Lana hanyalah gadis desa bersahaja yang membawa koper tua ke ibu kota demi sebuah cita-cita. Namun, ia tak menyangka bahwa beasiswa dari paman jauhnya datang dengan "syarat" tak tertulis: tinggal satu atap dengan tujuh pria elit di sebuah penthouse mewah.
Arka sang CEO dingin, Bumi si dokter lembut, hingga Kenzo sang aktor idola—ketujuh sahabat ini memiliki dunia yang terlalu berkilau bagi Lana. Awalnya ia dianggap gangguan, namun perlahan kepolosan Lana memicu persaingan panas di antara mereka. Saat perjanjian persahabatan mulai retak demi satu cinta, siapakah yang akan Lana pilih? Ataukah ia hanya bidak dalam permainan para Tuan Muda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kelas Pertama dan Sorot Mata Mahasiswi
Pintu kayu jati berukir itu terbuka dengan decitan halus yang terasa seperti ledakan di telinga Lana. Langkah kakinya yang mengenakan sepatu flat kulit pilihan Jeno terhenti tepat di ambang pintu. Di hadapannya, sebuah ruang auditorium yang luas membentang dengan kursi-kursi empuk yang disusun berundak. Cahaya lampu downlight yang terang benderang menerangi ruangan itu, namun bagi Lana, ruangan itu terasa gelap karena atmosfer yang menyesakkan.
Puluhan pasang mata seketika menoleh ke arahnya. Suara obrolan riuh tentang liburan ke luar negeri, koleksi tas terbaru, hingga gosip tentang pesta di kelab malam mendadak surut, digantikan oleh kesunyian yang mengintimidasi. Lana meremas tali tasnya hingga buku-buku jarinya memutih. Ia mencoba mencari kursi kosong di barisan belakang, tempat di mana ia bisa menghilang.
"Permisi... apa kursi ini kosong?" tanya Lana dengan suara yang hampir menyerupai bisikan kepada seorang mahasiswi yang duduk di baris tengah.
Mahasiswi itu, yang sedang sibuk memoleskan lip gloss merah muda di bibirnya, menoleh perlahan. Ia melihat Lana dari ujung rambut sampai ujung kaki. Matanya berhenti lama pada tas kulit Lana yang berlogo desainer ternama, lalu beralih ke wajah Lana yang polos tanpa riasan.
"Penuh. Ada temen gue mau duduk di sini," jawab mahasiswi itu ketus, lalu kembali sibuk dengan cermin kecilnya. Padahal, kursi di sebelahnya jelas-jelas kosong dan tidak ada tas yang menandai tempat tersebut.
Lana menunduk, wajahnya terasa panas. Ia melanjutkan langkahnya ke barisan paling belakang yang agak gelap. Di sana, ia menemukan satu kursi di pojokan. Ia segera duduk dan meletakkan tasnya di pangkuan, mencoba mengecilkan tubuhnya sekecil mungkin.
"Sst, liat deh si anak baru itu," bisik seorang mahasiswi berambut highlight pirang kepada temannya yang duduk tak jauh dari Lana. Suaranya tidak terlalu pelan, seolah sengaja ingin didengar. "Tasnya sih limited edition, tapi kok auranya... aura kampung banget ya? Kayak mbak-mbak yang dipaksa pakai baju majikannya."
"Iya, bener. Mukanya nggak ada 'kelasnya' sama sekali. Pucat banget, nggak pake skincare apa gimana?" sahut temannya sambil tertawa tertahan. "Gak asik banget kalau kelas kita ada penyusup kayak gitu."
Lana pura-pura sibuk mengeluarkan buku catatan dan pulpen perak pemberian Arka. Tangannya gemetar saat ia meletakkan pulpen itu di atas meja kayu yang mengilap. Ia ingin sekali menangis, ingin sekali lari keluar dan menelepon Arka agar menjemputnya sekarang juga. Namun, ia teringat wajah penuh harap Rian tadi pagi. Ia tidak ingin mengecewakan pria-pria yang sudah berusaha keras untuknya.
Tak lama kemudian, seorang dosen paruh baya masuk ke kelas. Beliau adalah Profesor Hendra, sosok yang dikenal sangat disiplin dan tidak menyukai gangguan. Beliau mulai membuka laptopnya yang terhubung dengan proyektor raksasa di depan kelas.
"Selamat pagi, semuanya. Hari ini kita akan membahas tentang Makroekonomi dan dampaknya pada kebijakan fiskal negara berkembang," suara Profesor Hendra menggema di seluruh ruangan. "Dan saya dengar ada mahasiswi baru hasil rekomendasi khusus dari kolega saya, Rian. Siapa namanya? Lana?"
Seluruh kelas kembali menoleh ke arah pojokan belakang. Lana merasa jantungnya seolah berhenti berdetak. Ia berdiri dengan kaku, kakinya terasa seperti jeli.
"I-iya, Pak. Saya Lana," jawabnya terbata-bata.
Profesor Hendra menatap Lana lewat kacamata tebalnya. "Rian bilang kamu punya potensi. Kita lihat saja nanti. Silakan duduk."
Pernyataan "rekomendasi khusus dari Rian" seketika memicu gelombang bisikan yang lebih tajam di antara para mahasiswi. Di kampus ini, Rian adalah dosen muda paling populer, tampan, dan dingin. Banyak mahasiswi yang mencoba mendekatinya namun selalu gagal. Mengetahui ada seorang gadis "kampung" yang direkomendasikan secara khusus oleh Rian adalah sebuah skandal besar bagi mereka.
"Oh, jadi dia 'piaraan' Pak Rian?" bisik mahasiswi berambut pirang tadi dengan nada jijik. "Pantesan bisa pake tas mahal. Ternyata hasil 'jualan'."
Kata-kata itu bagaikan belati yang menghujam jantung Lana. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, namun ia menahannya sekuat tenaga. Ia menunduk dalam-dalam, pura-pura mencatat apa yang dikatakan profesor di depan, meskipun tangannya terlalu gemetar untuk membentuk huruf yang jelas.
Selama dua jam pelajaran, Lana merasa seperti sedang berada di ruang interogasi. Setiap kali ia bergerak sedikit saja, ia merasa ada sorot mata yang menghakiminya. Di depannya, mahasiswi-mahasiswi lain tampak sangat mahir menggunakan iPad terbaru untuk mencatat, sementara Lana hanya menggunakan pulpen dan buku kertas. Perbedaan itu semakin mempertegas jurang pemisah di antara mereka.
"Baik, kelas hari ini selesai. Untuk tugas kelompok, silakan kalian cari rekan masing-masing. Satu kelompok terdiri dari tiga orang," ucap Profesor Hendra sambil menutup laptopnya.
Keos kecil terjadi saat semua orang mulai berkerumun membentuk kelompok. Lana tetap diam di kursinya, berharap ada keajaiban seseorang mengajaknya. Namun, satu per satu orang mulai meninggalkan ruangan setelah mendapatkan kelompok. Mahasiswi-mahasiswi yang tadi berbisik melewati meja Lana sambil memberikan tatapan meremehkan.
"Gak asik banget kalau kita sekelompok sama dia. Bisa-bisa nilai kita anjlok gara-gara IQ desa," celetuk salah satu dari mereka saat melewati Lana.
Lana tetap menunduk sampai ruangan itu hampir kosong. Hanya tersisa dia dan seorang petugas kebersihan yang mulai masuk untuk merapikan meja. Lana membereskan barang-barangnya dengan perlahan. Pulpen perak pemberian Arka yang tadinya ia banggakan, kini terasa sangat berat. Ia merasa pulpen itu tidak pantas berada di tangannya.
Ia keluar dari kelas dengan langkah gontai. Di koridor, ia melihat pantulan dirinya di dinding kaca yang luas. Ia melihat seorang gadis dengan pakaian mahal namun dengan mata yang redup dan bahu yang merosot. Ia teringat kembali desanya—tempat di mana orang-orang menyapanya dengan tulus meskipun ia hanya memakai daster lusuh. Di sini, di tengah kemewahan ini, ia merasa lebih miskin daripada saat ia tidak punya apa-apa.
"Lana?"
Lana tersentak. Ia melihat Rian berdiri di ujung koridor, sedang berbicara dengan beberapa mahasiswa. Rian tampak begitu berwibawa dan berkelas. Saat mata mereka bertemu, Rian memberikan isyarat agar Lana menunggunya.
Lana tidak menunggu. Ia justru berbalik dan berjalan cepat ke arah yang berlawanan. Ia tidak ingin Rian melihat matanya yang sembab. Ia tidak ingin Rian tahu bahwa kelas pertamanya adalah sebuah bencana. Ia merasa telah mempermalukan Rian, mempermalukan Arka, dan semua orang di penthouse.
Ia berlari menuju kamar mandi mahasiswi yang terletak di ujung koridor, mencari bilik paling ujung, dan mengunci pintunya rapat-rapat. Di dalam bilik yang harum aroma terapi mahal itu, Lana akhirnya tumpah dalam tangis. Ia membekap mulutnya dengan tangan agar suaranya tidak terdengar keluar.
"Sakit... ternyata sekolah di kota sakit banget," isaknya pelan.
Di luar bilik, terdengar suara beberapa mahasiswi masuk sambil tertawa-tawa. Lana menahan napasnya, mencoba menghapus air matanya dengan tisu yang tersedia.
"Eh, kalian liat nggak tadi si Lana itu? Lucu banget ya, dia pake pulpen perak tapi nyatetnya di buku kertas biasa. Kuno banget!" suara itu sangat familiar, itu adalah mahasiswi yang tadi duduk di depannya.
"Iya, dasar udik. Gue penasaran gimana cara dia bisa dapet akses ke Pak Rian. Pasti pake cara kotor deh. Muka polos gitu biasanya paling pinter nipu."
Lana memejamkan matanya erat-erat. Setiap kata yang mereka ucapkan terasa seperti paku yang dipukul masuk ke hatinya. Ia menyadari bahwa di kampus ini, kecantikan dan kepolosan adalah target, dan kekayaan yang ia kenakan hanyalah bahan bakar untuk api kecemburuan mereka.
Setelah suara langkah kaki mereka menjauh, Lana keluar dari bilik. Ia mencuci wajahnya dengan air dingin yang keluar otomatis dari wastafel marmer. Ia menatap wajahnya di cermin. Mata merah, hidung sedikit bengkak, dan aura yang hancur. Ia mengambil lipstik pemberian Kenzo dari tasnya, mencoba memulasnya sedikit agar tidak terlihat terlalu menyedihkan, namun tangannya terlalu lemas. Lipstik itu terjatuh ke lantai.
"Lana benci di sini... Lana mau pulang ke desa," bisiknya pada bayangan di cermin.
Namun, ia tahu ia tidak bisa pulang. Ia sudah melangkah terlalu jauh. Ia hanya bisa menelan kepahitannya sendiri, merapikan kembali kemeja linennya yang sedikit kusut, dan melangkah keluar menghadapi dunia yang tidak menginginkannya. Ia tidak tahu bahwa di luar sana, Rian sedang mencarinya dengan cemas, dan di penthouse, Arka sudah menyiapkan kejutan lain untuknya. Tapi baginya saat ini, dunia hanya berisi sorot mata yang tajam dan tawa yang mengejek.