NovelToon NovelToon
Wanita Bercadar Kesayangan Mafia

Wanita Bercadar Kesayangan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: putri Sefira

Arkan Xavier adalah definisi dari kekejaman. Sebagai pemimpin sindikat mafia paling ditakuti, dunianya hanya dipenuhi dengan pengkhianatan dan genangan darah. Namun, satu malam yang fatal mengubah segalanya. Dalam kondisi sekarat akibat penyergapan, Arkan diselamatkan oleh Aisyah, seorang wanita bercadar yang hatinya sedalam samudera dan imannya sekokoh karang.
​Bagi Arkan, Aisyah adalah anomali—cahaya yang seharusnya tidak pernah bersentuhan dengan kegelapannya. Terobsesi dengan ketenangan yang dimiliki Aisyah, Arkan mulai masuk ke kehidupan wanita itu, menyeretnya ke dalam pusaran bahaya yang belum pernah Aisyah bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Jaring Labar-Laba Sang Pengkhianat

Fajar menyingsing dengan warna kemerahan yang tak biasa di atas langit Jakarta, seolah memberi pertanda bahwa ketenangan yang dibangun Aisyah dan Arkan selama ini hanyalah jeda sebelum badai yang lebih besar. Di dalam Lapas, Arkan tidak lagi menghabiskan waktunya dengan melamun. Sebagai Kepala Perpustakaan, ia memiliki satu senjata yang tidak disadari musuh-musuhnya: Informasi.

Suasana di perpustakaan pagi itu terasa dingin. Arkan sedang menyusun kembali buku-buku hukum yang baru saja tiba ketika seorang narapidana muda bernama Rifqi, yang sering dibantu Arkan belajar membaca, mendekat dengan wajah pucat.

"Bang Arkan... saya dengar sesuatu di sel Blok C tadi malam," bisik Rifqi sambil pura-pura menyapu lantai. "Bongkeng... dia menelepon seseorang di luar. Dia menyebut nama 'Bram'. Dia bilang, 'Umpannya sudah dimakan, tinggal tarik kailnya'."

Arkan menghentikan gerakannya. Jemarinya mencengkeram sampul buku tebal di tangannya. Bramantyo.

"Apa lagi yang dia katakan, Rifqi?" tanya Arkan, suaranya rendah namun penuh penekanan.

"Dia bilang... hari ini media akan meledak. Dia ingin menghancurkan Dokter Aisyah agar Bang Arkan tidak punya alasan lagi untuk tetap 'baik' di sini. Dia ingin Bang Arkan mengamuk dan melakukan pelanggaran berat supaya remisi Bang Arkan dicabut."

Arkan memejamkan mata sejenak, menarik napas panjang untuk menenangkan detak jantungnya yang mulai memburu. Ini bukan sekadar perebutan aset; ini adalah pembunuhan karakter yang sistematis. Bramantyo tahu bahwa titik lemah Arkan bukan lagi nyawanya, melainkan kehormatan Aisyah.

Di luar tembok penjara, Aisyah baru saja tiba di kantor Yayasan Rahman Malik ketika ia disambut oleh kerumunan wartawan yang jauh lebih agresif dari biasanya. Lampu kilat kamera menyambar-nyambar wajahnya yang tertutup cadar.

"Dokter Aisyah! Benarkah yayasan ini mencuci uang sisa bisnis narkoba klan Xavier?!"

"Apakah benar panti asuhan ini hanya kedok untuk menyembunyikan aset ilegal Arkan?!"

"Tuan Bramantyo mengklaim punya bukti transfer mencurigakan ke rekening pribadi Anda! Apa tanggapan Anda?!"

Aisyah terpaku di depan pintu masuk. Kepalanya berdenyut hebat. Ia melihat di layar televisi besar di lobi gedung, berita utama sedang menayangkan wajah Bramantyo yang sedang memberikan konferensi pers dengan wajah yang dibuat-buat prihatin.

"Saya sangat sedih harus mengatakan ini," ujar Bramantyo di layar TV. "Tapi sebagai dewan penasihat, saya menemukan aliran dana gelap dari luar negeri yang masuk ke rekening pribadi Dokter Aisyah. Saya khawatir, putri sahabat saya ini telah dipengaruhi oleh Arkan Xavier untuk terus menjalankan roda kejahatan ayahnya."

"Bohong..." bisik Aisyah, suaranya tercekat di tenggorokan.

Hamdan berlari keluar dari dalam kantor, merangkul adiknya dan mencoba membelah kerumunan wartawan. "Masuk, Aisyah! Jangan dengarkan mereka!"

Di dalam ruangan yang tertutup rapat, Hamdan membanting koran ke meja. "Bramantyo bajingan! Dia menggunakan dokumen palsu yang seolah-olah ditandatangani oleh Ayah sebelum Ayah 'menghilang'. Dia memutarbalikkan fakta!"

Aisyah terduduk lemas. Ia melihat ponselnya bergetar tanpa henti. Pesan hinaan dari orang-orang yang tidak dikenal masuk ke akun media sosial yayasan. Dalam sekejap, citra malaikat yang ia bangun runtuh oleh narasi "Istri Mafia Pemakan Uang Anak Yatim".

"Bang... Ayah tidak boleh tahu tentang ini. Kondisi jantungnya belum stabil," ucap Aisyah dengan suara bergetar.

"Terlambat, Aisyah," suara Rahman Malik terdengar dari arah pintu. Ia berdiri dengan kruknya, wajahnya tampak sangat tua namun matanya berkilat marah. "Ayah sudah melihatnya di berita. Bramantyo... dia merobek luka lama yang belum sembuh."

Arkan mendapatkan akses darurat untuk menelepon lewat pengacaranya, Leo. Namun, ia meminta kunjungan luar biasa. Sore itu, Aisyah datang ke Lapas. Wajahnya tampak sangat kuyu, matanya merah karena terlalu banyak menangis.

Saat Arkan melihat Aisyah di balik kaca pembatas, ia merasa hatinya seperti disayat sembilu. Ia menempelkan tangannya ke kaca, berharap bisa menembusnya untuk menghapus air mata wanita itu.

"Aisyah... lihat aku," perintah Arkan lembut.

Aisyah mendongak, menatap mata Arkan yang penuh dengan kekuatan.

"Dengarkan aku baik-baik. Bramantyo melakukan ini karena dia takut. Dia tahu Leo sudah mulai menemukan bukti keterlibatannya dalam penggelapan dana panti dua puluh tahun lalu. Ini adalah taktik pengalihan isu," Arkan berbicara dengan tenang, mencoba menyalurkan keberaniannya pada Aisyah.

"Tapi orang-orang percaya padanya, Arkan. Pasien-pasien di rumah sakit mulai menolak dirawat oleh Aisyah. Donatur panti menarik dukungannya," isak Aisyah.

"Biarkan mereka pergi, Aisyah. Yang tidak bertahan di saat badai, tidak layak ada di saat pelangi," Arkan mendekatkan wajahnya ke kaca.

"Aku punya rencana. Bongkeng di dalam sini bekerja untuk Bramantyo. Aku akan menjebaknya agar dia bicara. Dan kau, aku ingin kau tetap buka panti itu. Jangan tunjukkan kelemahanmu di depan kamera."

"Apa yang akan Anda lakukan, Arkan? Tolong, jangan berkelahi," pinta Aisyah cemas.

Arkan tersenyum tipis, senyuman yang penuh rahasia. "Aku tidak akan berkelahi dengan otot, Aisyah. Aku akan berkelahi dengan hukum yang mereka bangga-banggakan."

Kembali ke bloknya, Arkan mulai menjalankan strateginya. Ia tahu Bongkeng sangat haus akan uang dan kekuasaan. Arkan memanggil Bongkeng ke sudut perpustakaan yang tidak terjangkau CCTV.

"Bongkeng, aku menyerah," ucap Arkan, wajahnya dibuat tampak putus asa. "Bramantyo menang.

Dia menghancurkan wanita yang aku cintai. Aku ingin keluar dari sini sekarang juga. Aku punya akses ke rekening cadangan di Swiss yang tidak diketahui polisi. Ada sepuluh miliar di sana."

Mata Bongkeng berbinar serakah. "Lalu? Apa urusannya denganku?"

"Bantu aku keluar malam ini lewat jalur logistik yang kau banggakan itu. Sebagai imbalannya, aku akan memberikan setengahnya padamu.

Tapi aku butuh jaminan bahwa Bramantyo akan melindungiku setelah aku keluar."

Bongkeng tertawa licik. "Tentu, bos. Bramantyo punya banyak rumah aman. Biar aku telepon dia sekarang."

Bongkeng mengeluarkan ponsel ilegalnya—yang selama ini disembunyikan di dalam dubur atau di sela-sela ubin. Ia tidak tahu bahwa Arkan telah menempelkan alat penyadap kecil di bawah meja perpustakaan, sebuah alat yang diselundupkan Leo dalam sampul buku tebal pagi tadi.

"Halo, Tuan Bram? Si serigala sudah bertekuk lutut," suara Bongkeng terdengar jelas di alat penyadap Arkan. "Dia minta jalan keluar malam ini. Dia janji kasih sepuluh miliar... Iya, saya tahu. Setelah dia keluar, kita habisi dia di perbatasan, kan? Sesuai rencana awal... Baik, Tuan. Dan soal dokumen palsu Rahman Malik itu, aman di brankas Tuan, kan?"

Arkan mendengarkan setiap kata dengan senyum dingin. Ia sudah mendapatkan apa yang ia butuhkan: Pengakuan.

Malam itu, kerusuhan kecil yang direncanakan Bongkeng untuk pelarian Arkan terjadi. Namun, alih-alih melarikan diri, Arkan justru menyerahkan ponsel Bongkeng dan rekaman penyadapan itu langsung kepada Kepala Lapas, Suprapto, yang sudah ia beri tahu sebelumnya.

"Ini buktinya, Pak," ujar Arkan saat keributan di Blok C sedang diredam. "Ponsel ini berisi rekaman pembicaraan rencana pembunuhan dan konspirasi pemalsuan dokumen yang dilakukan oleh Bramantyo."

Suprapto menatap Arkan dengan takjub. "Kau mempertaruhkan nyawamu untuk ini, Xavier? Bongkeng bisa membunuhmu jika dia tahu kau menjebaknya."

"Nyawa saya sudah lama mati, Pak. Sekarang saya hanya menjaga nyawa orang-orang yang saya sayangi," jawab Arkan tenang.

Esok paginya, saat Bramantyo sedang bersiap untuk menghadiri rapat pleno yayasan guna mengambil alih kekuasaan sepenuhnya, polisi mengepung rumah mewahnya. Mereka membawa surat perintah penangkapan atas tuduhan konspirasi pembunuhan, pemalsuan dokumen, dan kepemilikan alat komunikasi ilegal di dalam Lapas (melalui perantaranya).

Berita di televisi berubah drastis dalam sekejap.

"Breaking News: Bramantyo ditangkap! Terbukti memfitnah Dokter Aisyah dan memalsukan dokumen Yayasan Malik!"

Aisyah, yang sedang menyuapi salah satu anak panti, menjatuhkan sendoknya saat melihat berita itu. Ia menutup mulutnya dengan tangan, air mata bahagia mengalir deras.

Di dalam penjara, Arkan duduk di perpustakaan, kembali menyusun buku-buku yang sempat berantakan. Ia tidak butuh tepuk tangan. Ia hanya butuh tahu bahwa di luar sana, wanita bercadarnya bisa bernapas lega kembali.

Namun, saat ia sedang membaca, seorang petugas datang membawakan surat dari pengadilan.

"Atas kerja sama luar biasa dalam mengungkap jaringan kriminal baru di dalam Lapas dan di luar, masa hukuman Arkan Xavier dipertimbangkan untuk dikurangi kembali sebesar satu tahun."

Arkan menatap surat itu, lalu menatap ke arah jendela. Jarak lima tahun itu kini mulai terkikis, hari demi hari.

Malam itu, Arkan menulis:

Mereka pikir mereka bisa menjerat cahaya dengan kegelapan. Mereka lupa bahwa satu lilin kecil di dalam sel gelap sekalipun, bisa membakar seluruh istana kebohongan jika diletakkan di tempat yang tepat.

1
Amiera Syaqilla
salam sejahtera author🤗
sefira🐼: salam juga😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!