Seorang Raja Vampir yang kehilangan ratunya di medan perang, lalu menunggu 1000 tahun untuk menemukan reinkarnasi istrinya di dunia manusia. Namun ketika ia menemukannya kembali, sang ratu tidak lagi mengingat masa lalu mereka, sementara ancaman perang antara bangsa vampir dan manusia serigala kembali muncul.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naomihanaaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 Jejak jiwa yang hilang
Malam turun perlahan di wilayah bangsa vampir.
Kabut hitam yang menyelimuti kerajaan itu bergerak perlahan seperti lautan bayangan yang tidak pernah berhenti mengalir. Menara-menara batu istana berdiri tinggi di tengah kabut tersebut, tampak seperti penjaga abadi yang mengawasi dunia dari kegelapan.
Tidak ada manusia yang pernah melihat tempat itu.
Tidak ada bangsa serigala yang mampu menemukan jalannya.
Seluruh wilayah vampir tersembunyi oleh sihir kuno yang diciptakan oleh Raja Vampir sendiri sejak ratusan tahun lalu.
Sihir itu membuat tanah vampir tidak terlihat oleh siapa pun.
Bahkan jika seseorang tanpa sengaja menemukan gerbang menuju wilayah tersebut, mereka tidak akan mampu menyentuhnya karena dilindungi oleh perisai sihir yang sangat kuat.
Di dalam istana, aula singgasana tampak luas dan megah.
Pilar-pilar batu hitam berdiri kokoh hingga hampir menyentuh langit-langit yang tinggi. Api obor berwarna biru menyala di sepanjang dinding, memantulkan cahaya dingin yang membuat bayangan para vampir tampak panjang di lantai marmer gelap.
Para vampir berdiri berjajar dengan sikap hormat.
Suasana malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya.
Tatapan mereka tertuju pada sosok yang duduk di atas singgasana hitam di ujung aula.
Raja Vampir Edward.
Ia duduk dengan tenang, namun aura kekuatan yang keluar dari tubuhnya tetap membuat seluruh ruangan terasa berat.
Beberapa hari terakhir, Edward merasakan sesuatu yang berbeda.
Sesuatu yang tidak pernah ia rasakan selama seribu tahun terakhir.
Edward perlahan menutup matanya.
Ia membiarkan seluruh indranya merasakan kembali getaran itu.
Dan sekali lagi…
ia merasakannya.
Sebuah jiwa.
Hangat.
Lemah.
Namun sangat familiar.
Jiwa yang bahkan jika dunia berubah ribuan kali pun ia tidak akan pernah salah mengenalinya.
Tatapan Edward perlahan berubah tajam saat ia membuka matanya.
“…Elena.”
Nama itu keluar sangat pelan dari bibirnya.
Seribu tahun.
Seribu tahun ia menunggu.
Seribu tahun ia hidup dalam kesunyian setelah kehilangan ratunya di medan perang.
Dan sekarang…
jiwa itu kembali ke dunia.
Edward perlahan berdiri dari singgasananya.
Para vampir langsung menundukkan kepala mereka dengan hormat.
Aura rajanya malam itu terasa berbeda.
Lebih hidup.
Lebih kuat.
Namun juga dipenuhi oleh sesuatu yang jarang mereka rasakan sebelumnya.
Harapan.
Edward melangkah turun dari singgasana dengan tenang.
Ia berhenti di tengah aula.
Wilayah vampir sebenarnya telah dilindungi oleh mantra kuat sejak dahulu.
Namun sebelum pergi, ia tetap mengangkat tangannya perlahan.
Aura gelap yang sangat kuat keluar dari tubuhnya.
Simbol-simbol sihir kuno muncul di udara, berputar perlahan seperti lingkaran cahaya hitam.
Edward mengucapkan mantra kuno bangsa vampir dengan suara rendah.
Simbol-simbol sihir itu kemudian melesat keluar melalui jendela-jendela tinggi istana.
Mereka menyebar ke seluruh wilayah vampir.
Perlindungan lama kini diperkuat kembali.
Kabut yang menyelimuti kerajaan vampir semakin tebal.
Gerbang menuju wilayah itu kini dilindungi oleh lapisan sihir tambahan yang hampir mustahil ditembus oleh makhluk mana pun.
Setelah mantra selesai, Edward menurunkan tangannya perlahan.
Wilayah vampir kini benar-benar aman.
Namun sebelum ia pergi meninggalkan istana, sebuah suara langkah terdengar dari belakangnya.
“Yang Mulia.”
Edward berhenti berjalan.
Ia tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang datang.
Itu adalah Henry, tangan kanan sekaligus pengawal paling setia Raja Vampir.
Henry berjalan mendekat lalu berlutut dengan hormat.
“Apakah Yang Mulia akan meninggalkan wilayah vampir malam ini?”
Edward menatap lurus ke depan sebelum akhirnya menjawab dengan suara tenang.
“Aku telah menemukan keberadaan ratuku.”
Henry terdiam.
Matanya sedikit melebar karena terkejut.
“Ratu… telah bereinkarnasi?”
Edward mengangguk pelan.
“Jiwanya berada di dunia manusia.”
Suasana aula menjadi semakin hening.
Henry menundukkan kepalanya lebih dalam.
“Apakah Yang Mulia akan membawanya kembali?”
Edward terdiam beberapa saat sebelum menjawab.
“Aku akan pergi ke dunia manusia untuk menemuinya.”
Ia kemudian menoleh sedikit ke arah Henry.
“Namun aku tidak akan membawanya pergi dengan paksa.”
Henry mengangkat kepalanya sedikit.
Edward melanjutkan dengan nada tenang namun tegas.
“Ratuku telah terlahir kembali sebagai manusia. Ia belum mengingat masa lalunya.”
Henry memahami maksud rajanya.
Jika seorang manusia tiba-tiba dibawa ke dunia vampir, tentu saja ia akan ketakutan.
Edward kembali berbicara.
“Namun aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhnya.”
Tatapan matanya berubah dingin.
“Terutama bangsa serigala.”
Henry langsung menundukkan kepalanya.
“Perintah Yang Mulia?”
Edward berjalan beberapa langkah lalu berhenti.
“Aku akan pergi sendiri.”
Henry tampak terkejut.
“Yang Mulia pergi sendirian?”
Edward mengangguk.
“Namun kau akan menyusul.”
Henry langsung mengangkat kepalanya.
“Bawa beberapa vampir terpercaya ke dunia manusia.”
“Selidiki apakah ada pihak lain yang mengetahui keberadaan reinkarnasi ratuku.”
Henry mengangguk.
“Dan satu hal lagi.”
Tatapan Edward menjadi sangat tajam.
“Awasi pergerakan bangsa serigala.”
Henry langsung memahami maksud itu.
Jika bangsa serigala mengetahui keberadaan reinkarnasi ratu vampir, maka masalah besar bisa terjadi.
“Aku mengerti, Yang Mulia.”
Edward tidak mengatakan apa-apa lagi.
Tubuhnya perlahan menghilang ke dalam bayangan malam.
Raja Vampir telah meninggalkan kerajaannya.
Menuju dunia manusia.
Perjalanan menuju dunia manusia tidak memakan waktu lama bagi seorang Raja Vampir.
Edward bergerak sangat cepat menembus hutan dan pegunungan yang memisahkan dua dunia.
Semakin ia mendekat…
semakin jelas ia bisa merasakan kehadiran jiwa itu.
Seribu tahun penantian akhirnya berakhir.
Edward berhenti di sebuah pohon besar di hutan dekat desa manusia.
Ia berdiri di atas cabang pohon dan menatap jalan kecil yang menuju desa.
Kemudian…
ia melihatnya.
Seorang gadis berjalan membawa keranjang kecil.
Rambut hitam panjangnya bergerak lembut tertiup angin.
Edward membeku.
Gadis itu…
sangat mirip dengan Elena.
Wajahnya.
Matanya.
Bahkan cara ia berjalan.
Namun yang paling membuat Edward yakin adalah bau darahnya.
Bau itu persis sama dengan milik ratunya.
“…Elena.”
Edward menatapnya dalam diam.
Namun gadis itu tidak bereaksi.
Ia tetap berjalan seperti manusia biasa.
Saat itulah Edward memahami sesuatu.
Ini memang ratunya.
Namun ia belum mengingat masa lalunya.
Edward sebenarnya berniat langsung membawanya kembali ke dunia vampir.
Namun sekarang…
ia tidak bisa melakukannya.
Jika ia muncul tiba-tiba, gadis itu hanya akan ketakutan.
Alana tiba-tiba berhenti berjalan.
Ia merasa seperti sedang diawasi.
Ia menoleh ke arah hutan.
Namun tidak ada siapa pun di sana.
“Hm…?”
Alana mengerutkan kening.
“Mungkin hanya perasaanku saja.”
Ia kembali berjalan menuju desa.
Di atas pohon, Edward masih berdiri diam.
Tatapan matanya tidak pernah lepas dari sosok gadis itu.
Seribu tahun penantian.
Dan sekarang ia akhirnya menemukannya.
Edward menutup matanya sejenak.
“Aku akan menunggumu…”
bisiknya pelan.
“Sampai kau mengingat semuanya.”
Dari balik bayangan hutan…
Raja Vampir terus mengawasi gadis yang merupakan reinkarnasi ratunya.
Untuk saat ini ia tidak akan membawanya pergi.
Namun satu hal yang pasti.
Ia tidak akan membiarkan siapa pun menyakitinya.
Karena bagi Edward…
gadis itu tetaplah ratunya.
Elena.
Meskipun dunia kini mengenalnya dengan nama lain.
Alana.