Aca Latasya Anesia dikenal sebagai badgirl yang tak pernah tunduk pada siapa pun. Mulutnya tajam, sikapnya liar, dan hidupnya selalu penuh masalah. Tidak ada yang berani mengusiknya sampai sebuah kecelakaan mengubah segalanya. Motor kesayangannya menabrak mobil mewah milik Aron Darios Fernandes. Bukan sekadar CEO muda yang dingin dan berkuasa, Aron adalah sosok di balik organisasi mafia paling berbahaya di kota pria yang namanya saja sudah cukup membuat orang gemetar. Mobilnya rusak. Situasi penuh ketegangan. Namun alih-alih takut, Aca justru menatapnya tajam dan melawan tanpa ragu. Di detik itulah sesuatu yang gelap dan berbahaya tumbuh dalam diri Aron sebuah obsesi. Bukan amarah bukan dendam melainkan keinginan untuk memiliki. Sejak saat itu, hidup Aca tak lagi sama. Ia menjadi target perhatian seorang pria yang tak pernah gagal mendapatkan apa pun yang diinginkannya. Dan yang lebih mengerikan Aron tidak mengenal kata menyerah “Aku tidak tertarik jadi milik siapa pun,” Aca mendesis dingin. Aron hanya tersenyum tipis, matanya penuh dominasi. “Sayangnya kamu tak lagi punya pilihan. Baby girl.” Dalam dunia yang penuh kekuasaan, bahaya, dan permainan gelap, satu hal menjadi pasti. Sekali Aron terobsesi, tidak ada jalan keluar lagi bagi Aca untuk bebas pergi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pandaimut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidur Bersama
Sore hari mulai turun perlahan. Langit berubah jingga pucat ketika gerbang besar mansion keluarga Anesia terbuka perlahan.
Mobil yang mengantar Aca pulang berhenti di halaman depan. Pintu mobil terbuka. Aca turun dengan langkah malas.
Hari itu terasa sangat melelahkan.
Bajunya masih sedikit kusut, dan meski ia sudah membersihkan rambutnya di wastafel sekolah, aroma samar jus buah naga masih tertinggal di helaian rambutnya.
Ia menghela napas panjang.
“Capek banget,” gumamnya pelan.
Hari itu benar-benar kacau. Bertengkar dengan Alden. Disiram jus buah naga oleh Sinta.
Lalu membalas dengan menyiram seblak panas. Sejujurnya Aca sama sekali tidak menyesal. Kalau Sinta berani mulai duluan, maka ia juga harus siap menerima balasannya.
Aca menaiki tangga mansion dengan langkah lambat. Para pelayan menyapanya dengan hormat, tapi ia hanya mengangguk singkat.
Yang ia inginkan sekarang cuma satu. Tidur. Ia membuka pintu kamarnya dengan malas.
Klik.
Pintu terbuka. Aca masuk tanpa benar-benar memperhatikan keadaan kamar. Namun setelah berjalan beberapa langkah, ia berhenti.
Di atas ranjangnya ada seseorang. Tubuh tinggi dengan bahu lebar sedang berbaring di sana dengan santai.
Aca mengerjapkan mata beberapa kali.
“Abang?” gumamnya.
Ia mengira itu Bara. Lagipula, Bara memang sering masuk ke kamarnya tanpa izin hanya untuk mengganggunya.
Aca terlalu lelah untuk peduli. “Abang geser dikit napa,” gumamnya malas.
Tidak ada jawaban. Orang itu masih diam.
Aca menghela napas kesal. “Yaudah lah.”
Ia menjatuhkan tasnya ke lantai begitu saja. Lalu tanpa berpikir panjang, Aca naik ke atas ranjang dan langsung merebahkan tubuhnya di samping sosok itu.
Matanya bahkan sudah hampir tertutup.
Secara refleks ia memeluk tubuh besar di sampingnya seperti biasa ia memeluk bantal saat tidur.
Lengannya melingkar di pinggang pria itu. Kepalanya bersandar di dada yang keras.
“Capek banget hari ini…” gumamnya setengah sadar.
Lalu beberapa detik kemudian Aca benar-benar tertidur. Napasnya berubah pelan dan teratur.
Sementara itu pria yang dipeluknya perlahan membuka mata.
Mata birunya yang tajam menatap langit-langit kamar beberapa saat sebelum akhirnya menoleh ke bawah.
Melihat siapa yang memeluknya. Sudut bibir Aron perlahan terangkat. Senyum miring yang gelap.
“Ouh…Baby girl.” gumamnya pelan.
Tangannya bergerak sedikit, menyentuh rambut panjang yang menyebar di dadanya.
“Aca.”
Gadis itu benar-benar tertidur pulas. Sepertinya terlalu lelah untuk menyadari apa pun.
Aron menatap wajahnya lama. Tatapannya melembut sedikit. “Ouh sial…” bisiknya lirih.
“Aku merindukanmu, baby girl.”
Aca tidak bergerak sama sekali. Ia hanya meringkuk lebih dekat tanpa sadar.
Aron bahkan bisa merasakan napas hangat gadis itu di lehernya. Pria itu menghela napas pelan.
Sudah beberapa hari ia mencoba mengalihkan pikirannya. Fokus pada pekerjaan. Pada bisnis. Pada urusan dunia gelap yang biasanya selalu ia kendalikan dengan dingin.
Namun tetap saja setiap kali ia sendirian, yang muncul di kepalanya hanya satu wajah yaitu wajah cantik Aca.
Aron menatap gadis itu lagi. Baru sekarang ia memperhatikan sesuatu. Seragam putih yang dikenakan Aca tampak sedikit kotor.
Ada noda samar berwarna merah muda di bagian lengan dan kerah.
Aromanya juga tidak biasa. Aron mengerutkan kening. Ia menunduk sedikit, mengendus aroma rambut Aca manis seperti buah.
“Jus…?” gumamnya pelan.
Matanya menyipit. Lalu rahangnya perlahan menegang. Siapa yang melakukan ini? Siapa yang berani mempermalukan Aca sampai seperti ini?
Emosi Aron langsung naik. Tatapan matanya berubah dingin. Di dunia Aron, hanya ada satu aturan yang selalu ia pegang.
Apa pun yang menjadi miliknya tidak boleh disentuh orang lain. Dan Aca entah sejak kapan gadis keras kepala itu sudah masuk ke wilayah yang sangat berbahaya. Wilayah milik Aron.
Tangannya bergerak pelan menyentuh pipi Aca. Gadis itu mengerang kecil dalam tidurnya. “Mm…”
Aron langsung menahan napas. Namun Aca hanya mengubah posisi sedikit lalu kembali tidur sambil menelusupkan kepalanya ke dada Aron. Ia tampak benar-benar kelelahan.
Melihat itu, ekspresi Aron sedikit berubah. Ada sesuatu yang lembut muncul di matanya. Tangannya bergerak perlahan menyibakkan rambut Aca dari wajahnya.
“Siapa yang bikin kamu kayak gini, rubah kecil…” gumamnya pelan. Nada suaranya rendah namun berbahaya.
Kalau ada yang melihat tatapan Aron saat ini, mereka pasti tahu satu hal. Seseorang akan mendapat masalah besar.
Aron menunduk sedikit. Lalu dengan gerakan sangat pelan ia menyentuhkan bibirnya ke kening Aca.
Hanya sebentar. Ciuman ringan yang hampir seperti refleks. “Aku bakal cari tau,” bisiknya.
Namun Aca sama sekali tidak mendengar. Ia sudah benar-benar tenggelam dalam tidur.
Akhirnya Aron menghela napas panjang. Ia memeluk tubuh kecil itu sedikit lebih dekat agar tidak jatuh dari ranjang.
Untuk pertama kalinya setelah berhari-hari pikirannya terasa sedikit tenang.
Napas Aca yang teratur, hangat tubuhnya, dan keheningan kamar itu membuat sesuatu dalam diri Aron akhirnya mereda.
Matanya perlahan menutup. Beberapa menit kemudian pria paling berbahaya di kota itu akhirnya tertidur. Masih memeluk gadis yang tanpa sadar telah membuat hidupnya berantakan.
Di luar kamar Langkah kaki Bara terdengar menaiki tangga. Pria itu berhenti di depan pintu kamar Aca. Ia menguap sambil menggaruk kepala.
“Mana sih tuh bocah…” gumamnya.
Bara membuka pintu kamar tanpa mengetuk.
Klik.
Pintu terbuka. Dan detik berikutnya Bara langsung membeku di tempat. Matanya membelalak.
Di atas ranjang Aron dan Aca sedang tidur. Berpelukan. Bara menutup mulutnya pelan. “Anjir…”
Ia menatap pemandangan itu dengan ekspresi campur aduk antara kaget, kesal, dan sangat terhibur.
Lalu perlahan senyum jahil muncul di wajahnya. “Wah wah wah…” bisiknya pelan. “Ini bakal jadi masalah besar.”
Dan entah kenapa Bara malah terlihat sangat menikmati kemungkinan itu. Bara masih berdiri di ambang pintu kamar beberapa detik setelah melihat pemandangan itu.
Di atas ranjang, Aca meringkuk nyaman sambil memeluk tubuh besar Aron. Wajah gadis itu terlihat damai, sementara Aron juga tertidur dengan satu tangan melingkari punggungnya seolah melindungi.
Bara mengangkat alis. “Anjir…” gumamnya pelan.
Alih-alih marah, sudut bibirnya justru terangkat. Ia perlahan mengeluarkan ponsel dari saku celananya.
Klik.
Satu foto.
Klik lagi.
Beberapa foto lagi ia ambil dari sudut berbeda.
Di layar ponselnya terlihat jelas adiknya yang keras kepala itu sedang tidur pulas memeluk mafia paling ditakuti di kota.
Bara menahan tawa. “Ini kalau gue kirim ke grup…” bisiknya. Namun kemudian ia menggeleng kecil. Tidak. Ia menyimpan ponselnya kembali.
Tatapannya kembali ke arah dua orang di atas ranjang.
Bara mengenal Aron sudah sangat lama. Lebih lama dari siapa pun yang ada di rumah ini.
Dan meskipun dunia Aron penuh dengan hal gelap, Bara tahu satu hal yang sangat pasti.
Aron bukan pria brengsek. Ia mungkin dingin. Kejam pada musuh. Berbahaya bagi siapa pun yang berani menentangnya.
Tapi pada orang yang ia lindungi Aron bisa jauh lebih setia daripada siapa pun.
Bara tersenyum tipis. “Kayaknya adek gue aman di tangan lo, bro,” gumamnya pelan.
Tanpa membangunkan mereka, Bara mundur keluar kamar.
Klik.
Pintu ia tutup perlahan. Lalu ia mengunci pintu dari luar dengan santai. “Biar aja,” katanya pelan sambil berjalan menjauh dari pintu kamar.
“Sekali-sekali si rubah kecil itu perlu dipaksa diam.”
Di dalam kamar, suasana tetap tenang. Cahaya sore masuk melalui jendela besar dan jatuh lembut di atas ranjang.
Beberapa menit kemudian Aca mulai bergerak sedikit. Ia mengerang pelan. “Hmm…”
Matanya masih tertutup. Namun lengannya yang sejak tadi memeluk tubuh Aron justru semakin erat.
Ia menggosokkan wajahnya ke dada pria itu dengan malas. “Abang…” gumamnya serak.
Aron yang sebenarnya sudah setengah bangun membuka satu matanya perlahan.
Ia menunduk melihat kepala Aca yang bersandar di dadanya. Aca masih belum sadar sepenuhnya.
“Abang kok wangi…” gumam gadis itu lagi.
Aron hampir tertawa.
Aca bahkan belum membuka matanya. “Abang beda ya hari ini…” lanjut Aca setengah mengantuk. “Ini lebih enak… lebih nyaman…”
Tangannya malah memeluk Aron lebih erat. “Peluk Aca lagi bang…”
Aron akhirnya tidak bisa menahan diri. Ia terkekeh pelan. Suara tawa rendah yang hangat. Tangannya naik menyentuh rambut Aca dengan santai.
“Wake up, baby girl,” bisiknya lembut dekat telinga gadis itu.
“Aku bukan abangmu.”
“Ini sudah sore, sayang.”
Beberapa detik hening.
Lalu mata Aca terbuka perlahan.
Ia berkedip sekali. Dua kali. Lalu fokus. Dan detik berikutnya kedua matanya langsung membelalak lebar. Wajah Aron hanya beberapa centimeter dari wajahnya.
“HUAAAA!”
Aca langsung melompat mundur di atas ranjang.
“OM ARON?!” teriaknya histeris.
Aron bersandar santai di bantal sambil menatapnya dengan senyum miring.
Aca menunjuknya dengan tangan gemetar. “LO NGAPAIN DI KAMAR GUE?!”
Ia langsung panik melihat sekeliling. “ABANG! ABANG TOLONGIN ACA!”
Aca berteriak sekeras mungkin. Namun tidak ada jawaban. Tidak ada langkah kaki. Tidak ada suara dari luar.
Ia tidak sadar satu hal penting. Kamar Aca memang dilengkapi peredam suara tebal di dindingnya.
Biasanya dipasang oleh Papa Hendra agar putrinya bisa belajar atau mendengarkan musik tanpa gangguan.
Tapi sekarang justru menjadi masalah besar.
Semua teriakan Aca hanya memantul di dalam kamar itu saja.
Aron menyilangkan tangan di belakang kepala dengan santai. Menonton kepanikan Aca seperti menonton hiburan gratis.
Senyum gelap muncul di wajahnya. “Percuma teriak,” katanya tenang. “Tidak ada yang bisa dengar kamu sayang.”
“LO APAIN GUE OM ARON, GUE MAISH SUCI YA!” teriak Ara sambil memeriksa sragamnya.
“Hamilin kamu.” jawab Aron santai. Tentu itu membuat Aca memeriksa bagian roknya.
Kedua mata Aron sekarang yang terbuka lebar, “Aca jangan goda aku sayang.” ujarnya sambil menggertakkan giginya.