NovelToon NovelToon
Pendekar Naga Pengembara

Pendekar Naga Pengembara

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:14.7k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

Tian Shan, pendekar terkuat yang pernah ada, memilih mengorbankan dunia demi satu tujuan—memutar balik waktu.

Ia terlahir kembali di keluarga bangsawan. Namun karena sifatnya yang dianggap aneh dan tubuhnya yang tak mampu berkultivasi, ia dipandang sebagai sampah.

Saat waktunya tiba, ia memilih pergi—bertekad membuktikan dirinya dan membalas segalanya dengan kekuatan yang akan mengguncang dunia.

Mampukah sang legenda menggapai impiannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Harta karun langka

Kegelapan di area terlarang Danau Bayangan tidaklah sunyi.

Di sini, air terasa lebih kental, menyerupai minyak yang jenuh dengan polusi energi alam yang membusuk selama ribuan tahun.

Saat Tian Shan melangkah melewati batas gerbang batu yang hancur, tekanan air mendadak meningkat drastis, seolah-olah danau itu sendiri berusaha meremukkan penyusup yang berani masuk.

​GRRRRR ...

​Suara geraman rendah bergema dari segala penjuru. Dari balik celah-celah karang yang menghitam, muncul makhluk-makhluk dengan bentuk yang mengerikan.

Mereka adalah gumpalan menjijikkan Energi—predator yang tercipta dari kumpulan Qi kotor yang gagal memadat.

Tubuh mereka terdiri dari tumpukan otot pucat dengan puluhan mata yang tidak beraturan, dan tangan yang berakhir dengan cakar kristal hitam yang tajam.

​"Sambutan yang cukup meriah," gumam Tian Shan.

​Tanpa peringatan, belasan makhluk itu melesat. Gerakan mereka di dalam air sangat cepat, meninggalkan jejak gelembung hitam yang beracun.

Tian Shan tidak menghindar. Ia berdiri tegak, membiarkan energi Pendekar Bumi miliknya mengalir ke setiap inci tulangnya yang kini berwarna perak metalik.

​DUAG!

​Salah satu makhluk menghantam dada Tian Shan dengan kekuatan penuh, namun yang terdengar justru suara benturan logam.

Makhluk itu terhenti, tangannya patah saat berbenturan dengan tubuh Tian Shan yang kini sekeras gunung.

Dengan satu gerakan tenang, Tian Shan meraih kepala makhluk itu dan meremasnya hingga meledak menjadi cairan hitam.

​Saat ia membasmi gelombang pertama, matanya yang tajam menangkap kilatan cahaya di dasar palung terdalam.

Di sana, di tengah-tengah kumpulan tulang belulang raksasa purba, terdapat sebuah kristal yang berdenyut dengan irama yang aneh.

Kristal itu berwarna ungu gelap namun memancarkan aura bumi yang sangat murni di intinya.

​Kristal Inti Bumi Purba.

​Tian Shan tertegun sejenak. Harta ini adalah katalis sempurna bagi pendekar ranah ketiga.

Jika ia berhasil menyerapnya, pondasi ranah buminya tidak hanya akan stabil, tapi ia bisa langsung melompat ke tahap tengah atau bahkan puncak dalam waktu singkat.

Namun, kristal itu adalah jantung dari polusi di tempat ini, mengambilnya berarti memancing seluruh penghuni area terlarang untuk menyerangnya secara bersamaan.

​"Harta yang layak untuk dipertaruhkan," bisik Tian Shan.

​Ia melesat menuju kristal itu. Namun, tepat saat tangannya hampir menyentuh permukaannya, tanah di bawahnya meledak.

Sebuah tentakel raksasa dengan diameter setara batang pohon tua mencuat, menghantam Tian Shan hingga terpental menghantam dinding tebing bawah air.

​BOOM!

​Dinding batu itu hancur berantakan. Dari dalam lubang gelap di dasar palung, muncul penjaga utama tempat itu: Gurita Kerak Beracun.

Makhluk ranah ketiga menengah yang seluruh tubuhnya dilapisi oleh cangkang logam yang terbentuk dari polusi ribuan tahun.

​Tian Shan keluar dari reruntuhan batu, jubahnya robek namun matanya berkilat penuh semangat bertarung.

Ia melepaskan Kecapi Perunggu Kuno dari punggungnya. Di dalam air yang pekat ini, gelombang suara akan merambat lebih jauh dan lebih mematikan.

​JREEENG!

​Tian Shan memetik senar dengan teknik Gelombang Berat. Suara yang dihasilkan bukan lagi melodi, melainkan dentuman sonik yang memadatkan air menjadi pisau raksasa.

Pisau air itu menghantam cangkang sang gurita, menciptakan percikan api di bawah air.

​Namun, ia tidak hanya menghadapi sang penjaga raksasa. Ratusan makhluk kecil mulai mengepungnya dari segala arah, membentuk pusaran maut yang menyempit.

​"Kalian ingin menguburku di sini?" Tian Shan menyeringai dingin.

​Ia memusatkan seluruh energi buminya. Tulang peraknya bercahaya terang hingga menembus kulitnya. Ia menghantamkan telapak tangannya ke dasar danau.

​"Tekanan Gravitasi: Penjara Seribu Gunung!"

​Seketika, gravitasi di area seluas seratus meter itu melonjak ratusan kali lipat.

Makhluk-makhluk kecil itu seketika hancur berkeping-keping, tertekan ke dasar danau hingga menjadi datar.

Sang Gurita Raksasa pun terhempas, tentakelnya tertindih oleh berat yang luar biasa.

​Namun, menggunakan teknik ini menghabiskan energi yang sangat besar. Tian Shan merasa dadanya sesak, dan paru-parunya mulai terasa terbakar oleh tekanan air yang ia manipulasi.

Ia harus bergerak cepat sebelum energinya terkuras habis dan ia terjebak dalam jebakannya sendiri.

​Dengan sisa tenaganya, Tian Shan melesat di antara tentakel yang meronta-ronta, menghindari semprotan tinta beracun yang bisa melelehkan tulang.

Ia mencapai Kristal Inti Bumi Purba itu, mencengkeramnya dengan kuat, dan menariknya paksa dari tempat persemayamannya.

​KRAAAK!

​Seluruh area terlarang bergetar hebat. Palung itu mulai runtuh. Tanpa menoleh ke belakang, Tian Shan memeluk kristal itu dan menggunakan sisa Qi-nya untuk meledakkan diri ke atas, menembus air pekat menuju permukaan.

​Ia harus bertahan. Harta ini bukan hanya tentang kekuatan, tapi tentang janji yang ia buat pada dirinya sendiri untuk menjadi cukup kuat agar tidak pernah lagi kehilangan orang yang ia hargai—seperti gurunya.

Di balik rasa sakit yang menghimpit tubuhnya, tekad sang pengembara ini tetap teguh, lebih keras dari logam mana pun di dunia ini.

​Cahaya matahari senja menyiram hamparan rumput hijau yang membentang sejauh mata memandang.

Angin bertiup lembut, menggoyangkan pucuk-pucuk ilalang yang menari mengikuti irama alam yang tenang.

Di tengah samudra hijau ini, sosok berambut putih melangkah perlahan. Jubahnya yang robek dan sisa-sisa air danau yang mengering di kulitnya menjadi saksi bisu betapa brutalnya perjuangan yang baru saja ia lalui.

​Tian Shan berhenti di titik tertinggi sebuah bukit kecil. Di tangannya, Kristal Inti Bumi Purba berdenyut pelan.

Cahaya ungu gelapnya tampak kontras dengan hijaunya padang rumput, namun getaran energinya terasa sangat selaras dengan tanah yang ia pijak.

​Tanpa membuang waktu, ia duduk bersila. Kecapi Perunggu Kuno diletakkan di pangkuannya sebagai jangkar energi, sementara kristal itu ia tempatkan tepat di depan pusarnya, melayang dalam dekapan Qi peraknya.

​Tian Shan menutup mata, menarik napas dalam-dalam, dan mulai membuka gerbang meridiannya.

Seketika, energi dari kristal tersebut meluap keluar. Bukan seperti aliran air, melainkan seperti aliran logam cair yang panas dan sangat berat.

​BUM!

​Rumput di sekitar Tian Shan seketika rata dengan tanah. Tanah di bawahnya amblas sedalam sepuluh sentimeter hanya karena pancaran berat dari kristal tersebut.

Ini adalah esensi bumi yang paling murni, yang telah tersaring selama ribuan tahun di dasar palung terdalam.

​Tian Shan mulai menarik energi itu masuk ke dalam tubuhnya.

​"Ugh ..." ia mengerang rendah.

​Proses ini jauh lebih menyakitkan daripada saat ia pertama kali menembus ranah Pendekar Bumi.

Jika sebelumnya ia merasa menggendong beban satu gunung, kini ia merasa seolah-olah seluruh benua sedang berusaha menindih setiap inci sel tubuhnya.

Tulang-tulangnya yang sudah berwarna perak metalik mulai berderit.

​Energi ungu itu merayap masuk, menyusup ke dalam sumsum tulangnya, mencoba menggantikan kepadatan yang lama dengan kepadatan purba yang jauh lebih kokoh.

Di tahap ini, risiko Penyimpangan Qi sangatlah nyata. Jika fokusnya goyah sedikit saja, berat dari energi ini akan menghancurkan organ dalamnya dari dalam ke luar.

​Tian Shan memusatkan seluruh pikirannya. Ia memvisualisasikan dirinya sebagai bagian dari bumi itu sendiri—tak tergoyahkan, diam, namun mengandung kekuatan yang mampu menghancurkan segalanya.

​Perlahan, warna perak pada tulangnya mulai berubah. Lapisan perak yang kusam kini berkilau dengan cahaya yang lebih dalam, dengan semburat emas yang mulai muncul di persendiannya. Ini adalah tanda bahwa ia sedang bertransformasi menuju Tahap Menengah.

​BOOM! BOOM! BOOM!

​Jantungnya berdetak seperti hantaman palu raksasa pada paron besi. Setiap detakan mengirimkan gelombang energi yang menyapu padang rumput di sekitarnya.

Tanah di bawah kakinya mulai retak dan membentuk pola rune yang rumit, menyerap dan membuang kembali energi kotor yang tersisa di dalam tubuhnya.

​Keringat dingin bercampur darah merembes dari pori-porinya, namun wajah Tian Shan tetap setenang air telaga.

Ia memandu aliran esensi ungu itu untuk melapisi setiap inci sarafnya, memperkuat daya tahan tubuhnya hingga ke tingkat yang tidak masuk akal bagi pendekar biasa.

​Matahari telah tenggelam sepenuhnya, digantikan oleh rembulan yang bersinar terang di langit malam yang bersih.

Tiba-tiba, Kristal Inti Bumi Purba itu retak dan hancur menjadi debu halus, seluruh energinya telah terserap habis ke dalam tubuh Tian Shan.

​Hening sejenak. Angin di padang rumput berhenti berhembus.

​Lalu, sebuah ledakan aura yang sangat masif meletus dari tubuh Tian Shan.

​WUUUUUUSH!

​Gelombang kejut transparan melesat ke segala arah, meratakan rumput hingga ratusan meter jauhnya.

Tekanan gravitasi di puncak bukit itu melonjak hingga ketitik tertinggi, membuat udara di sekitarnya tampak terdistorsi secara visual.

​Tian Shan membuka matanya. Pupil peraknya kini memiliki lingkaran emas tipis di bagian dalamnya.

Ia berdiri dengan perlahan, namun gerakan sederhananya itu membuat tanah di bawahnya bergetar hebat.

Ia merasa tubuhnya kini seringan bulu, namun ia tahu bahwa satu langkahnya saja memiliki kekuatan untuk meruntuhkan gerbang kota yang paling kokoh sekalipun.

​Pendekar Bumi Tahap Menengah.

​Ia telah mencapainya. Pondasi tubuhnya kini telah diperkuat oleh esensi purba, menjadikannya jauh lebih stabil dan mematikan.

​Tian Shan menatap tangannya yang kini memancarkan kilau metalik yang halus. Ia mengambil Kecapi Perunggu Kuno-nya, merasakannya kini lebih "ringan" karena kekuatannya yang meningkat drastis.

​"Satu langkah lagi menuju tahap bumi puncak," gumamnya pelan.

1
Aisyah Suyuti
bagus
Nanik S
NEXT 💪💪💪
Nanik S
Shiiiiip
Nanik S
Lanjutkan Tor
Nanik S
Mengenang mas lalu Lewat Kua
✞👁️👁️✞
lanjit thor💪
Nanik S
Satu satunya orang yang tidak dibunuh oleh Tian Shan di Alam Abadi
✞👁️👁️✞
/Pray/
✞👁️👁️✞
pecahan jiwa
✞👁️👁️✞
lanjut💪
Nanik S
cuuuuuuust👍👍👍
Nanik S
Lanjutkan Tor🙏🙏
Nanik S
Bai Yaoju bukankah dulu kekasih Tian Shan dimasa lalu sebelum rekarnasi
Kenaya: Iya/Pray/
total 1 replies
✞👁️👁️✞
pendekar tersantuy tian shen🔥
Kenaya: /Ok//Pray//Pray//Pray/
total 1 replies
✞👁️👁️✞
apa trio Tian akan berkelana bersama?
✞👁️👁️✞
🔥🔥
✞👁️👁️✞
mantap
lanjut thor💪
✞👁️👁️✞
🐬🐬semangat
✞👁️👁️✞
tian shan!! kau pergi tanpa berpamitan😁
Kenaya: ketemu lagi kok nanti/Grievance//Pray/
total 1 replies
✞👁️👁️✞
kontrak darah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!