tirinya, suaranya melengking memecah keheningan pagi.

Dina hanya diam, jemarinya meremas tali tas bahunya dengan erat. Ia menoleh ke arah ayahnya, berharap ada satu kalimat pembelaan atau setidaknya tatapan iba. Namun, pria yang seharusnya menjadi pelindungnya itu justru meletakkan cangkir kopi dengan dentuman keras di atas meja.

“Kamu dengar itu? Harusnya kamu tahu diri. Sudah numpang di sini, setidaknya jangan buat istriku marah-marah tiap pagi. Pantas saja hidupmu berantakan, sikapmu memang tidak pernah benar,” sahut ayahnya dengan nada rendah yang sarat akan penghinaan.

Kata-kata itu terasa lebih tajam daripada sembilu. Kesalahan demi kesalahan seolah sengaja ditumpuk di atas pundaknya, menjadikannya kambing hitam atas segala ketidaknyamanan di rumah itu. Tanpa membela diri—karena ia tahu suaranya takkan pernah dianggap sebagai kebenaran—Dina hanya menundukkan kepala.

“Aku berangkat,” ucapnya lirih, hampir menyerupai bisikan.

Ia membalikkan badan dan melangkah keluar tanpa menunggu jawaban. Udara dingin di luar rumah justru terasa lebih hangat dibandingkan atmosfer di dalam sana. Dina berjalan menuju halte dengan sisa-sisa kekuatan yang ia punya, mencoba mengubur rasa sesak yang terus merayap naik ke tenggorokannya. Hari ini ia harus bekerja, ia harus tetap berdiri tegak, meski dunianya sedang runtuh berkeping-keping.

Gedung perkantoran bertingkat itu mulai bernapas seiring dengan deru mesin fotokopi dan aroma kopi yang memenuhi udara. Di balik meja kerjanya yang tertata rapi, Dina duduk dengan punggung tegak. Sebagai seorang General Affair, ia adalah urat nadi operasional kantor ini. Mulai dari urusan logistik, ketersediaan alat tulis kantor, hingga memastikan setiap sudut ruangan tetap berfungsi sebagaimana mestinya, semuanya melewati tangannya.

Dina selalu dikenal sebagai sosok yang sangat profesional. Di wajahnya, tidak ada jejak makian ibu tirinya tadi pagi. Tidak ada pula sisa-sisa kehancuran hatinya di kafe kemarin malam. Ia mengenakan topeng profesionalisme itu dengan begitu rapi, seolah-olah ia adalah mesin yang tidak mengenal rasa lelah atau kecewa. Setiap laporan disusun dengan presisi, setiap keluhan rekan kerja ditanggapi dengan solusi cepat dan senyum tipis yang sopan. Kesedihannya terkunci rapat di dalam laci paling gelap di hatinya, kuncinya ia buang jauh-jauh agar tidak ada yang bisa membukanya.

Namun, ada satu pasang mata yang tidak bisa dibohongi oleh topeng itu.

Manda, sahabat sekaligus rekan kerja terdekatnya, sudah memperhatikan Dina sejak jam masuk kantor tadi. Ia melihat bagaimana Dina menatap layar komputer dengan pandangan yang kosong selama beberapa detik sebelum kembali mengetik dengan cepat. Ia melihat bagaimana jemari Dina sedikit bergetar saat menyerahkan berkas pengadaan barang.

Saat jam istirahat siang tiba dan suasana kantor mulai agak lengang, Manda mendekati meja Dina. Ia meletakkan segelas cokelat hangat yang masih mengepul di samping tumpukan map.

"Din, minum dulu," ucap Manda pelan.

Dina mendongak, memberikan senyum formal yang biasa ia berikan pada klien. "Makasih, Man. Nanti aku minum setelah ini selesai."

Manda tidak beranjak. Ia justru menarik kursi kosong di samping Dina dan duduk di sana. Ia menatap Dina dalam-dalam, menembus lapisan pertahanan yang coba dibangun sahabatnya itu.

"Din, kamu kalau lagi sedih, bilang. Aku ngerasa kamu lagi nggak baik-baik saja," ucap Manda dengan nada suara yang tulus, tanpa ada maksud menghakimi.

Dina tertegun. Jarinya membeku di atas papan tik. Kalimat itu sederhana, tapi rasanya seperti sebuah hantaman besar pada bendungan yang selama ini menahan air matanya. Ia mencoba tertawa kecil, suara yang terdengar hambar dan dipaksakan.

"Nggak apa-apa, Man. Cuma kurang tidur aja karena banyak laporan yang harus dikejar," jawab Dina, mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Jangan bohong sama aku, Din. Kita sudah temanan berapa lama? Aku tahu bedanya Dina yang capek kerja sama Dina yang hatinya lagi hancur. Mata kamu nggak bisa bohong, meskipun bibir kamu terus senyum," balas Manda tegas namun lembut.

Dina mengalihkan pandangannya dari monitor, menatap gelas cokelat di sampingnya. Asap yang membumbung seolah merepresentasikan keruwetan pikirannya. Keheningan tercipta di antara mereka selama beberapa saat, hanya terdengar suara pendingin ruangan yang mendengung rendah.

Perlahan, pertahanan Dina mulai retak. Ia teringat kembali pada pria yang mengkhianatinya berkali-kali, pada ayah yang tidak pernah berdiri di pihaknya, dan pada rumah yang terasa seperti penjara. Ia merasa sangat lelah harus menjadi kuat setiap saat. Ia lelah dianggap sebagai beban, dianggap sebagai aib, dan dianggap sebagai seseorang yang hanya pantas dikasihani.

"Aku... aku cuma merasa kayak nggak punya tempat buat pulang, Man," bisik Dina akhirnya. Suaranya pecah, nyaris tak terdengar.

Manda menggeser kursinya lebih dekat, lalu menggenggam tangan Dina yang dingin. "Kamu punya aku, Din. Kamu punya tempat buat cerita. Jangan ditelan sendiri terus, nanti kamu malah yang habis dimakan sama rasa sedih itu."

Dina menunduk, membiarkan satu tetes air mata jatuh mengenai punggung tangannya. "Semua orang bilang aku ini pembawa sial. Ibu tiriku, bahkan ayahku sendiri... mereka bilang wajar kalau aku ditinggalin, karena aku memang nggak layak buat dicintai. Dan kemarin, pria yang aku percaya bakal jadi penyelamatku, ternyata cuma menganggap aku sebagai objek rasa kasihan. Aku bukan dicintai, Man. Aku cuma dijadikan proyek biar dia merasa jadi orang baik."

Manda mendengarkan dengan penuh empati, tanpa memotong. Ia membiarkan Dina mengeluarkan semua racun yang selama ini mengendap di dalam dadanya. Di kantor yang sibuk itu, di tengah hiruk-pikuk pekerjaan General Affair yang tak pernah usai, Dina akhirnya menemukan satu celah untuk menjadi manusia biasa yang boleh merasa rapuh.

"Kamu dengar aku ya, Din," ucap Manda setelah Dina terdiam cukup lama. "Mereka itu salah. Mereka melihat kamu dari kacamata mereka yang rusak. Kamu itu tangguh. Kamu mengurus logistik kantor ini sendirian tanpa cela, kamu menghadapi makian di rumah dan tetap berangkat kerja dengan kepala tegak. Itu bukan tanda orang lemah. Itu tanda orang yang sangat kuat."

Manda menarik napas panjang. "Jangan biarkan suara mereka jadi suara di kepala kamu. Kamu layak dicintai karena siapa kamu, bukan karena masa lalu kamu. Dan kalau mereka nggak bisa lihat itu, berarti mereka yang rugi, bukan kamu."

Dina menghapus air matanya dengan tisu, mencoba menenangkan debar jantungnya yang liar. Kata-kata Manda terasa seperti oase di tengah gurun pasir yang selama ini ia lalui sendirian. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, Dina merasa sedikit lebih ringan. Beban di pundaknya seolah terangkat sedikit, memberinya ruang untuk bernapas.

"Makasih ya, Man. Makasih sudah mau tanya," ucap Dina tulus. Kali ini, senyumnya tidak lagi formal. Ada sedikit binar yang kembali muncul di matanya.

"Sama-sama. Sekarang, habiskan cokelatnya, terus kita makan siang di luar. Aku yang traktir. Nggak ada tapi-tapi," perintah Manda dengan gaya bercanda yang membuat Dina akhirnya benar-benar tertawa kecil.

Dina menyesap cokelat hangat itu, merasakan manis dan hangatnya merayap ke seluruh tubuhnya. Ia tahu masalahnya belum selesai. Ia masih harus pulang ke rumah penuh duri itu, dan ia masih harus menyembuhkan luka hatinya akibat pengkhianatan yang berulang. Namun, hari ini ia sadar bahwa ia tidak benar-benar sendirian. Di tengah dunia yang dingin dan penuh penghakiman, masih ada tangan-tangan yang tulus menggenggamnya, mengingatkannya bahwa ia bukan sekadar "aib" atau "beban", melainkan seorang manusia yang berharga.

1
Ratih Tupperware Denpasar
astaga knp adriqn dibuat meninggal
nanuna26: karena dina itu selalu ditinggalkan ka
total 1 replies
Ratih Tupperware Denpasar
semoga adrian bener2 tulus ga kayak si rama.namanya rama tqpi tingkahnya ga sesuai namanya
Ratih Tupperware Denpasar
semoga ditempat baru dina bener2 bs tenang
Ratih Tupperware Denpasar
kukasi juga secangkir kopi supaya dina tetep semangat
nanuna26: kakk cantik terimakasih sudah support terua😍
total 1 replies
Ara putri
Hay kak. jika berkenan saling dukung yuk. mampir keceritaku.

-gagal move on
-Penjelajah waktu, hidup di zaman ajaib
Ratih Tupperware Denpasar: astga part awao sdh mewek
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!