Bram, lelaki yang berperawakan tinggi besar, berwajah dingin, yang berprofesi sebagai penculik orang-orang yang akan memberi imbalan besar untuk tawanan orang yang diculiknya kali ini harus mengalah dengan perasaan cintanya.Ia jatuh cinta dan bergelora dengan tawanannya. Alih-alih menyakiti dan menjadikan tawanannya takut atas kesadisan. Dia malah jatuh cinta dan menodai tawanannya atas nama nafsunya. Ia mengulur waktu agar Belinda tetap jadi sandranya. walaupun harus mengembalikan uang imbalannya dan ancaman dari pembunuh bayaran ketiga, dia tidak peduli. malam itu dia menodai Belinda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CACASTAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MALAM PERTAMA
Bram berusaha mencerna isi pikirannya. Entah kaki tangannya yang mana memilihkan baju untuk dipakai gadis ini, ini tidak jauh beda dari baju yang gadis ini pakai kemarin.
Bajunya ada belahan di bagian dadanya, tadi Bram mengingat-ingat ia tidak memakaian bra kepada gadis ini sehingga dada gadis ini terlihat menyembul ke luar. Ranum sekali kelihatannya.
Begitu juga roknya memperlihatkan kulitnya yang putih bersih. Waduh, kacau otaknya tidak boleh berfantasi asal, ini adalah gadis tawanan. Dia memalingkan wajahnya. Namun, semakin dia berusaha melawannya jantungnya makin berdetak keras.
Bram sudah tidak tahan lagi melihat pemandangan ini. Naluri kelaki-lakiannya muncul, terdorong oleh nafsunya melihat tubuh Belinda. Direbahkannya kembali Belinda.
Belinda tidak melawan. Belinda diam, dia diam saja, entah kenapa Belinda pasrah. Mungkin dia mulai suka dengan sentuhan Bram. Bram memiliki tangan yang kuat dan lengannya kekar.
Bram, merapatkan tubuhnya pada tubuh Belinda.
Dia menindih tubuh itu dan memeluknya erat. Belinda dipeluknya erat. Pahanya mengapit erat kedua paha Belinda. Dia bernafsu pada gadis ini.
Diciuminya bibir Belinda dengan kasar.
Awalnya belinda mengelak, dia mencoba mendorong tubuh Bram. Bram menahan kedua tangannya. Bram menciumi bibirnya, melumatnya, mendesah dalam kulumannya. kemudian tangan Belinda melemah dan pasrah dengan perbuatan Bram padanya.
Dia merasa sesuatu yang baru yang belum pernah dirasakannya. Belinda hanya menontonnya dari tayangan tv kabel tayangan telenovela atau drama percintaan. Tentang bagaimana seorang pemuda mencium gadis lugu, lalu mereka akhirnya menikah. Tapi, yang dirasakannya kali ini berbeda.
Jantung berdebar kencang. Ulu hatinya seakan ada yang menggelitik. Bibirnya yang sedari tadi diciumi Paman begitu nikmat.
Bram benar-benar gelap mata, tidak pernah sekalipun ia melahap tawanannya, belum pernah, ini yang pertama. Ia dipengaruhi andrenalin yang berpacu dengan detak jantung yang keras.
Belinda seakan tersadar berusaha berontak, mendorong dengan tangannya. Tapi Bram lebih kuat. "Tidak mau Paman...tidak mauuu!" "Aku takut, ini tidak seperti yang di telenovela" Bram berusaha menenangkan. "Tenanglah, nanti kamu akan menikmatinya"
"Paman..jangan!" Belinda berusaha mengelak. Akan tetapi, Bram mengencangkan pelukannya.
Belinda yang lugu, direnggut kegadisannya oleh Bram. "Kamu akan merasakan sakit sedikit."
"Aku takut!!!"
"Tidak usah takut."
"Sakitnya tidak seberapa."
Badan mereka seperti bertaut. Badan mereka menyatu padu.
Dan "Aagghhh!!! "
Belinda menjerit
"Sakittt!!!!!"
"Tenanglah manis.."
"Nanti akan hilang sakit."
Belinda menangis, air matanya menetes, tapi ini bukan karena ketakutan, tapi lebih karena sakit yang dirasanya di bagian bawah perutnya.
"Kamu masih perawan." Bram mengucap lirih di telinga Belinda,
"Akan sakit sedikit lagi." lirih suaranya.
kali ini Bram yang mengerang. Dia merasakan sensasi yang naik ke ubun-ubun. Suara jeritan Belinda memecahkan kesunyian malam. Belinda harus merelakan keperawannya diambil oleh penculiknya yang menawannya baru dua hari.
Bram yang dimabuk kepayang oleh kecantikan Belinda pada akhirnya luluh juga oleh pesona cantiknya Belinda. Jiwa berdarah dinginnya runtuh seketika.
Entah setan apa yang merasuki pikirannya malam itu. Mungkin anak buahnya akan tertawa bila mengetahuinya kalau dia dimabuk cinta oleh tawanannya itu.
Mereka pasti akan terpingkal-pingkal meledeknya, si mafia berdarah dingin hanya butuh dua hari untuk makhluk pada gadis lugu itu. Lalu setiap hari pasti mereka akan melemparkan jokes saat dia berusaha bersikap tegas pada mereka.
minim eksplore gestur, ekspresi, mimik.... jadi pembaca ga bisa membayangkan emosi karakter dan mengenal sifat karakter.
itu seperti membaca cepat tanpa jeda
tidak ada internal monolog yang menguatkan karakterisasi
deskripsi malah lebih menonjol di bagian 'itu' padahal sebagai pembaca aku lebih pengen kenal karakterisasi...
maap kak kalau nda berkenan 🙏
sama chapter ini perlu double check typo 😆