NovelToon NovelToon
Jangan Cintai Aku, Tuan Muda!

Jangan Cintai Aku, Tuan Muda!

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Teen
Popularitas:475
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Lana hanyalah gadis desa bersahaja yang membawa koper tua ke ibu kota demi sebuah cita-cita. Namun, ia tak menyangka bahwa beasiswa dari paman jauhnya datang dengan "syarat" tak tertulis: tinggal satu atap dengan tujuh pria elit di sebuah penthouse mewah.

​Arka sang CEO dingin, Bumi si dokter lembut, hingga Kenzo sang aktor idola—ketujuh sahabat ini memiliki dunia yang terlalu berkilau bagi Lana. Awalnya ia dianggap gangguan, namun perlahan kepolosan Lana memicu persaingan panas di antara mereka. Saat perjanjian persahabatan mulai retak demi satu cinta, siapakah yang akan Lana pilih? Ataukah ia hanya bidak dalam permainan para Tuan Muda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Suhu Air Mandi Otomatis

Pagi itu, udara di dalam penthouse terasa lebih menggigit dari biasanya. Lana terbangun dengan tubuh yang sedikit kaku. Mungkin karena semalaman ia terlalu asyik menyantap mi instan mewah bersama Kenzo hingga lupa menutup jendela kamar dengan benar. Ia merasa butuh mandi air hangat untuk melemaskan otot-ototnya sebelum memulai hari yang baru.

Lana melangkah masuk ke dalam kamar mandi pribadinya yang serba marmer Carrara putih. Di sudut ruangan, terdapat area pancuran (shower) yang disekat oleh kaca tebal setinggi langit-langit. Di dinding marmer itu, tidak ada keran putar besi seperti yang biasa ia temukan di rumah kepala desa, apalagi gayung plastik dan bak air semen seperti di rumahnya sendiri.

Yang ada hanyalah sebuah panel digital datar berwarna hitam mengilap dengan berbagai ikon yang menyala biru redup. Ada ikon tetesan air, ikon pancuran dari atas, ikon pancuran dari samping, dan yang paling membingungkan: angka digital yang menunjukkan derajat Celsius.

"Waduh, ini gimana cara keluarin airnya?" gumam Lana pelan. Ia berdiri mematung di depan panel itu, masih mengenakan handuk yang melilit tubuhnya.

Lana mencoba menyentuh salah satu ikon yang gambarnya seperti air terjun. Pip!

Seketika, sebuah piringan logam raksasa di langit-langit mengeluarkan suara desis halus. Namun, bukannya air hangat yang keluar, justru semprotan air yang sangat dingin dan kuat menghantam lantai marmer dengan suara shhhhhh. Lana terlonjak kaget, hampir terpeleset karena lantai yang mendadak basah.

"Aduh! Dingin banget! Ini mah air es!" pekik Lana sambil memeluk tubuhnya sendiri.

Ia mencoba menekan tombol lain, berharap ada air hangat yang muncul. Ia menekan tanda panah ke atas yang ada di samping angka digital. Angka itu bergerak dari 15 ke 18, lalu ke 20. Lana terus menekannya hingga angka itu menyentuh 45.

"Mungkin kalau angkanya gede, airnya jadi anget," pikirnya polos.

Lana menunggu beberapa saat, lalu memberanikan diri menjulurkan tangannya ke bawah pancuran. "AW! Panas! Panas banget!" teriaknya sambil menarik tangannya dengan cepat. Kulit telapak tangannya memerah seketika. Air yang keluar sekarang mengepulkan uap putih, suhunya hampir menyamai air mendidih untuk menyeduh kopi.

Lana mulai panik. Ia mencoba menekan tombol Power berkali-kali, namun karena tangannya basah dan gemetar, panel sentuh itu seolah tidak merespons dengan benar. Air panas terus mengguyur, memenuhi ruangan kaca itu dengan kabut uap yang tebal. Lana merasa seperti sedang terjebak di dalam panci rebusan.

"Tolong! Siapa aja! Airnya marah! Lana mau direbus!" teriak Lana dengan suara serak karena uap panas yang mulai menyesakkan dada.

Tiba-tiba, dari balik pintu kamar mandi yang tidak terkunci, terdengar langkah kaki yang berat dan teratur. Itu bukan langkah Jeno yang berisik atau Kenzo yang santai. Itu adalah langkah Arka.

"Lana? Lo ngapain di dalam? Kenapa uapnya sampe keluar ke kamar?" suara bariton Arka terdengar sangat berwibawa di balik pintu.

"Kak Arka! Tolong Lana! Airnya panas banget, Lana nggak bisa matiin!" seru Lana dari balik bilik kaca.

Tanpa ragu, Arka membuka pintu kamar mandi. Ia melihat ruangan itu sudah dipenuhi uap putih. Arka masih mengenakan kemeja kerja yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan jam tangan mekanik yang sangat mahal. Ia segera menghampiri panel digital di luar bilik kaca.

"Gila, lo pasang 45 derajat? Lo mau bikin sup manusia apa gimana, Lan?" gerutu Arka dengan nada "Gue-Lo" yang tegas namun ada nada khawatir di dalamnya.

Arka dengan tenang menekan tombol pembatalan darurat. Seketika, kucuran air panas itu berhenti. Ia kemudian menekan beberapa kombinasi tombol rahasia di panel tersebut. Jari-jarinya bergerak sangat cepat, menunjukkan bahwa ia sangat menguasai setiap jengkal teknologi di rumah ini.

"Keluar lo dari situ. Jangan di dalam terus, nanti lo pingsan karena kekurangan oksigen," perintah Arka.

Lana keluar dari bilik kaca dengan wajah yang merah padam, bukan hanya karena uap panas, tapi juga karena malu dilihat Arka dalam keadaan hanya berbalut handuk, meskipun handuk itu menutupinya dengan cukup rapat. Rambutnya yang sedikit basah menempel di lehernya.

"Maafin Lana, Kak Arka. Lana cuma mau mandi air anget... tapi tombolnya banyak banget, Lana bingung," isak Lana sambil menunduk dalam, tidak berani menatap mata tajam sang tuan rumah.

Arka menatap Lana sejenak. Ada kilat emosi yang sulit diartikan di matanya saat melihat gadis itu gemetaran. Ia melepas kemeja luarnya, menyisakan kaos dalaman putih yang melekat ketat di tubuh atletisnya, lalu menyampirkan kemeja itu ke bahu Lana yang terbuka.

"Pegang kemeja gue. Biar lo nggak kedinginan habis kena uap tadi," ucap Arka pendek. Ia kemudian kembali fokus ke panel digital. "Dengerin gue, Lan. Rumah ini emang canggih, tapi kalau lo nggak tahu cara pakainya, benda-benda di sini bisa jadi senjata buat lo."

Arka tidak hanya mengatur suhu secara manual. Ia mengeluarkan ponsel pintarnya, membuka sebuah aplikasi khusus kendali rumah, dan mulai mengetikkan sesuatu dengan cepat.

"Gue udah atur default sistemnya. Mulai sekarang, kalau lo masuk ke kamar mandi ini dan nyalain air, suhunya bakal otomatis di 32 derajat. Nggak bakal kedinginan, nggak bakal kepanasan. Itu suhu paling pas buat kulit lo yang tipis itu," jelas Arka.

Lana mendongak, matanya yang bulat menatap Arka dengan penuh kekaguman. "Otomatis, Kak? Jadi Lana nggak usah pencet angka-angka lagi?"

"Nggak usah. Lo tinggal sentuh ikon air ini sekali, dan sistem bakal urus sisanya. Gue juga udah pasang sensor berat badan di lantai bilik, jadi kalau lo kepeleset atau jatuh, alarm di kamar gue bakal bunyi otomatis," Arka menjelaskan dengan nada datar, seolah hal itu adalah hal yang biasa bagi orang kaya, padahal itu adalah fitur kustomisasi super mahal yang baru saja ia perintahkan kepada staf teknisnya lewat pesan singkat sedetik yang lalu.

Lana merasa hatinya bergetar. Perhatian Arka yang begitu detail namun disampaikan dengan cara yang sangat "dingin" membuatnya merasa sangat istimewa. "Kak Arka... makasih banyak ya. Kakak baik banget sama Lana, padahal Lana selalu bikin susah."

Arka mendekat, membuat Lana harus mendongak lebih tinggi. Ia meletakkan tangannya di dinding marmer, tepat di samping kepala Lana, mengunci gadis itu dalam ruang pribadinya. "Gue nggak suka dibilang baik, Lan. Gue cuma nggak suka kalau aset di rumah gue—termasuk lo—rusak gara-gara hal sepele."

Arka menundukkan wajahnya, hingga Lana bisa mencium aroma parfum kayu cendana dan tembakau mahal dari tubuh pria itu. "Inget ya, Lan. Di rumah ini, apa pun yang lo butuhin, lo bilang ke gue. Jangan sok tahu sendiri. Ngerti nggak lo?"

"Ngerti, Kak Arka," bisik Lana hampir tak terdengar.

Arka menjentik kening Lana pelan dengan jarinya, sebuah gerakan yang sangat jarang ia lakukan pada siapa pun. "Yaudah, mandi sana. Airnya udah gue setting pas. Jangan lama-lama, ntar lo telat sarapan."

Arka berbalik dan keluar dari kamar mandi tanpa menoleh lagi. Lana berdiri mematung, memegang kemeja Arka yang masih hangat dan beraroma sangat maskulin. Ia mencoba menyentuh panel air lagi. Pip!

Benar saja. Air mengucur dengan suhu yang sangat sempurna, seolah-olah memeluk kulitnya dengan kelembutan yang pas. Tidak ada lagi desis menakutkan atau uap yang menyesakkan. Lana tersenyum kecil. Ia mulai menyadari bahwa di balik sikap Arka yang keras dan bicara "Gue-Lo" yang tegas, pria itu memiliki cara tersendiri untuk menjaga keselamatannya.

Bagi Lana, Arka adalah sosok pelindung yang tak kasat mata. Ia tidak tahu bahwa Arka sebenarnya telah memerintahkan staf IT-nya untuk memantau penggunaan air di kamar mandi Lana selama dua puluh empat jam ke depan untuk memastikan tidak ada anomali suhu lagi. Arka, sang penguasa bisnis yang kejam di luar sana, kini justru menjadi pengatur suhu air mandi yang paling telaten hanya demi seorang gadis desa.

Sambil menikmati kucuran air yang hangat, Lana bergumam dalam hati, Kak Arka galak, tapi kok Lana ngerasa paling aman kalau ada dia ya? Ia tidak sadar bahwa di ruang kerja, Arka sedang menatap layar ponselnya, memantau grafik suhu air di kamar mandi Lana dengan senyum tipis yang sangat misterius. Gak asik banget kalau dia sampai ketahuan sepeduli itu.

1
Bri Anto
sunting mantap
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!