Seri Kedua dari Lahirnya Pendekar Naga!
___
Kemunculan Pendekar Naga telah mengguncang keseimbangan dunia—membangunkan makhluk kuno dan menarik perhatian kekuatan yang telah lama menunggu dalam bayang-bayang.
Dunia berubah.
Sekte-sekte hancur tanpa sisa. Jejak kehancuran menyebar tanpa arah… dan pelakunya adalah sosok yang tidak pernah dibayangkan oleh Wei Zhang Zihan.
Chu Kai.
Sebagai Pendekar Suci, Wei Zhang Zihan tidak punya pilihan selain menelusuri jejak itu—mengungkap kebenaran yang tersembunyi, dan menghadapi satu kenyataan yang tidak ingin ia percayai:
Mungkin, orang yang harus ia hentikan… adalah orang yang seharusnya menjadi pelindung dunia.
Pendekar Naga itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hamtaro Dasha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25 - Xiao Shuxiang
Wei Zhang Zihan memperhatikan sosok Xiao Shuxiang yang berdiri memunggungi mereka.
Roh asing itu menatap lurus ke arah keramaian Kota Hei Lou. Diam. Namun bukan tanpa makna. Seakan-akan di balik tatapan itu, ada sesuatu yang sedang diputuskan.
Perlahan, Xiao Shuxiang mengangkat tangannya.
Di bawah cahaya redup, dia memperhatikan urat-urat tipis yang menghitam, menjalar di sepanjang kulitnya yang retak halus seperti porselen tua yang nyaris hancur.
Wei Shezi menyaksikan itu tanpa berkedip.
Tubuh roh menawan ini terlihat rapuh, namun anehnya tidak ada sedikit pun tanda kelemahan pada dirinya. Sebaliknya, yang terasa justru sesuatu yang jauh lebih mengerikan dan tersembunyi.
"Aku memang tidak tertandingi."
Nada suara Xiao Shuxiang ringan. Hampir seperti fakta yang tidak perlu diperdebatkan. Tatapannya jatuh pada punggung tangannya sendiri.
"Aku seharusnya sudah tiada... tapi karena tua bangka itu mengajarkan cara memperbaiki roh yang rusak—maka tentu saja harus kucoba."
Perlahan, Xiao Shuxiang menurunkan tangannya. Dan bersamaan saat itu juga—tatapan matanya berubah dingin.
Dia menatap keramaian di bawahnya seperti sesuatu yang bisa dihancurkan kapan saja. Nada suaranya merendah, "Entah tempat ini berada di belahan bumi lain atau sesuatu yang lebih besar dari itu.... Yang pasti aku harus kembali ke tempatku."
"Memulihkan kondisiku... meskipun harus mengambil nyawa banyak orang atau memporak-porandakan dunia ini—aku tidak peduli." suara Xiao Shuxiang tajam.
Perlahan kilat terlihat di matanya saat seulas senyum tipis terukir. Xiao Shuxiang bergumam pelan, "Lagipula di sini tidak ada A-Yuan atau Bocah Pengemis Gila yang akan memprotes tindakanku. Aku bisa melakukan apa yang kuinginkan dan tidak ada siapa pun yang akan menghalanginya. Ini... akan menjadi luar biasa~"
!!
Wei Shezi tiba-tiba saja merinding dan sontak berlari ke belakang punggung Chu Kai. Dia menatap horor pada Xiao Shuxiang, dan bahkan ekspresi wajahnya menjadi begitu buruk. Suaranya terdengar gemetar saat ia bicara.
"Se-sebenarnya bagaimana kau bisa memiliki hubungan dengannya?" Wei Shezi menelan ludah. Dia memegang kuat bahu Chu Kai dan berkata, "Bukankah sudah kuperingatkan untuk tidak terlibat dengan sesuatu semacam ini? Ki-kita pernah membahasnya."
Chu Kai memahami maksud dari Wei Shezi. Dia dan roh wanita ini memang pernah bertemu Xiao Shuxiang di Alam Ilusi waktu itu. Wei Shezi bahkan menjelaskan bahwa pertemuan antara dirinya dengan Xiao Shuxiang seharusnya adalah sesuatu yang tidak terjadi.
Wei Zhang Zihan memperhatikan semuanya, termasuk dengan perilaku Wei Shezi. Dia kembali memandang Xiao Shuxiang ketika Long Yang Wang tiba-tiba buka suara.
"Kau bukan roh dari Pedang Pendekar Naga, jadi bagaimana kau bisa terikat dengan pedang itu dan bahkan membuat perjanjian dengan Chu Kai?"
Xiao Shuxiang mendengarnya. Dia berbalik dan menatap Long Yang Wang, namun yang menjawab pertanyaan remaja itu bukanlah dirinya—tetapi Chu Kai sendiri.
Dengan tatapan mata tertunduk, Chu Kai berkata. "Xiao Shuxiang... bukan tidak memiliki keterkaitan dengan Pedang Pendekar Naga."
"Mn?" Long Yang Wang mengernyit.
Pandangan Chu Kai terangkat perlahan, "Ingatan yang tersimpan di dalam pedang itu... adalah miliknya."
Chu Kai menjelaskan. "Ingatan itu merupakan bagian dari masa lalunya dan seharusnya tidak saling terhubung karena Xiao Shuxiang yang kalian lihat sekarang... sudah mengalami beberapa reinkarnasi."
!!
Long Yang Wang tersentak, begitu juga dengan Wei Zhang Zihan. Keduanya spontan menatap ke arah Chu Kai sebelum mengarahkan pandangan pada Xiao Shuxiang.
"Ini sebenarnya sangatlah rumit," Chu Kai menggeleng. "Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Intinya saat ini... Xiao Shuxiang yang kalian lihat bukanlah roh pedang atau ingatan yang tersimpan pada Pedang Pendekar Naga. Dia benar-benar nyata."
Chu Kai berdecak, dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan mencoba mencari perumpamaan untuk menjelaskan situasi yang ia alami.
"Ini seperti.. Seseorang yang terluka parah dan mengalami penyimpangan kultivasi hingga rohnya berpindah ke dunia lain. Itulah yang sedang terjadi padanya!"
Chu Kai melanjutkan, "Dia itu bukan kultivator biasa. Dia pernah mengalami reinkarnasi dan di masa lalu dia menjadi bagian dari pemilik Pedang Pendekar Naga. Sekarang dia butuh memulihkan kondisinya untuk bisa kembali ke tempat tinggalnya, jadi karena itulah aku... Yaah.. kami bekerjasama."
"Dunia lain...?" Long Yang Wang bergumam pelan. Pandangannya turun, seolah sedang memikirkan sesuatu. Alisnya mengernyit tipis.
"Entah berasal dari mana..." suara Wei Zhang Zihan memecah keheningan. Tatapannya beralih pada Chu Kai.
"Tapi apa harus membunuh orang untuk memulihkan rohnya?" nada suara Wei Zhang Zihan tidak tinggi, namun cukup tajam untuk menekan. "Kau yakin itu tindakan yang benar?"
Chu Kai tersentak pelan.
"Aku..."
Kata-kata itu terhenti di tenggorokan dan tatapan matanya jatuh. Chu Kai tidak berani membalas.
Udara di sekitar mereka terasa mengeras.
Wei Zhang Zihan tidak mengalihkan pandangan. Nada suaranya berta, "Karena pilihan yang kau ambil... Sekarang kau tidak hanya diincar oleh kultivator aliran hitam, tapi juga mereka yang berasal dari aliran putih."
Tangan Wei Zhang Zihan perlahan terkepal. Urat-urat di punggung tangannya menegang. "Membalas Sekte Bulan Mati... apa harus dengan menghabisi begitu banyak orang?"
Chu Kai terdiam. Namun kali ini bukan karena tidak tahu harus bicara apa—tapi karena ia tidak punta jawabannya. Dia mengangkat wajahnya perlahan dan untuk sesaat, pandangannya bertemu dengan Wei Zhang Zihan.
Suasana di antara mereka menegang. Tidak ada yang mundur atau pun berbicara. Hanya tekanan di udara... yang perlahan semakin menyesakkan.
"Kau bilang ingin melindungi sesuatu yang berharga bagimu." Alis Wei Zhang Zihan mengerut. Dia kembali bersuara dan tatapan matanya seolah menembus langsung ke dalam mata Chu Kai.
Suara Wei Zhang Zihan tetap tenang. Namun di balik itu—ada sesuatu yang jauh lebih keras.
"Tapi apa yang sedang kau lakukan sekarang? Apa menurutmu... ini cara yang benar?"
"Tentu saja salah."
Sebuah suara lain menyela. Ringin dan santai, namun langsung menarik seluruh perhatian di ruangan itu.
Xiao Shuxiang yang menjadi pemilik suara itu pun berbalik. Dengan kedua tangan tersilang di depan dada, dia bersandar ringan—seolah pembicaraan tadi hanyalah sesuatu yang menarik untuk didengar.
Senyumnya tipis, "Membunuh orang... melakukan pembantaian... dengan alasan apa pun—tentu bukan tindakan yang benar."
Tatapan Xiao Shuxiang lurus pada Wei Zhang Zihan. "Aku paham sudut pandangmu. Orang baik seperti dirimu memang akan berpikir begitu."
"Tapi sayangnya..." Xiao Shuxiang memiringkan sedikit kepalanya. Senyumnya tidak berubah. "Dunia tidak berjalan berdasarkan apa yang benar, tetapi berdasarkan siapa yang cukup kuat untuk menentukan kebenaran itu."
"Di dunia seperti ini..." lanjut Xiao Shuxiang pelan, "Siapa pun yang lemah akan tersingkir dengan mudah. Kau tidak mungkin terlalu naif untuk melupakan bagaimana hukum dunia ini berjalan."
Wei Zhang Zihan menatap lurus ke arah Xiao Shuxiang. Tatapannya tenang, namun di balik ketenangan itu—tersimpan sesuatu yang jauh lebih dalam.
Wei Zhang Zihan tidak melihat sekadar sosok di hadapannya, tetapi cara berpikir dan cara pandang subjek ini yang benar-benar berbeda.
Xiao Shuxiang adalah orang yang berbicara tanpa ragu, sama sekali tidak memiliki beban—bahkan seolah nyawa itu... hanya angka yang bisa dihapus kapan saja.
"Aku tahu kau tidak berasal dari tempat ini."
Akhirnya, Wei Zhang Zihan membuka suara. Nada bicaranya datar, namun jelas. Tatapan matanya tidak bergeser sedikit pun.
"Nyawa manusia di tempat ini mungkin tidak berarti apa-apa bagimu. Dan mungkin... semua ini hanya terlihat seperti sesuatu yang bisa kau hancurkan kapan saja."
Ada jeda singkat saat Wei Zhang Zihan kembali buka suara dan nadanya kini menjadi lebih berat. "Tapi yang harus kau tahu adalah bahwa setiap dunia memiliki aturannya sendiri. Sekuat apa pun dirimu... kau tidak bisa bertindak sesuka hati."
******